Aini, Nurul
Department Of Agronomy, Faculty Of Agriculture, Universitas Brawijaya

Published : 57 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

EVALUASI KEBERLANJUTAN KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (KRPL) DI DESA GIRIMOYO, KECAMATAN KARANGPLOSO, MALANG Ayuning Putri, Nilam Pranita; Aini, Nurul; Heddy, Y. B. Suwasono
Jurnal Produksi Tanaman Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.532 KB) | DOI: 10.21776/201

Abstract

Indonesia adalah negara agraris yang kaya akan hasil pertanian, namun saat ini peningkatan jumlah penduduk tidak seimbang dengan pemenuhan kebutuhan pangan sehingga kebutuhan gizi masyarakat masih rendah. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah bersama dengan menteri pertanian membuat suatu program untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Program kawasan rumah pangan lestari (KRPL) dibentuk untuk memenuhi kebutuhan sayur tingkat rumah tangga sehingga terwujud kemandirian pangan. Desa Girimoyo merupakan kawasan percontohan di daerah Malang untuk program Kawasan Rumah Pangan Lestari. Namun dalam pelaksanaannya terdapat beberapa hambatan yang mengakibatkan terhentinya program tersebut sehingga perlu digali potensi, keberlanjutan dan masalah pada pelaksana berdasarkan beberapa aspek. Penelitian dilaksanakan pada bulan april- juni 2014 di Desa Girimoyo, Karangploso, Malang dengan mengkaji aspek ekologi, sosial dan ekonomi. Penelitian dilakukan dengan metode survey dan dianalisis menggunakan software RAPFISH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga aspek yang dikaji status keberlanjutan Kawasan Rumah Pangan Lestari Desa Girimoyo mencapai status cukup berlanjut dengan indeks keberlanjutan 63, 84%. Kata kunci: Kawasan Rumah Pangan Lestari, Keberlanjutan, status keberlanjutan, Indeks Keberlanjutan.
PENGARUH WAKTU TANAM BAWANG PREI (Allium porum L.) PADA SISTEM TUMPANGSARI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata) Ratri, Carina Hesti; Soelistyono, Roedy; Aini, Nurul
Jurnal Produksi Tanaman Vol 3, No 5 (2015)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.853 KB) | DOI: 10.21776/217

Abstract

Tumpangsari adalah sistem tanam dimana terdapat dua atau lebih jenis tanaman yang berbeda ditanam secara bersamaan dalam waktu relatif sama atau berbeda. Sistem tumpangsari mengakibatkan terjadinya kompetisi antara tanaman utama dan tanaman sela. Upaya untuk mengurangi kompetisi maka dapat dilakukan dengan mengatur waktu tanam yang tepat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui waktu tanam bawang prei yang tepat diantara perlakuan yang dicoba terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 9 perlakuan : P1 = Tanam bawang prei bersamaan dengan tanam jagung manis, P2 = Bawang prei 7 hari sebelum jagung manis, P3 = Bawang prei 14 hari sebelum jagung manis, P4 = Bawang prei 21 hari sebelum jagung manis, P5 = Bawang prei 7 hari setelah jagung manis, P6 = Bawang prei 14 hari setelah jagung manis, P7 = Bawang prei 21 hari setelah jagung manis, P8 = Monokultur jagung manis bersamaan dengan P1, P9 = Monokultur bawang prei bersamaan dengan P1. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh nyata pada hasil klobot tanaman jagung manis dan bobot segar pada tanaman bawang prei. Kata kunci : Jagung manis, Bawang prei, Tumpangsari, Waktu tanam
RESPON TIGA VARIETAS TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.) TERHADAP APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH GIBERELIN (GA3) Kartikasari, Oktavian; Aini, Nurul; Koesriharti, Koesriharti
Jurnal Produksi Tanaman Vol 4, No 6 (2016)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/312

