Syukur Madani Siregar
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PELAKSANAAN PROGRAM SHOLAT DHUHA DALAM MENINGKATKAN SOSIAL EMOSIONAL PESERTA DIDIK Mhd. Alang Khairun Nizar; Syukur Madani Siregar; Nia Asriani
At-Tarbiyah: Journal of Islamic Religious Research and Education Vol. 4 No. 1 (2026): At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam
Publisher : STAI Tebing Tinggi Deli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dasar pertimbangan, perencanaan, dan pelaksanaan program Sholat Dhuha dalam meningkatkan perkembangan sosial emosional peserta didik kelas X-5 di SMA Negeri 1 Dolok Masihul. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data primer diperoleh dari kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, guru, dan peserta didik kelas X-5, sedangkan data sekunder berasal dari dokumen dan arsip sekolah. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diperiksa melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Sholat Dhuha dilaksanakan sebagai kegiatan pembiasaan keagamaan pada awal pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Kegiatan meliputi persiapan, berwudu, pelaksanaan Sholat Dhuha secara berjamaah, serta doa dan zikir. Program didukung oleh kepala sekolah, guru, dan sarana yang tersedia. Pelaksanaannya memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan sosial emosional peserta didik, terutama kedisiplinan, ketenangan, kesiapan belajar, kemampuan mengendalikan emosi, kesabaran, tanggung jawab, dan hubungan sosial yang lebih baik. Kendala yang ditemukan adalah keterlibatan seluruh guru yang belum optimal dan belum adanya evaluasi program secara berkelanjutan. Dengan demikian, pembiasaan Sholat Dhuha yang terarah dan konsisten dapat menjadi salah satu upaya mendukung perkembangan sosial emosional peserta didik.
IMPLEMENTASI STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR PAI PADA SISWA DI SMA NEGERI 1 TEBING SYAHBANDAR KABUPATEN SERDANG BEDAGAI Chairuddin Siregar; Syukur Madani Siregar; Rindi Antika
At-Tarbiyah: Journal of Islamic Religious Research and Education Vol. 4 No. 1 (2026): At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam
Publisher : STAI Tebing Tinggi Deli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rendahnya minat belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) mendorong perlunya penerapan strategi pembelajaran yang mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan implementasi strategi pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan minat belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) pada siswa di SMA Negeri 1 Tebing Syahbandar Kabupaten Serdang Bedagai, (2) menganalisis perubahan minat belajar siswa sebelum dan sesudah diterapkannya strategi pembelajaran berbasis masalah, serta (3) mendeskripsikan kendala yang dihadapi guru beserta upaya yang dilakukan dalam mengatasi kendala tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi strategi pembelajaran berbasis masalah telah dilaksanakan secara sistematis melalui tahapan penyajian masalah, diskusi kelompok, presentasi hasil, dan penarikan kesimpulan, sehingga pembelajaran menjadi lebih aktif, komunikatif, dan berpusat pada peserta didik. Penerapan strategi ini juga mampu meningkatkan minat belajar siswa yang ditandai dengan meningkatnya perhatian, antusiasme, rasa ingin tahu, keberanian bertanya, keaktifan berdiskusi, kemampuan menyampaikan pendapat, serta kesungguhan mengikuti pembelajaran. Adapun kendala yang dihadapi guru meliputi perbedaan kemampuan dan karakteristik siswa, rendahnya kepercayaan diri sebagian peserta didik, serta keterbatasan waktu pembelajaran. Upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi kendala tersebut yaitu memberikan motivasi dan pendampingan, membentuk kelompok belajar yang heterogen, memilih permasalahan yang kontekstual, serta mengelola waktu pembelajaran secara efektif. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa implementasi strategi pembelajaran berbasis masalah terbukti efektif dalam meningkatkan minat belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) pada siswa di SMA Negeri 1 Tebing Syahbandar Kabupaten Serdang Bedagai.
IMPLEMENTASI STRATEGI INKUIRI DALAM PEMBELAJARAN FIQIH KELAS X DI MADRASAH ALIYAH BUSTANUL ULUM GUPPI KOTA TEBING TINGGI Winda Novianti; Syukur Madani Siregar; Muhammad Fauzan
At-Tarbiyah: Journal of Islamic Religious Research and Education Vol. 4 No. 1 (2026): At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam
Publisher : STAI Tebing Tinggi Deli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi strategi inkuiri dalam pembelajaran Fiqih kelas X di Madrasah Aliyah Bustanul Ulum GUPPI Kota Tebing Tinggi, meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi pembelajaran, serta faktor pendukung dan penghambat penerapannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan melibatkan kepala madrasah, guru mata pelajaran Fiqih, dan siswa kelas X sebagai sumber informasi. Analisis data dilakukan melalui tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi inkuiri diterapkan melalui kegiatan mengamati, merumuskan masalah, mencari dan mengumpulkan informasi, berdiskusi, menganalisis, mempresentasikan hasil, serta menarik kesimpulan dengan bimbingan guru. Penerapan strategi ini mendorong siswa untuk lebih aktif bertanya, menjawab pertanyaan, berdiskusi, bekerja sama, dan menyampaikan pendapat dalam proses pembelajaran. Adapun hambatan yang dihadapi meliputi perbedaan kemampuan siswa, keterbatasan waktu pembelajaran, dan kurangnya kepercayaan diri sebagian siswa. Oleh karena itu, guru perlu memberikan bimbingan bertahap, membentuk kelompok diskusi, dan menciptakan suasana belajar yang mendorong partisipasi aktif siswa. Dengan demikian, strategi inkuiri dapat menjadi salah satu alternatif untuk menciptakan pembelajaran Fiqih yang aktif dan berpusat pada siswa.
