Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Deteksi Dini Penyakit Kronis dan Infeksius Melalui Edukasi Hepatitis B dan Skrining Metabolik di Masyarakat Kelurahan Loa Ipuh Astuti, Suci Indah; Utami, Rinda Aulia; Aminuddin, Muhammad Fahmi; Marsudi, La Ode
Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Program Studi Teknologi Laboratorium Medis, ITKES Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/abdmlt.v5i1.1933

Abstract

Penyakit infeksius dan penyakit tidak menular (PTM) merupakan tantangan kesehatan serius di Indonesia, dengan prevalensi PTM seperti Diabetes Melitus Tipe 2, hipertensi, dan kolesterol tinggi yang terus meningkat dan penyakit infeksius seperti Hepatitis B. Meskipun secara fundamental berbeda, Hepatitis B disebabkan oleh mikroorganisme (infeksius) dan PTM terkait gaya hidup atau genetik (non-infeksius), namun keduanya memiliki kesamaan essensial potensi untuk berkembang menjadi penyakit kronis yang berat jika tidak diketahui dan ditangani sejak dini. Pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan memfasilitasi deteksi dini Hepatitis B dan PTM melalui pendekatan komprehensif. Metode yang digunakan meliputi edukasi mendalam tentang Hepatitis B, diikuti skrining metabolik (gula darah, kolesterol, dan tekanan darah). Hasil pengabdian ini menunjukkan mayoritas peserta berusia 46-60 tahun (62.5%) dan 61-80 tahun (27.5%). Prevalensi hasil skrining yang abnormal sangat tinggi yaitu 55% peserta mengalami hiperglikemia, 37.5% memiliki kolesterol abnormal, dan 79.49% menunjukkan tekanan darah abnormal. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat warga RT 23, Gg. Silahturahmi, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong yang memilki faktor risiko PTM. Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil mengedukasi dan melakukan skrining. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pemeriksaan awal untuk mencegah masalah kesehatan serius dari Hepatitis B dan PTM asimtomatik, demi kesehatan yang lebih baik dan berkelanjutan
Remaja Sehat, Masa Depan Hebat: Edukasi Penyakit Menular Seksual Dan Pemeriksaan Hepatitis C Di Mts Al-Mizan Loa Kulu Utami, Rinda Aulia; Aminuddin, Muhammad Fahmi; Mawardani, Maya Tamara; Harianja, Edison; Izah, Nurul
Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Program Studi Teknologi Laboratorium Medis, ITKES Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/abdmlt.v5i1.1956

Abstract

Latar Belakang: Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi memberikan dampak signifikan terhadap perilaku remaja, salah satunya adalah meningkatnya kasus pergaulan bebas yang berisiko terhadap kesehatan reproduksi. Salah satu dampak serius dari perilaku seks bebas adalah penularan infeksi menular seksual (IMS), termasuk Hepatitis C, yang dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang. Minimnya pengetahuan dan edukasi yang memadai di kalangan remaja menjadikan upaya preventif melalui edukasi dan skrining kesehatan sangat penting. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja mengenai bahaya seks bebas dan risiko penularan IMS serta melakukan pemeriksaan dini Hepatitis C sebagai bentuk pencegahan penyakit menular di lingkungan sekolah. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan pada bulan Juli 2024 di MTs Al-Mizan Loa Kulu, diikuti oleh 49 siswa dari kelas VII hingga IX. Metode pelaksanaan mencakup penyampaian materi edukatif oleh dosen dan mahasiswa melalui ceramah interaktif serta sesi tanya jawab. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan Hepatitis C menggunakan metode Rapid Test terhadap seluruh peserta. Hasil: Hasil edukasi menunjukkan keterlibatan aktif siswa dalam diskusi dan meningkatnya pemahaman mengenai bahaya seks bebas dan IMS. Pemeriksaan Hepatitis C menunjukkan seluruh peserta (100%) memperoleh hasil non-reaktif. Kesimpulan: Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan edukasi dan skrining sangat bermanfaat sebagai upaya promotif dan preventif dalam menjaga kesehatan remaja. Kegiatan serupa direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkala guna meningkatkan kesadaran dan deteksi dini terhadap penyakit menular di kalangan remaja.
Peduli Kesehatan Lansia: Pemeriksaan Kolesterol Gratis di Panti Joint Adulam Ministry Irwadi, Didi; Aminuddin, Muhammad Fahmi; Utami, Rinda Aulia; Woga, Idriani
Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Program Studi Teknologi Laboratorium Medis, ITKES Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/abdmlt.v5i1.1958