Abstract

Produksi mentimun di Indonesia masih tergolong rendah karena usaha tani mentimun masih dianggap sebagai usaha sampingan. Peningkatan jumlah penduduk Indonesia maupun dunia berpengaruh terhadap naiknya konsumsi sayuran. Di Indonesia anjuran konsumsi sayuran untuk mencapai sehat gizi adalah sebesar 65,5 kg/kapita/tahun. Saat ini konsumsi tersebut baru terpenuhi 80 %. Salah satu upaya untuk meningkatkan persediaan sayuran adalah dengan meningkatkan produksi mentimun. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui respon tiga varietas mentimun  (Cucumis sativus L.) terhadap aplikasi zat pengatur tumbuh giberelin (GA3) pada saat awal berbunga. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2013 - Februari 2014 di Batu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Petak utama adalah 3 varietas mentimun yaitu Roberto F1, Vanesa dan Mercy F1. Anak petak adalah konsentrasi GA3 yaitu 0 ppm (kontrol) , 25 ppm, 50 ppm  dan 75 ppm. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi antara varietas dan aplikasi GA3 pada semua peubah pengamatan. Pada perlakuan varietas menunjukkan bahwa pengamatan diameter buah dan jumlah biji per buah Vanesa dan Mercy F1 lebih tinggi daripada Roberto F1 tetapi, pada pengamatan jumlah bunga jantan lebih tinggi dan umur panen lebih lambat. Perlakuan aplikasi  GA3 menunjukkan bahwa konsentrasi 75 ppm menurunkan diameter buah.
RESPON TIGA JENIS SAWI (Brassica sp.) TERHADAP APLIKASI MACAM MULSA Sutarto, Ulfa Annisa; Koesriharti, Koesriharti; Aini, Nurul
Jurnal Produksi Tanaman Vol 4, No 6 (2016)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/315

Abstract

Sawi (Brassica juncea L.) adalah komoditas sayuran yang memiliki tingkat konsumsi yang tinggi dan berprospek untuk dikembangkan di Indonesia. Pengembang-an perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi sawi. Salah satu teknik budidaya untuk meningkatkan produksi sawi yang optimal yaitu dengan memodifikasi iklim mikro disekitar tanaman dengan meng-gunakan mulsa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon tiga jenis sawi terhadap aplikasi macam mulsa. Penelitian dilaksanakan bulan Maret sampai April 2014. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Petak utama adalah tiga jenis sawi yaitu, sawi hijau, pakcoy dan sawi pahit. Anak petak adalah aplikasi macam mulsa yaitu, mulsa plastik hitam perak, mulsa jerami, mulsa daun tebu dan mulsa batang jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi terha-dap tinggi tanaman, pada jenis sawi hijau, pakcoy dan sawi pahit menunjukkan respon berbeda terhadap aplikasi mulsa batang jagung. Perlakuan jenis sawi menunjukkan tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot segar total tanaman sawi hijau lebih tinggi daripada sawi pahit. Pemberian mulsa jerami, mulsa daun tebu dan mulsa batang jagung menunjukkan bobot segar tanaman saat panen dan bobot ekonomis saat panen lebih tinggi dibandingkan dengan aplikasi mulsa plastik hitam perak.
KOMPOSISI NUTRISI DAN MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L.) SISTEM HIDROPONIK Wahyuningsih, Anis; Fajriani, Sisca; Aini, Nurul
Jurnal Produksi Tanaman Vol 4, No 8 (2016)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/333

Abstract

Kebutuhan hasil pertanian semakin meningkat seiring jumlah penduduk yang semakin meningkat, akan tetapi lahan pertanian semakin terbatas. Hidroponik merupakan sistem budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tumbuh tanaman. Pemberian nutrisi dibutuhkan untuk budidaya tanaman secara hidroponik, unsur hara esensial baik makro maupun mikro. Pakcoy adalah tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Tujuan dari penelitian untuk mempelajari pengaruh komposisi nutrisi dan media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy. Penelitian dilaksanakan bulan Juni hingga Juli 2014 di Screenhouse kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Alat yang digunakan yaitu polybag, LAM (Leaf Area Meter). Bahan yang digunakan yaitu benih pakcoy, arang sekam, pasir, Mix AB, Growmore, Gandasil D, NPK. Penelitian  dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana yang menggunakan  perlakuan komposisi nutrisi dan media tanam. Perlakuan komposisi media dan nutrisi memberikan hasil berbeda nyata pada tanaman pakcoy terhadap semua parameter pertumbuhan yaitu parameter jumlah daun pada umur pengamatan 18 dan 35 hst, luas daun pada umur pengamatan 9 dan 35 hst, bobot segar total tanaman dan bobot segar konsumsi pada umur pengamatan 9, 18 dan 27 hst, dan bobot kering pada semua umur pengamatan. Perlakuan komposisi media dan nutrisi memberikan hasil yang berbeda nyata pada tanaman pakcoy terhadap parameter Indeks Panen. Komposisi pasir dengan nutrisi NPK dan Gandasil D mampu memberikan hasil yang baik untuk tanaman pakcoy dengan sistem hidroponik.
KAJIAN PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) TERHADAP TINGKAT KOMPLEKSITAS SISTEM PERTANIAN YANG BERBEDA Andita, Rossala Putri; Khumairoh, Uma; Guritno, Bambang; Aini, Nurul
Jurnal Produksi Tanaman Vol 4, No 8 (2016)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/337

