Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Populasi Burung Air Di Taman Wisata Mangrove Klawalu Kota Sorong Fajrianto Saeni; Azis Maruapey
Jurnal Riset Perikanan dan Kelautan Vol 4 No 1 (2022): JURNAL RISET PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.56 KB)

Abstract

Taman Wisata Mangrove Klawalu Kota Sorong merupakan destinasi wisata baru di Kota Sorong sekaligus menjadi habitat berbagai jenis burung air. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai populasi jenis burung air. Penelitian dilakukan pertengahan bulan Juli s/d Agustus 2021, dengan menggunakan metode Consentration Counts. Hasil pengamatan populasi jenis burung air yang ditemukan areal penelitian sebanyak 17 jenis dengan rincian di areal pantai terbuka sebanyak 15 jenis sedangkan di areal rawa mangrove sebanyak 7 jenis. Adanya perbedaan habitat burung air tersebut, tidak dapat disimpulkan bahwa hal tersebut menunjukkan eksklusivisme mereka terhadap suatu habitat tertentu, mengingat bahwa lokasi antar habitat yang satu dengan yang lainnya relatif dekat, sehingga tumpang tindih penggunaan habitat untuk berbagai keperluan burung air sangat mungkin terjadi.
Sosial Budaya Suku Mee dalam Merajut Noken di Kampung Beko Distrik Obona Kabupaten Paniai Provinsi Papua Azis Maruapey; Fajrianto Saeni
Jurnal Noken: Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 7 No. 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/jn.v7i2.1565

Abstract

Penelitian dilakukan terhadap masyarakat suku Mee yang memanfaatkan tumbuhan sebagai bahan baku pembuatan Noken di Kampung Beko Distrik Obano Kabupeten Paniai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan Focus group Discussion (FGD). Hasil Penelitian bahwa Noken merupakan hasil karya seni budaya yang dimiliki oleh Suku Mee khusunya kaum perempuan, dimana sekaligus melambangkan nilai dan fungsi sosial budayanya. Lokalisme suku Mee dalam pembuatan Noken dengan memanfaatkan kulit kayu tumbuhan antara lain pohon Melinjo (Damiyo), kulit pohon Ilam (Tokeipo), pohon anyamin (Kepiyai), kulit pohon (Woge), kulit pohon Watu dan Epiyo yang masih mudah dengan kategori vegetasi tingkat tiang dengan ukuran diameter antara 10 - 20 cm. Proses pengambilan kulit kayu, dapat dilakukan dengan menebang pohon dan langsung diambil kulitnya, dan juga dengan cara menguliti pohon tersebut tanpa menebang pohon tersebut. Perlakuan bahan baku secara tradisional Noken besar yang dilakukan masyarakat suku Mee di kampung Beko adalah dengan cara kulit kayu Melinjo (Damiyo), kulit pohon Ilam (Tokeipo), pohon anyamin (Kepiyai), kulit pohon (Woge), kulit pohon Watu dan Epiyo dilakukan penjemuran, penghalusan kulit kayu dan pewarnaan. Proses perlakuan bahan baku dimaksudkan agar kulit kayu tidak cepat rusak atau busuk dan lebih tahan lama (awet). Proses pembuatan Noken mengikuti pola sulaman dan anyaman, yang tentunya di sesuaikan dengan pola dan ukuran Noken besar yang diinginkan. Pemberian warna Noken besar memakai pewarna alami dengan memanfaatkan beberapa jenis tumbuhan lokal yakni Takai dan Tokeipo. Proses perajutan Noken dilakukan pada saat santai atau istirahat, tempat perajitan Noken besar bisa di rumah, pasar atau tempat pertemuan di kampung.
Penyulingan Minyak Lawang Tradisional Oleh Masyarakat Di Kampung Pasir Putih Distrik Fkour Kabupaten Sorong Selatan Fajrianto Saeni; Azis Maruapey
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 14 No. 1 (2022): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.205 KB) | DOI: 10.33506/md.v14i1.1668