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes mellitus merupakan penyebab kematian utama secara global dan terus meningkat, terutama di negara berkembang. Salah satu faktor risiko utama PTM adalah tingginya kadar kolesterol dalam darah, yang sering terjadi pada kelompok lansia akibat penurunan aktivitas fisik dan pola hidup yang kurang sehat. Oleh karena itu, deteksi dini kolesterol menjadi langkah penting dalam pencegahan komplikasi kardiovaskular. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lansia terhadap pentingnya menjaga kadar kolesterol dalam batas normal melalui edukasi dan pemeriksaan kolesterol gratis di Yayasan Joint Adulam Ministry Samarinda. Metode kegiatan meliputi perumusan masalah, survei lapangan, penyusunan proposal, serta pelaksanaan edukasi dan pemeriksaan kolesterol darah. Kegiatan dilaksanakan pada 25 Oktober 2024 dan diikuti oleh 31 peserta lansia. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebanyak 71% peserta memiliki kadar kolesterol normal, sedangkan 29% memiliki kadar kolesterol tinggi (>200 mg/dL). Mayoritas peserta yang mengalami kolesterol tinggi adalah perempuan. Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari peserta dan menunjukkan pentingnya pemeriksaan kolesterol rutin sebagai langkah preventif terhadap penyakit kardiovaskular. Kesimpulan dari kegiatan ini menunjukkan bahwa masih terdapat lansia dengan kadar kolesterol tinggi yang berisiko mengalami komplikasi PTM. Pemeriksaan kolesterol secara rutin dan edukasi gaya hidup sehat sangat diperlukan. Kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan dukungan lintas sektor, termasuk puskesmas dan dinas kesehatan, untuk menjangkau lebih banyak masyarakat berisiko.
Pemeriksaan Golongan Darah Pada Siswa SMA Negeri 2 Tenggarong Susanto, Zaenal Adi; Utami, Rinda Aulia; Irwadi, Didi; Erni
Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Program Studi Teknologi Laboratorium Medis, ITKES Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Golongan darah merupakan bentuk klasifikasi darah dari suatu individu berdasarkan ada atau tidaknya zat antigen warisan pada permukaan membran sel darah merah yang disebabkan karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membrane sel darah merah. Golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B di permukaan eritrositnya serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun antigen B dalam serum darahnya. Sedangkan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tetapi dalam serumnya terdapat antibodi terhadap antigen A dan B. Golongan darah secara umum terbagi menjadi empat golongan darah yaitu A,B,O dan AB, selain itu darah juga dikelompokkan menjadi golongan darah Rh positif (rh+) dan Rh negatif (rh-). Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini membantu meningkatkan pengetahuan dan pentingnya golongan darah serta untuk mengetahui jumlah persentase siswa yang memiliki golongan darah A, B, AB, O. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah persiapan, dan pelaksanaan dengan mengambil sampel darah dari setiap siswa sehingga diperoleh hasil dari setiap golongan darah siswa. Berdasarkan hasil pemeriksaan, bahwa ada semua golongan darah yaitu A, B, AB dan O. Presentase hasil pemeriksaan yaitu siswa dengan golongan darah A dan B sebanyak 29%, golongan darah B sebesar 39%, dan golongan darah O 27%. Semua siswa (100%) memiliki rhesus positif (Rh +).
Monitoring Glukosa Darah Dan Tekanan Darah Pada Lansia Di UPTD Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda Utami, Rinda Aulia; Aminuddin, Muhammad Fahmi; Wahid, Rifky Saldi A.; Resna Belinda
Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Program Studi Teknologi Laboratorium Medis, ITKES Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini penyakit degeneratif sudah bisa ditemukan pada usia 30-40 tahun. Pencegahan penyakit degeneratif bisa dicegah dengan cara screening kesehatan pada usia diatas 30 tahun. Hal ini jika diabaikan, maka akan berisiko terjadinya penyakit Diabetes Mellitus sehingga jatuh pada keadaan yang lebih berat dengan munculnya komplikasi Diabetes Mellitus. Kondisi lansia sekarang banyak terkena penyakit degerativ. Hal ini dikarenakan oleh berbagai faktor, yaitu faktor penyakit, faktor genetik, faktor usia, faktor gender, kurang gerak, asupan garam, obesitas, kurang tidur, makanan berlemak, kalori dan kadar gula, gaya hidup yang tidak sehat, dan stres. Oleh karena itu tujuan pengabdian masyarakt ini yaitu masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwa melakukan pemeriksaan kesehatan tidak harus menunggu adanya keluhan atau kejadian sakit dan olahrga lansia agar kondisi fisik lebih bugar. Salah satu cara untuk mendeteksinya adalah screening pemeriksaan tekanan darah dan glukosa darah. Hasil pengabdian masyarakat ini ditemukan bahwa terdapat 17 orang (49%) dengan tekanan darah yang tinggi, dan kadar Glukosa darah tinggi ada 13 orang (37%). Kesimpulan dari hasil ini bahwa sebaiknya monitoring kesehatan dilakukan secara berkala sebagai upaya skrining kesehatan dan mencegah adanya komplikasi selanjutnya.
Analisa Kadar Karboksihemoglobin (COHb) pada Darah Pedagang Kaki Lima di Pasar Tradisional Kota Samarinda: Analysis Of Carboxyhemoglobin (COHb) Levels In The Blood Of Street Vendors In The Traditional Market Of Samarinda City Wahid, Rifky Saldi A.; Rahman, Marisa Pajariah Septiani; Raudah, Siti; Utami, Rinda Aulia; Mawardani, Maya Tamara; Marsudi, La Ode
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 7 No. 1 (2024): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v7i1.7885

