Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : CJPP

Studi Kasus : Dinamika Psikologis Skizoafektif Tipe Manik dengan Pendekatan Humanistik Carl Rogers Nabawiyati, Deti Rizki; Vrisaba, Nanda Audia
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 01 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n01.p17-28

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika psikologis individu dengan gangguan skizoafektif tipe manik menggunakan pendekatan humanistik Carl Rogers. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus.  Menggunakan teknik purposive sampling sebagai pengambilan sampel, dimana partisipan dipilih berdasarkan kriteria, yaitu individu yang mengalami gangguan psikotik. Partisipan adalah seorang perempuan berusia 49 tahun yang didiagnosis skizoafektif sejak usia 32 tahun. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara mendalam (autoanamnesa dan alloanamnesa), observasi perilaku, dan dokumentasi rekam medis. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan pendekatan humanistik teori Carl Rogers. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil yang penuh kekerasan fisik dan verbal, pola asuh pengabaian, kekerasan dalam rumah tangga, hingga pelecehan seksual, serta tekanan ekonomi menjadi faktor dominan dalam munculnya gejala psikosis Inkongruensi yang berkelanjutan antara ideal self dan real self dapat memperburuk kondisi partisipan hingga menyebabkan disorganisasi kepribadian dan berkembang menjadi gangguan psikopatologis
Hubungan antara Quarter Life Crisis dengan Subjective Well-Being pada Mahasiswa Tingkat Akhir Yanuar, Tiara Hany; Vrisaba, Nanda Audia
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p705-713

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir berada dalam fase transisi menuju kedewasaan yang penuh ketidakpastian dan tekanan, seperti beban akademik, ketidakjelasan karier, serta tuntutan sosial, yang dapat memicu quarter life crisis. Kondisi krisis ini berpotensi memengaruhi subjective well being mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara quarter life crisis dengan subjective well being pada mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Subjek penelitian berjumlah 140 mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya angkatan 2021 yang sedang menyusun tugas akhir. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner online, dan dianalisis menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, uji linieritas, serta uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara quarter life crisis dengan subjective well being dengan nilai signifikansi 0,021 (p < 0,05) dan koefisien korelasi sebesar -0,194. Semakin tinggi quarter life crisis yang dialami mahasiswa, maka semakin rendah subjective well being yang dirasakan. Temuan ini menunjukkan bahwa quarter life crisis merupakan salah satu faktor yang memengaruhi subjective well being mahasiswa tingkat akhir. Abstract Final year students are in a transitional phase toward adulthood that is filled with uncertainty and pressure, such as academic demands, career ambiguity, and social expectations, which can trigger a quarter life crisis. This crisis condition has the potential to affect the subjective well being of final year students. This study aims to examine the relationship between quarter life crisis and subjective well being among final year students. This research employed a quantitative approach with a correlational method. The subjects were 140 active students from the Faculty of Psychology, Universitas Negeri Surabaya, class of 2021, who were in the process of completing their final thesis. Data were collected through an online questionnaire and analyzed using the Kolmogorov-Smirnov normality test, linearity test, and Pearson Product Moment correlation test. The results showed a significant negative relationship between quarter life crisis and subjective well-being, with a significance value of 0.021 (p < 0.05) and a correlation coefficient of -0.194. The higher the level of quarter life crisis experienced by the students, the lower their subjective well being. These findings indicate that the quarter life crisis is one of the factors influencing the subjective well being of final year students.
Hubungan Antara Parasocial Relationship dengan Subjective Well-Being Pada Penggemar K-Pop Sadira, Layyina; Vrisaba, Nanda Audia
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p761-773-