Abstract

Minyak lawang merupakan hasil ekstrasi kulit pohon Lawang (Cinnamomun sp.) melalui penyulingan. Masyarakat Kampung Pasir Putih Distrik Fkour Kabupaten Sorong Selatan sejak lama telah memanfaatkan kulit pohon lawang untuk diambil minyak atsirinya, namun pengolahan masih secara tradisional dan sederhana. kegiatan ini dijadikan industri rumah tangga yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Tujuan ini adalah  mengetahui teknik penyulingan minyak lawang, jumlah minyak lawang yang dihasilkan, dan sistem dan marjin pemasaran minyak lawang oleh masyarakat di kampung Pasir putih Distrik Fkour. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survey dan wawancara FGD. Analisis teknik pengusahaan minyak lawang dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif yang didasarkan atas teknik penyulingan, jumlah dan sistem pemasaran.  Hasil penelitian terlihat bahwa teknik penyulingan minyak lawang oleh masyarakat dilakukan dengan dua cara yakni penyulingan dengan air (water destilation) dan penyulingan air dan uap (water and steam destilation). Jumlah minyak lawang yang dihasilkan sebanyak sebanyak ± 1,4 liter, dari rata-rata kulit kayu yang dikukus sebanyak ± 40 kg cacahan kulit. Biasanya satu pohon lawang dilakukan penyulingan 6 - 9 kali, tergantung diameter batangnya. Sistem pemasaran Minyak lawang dilakukan dengan menjual minyak lawang yang diperolehnya kepada pengusaha, yaitu yang bersifat mutlak dimana masyarakat harus menyerahkan hasil perolehannya kepada pengusaha sebelum proses penyulingan minyak lawang. Sedangkan kemungkinan kedua adalah hubungan tidak mutlak dimana petani penyuling biasanya tidak mempunyai hubungan ikatan kerja, dimana petani penyuling dalam melakukan proses pencarian bahan baku minyak lawang hinga proses penyulingan tidak tergantung dari pengusaha.
Pembibitan Tanaman Sukun (Arthocarpus altilis Park.) Bagi Masyarakat Kelurahan Tanjung Kasuari Distrik Maladum Mes Kota Sorong Azis Maruapey; Fajrianto Saeni
Abdimas: Papua Journal of Community Service Vol. 4 No. 2 (2022): Juli
Publisher : LP3M Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/pjcs.v4i2.1604

Abstract

Pembibitan tanaman Sukun (Arthocarpus altilis Park.) oleh masyarakat di Kelurahan Tanjung Kasuari Distrik Maladum Mes Kota Sorong telah dilakukan secara tradisional. Teknik pemindahan tunas akar atau menyapih tunas yang tumbuh secara alami pada akar pohon induk yang menjalar di permukaan tanah, yang kemudian dipindahkan pada media sapih, selanjutnya dipindahkan ke media tanaman polybag. Cara ini sering dilakukan oleh masyarakat karena dianggap tidak akan mengganggu pertumbuhan pohon induknya. sistem pembibitan stek akar sangat mudah dan murah dan ditunjang dengan tersedianya pohon induk sebagai sumber stek akar.
Nilai Kepentingan Budaya Keanekaragamaan Jenis Sayuran Indegenous Dalam Kehidupan Masyarakat di Kampung Sire Distrik Mare Timur Kabupaten Maybrat Papua Barat Azis Maruapey; Syarif Ohorella; Sedek Karepesina
Jurnal Agrohut Vol 13 No 1 (2022): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v13i1.119

Abstract

Sayuran indigenous adalah sayuran asli suatu daerah di Indonesia yang berasal dari daerah atau ekosistem tertentu. Sayuran indigenous merupakan salah satu sumberdaya hayati yang kaya manfaat dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sayuran alternative. Studi ini menggunakan metode deskriptif dengan telaah informasi dan dokumentasi dari masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara terhadap masyarakat melalui Focus Group Disscusion (FGD) dan observasi lapangan. Jenis jenis sayuran indegenous yang penting dalam kehidupan budaya masyarakat di Kampung Sire Distrik Mare Timur Kabupaten Maybrat ditemukan sebanyak 10 (sepuluh) jenis antara lain Melinjo, Rebung, Paku, Pakis, Kecipir, Labu, Buah merah, Jamur, Gohi dan Gedi. Nilai penting sayuran indegenous berdasarkan nilai manfaat tertinggi ada pada jenis Melinjo (1,34), Paku (1,2) dan Gohi (1,2). Ini membuktikan bahwa jenis sayuran indegenous ketiga jenis tersebut sangan bermanfaat bagi kehidpan masyarakat di Kampung Sire sebagai pangan sayuran alternatif. Nilai Kepentingan Budaya (Index of Cultural Significanse / ICS) jenis sayuran indegenous yang teringgi ada pada jenis Melinjo yakni dengan nilai ICS sebesar 96, sehingga dapat dijelaskan bahwa jenis sayuran indegenous Melinjo tersebut memiliki nilai kepentingan budaya yang tinggi dalam hal nilai intensitas dan nilai eklusifitas bagi kehidupan masyarakat di Kampung Sire.
EMPOWERMENT OF THE KLAYILI FOREST FARMERS GROUP (KTH) IN MAKING AGARWOOD TEA IN KLAYILI VILLAGE, KLAYILI DISTRICT, SORONG REGENCY: PEMBERDAYAAN KELOMPOK TANI HUTAN (KTH) KLAYILI DALAM PEMBUATAN TEH GAHARU DI KAMPUNG KLAYILI DISTRIK KLAYILI KABUPATEN SORONG Azis Maruapey; Lona Helti Nanlohy; Fajrianto Saeni; Sanny Hahury; Rajab Lestaluhu
Indonesian Journal of Engagement, Community Services, Empowerment and Development Vol. 2 No. 3 (2022): Indonesian Journal of Engagement, Community Services, Empowerment and Developme
Publisher : Yayasan Education and Social Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53067/ijecsed.v2i3.71

