Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

MEDIA EDUKASI PROMOSI KESEHATAN MELALUI FILM DALAM MENUMBUHKAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA Besar Tirto Husodo; Novia Handayani; Ulfa Velia Aisyiyah Purnamawati
Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) Vol 9, No 2 (2021): MARET
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.028 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v9i2.28846

Abstract

One way to provide adolescent reproductive health education is through film media. Films are a collection of events that occur in unique human life and are poured into the screen. Signs produced by humans are used as visuals that can be seen from various perspectives and provide a separate message for each individual. “Dua Garis Biru” is a form of reproductive and sexual health promotion in form of movie for teenager, which is an attractive ways for teenager to understand the information about reproductive and sexual health. This study aims to explain how the understanding of reproductive health content delivered through the movie "Dua Garis Biru" to teenager at Junior High School X Semarang City. This research was conducted using quantitative descriptive method and cross sectional design. The population in this research were 567 students from 8th and 9th grade of 2020/2021 academic year who attended Junior High School  X Semarang City. The total of sample in this study is 85 respondents who were determined through the calculation of the Slovin formula. The results showed that the knowledge and attitudes of respondents who are already good after receiving information on adolescent reproductive health content through “Dua Garis Biru” were 58.8% and 68.2%. “Dua Garis Biru” can be used as a media in providing adolescent reproductive health education in schools.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU REMAJA TERHADAP KONSUMSI ALKOHOL PADA SISWA SMA NEGERI DI WILAYAH KECAMATAN BOJA Rana Chika Lantyani; Besar Tirto Husodo; Novia Handayani
Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) Vol 8, No 1 (2020): JANUARI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.577 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v8i1.24807

Abstract

Perilaku konsumsi alkohol kini sudah menjadi kebiasaan semua komunitas baik di dunia maupun di Indonesia, tidak heran apabila alkohol kini mulai merambah ke generasi muda, terutama remaja. Rasa ingin mencoba hal baru yang dimiliki remaja kini mendorong remaja untuk mengkonsumsi alkohol. Tentu saja hal ini dapat merusak mental maupun psikis dari remaja itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku remaja terhadap konsumsi alkohol pada siswa sma negeri di wilayah kecamatan boja. Metode yang digunakan deskriptif analitik dan observasi dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini berupa penelitian populasi  dengan  jumlah sampel 100 siswa, dengan responden seluruh siswa/siswi sekolah menengah atas di wilayah kecamatan boja.Data yang didapat dianalisis secara univariat dan bivariat. Diperoleh hasil sebanyak 57% responden pernah mengkonsumsi alkohol, hasil uji menunjukan bahwa variabel yang berhubungan dengan perilaku konsumsi alkohol yaitu Sikap remaja terhadap kebiasaan minum alkohol (p=0,004), ketersediaan minuman alkohol (p=0,002), Aksessibiltas/cara mendapatkan minuman beralkohol (p=0,001), Peraturan sekolah mengenai larangan konsumsi alkohol (p=0,001), Rekan/teman sebaya yang mengkonsumi alkohol (p=0,010), sedangkan variabel yang tidak berhubungan yaitu pengetahuan remaja mengenai minuman alkohol dan bahaya konsumsi alkohol, aturan yang melegalkan alkohol beredar, keluarga teman dekat, pimpinan kelompok (ketua gank) yang mengkonsumsi alkohol. Diharapkan seluruh masyarakat baik instansi terkait,pihak sekolah maupun orang tua harus lebih aktif dalam mengawasi pergaulan anak. Kata kunci: alkohol, remajaKepustakaan: 1995 - 2018
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU MENGAKSES INTERNET TERHADAP AKSES SITUS PORNOGRAFI PADA REMAJA AWAL (12-15 TAHUN) DI SMP KECAMATAN SEMARANG BARAT Intan Hardian Putri; Syamsulhuda B. Mustofa; Novia Handayani
Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) Vol 8, No 4 (2020): JULI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.001 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v8i4.26690