IMPLEMENTASI STRATEGI JIGSAW UNTUK PEMAHAMAN SISWA PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS DI KELAS X MAS AL-WASLIYAH DESA PAKAM KEC.MEDANG DERAS KAB. BATU BARA Yusman Yusman; Syukur Madani Siregar; Sri Wulan Fadila
At-Tarbiyah: Journal of Islamic Religious Research and Education Vol. 4 No. 1 (2026): At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam
Publisher : STAI Tebing Tinggi Deli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran Al-Qur'an Hadits di madrasah masih sering didominasi ceramah dan hafalan sehingga siswa cenderung pasif dan pemahaman maknanya belum merata. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi strategi Jigsaw pada mata pelajaran Al-Qur'an Hadits di kelas X MAS Al-Wasliyah Desa Pakam, Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Batu Bara, serta menggambarkan dampaknya terhadap pemahaman dan motivasi belajar siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Informan terdiri atas kepala madrasah, guru mata pelajaran, dan lima siswa kelas X. Data dianalisis dengan model Miles dan Huberman (reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi) dan diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan enam fase pembelajaran, yaitu penyampaian tujuan dan motivasi, penyajian informasi, pengorganisasian kelompok, pembimbingan kelompok, evaluasi, dan pemberian penghargaan. Penerapan tersebut tampak meningkatkan keinginan belajar, ketekunan, upaya untuk maju, dan semangat berkompetisi secara sehat, yang pada gilirannya mendukung pemahaman siswa. Hambatan utama adalah keterbatasan waktu, kemampuan kelompok ahli yang belum merata, dan risiko kekeliruan materi yang menuntut pengawasan guru. Strategi Jigsaw layak dipertimbangkan sebagai alternatif pembelajaran Al-Qur'an Hadits yang kooperatif dan berpusat pada siswa.
IMPLEMENTASI MODEL DISCOVERY LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI FIKIH MUNAKAHAT DI KELAS XI SMAN 1 TELUK MENGKUDU Mukhlis Mukhlis; Syukur Madani Siregar; Raudhatun Nazwa
At-Tarbiyah: Journal of Islamic Religious Research and Education Vol. 4 No. 1 (2026): At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam
Publisher : STAI Tebing Tinggi Deli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran fikih munakahat masih cenderung teoretis dan berorientasi hafalan sehingga belum banyak melatih siswa berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi model Discovery Learning, kemampuan berpikir kritis siswa, serta faktor pendukung dan penghambatnya pada materi fikih munakahat di kelas XI SMAN 1 Teluk Mengkudu. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dari dua guru PAI dan beberapa siswa kelas XI, dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diuji keabsahannya dengan triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keenam sintaks Discovery Learning, yaitu stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, dan generalization, terlaksana dengan guru sebagai fasilitator melalui video, studi kasus, diskusi kelompok, dan mind map. Kemampuan berpikir kritis siswa berkembang pada kelima indikator Ennis, meskipun penguatan guru masih diperlukan. Faktor pendukungnya ialah peran dan kesiapan guru serta keaktifan siswa, sedangkan faktor penghambatnya ialah pengelolaan waktu, keragaman kemampuan siswa, dan keterbatasan referensi serta media. Discovery Learning layak dipertimbangkan sebagai alternatif pembelajaran fikih yang melatih berpikir kritis.
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAMMEMBENTUK ETIKA PERGAULAN SISWA DI SMANEGERI 1 SEI SUKA M. Alang Khairun Nizar; Syukur Madani Siregar; Nabila Cahyarani Br Malau
At-Tarbiyah: Journal of Islamic Religious Research and Education Vol. 4 No. 1 (2026): At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam
Publisher : STAI Tebing Tinggi Deli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru pendidikan agama islam tidak hanya berperan sebagai penyampai materi pembelajaran, tetapi juga berperan penting dalam membentuk etika pergaulan siswa sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran guru pendidikan agama islam dalam membentuk etika pergaulan siswa, kendala yang dihadapi beserta upaya mengatasinya, serta evaluasi pelaksanaan peran tersebut di SMA Negeri 1 Sei Suka Kabupaten Batu Bara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara dengan kepala sekolah, guru pendidikan agama islam, dan siswa, serta melalui observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran guru pendidikan agama islam dalam membentuk etika pergaulan siswa dilaksanakan melalui tiga peran utama, yaitu sebagai teladan, penasihat, dan pengawas. Kendala yang dihadapi meliputi perbedaan karakter dan kesadaran siswa, pengaruh teman sebaya, media sosial, serta lingkungan keluarga; upaya mengatasinya dilakukan melalui pemberian nasihat secara konsisten, keteladanan, pendekatan personal, serta koordinasi dengan orang tua. Evaluasi menunjukkan adanya perubahan sikap positif pada sebagian siswa, meskipun sekolah belum memiliki pencatatan khusus untuk memantau perkembangan etika siswa secara berkala sehingga pembinaan perlu dilakukan secara berkelanjutan.