Abstract

Karbon monoksida (CO) adalah gas beracun tidak berwarna yang terbentuk dari pembakaran bahan bakar karbon atau bahan organik yang mengandung sedikit oksigen. Pedagang kaki lima merupakan pedagang yang menjual barang dagangnya di pinggir jalan atau di tempat umum sehingga berpotensi terpaparnya CO yang berikatan dengan hemoglobin (Hb) yang akhirnya menjadi COHb. Mengetahui kadar COHb dalam darah pedagang kaki lima. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 26 responden dengan metode pengambilan sampel yaitu quota sampling. Pengukuran kadar COHb menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis dengan metode Hinsberg-Lang dan analisis menggunakan Uji Kolerasi Pearson . Pada 26 pedagang kaki lima, di peroleh 25 responden dengan hasil kadar COHb meningkat dengan rentang kadar COHb mulai dari 4,25% hingga 11,34%, melebihi nilai batas toleransi yaitu < 3,5% dan hanya 1 responden yang memiliki hasil kadar COHb normal dengan nilai 2,52%. Hasil uji kolerasi kadar COHb dengan masa kerja diperoleh hasil sig.(2-tailed) = 0,229, waktu kerja diperoleh hasil sig.(2-tailed) = 0,038 dan kualitas tidur diperoleh hasil sig.(2-tailed) = 0,007. Kesimpulan kadar COHb dalam darah pedagang kaki lima rata-rata diatas ambang batas dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar COHb dalam darah dengan masa kerja (p > 0,05), sedangkan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar COHb dalam darah dengan waktu kerja (p < 0,05) dan kualitas tidur (p < 0,05).
Correlation Of Social Interaction With Loneliness Levels Among The Elderly at the Elderly Community Health at Samarinda Veriyallia, Vera; Tubulus, Etza Novela; Ghofar Abdulloh, Ahmad Abdul; Ain, Anisa; Layun Rining, Marina Kristi; Utami, Rinda Aulia
Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan Vol 9, No 1 (2026): JKPBK Juni 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/j.kes.pasmi.kal.v9i1.28347

Abstract

Introduction: The elderly population is characterized by significant physical, psychological, and social changes. Loneliness is one of the most common psychosocial problems experienced by older adults. Low levels of social interaction can increase the risk of loneliness in this population. Conversely, good social interaction plays a vital role in maintaining mental health and enhancing the quality of life among the elderly. Objective: This study aimed to determine the correlation between social interaction and loneliness levels among the elderly attending the Elderly Posyandu at Sidomulyo Public Health Center, Samarinda City. Methods: This quantitative study employed a cross-sectional design. The sample consisted of 101 respondents, determined using the Slovin formula and selected through consecutive sampling. Data were collected using a validated social interaction questionnaire and the UCLA Loneliness Scale, both of which had been tested for reliability and validity. Data were analyzed using Kendall's Tau-C correlation test. Results: The findings revealed a significant correlation between social interaction and loneliness levels among the elderly (p = 0.000, p < 0.05), with a correlation coefficient of r = -0.603. This value indicates a strong negative correlation, meaning that higher levels of social interaction are associated with lower levels of loneliness among older adults. Conclusion: Better social interaction among the elderly is associated with lower levels of loneliness. These findings underscore the important role of social interaction in reducing loneliness in the elderly population.