Abstract

Adolescence is a period of rapid growth and development of physically, psychological and intellectually. Currently, it is not difficult to found the internet, especially among adolescents. The use of the internet is increasingly massive carries several implications that effect, positive or negative. This study was to analyze the behavior of accessing the Internet to access pornography sites in early adolescence (12-15 years) in the Junior High School District of West Semarang. This research has a quantitative research with the cross-sectional approach. Samples were selected using random sampling and sample proportions. This study used univariate and bivariate analysis using the Chi-square test. Results of univariate tests showed that more than half of the respondents were early puberty age group (52.2%), male (54.3%), good knowledge (53.2%), good attitude (51.1%), availability of internet facilities (64.9%), availability of device support (69.1%), lack of parental supervision (64.9%) and good influence of peers (53.2%). Variables related to the behavior of accessing pornography among others: Internet facilities (p = 0.017), availability of device support (p = 0.025), parental supervision (p = 0.017). Most of the respondents had access to pornography through the Internet amounted to 61.7%. Giving education about reproductive health and education sexuality is necessary to prevent the behavior of accessing pornography via the Internet among teenagers
PENGARUH PICTORIAL HEALTH WARNING PADA KEMASAN BUNGKUS ROKOK TERHADAP PRAKTIK MEROKOK REMAJA USIA 12-14 TAHUN DI KOTA SEMARANG Ranti Yunita Hidayah; Novia Handayani; Syamsulhuda Budi Musthofa
Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) Vol 7, No 4 (2019): OKTOBER
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.328 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v7i4.24885

Abstract

Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi oleh Indonesia adalah cukup tingginya masalah kesehatan yang disebabkan oleh kebiasaan merokok. Jumlah kerugian akibat dari merokok adalah sebanyak US$ 200 juta setiap tahunnya, selain itu penyakit akibat rokok yang berujung kematian pun ikut meningkat setiap tahunnya. Terdapat data yang menunjukkan jumlah perokok dari seluruh dunia, yaitu sebesar 1,2 milyar dan 800 juta diantaranya terdapat di negara yang sedang berkembang. Data WHO menjelaskan 3 negara sebagai negara yang memiliki perokok terbanyak di dunia yaitu China, India dan Indonesia. Telah banyak upaya yang dilakukan oleh Indonesia untuk dapat memberantas perokok di Indonesia, salah satunya adalah dengan membuat Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56 tahun 2017 mengenai pencantuman peringatan kesehatan dan informasi kesehatan pada kemasan bungkus rokok yang tersebar di seluruh Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Sampel pada penelitian ini merupakan remaja usia 12-14 tahun di 16 SMP yang berada di wilayah Kota Semarang dengan menggunakan teknik probability sampling dengan metode simple random sampling dengan jumlah total responden sebanyak 160 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui metode wawancara dengan menggunakan kuesioner. Analisis data yang dilakukan menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara variabel keterjangkauan (p-value = 0.006), variabel paparan (p-value = 0.039) dan variabel dukungan teman (p-value = 0.008) dengan praktik merokok remaja usia 12-14 tahun di Kota Semarang.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SUAMI DAN KELUARGA DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU PEKERJA SEKTOR FORMAL (Studi pada Wilayah Kerja Puskesmas Kebakkramat I) Alya Hanifa Lisma Febita; Syamsulhuda Budi Musthofa; Novia Handayani
Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) Vol 9, No 2 (2021): MARET
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.754 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v9i2.28853

Abstract

Exclusive breastfeeding for babies will reduce the risk of developing infectious diseases. Many women in Kebakkramat sub-districts work in the formal sector because this area is industrial. Working mothers who are breastfeeding need to divide their time between babysitting and their work, so they need support from their husbands and families to achieve exclusive breastfeeding. This research aimed to analyze the relationship between husband and family support with the exclusive breastfeeding behavior in the work area of Kebakkramat I Health Center. This study conducted using quantitative observational study methods with a cross-sectional approach. The population in this research was 113 of formal sector worker mothers who had babies aged 6-12 months. The sample in this study was 55 respondents selected using simple random sampling. The results of this study showed that the majority of respondents already have good support from their husbands and families, but as many as 80% of husbands who have not suggested respondents to participate Ojek ASI program and 70.9% of families suggest giving complementary foods of breastmilk to babies under 6 months. There is a significant relationship between husband support (p-value= 0,000) and family support (p-value= 0.029) with exclusive breastfeeding behavior. Health workers need to provide correct information about exclusive breastfeeding to husbands and families so they can provide positive support for breastfeeding mothers.
KAWASAN TANPA ROKOK DI KOTA SEMARANG (STUDI OBSERVASIONAL PERDA KTR) Novia Handayani; Bagoes Widjanarko; Kusyogo Cahyo; Abdillah Ahsan; Dian Kusuma
An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 7, No 2 (2020): AN-NADAA JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (DESEMBER)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/ann.v7i2.3671