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara parasocial relationship dan subjective well-being pada penggemar K-Pop di usia emerging adulthood (18–29 tahun). Parasocial relationship merupakan hubungan satu arah yang dirasakan oleh penggemar terhadap idolanya, sedangkan subjective well-being merupakan penilaian kognitif dan afektif individu terhadap kehidupannya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling dan melibatkan 120 responden anggota grup KPOPERS JATIM Surabaya. Data dikumpulkan melalui kuesioner Parasocial Relationship Scale dan skala Subjective Well-Being, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil uji Pearson menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara parasocial relationship dan subjective well-being dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,477 dan signifikansi 0,000 (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin kuat hubungan parasosial seseorang dengan idolanya, semakin tinggi kesejahteraan subjektif yang dirasakan. Abstract This study aims to examine the relationship between parasocial relationship and subjective well-being among K-Pop fans in the emerging adulthood age range (18–29 years). A parasocial relationship refers to a one-sided emotional bond experienced by fans toward their idols, while subjective well being are individuals cognitive and affective evaluations of their lives. This research used a quantitative correlational method with purposive sampling, involving 120 respondents from the KPOPERS JATIM Surabaya community. Data were collected using the Parasocial Relationship Scale and Subjective Well Being Scale, both of which were tested for validity and reliability. Pearson correlation analysis showed a positive and significant relationship between parasocial relationship and subjective well-being, with a correlation coefficient of 0.477 and a significance level of 0.000 (p < 0.05). These findings indicate that the stronger a fan’s parasocial relationship with their idol, the higher their subjective well-being.
Dinamika Inferioritas pada Remaja dengan Depresi Berat dan Gejala Psikotik dalam Perspektif Psikologi Individual Saputri, Praditha Revalia Julaikah; Vrisaba, Nanda Audia
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p998-1007

Abstract

Masalah kesehatan jiwa di Indonesia terus meningkat, terutama pada kelompok usia muda 15 – 24 tahun. Rendahnya angka pengobatan memperburuk kondisi ini dan meningkatkan risiko bunuh diri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika psikologis pasien depresiberat dengan gejala psikotik melalui perspektif psikologi individual Alfred Adler. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi kasus terhadap seorang remaja laki – laki berusia 15 tahun yang didiagnosis depresi berat dengan gejala psikotik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam (autoanamnesa dan alloanamnesa), observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa depresi dengan gejala psikotik pada subjek dipengaruhi oleh pola asuh otoriter dan abai, pengalaman bullying, kurangnya dukungan sosial, serta perasaan inferior yang berkembang menjadi inferioritas kompleks. Pengalaman traumatis akibat kecelakaan yang melibatkan orang lain turut memperkuat rasa bersalah dan memunculkan halusinasi serta waham. Berdasarkan teori Adler, kegagalan subjek dalam mengubah perasaan inferior menjadi superior menyebabkan munculnya gangguan psikologis berat. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya intervensi psikososial yang berfokus pada penguatan harga diri, perbaikan pola asuh, serta peningkatan dukungan sosial untuk mencegah berkembangnya depresi berat pada remaja.  Abstract Mental health problems in Indonesia continue to increase, especially among young people aged 15–24 years. The low rate of treatment exacerbates this condition and increases the risk of suicide. This study aims to analyze the psychological dynamics of a patient with severe depression and psychotic symptoms through Alfred Adler’s Individual Psychology perspective. The method used is a qualitative study with a case study approach involving a 15-year-old male adolescent diagnosed with severe depression and psychotic symptoms. Data were collected through in-depth interviews (auto-anamnesis and allo-anamnesis), observation, and documentation study. The results show that depression with psychotic symptoms in the subject is influenced by authoritarian and neglectful parenting patterns, bullying experiences, lack of social support, and feelings of inferiority that developed into an inferiority complex. Traumatic experiences caused by an accident involving others further reinforced feelings of guilt, leading to hallucinations and delusions. Based on Adler’s theory, the subject’s failure to transform feelings of inferiority into superiority resulted in severe psychological disturbances. The implications of this study highlight the importance of psychosocial interventions focusing on strengthening self-esteem, improving parenting patterns, and enhancing social support to prevent the development of severe depression among adolescents.