Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Effectiveness of Camellia Sinensis L Extract in Inhibiting the Growth of Staphylococcus aureus Asmah, Nur; Ilmianti, Ilmianti; Abdi, Muhammad Jayadi; Irawati, Erna; Nursaid, Herawati
Journal of Syiah Kuala Dentistry Society Vol 8, No 2 (2023): December 2023
Publisher : Dentistry Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jds.v8i2.32682

Abstract

Background: Gingivitis and periodontitis are the two most common periodontal conditions. Staphylococcus aureus was reported as a trigger. Compounds active from the green ( Camellia Sinensis L) have been reported to be beneficial as antibacterial. Objective: know the effectiveness of extract tea leaves green 8%, 10%, and 12% in inhibiting bacterial growth of Staphylococcus aureus. Method: The study was conducted in a way that involved 25 power resistors. S. aureus was assessed with a diffusion disc technique with a post-test type-only control design. As well as test statistics Kruskal-Wallis. Results: Based on The results of the Kruskal-Wallis test showed a p-value of 0.0000.05. So, there was a significant difference between the 8%, 10%, and 12% extract treatments and the control group. Conclusion: Extracting leaves with a green concentration of 12% effectively hinders bacteria Staphylococcus aureus.
PENGARUH STATUS GIZI TERHADAP ERUPSI GIGI TETAP PREMOLAR KEDUA RAHANG ATAS PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN Ilmianti, Ilmianti; Asmara, Aditya Hari; Lasari, Abdullah HD; Abdi, Muhammad Jayadi; Aulia, Thysyah Shabrina
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55198

Abstract

Kondisi gizi memiliki peran penting dalam perkembangan anak, termasuk dalam pertumbuhan tubuh dan erupsi gigi, terutama pada masa krisis gizi usia 10 hingga 12 tahun. Kondisi gizi yang tidak normal pada periode ini dapat memengaruhi waktu erupsi gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh status gizi terhadap erupsi gigi tetap premolar kedua rahang atas pada anak usia 10–12 tahun. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan jumlah sampel 107 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui pengukuran tinggi badan, berat badan, dan pemeriksaan klinis rongga mulut, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman Rank serta perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki status gizi normal (63,6%), dengan mayoritas telah mengalami erupsi gigi (57,0%). Status gizi kurang ditemukan pada 25,2% siswa, dengan 11,2% telah mengalami erupsi dan 14,0% belum mengalami erupsi gigi. Pada kelompok status gizi lebih (11,2%), sebanyak 9,3% telah mengalami erupsi dan 1,9% belum mengalami erupsi. Uji korelasi menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara status gizi dan erupsi gigi premolar kedua rahang atas pada anak usia 10–12 tahun (p = 0,000). Hasil analisis odds ratio menunjukkan nilai OR sebesar 10,893 dengan interval kepercayaan 95% (3,663–32,396). Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara status gizi dengan erupsi gigi premolar kedua rahang atas pada anak usia 10–12 tahun, dan anak dengan status gizi kurang memiliki peluang mengalami keterlambatan erupsi gigi sekitar 10,9 kali lebih besar dibandingkan anak dengan status gizi normal.
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN TENTANG KESEHATAN GIGI MULUT DENGAN STATUS PENYAKIT GINGIVITIS PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN Ilmianti, Ilmianti; Pratiwi, Rini; Natsir, Achmad Baiquni; Aprina, Erika; Nur, Nadyah Nadjwa Arfiani
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55201

Abstract

Gingivitis merupakan penyakit periodontal dengan prevalensi tinggi pada anak sekolah dan dipengaruhi oleh kebersihan gigi dan mulut, serta pengetahuan, sikap, dan tindakan dalam pemeliharaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan keparahan penyakit gingivitis pada siswa usia 10–12 tahun di SDN 1 Tamamaung Kota Makassar. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 107 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner pengetahuan, sikap, dan tindakan, serta pemeriksaan klinis menggunakan Modified Gingival Index (MGI), kemudian dianalisis dengan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki tingkat pengetahuan dan sikap yang cukup baik, namun tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut masih didominasi kategori kurang baik. Keparahan gingivitis pada siswa sebagian besar berada pada kategori ringan hingga sedang. Uji Spearman Rank menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan, sikap, dan tindakan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan keparahan gingivitis (p < 0,05), dengan variabel tindakan memiliki kekuatan hubungan paling besar dibandingkan pengetahuan dan sikap. Disimpulkan bahwa tindakan kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan keparahan gingivitis pada siswa usia 10–12 tahun, sehingga diperlukan edukasi yang berkelanjutan untuk meningkatkan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada anak.