Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

IMPLEMENTASI KONSEP IMMERSIVE EXPERIENCE PADA DESAIN MUSEUM GUNUNGAPI MERAPI YOGYAKARTA Zalzabila Asnika Zahra; Tita Cardiah; Dea Aulia Widyaevan; Ganesha Puspa Nabila
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v8i3.3864

Abstract

Abstract: Implementation of the immersive experience concept in the design of the Merapi Volcano Museum in Yogyakarta to give visitors the experience of Mount Merapi to feel like they are in the real world. Because this immersive experience makes learning or providing information interesting and memorable for museum visitors. The phenomenon of museum fatigue is also one of the factors in the decline in the number of museum visitors in Indonesia, which was first put forward in 1916 by Benjamin Gilman who discussed the phenomenon of the decline in the number of museum visitors that occurred over several time periods. Problems based on the interior design components for the Merapi Volcano Museum are as follows: 1. Lack of interactive display facilities. The delivery of information is still difficult to understand because the delivery of collection information is presented in long text so that visitors rarely read the information. 2. Too much use of natural lighting in the exhibition causes visitors to be distracted from observing digital displays. Data collection for the design of the Merapi Volcano Museum used several stages, namely interviews, observation, references, perception and design. The findings from this immersive experience include the use of 3D dioramas, the use of audio in the form of eruptions from the Merapi volcano, the use of XR, VR, interactive layers and earthquake displays.Keyword: museum, immersive experince, displayAbstrak: Implentasi konsep immersive experince pada desain Museum Gunungapi Merapi di Yogyakarta untuk memberikan experience gunung merapi kepada para pengunjung merasakan berada seperti dalam dunia yang sesungguhnya. Karena dengan adanya immersive experience ini membuat pembelajaran atau pemberian informasi menjadi menarik dan juga berkesan bagi para pengunjung museum. Fenomena kelelahan museum atau museum fatigue juga menjadi salah satu faktor menurunnya jumlah pengunjung museum di Indonesia, yang dikemukakan pertama kali pada tahun 1916 oleh Benjamin Gilman yang membahas mengenai fenomena penurunan jumlah pengunjung museum yang terjadi dalam beberapa periode waktu. Permasalahan berdasarkan komponen perancangan interior untuk Museum Gunungapi Merapi adalah sebagai berikut: Pertama, kurangnya fasilitas display interaktif. penyampaian informasi yang masih sulit dipahami karena penyampaian informasi koleksi dipaparkan dalam bentuk teks panjang sehingga pengunjung jarang yang membaca informasi. Kedua, terlalu banyaknya penggunaan pencahayaan alami di dalam pameran yang menyebabkan terganggunya pengunjung dalam mengamati display yang ditampilkan secara digital. Pengambilan data perancangan Museum Gunung Api Merapi ini menggunakan beberapa tahap yaitu wawancara, observasi, referensi, perencanaan dan perancangan. Metoda pembahasan adalah perencanaan dan perancangan. Temuan dari immersive experience ini berupa penggunaan 3D diorama, penggunaan audio berupa letusan dari gunungapi Merapi, penggunaan XR, VR, layar interaktif serta peraga gempa bumiKata Kunci: museum, immersive experince, display
Penerapan Pencahayaan Buatan Terhadap Karya di Ruang Galeri Foto pada Perancangan Interior Pusat Fotografi di Bandung Dhia Fakhirah; Mahendra Nur Hadiansyah; Ganesha Puspa Nabila
Jurnal Desain Interior Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j12345678.v5i2.7270

Abstract

Galeri merupakan ruangan yang digunakan untuk mempamerkan karya seni. Galeri dapat dijadikan sebagai tempat untuk kegiatan rekreasi, hiburan, edukasi, bisnis, serta apresiasi kepada seniman. Galeri foto merupakan ruangan yang mempamerkan karya-karya fotografi dari para fotografer. Dalam ruang galeri, peran pencahayaan buatan terhadap karya yang di pamerkan cukup penting. Dengan pencahayaan buatan dapat menonjolkan serta memfokuskan para pengunjung ke karya. Dengan pengaturan pencahayaan buatan, juga dapat menimbulkan kesan-kesan tertentu terhadap karya. Penggunaan pencahayaan buatan lebih baik dibandingkan pencahayaan alami, dimana pencahayaan alami lebih rentan dapat merusak karya dari sinar ultraviolet. Pada studi kasus perancangan pusat fotografi ini, pengaplikasian pencahayaan pada ruang galeri dapat memberikan kesan-kesan tertentu terhadap karya, dengan pengaturan dari arah cahaya, jenis, dan teknik yang digunakan pada ruangan.
Kajian Pendekatan Lokalitas Ruang Publik Hotel Horison Sukabumi Dalam Meningkatkan Pengalaman Tamu Galih Mahfuzh Zain; Ully Irma Maulina Hanafiah; Ganesha Puspa Nabila
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 3 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i3.1044

Abstract

Ruang publik hotel memiliki peran penting dalam membentuk identitas ruang sekaligus pengalaman tamu. Di tengah pesatnya perkembangan globalisasi dan modernisasi, banyak hotel cenderung menghadirkan desain ruang publik yang seragam, generik, dan kurang merepresentasikan karakter lokal. Kondisi ini menjadikan lokalitas sebagai aspek yang semakin penting untuk dihadirkan kembali, khususnya pada ruang publik hotel di Sukabumi yang memiliki kekayaan kearifan lokal dan potensi identitas daerah yang kuat. Sayangnya, kearifan lokal sering kali hanya dimaknai sebagai elemen dekoratif, padahal sejatinya dapat menjadi bagian dari pembentuk suasana, kenyamanan, dan pengalaman ruang yang lebih bermakna bagi tamu. Penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan pendekatan lokalitas pada ruang publik Hotel Horison Sukabumi dalam meningkatkan pengalaman tamu. Dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif melalui observasi visual, analisis spasial, dan kajian teori pengalaman ruang, penelitian ini menemukan bahwa ruang publik hotel telah memenuhi kebutuhan fungsional, namun belum sepenuhnya menghadirkan pengalaman ruang yang kontekstual dan berkarakter lokal. Berdasarkan temuan tersebut, pendekatan kritik regionalisme dipilih sebagai solusi untuk mengintegrasikan nilai-nilai lokal Sukabumi secara interpretatif ke dalam material, elemen visual, tata ruang, dan atmosfer ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan lokalitas yang kritis dan kontekstual berpotensi memperkuat identitas ruang dan kualitas pengalaman tamu tanpa menghilangkan citra modern hotel.