Abstract

Kota Semarang telah membuat Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 3 Tahun 2013 Tentang Kawasan Tanpa Rokok, namun berdasarkan Riskesdas 2018 proporsi merokok di dalam gedung/ruangan di Kota Semarang masih sangat tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan Kawasan Tanpa Rokok di Kota Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan di 35 Kawasan Tanpa Rokok di Kota Semarang yang tersebar di 7 kawasan yang telah diatur dalam PERDA KTR. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih ada 42,86% tempat yang tidak memasang tanda larangan merokok. Namun, seluruh kantor pemerintahan dan fasilitas pelayanan kesehatan telah memasang tanda larangan merokok (100%). Meskipun demikian, 80% tempat yang diobservasi masih ditemukan puntung rokok, 34,29% ditemukan bungkus rokok, 51,43% tercium bau asap rokok, 31,43% terdapat pegawai merokok, dan 42,86% terdapat pengunjung yang merokok. Enam kawasan masih ditemukan pegawai yang merokok di area KTR, baik di dalam ruangan, di dalam gedung, maupun di pos satpam di dalam pagar. Sebanyak 100% kawasan tempat umum dan 100% kawasan transportasi umum ditemukan bau asap rokok, puntung rokok, dan pengunjung yang merokok. Bungkus rokok masih ditemukan di seluruh kawasan (tujuh), dengan persentase tertinggi terdapat pada kantor pemerintahan (50%). Pelaksanaan PERDA KTR di Kota Semarang masih belum optimal. Diperlukan dukungan, komitmen, dan kerjasama berbagai pihak terutama kawasan yang telah diatur dalam PERDA tersebut. Penerapan sanksi dan pengawasan yang teratur oleh pemimpin kawasan diperlukan dalam menegakkan aturan demi kemaslahatan bersama.
Critical thinking and decision-making skills regarding reproductive health among pupils in Central Java Bagoes Widjanarko; Ratih Indraswari; Novia Handayani; Aditya Kusumawati
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 12, No 2: June 2023
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v12i2.22138