Abstract

Desakan untuk peningkatan produksi beras sebagai salah satu makanan pokok penduduk Indonesia terus mengalami peningkatan. Sampai saat ini upaya yang dilakukan cenderung meningkatkan penggunaan bahan kimia. Penerapan sistem pertanian ramah lingkungan diharapkan mampu menurunkan tingkat pencemaran akibat penggunaan bahan kimia. Tujuan dari penelitian adalah untuk mempelajari pertumbuhan tanaman padi pada tingkat kompleksitas yang berbeda yang terdiri dari integrasi azolla, ikan dan bebek ke dalam pertanaman padi dengan menggunakan pola tanam jajar legowo. Percobaan dilaksanakan pada bulan Mei sampai September 2014 di Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Bahan yang digunakan yakni padi, pupuk organik (kandang bebek), azolla, bebek, ikan dan pupuk anorganik. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 6 perlakuan dan 3 ulangan serta menggunakan perlakuan sistem pertanian konvensional dengan sistem pertanian integrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem integrasi paling kompleks padi, pupuk kandang bebek, bebek, ikan dan azolla tidak berbeda nyata terhadap parameter pertumbuhan yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan, berat basah serta laju pertumbuhan relatif (LPR) pada sistem pertanian konvensional namun berbeda nyata dengan pertumbuhan padi pada sistem organik yang hanya menggunakan pupuk organik. Dengan hasil pertumbuhan yang tidak nyata ini mengindikasikan bahwa sistem pertanian terpadu dapat dikembangkan sebagai alternatif pengganti pertanian konvensional tanpa harus menyumbang polusi ke lingkungan dan bahan pangan. Lebih jauh lagi, dengan ketrampilan yang memadahi yang dimiliki petani, sistem pertanian terpadu ini memiki prospek mampu meningkatkan pendapatan petani dengan kelebihannya yang tidak hanya mampu memproduksi padi tapi juga komoditas lain seperti ikan, bebek dan azolla.
PENGARUH KONSENTRASI DAN FREKUENSI PEMBERIAN PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL CABAI BESAR (Capsicum annum L.) Wahyuningratri, Anggraheni; Aini, Nurul; Heddy, Y.B. Suwasono
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/355

Abstract

Cabai besar (Capsicum annum L.) ialah tanaman hortikultura yang cukup penting di Indonesia karena dimanfaatkan sebagai bumbu penyedap dan pelengkap bumbu untuk membuat masakan khas Indonesia. Berdasarkan data BPS (2012), prosentasi produksi cabai besar di Jawa timur masih rendah dibandingkan dengan produksi cabai besar nasional. Produktivitas cabai besar di Jawa timur yang belum stabil kurang sebanding dengan kebutuhan masyarakat yang setiap tahunnya terus meningkat. Peningkatan produktivitas cabai besar dapat dilakukan dengan pemupukan meng-gunakan pupuk hayati. Kandungan yang terdapat dalam pupuk hayati merupakan mikroorganisme tanah yang dapat mem-bantu menyuburkan tanah dan mem-fasilitasi kebutuhan unsur hara tanaman cabai. Diharapkan dengan penggunaan mikroorganisme tanah ini tidak mencemari lingkungan karena tidak menggunakan senyawa kimia, serta dapat memperbaiki struktur tanah dan ketersediaan hara dalam tanah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan dan hasil tanaman cabai besar (C. annum L.) terhadap aplikasi pupuk hayati dan me-ngetahui konsentrasi serta frekuensi pemberian pupuk hayati yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai besar (C. annum L). Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli hingga Nopember 2013 di kecamatan Dau, kota Malang. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa secara umum pengaplikasian konsentrasi dan frekuensi pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil cabai besar, namun aplikasi konsentrasi pupuk hayati secara terpisah berpengaruh terhadap hasil cabai besar pada parameter bobot segar buah per tanaman dan jumlah buah panen. Peng-aplikasian konsentrasi 5 ml l-1 pupuk hayati dapat meningkatkan 41,71% bobot segar buah per tanaman dan 43,90% pada jumlah buah panen
PENGARUH AMELIORAN TANAH PADA PERTUMBUHAN TANAMAN KEDELAI (Glycine max L.) PADA KONDISI SALINITAS Yulianto, Rahmawan; Dwi Yamika, Wiwin Sumiya; Aini, Nurul
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/371

Abstract

Salinitas menjadi faktor pembatas pertumbuhan tanaman pada tanah salin. Peningkatan pertumbuhan dapat dilakukan dengan cara menggunakan varietas tahan serta penambahan amelioran yang dapat memperbaiki kondisi tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian amelioran tanah terhadap pertumbuhan dari genotip tanaman kedelai. Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga September 2014 di rumah kaca Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Jatikerto, Kabupaten Malang. Metode penelitian menggunakan rancangan petak terbagi (RPT) faktorial yang terdiri petak utama yaitu genotip kedelai dan anak petak yaitu amelioran. Hasil penelitian menunjukkan genotip kedelai yang berbeda memiliki hasil yang berbeda pula. Pada hasil pertumbuhan, Varietas Wilis dan Tanggamus memiliki nilai tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, serta  bobot kering tajuk dan akar yang lebih tinggi dibandingkan dengan Genotip IAC, 100/Bur//Malabar dan Argopuro//IAC, 100. Namun pada hasil pertumbuhan indeks klorofil daun menunjukkan Genotip IAC, 100/Bur//Malabar dan Argopuro//IAC, 100 lebih baik dibandingkan dengan Varietas Wilis dan Tanggamus. Pada penggunaan amelioran, amelioran jerami secara umum menunjukkan hasil pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot kering tajuk, yang lebih tinggi dibandingkan dengan amelioran yang lain. Sedangkan pada hasil interaksi hanya terjadi pada tinggi tanaman pada umur tanaman 14, 56 dan 63 hst.
RESPON GALUR HARAPAN GANDUM (Triticum aestivum L.) TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN DI DATARAN MEDIUM Sandi, Farhadz Fadhillah; Aini, Nurul; Barunawati, Nunun
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/379

Abstract

Konsumsi tepung terigu di Indonesia selama 2012-2014 mencapai 5,35 juta ton. Saat ini, budidaya gandum di Indonesia tidak hanya dilakukan di dataran tinggi (di atas 1.000 mdpl) dengan suhu rendah (20oC), tetapi juga di dataran medium (600-800 mdpl), dengan kisaran suhu 25-30oC.Faktor penting yang membatasi pertumbuhan dan hasil gandum adalah ketersediaan air. Oleh karena itu, pada penelitian ini respon pertumbuhan dan hasil galur harapan gandum terhadap tingkat kadar air tanah dipelajari secara mendalam, serta untuk mendapatkan galur gandum yang toleran terhadap cekaman kekeringan dari beberapa galur gandum adaptif iklim tropis di dataran medium. Kadar air tanah mempengaruhi komponen pertumbuhan dan hasil pada setiap galur yang diujikan. Secara umum, pada semua galur, penurunan tingkat kadar air tanah 75%-25% menurunkan beberapa rerata komponen pertumbuhan, seperti jumlah daun, tinggi anakan, dan jumlah anakan. Pada komponen pertumbuhan penurunan kadar air sampai 25% mempercepat umur berbunga dan panen, serta menurunkan hasil per tanaman. Galur SO3 lebih toleran pada kondisi kadar air terendah (25%), ditunjukkan oleh bobot biji per tanaman lebih tinggi, walaupun memiliki umur panen lebih lama. Sementara itu, galur M7 memiliki umur berbunga dan panen paling cepat, dan galur M8 menghasilkan bobot biji per tanaman tertinggi pada kadar air tanah 100% dan 75% kapasitas lapang.
RESPON PERKECAMBAHAN BEBERAPA VARIETAS TOMAT (Lycopersicum esculentum) TERHADAP TINGKAT SALINITAS Anugrah Cahyaty, Rikza Alfya; Hariyono, Didik; Aini, Nurul
Jurnal Produksi Tanaman Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/385