Abstract

Many teenagers are entangled in promiscuity which results in unwanted pregnancies, early marriages, or abortions. How a teenager decides something in their life is influenced by their previous experience and environment. This study aims to determine the critical thinking and decision-making skills of pre-adolescence children in terms of reproductive health. This research is a cross- sectional study conducted on 12,689 pupils in Semarang, Central Java Province, Indonesia. The proportion of respondents based on sex and grade is quite balanced. As many as 49% of the pupils lack knowledge and a permissive attitude (52.5%) about reproductive health. Of 50% of pupils have low critical thinking skills and only 61.4% have good decision-making skills. Girls have better critical thinking skills than boys (p=0.004). Knowledge affects critical thinking and decision-making skills in pupils (OR=1.2). Pupils who can think critically tend to have good decision-making skills (p<0.001, OR=5.1). Decision-making skills in children are influenced by critical thinking skills. Both are influenced by knowledge. The health and education offices need to collaborate to increase pupils’ health and reproductive knowledge.
SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT HEWAN TERNAK SAPI DENGAN METODE BAYESIAN NETWORK Novia Handayani
JURNAL PERENCANAAN, SAINS DAN TEKNOLOGI (JUPERSATEK) Vol 4 No 1 (2021): Jurnal Perencanaan, Sains, Teknologi, dan Komputer (JuPerSaTek)
Publisher : FAKULTAS TEKNIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sapi merupakan hewan yang memiliki banyak potensi ekonomi. Penyakit ternak dapat menyebar dengan cepat, dan dapat membuat ternak mati. Penyakit ternak bisa disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, dan parasit. Untuk mencegah penyakit pada sapi tidak berlanjut, para peternak sapi harus mengetahui tentang penyakit pada hewan sapi, sehingga dapat melakukan pencegahan dan pengobatan sedini mungkin. Sistem pakar merupakan sistem yang dirancang untuk meniru keahlian seorang pakar dalam memecahkan masalah. Oleh karena itu perlu dikembangkan sistem pakar agar petani dan masyarakat dapat mengetahui dan mendeteksi penyakit sedini mungkin, sehingga pengobatan dapat dilakukan dengan cepat sebelum petani berkonsultasi dengan dokter. Pengetahuan yang terstruktur mengacu pada literatur dan wawancara dengan dokter tentang penyakit hewan ternak yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit berdasarkan gejala penyakit dan cara pengobatannya. Penentuan penyakit dalam sistem pakar dilakukan melalui proses konsultasi antar pengguna. Sistem akan menampilkan gejala penyakit pada sapi, kemudian pengguna memilih gejala yang dialami. Gejala yang dipilih pengguna akan disesuaikan dengan aturan yang ada sehingga pengguna akan mendapatkan diagnosis gejala, jenis penyakit, solusi pengobatan, dan nilai probabilitas. Sistem pakar mampu memberikan informasi dan penanganan dini jika hewan sapi yang terdeteksi mengalami nyeri.
Pengembangan Desain Ekstrakurikuler PAI di SMA/MA Sederajat Anton, Anton; Novia Handayani; Sri Hera; Siti Nuraisyah; Suci Laela N
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 1 No. 6 (2024): Desember 2024 - Januari 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat SMA/sederajat yang lebih inovatif dan relevan dengan perkembangan kebutuhan siswa. Dalam konteks pendidikan yang semakin dinamis, ekstrakurikuler PAI harus mampu tidak hanya menyampaikan ajaran agama tetapi juga mengembangkan karakter, keterampilan sosial, dan kepemimpinan siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka, dengan menganalisis berbagai referensi yang relevan mengenai desain ekstrakurikuler PAI di tingkat SMA. Analisis ini melibatkan kajian terhadap berbagai model kegiatan ekstrakurikuler PAI yang telah terbukti efektif serta rekomendasi untuk penerapan metode baru yang lebih menarik dan bermanfaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain ekstrakurikuler PAI yang melibatkan kegiatan yang variatif, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi dengan pihak luar seperti organisasi keagamaan dapat meningkatkan pemahaman agama, membentuk karakter positif siswa, dan mengembangkan keterampilan kepemimpinan mereka. Oleh karena itu, desain ekstrakurikuler PAI yang terstruktur dan terintegrasi sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat SMA/sederajat yang lebih efektif dalam membentuk karakter dan keterampilan siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka, yang menganalisis berbagai literatur terkait desain ekstrakurikuler PAI yang ada saat ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler PAI yang melibatkan beragam aktivitas seperti dakwah, pengabdian masyarakat, dan kajian agama dapat memperkuat pemahaman agama siswa, serta mengembangkan sikap kepemimpinan dan sosial. Desain ekstrakurikuler PAI yang terstruktur dengan inovasi dapat menciptakan generasi yang berakhlak mulia dan siap menghadapi tantangan sosial.
Perspectives on Reproductive Health Education among Javanese Parents Widjanarko, Bagoes; Indraswari, Ratih; Kusumawati, Aditya; Handayani, Novia
Kesmas Vol. 17, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to investigate the perspectives of reproductive health education among Javanese parents of children aged 9-11 years. This cross-sectional study was conducted with 12,306 parents in Semarang City, Central Java Province, Indonesia, using a purposive sampling technique. Some parents agreed that reproductive health education at home was unnecessary (29.5%), taboo (45%), difficult (73.1%), and awkward (41.5%). Most parents (72.7%) were not transparent in providing reproductive health information to their children by using other terms to name the genitals, considering the politeness aspect. Good practices of providing reproductive health information are slightly more common in mothers (54.2%), unemployed parents (52.9%), those with a higher education level (69.5%), and those with a family income above the regional minimum wage (59.8%). As many as 76.9% of parents intensely monitor their children; however, 60.63% of parents have poor communications with their children. Parents believe that reproductive health information is essential for their children, but parents find the topic difficult with their children due to taboos and awkward feelings. Accordingly, the Indonesian Ministry of Health should empower parents to discuss reproductive health issues with their children openly.