Abstract

Salinitas adalah konsentrasi   garam - garam   terlarut dalam   jumlah   besar   yang   dapat mempengaruhi   pertumbuhan   kebanyakan tanaman dan menjadi salah satu masalah yang sering dihadapi  dalam pembangunan pertanian di Indonesia. Cekaman salinitas mempengaruhi perkecambahan dan mencengah pe-nyerapan air kedalam embrio. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon salinitas terhadap tanaman tomat dari berbagai varietas yang di uji serta untuk mencari varietas yang tahan terhadap salinitas pada fase perkecambahan. Penelitian dilaksanakan pada bulan February hingga Maret 2015. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Penelitian ini terdiri dari dua faktor. Faktor pertama yaitu Varietas dan Faktor kedua adalah tingkat salinitas. F1 : (Varietas Betavilla (V1), Permata (V2), Servo (V3), Tymoty (V4), Mutia (V5) dan Patma (V6 Dan faktor kedua adalah perlakuan salinitas garam NaCl yaitu S1 : 0 dS m-1 S2 : 2,88 dS m-1 S3 : 4,80 dS m-1, S4 : 6,79 dS m-1, S5 : 8,83 dS m-1. . Analisis data yang digunakan adalah uji F. Apabila uji F menunjukkan pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, perlakuan salinitas hingga 8,83 dS m-1 berpengaruh nyata terhadap persentase perkecambahan, awal munculnya kecambah, panjang hipokotil dan panjang akar kecambah.
Co-Authors Abdillah, Bayu Stiawan Adam, Khaidir Agus Suryanto Ainina, Arsyanti Nur Akbar, Helmi Dzikrulloh Ambarita, Yohanna Andita, Rossala Putri Anggraini, Fita Anugrah Cahyaty, Rikza Alfya Ariffin, Ariffin Astutik, Apriana Dwi Ayuning Putri, Nilam Pranita Azizah, Nur Baihaqi, Ahmad Fathoni Bambang Guritno Barunawati, Nunun Damaiyanti, Dewi Ratih Rizki Didik Hariyono Djajadi, Djajadi Dwi Yamika, Wiwin Sumiya Emir, Muhammad Nazri Fadhila, Nuria Azmi Fadhillah, Siti Fatma Sari, Rizky Ratna Fransin, Fransin Heddy, Y. B. Suwasono Heddy, Y.B. Suwasono Himayana, Awan T.S. Indahsari, Aristiani Epri San Jati, Galih Kurniawan Kartikasari, Oktavian Karuniawan Puji Wicaksono Koesriharti Koesriharti Lestari, Peni Mugi Mahdalena, Wila Dwining Marsha, Nikita Dwi Mauidzotussyarifah, Mauidzotussyarifah Mochammad Dawam Maghfoer Mudji Santosa Mujahid, Abdullah Nawawi, Mochammad Ninuk Herlina Nisa, Khoirun Nisaa, Brilliantin Permana, Ati Setiawati Pikukuh, Patria Prasetyo, Sigit Budi Puspita, Dahniar Yudha Puspitasari, Yuli Dwi Rahmawati, Farida Ratri, Carina Hesti Restanancy, Patricia Roedy Soelistyono Rosyidah, Nurhayati Sa’idah, Iffa Habibatus Safitri, Ade Irma Sandi, Farhadz Fadhillah Satriyo, Mochamad Adi Sebayang, Husni Thamrin Sektiwi, Ariya Tri Setyobudi, Lilik Setyono Yudo Tyasmoro Sisca Fajriani Sitawati Sitawati Sudiarso, Sudiarso Sutarto, Ulfa Annisa Swasono, Muhammad Shobar Ibrahim Syafputri, Dwi Wahyuni Titin Sumarni Uma Khumairoh Valentine, Kartika Wahyuningratri, Anggraheni Wahyuningsih, Anis Wahyuningtyas, Betha Wanna Septian, Nindy Ayu Waskito, Kiki Wicaksono, Feri Wulandari, Etik Yanti, Ulfah Dwi Yudianto, Arik Agus Yulianto, Rahmawan Zamzami, Khushoyin