Abstract

Agarwood plants have been used more parts of the stem which contains high economic value sapwood. However, it turns out that gaharu leaves have the potential to be developed as a source of natural antioxidant compounds so that they can be made into herbal teas that are healthy, safe and suitable for consumption. This workshop is an effort to empower the Klayili Forest Farmers Group (KTH) in Sorong Regency to process agarwood leaf into herbal tea drinks. The method of implementing this Community Service (PkM) activity is a workshop focused on community empowerment efforts through Forest Farmers Groups in making tea from agarwood leaf. Implementation of Community Service (PkM) is carried out in the form of workshops with practical demonstrations. The results of Community Service (PkM) activities in the form of Empowerment of the Klayili Forest Farmer Group (KTH) in the Production of Herbal Tea Made from Agarwood Raw Materials in Klayili Village include among others: 1. Inter-competent preparation and coordination stage; 2). Preparation of facilities and infrastructure for making gaharu tea; and 3). The process of making gaharu tea, which includes taking raw materials, sorting leaves, cleaning leaves, drying, chopping, blending, oxidation of leaves, and packaging. Based on the results of the activity, there was an increase in understanding related to the procedure for making gaharu tea starting from preparation, processing and packaging
PENGHIJAUAN SEBUAH IKHTIAR DALAM PELESTARIAN LINGKUNGAN DI KAMPUNG KLAFDALIM DISTRIK MOI SEGEN KABUPATEN SORONG Azis Maruapey; Lona Helti Nanlohy; Fajrianto Saeni; Rajab Lestaluhu
Indonesian Collaboration Journal of Community Services Vol. 2 No. 3 (2022): Indonesian Collaboration Journal of Community Services
Publisher : Yayasan Education and Social Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53067/icjcs.v2i3.74

Abstract

Reforestation is one of the planting activities on vacant land with the aim that the land can be restored, maintained, and its fertility improved. Problems related to reforestation are how to make people aware of the benefits of reforestation for the environment and the importance of reforestation as an effort to preserve the environment. The purpose of the service with the topic of Greening an Effort in Environmental Preservation is to increase public awareness of the importance of reforesting the environment in order to reforest critical land by planting a number of trees that are suitable for local conditions. The service method is carried out using socialization by delivering material in classical form about the benefits and importance of reforesting the environment followed by tree planting in Klafdalin Village. The results of the socialization are expected to : a). Relevance: it is hoped that a sense of love for the environment will be fostered in order to maintain a green area in Klafdalin Village, Moi Segen District, Sorong Regency; b) Acceptability: this activity can be accepted by the people of Klafdalin Village, Moi Segen District, Sorong Regency and is supported by the local government and the community; c) Effectiveness: the process of delivering extension materials is carried out in simple language, located in a green area, and immediately ends with the planting of hundreds of tree seedlings by the community participating in the extension, namely Trembesi, Sengon, Kihujan, Linggua, Mahogany, Matoa, Tanjung, Rambutan and Durian trees; and d) Accuracy: the materials and socialization activities are very precise, making the people of Klafdalin Village, Moi Segen District, Sorong Regency more aware of how to take real action with an effort to conserve the environment by directly participating in planting trees in their surroundings
Diseminasi Budidaya Tanaman Sagu (Metroxylon sp) Pada Suku Moi Di Kampung Jeflio Distrik Mayamuk Kabupaten Sorong Soekamto, Mira Herawati; Irnawati, Irnawati; Maipaw, Niny Jeni; Tabara, Reijeng; Maruapey, Azis
Jurnal Pemberdayaan: Publikasi Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2024): Juli - Desember
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47233/jpmittc.v3i2.1945

Abstract

Tanaman sagu sebagai penghasil pati telah menjadi sumber makanan pokok bagi masyarakat asli Papua dan memiliki populasi yang tinggi sehingga menjadi potensi untuk dijadikan sebagai sumber pangan alternatif di masa depan, sehingga perlu dijaga kelestariannya. Permasalah yang ada adalah rendahnya pengetahuan masyarakat papua dalam budidaya tanaman sagu, sehingga perlu dilakukan melalui kegiatan pelatihan budidaya tanaman sagu bagi suku Moi di Kampung Jeflio. Melalui kegiatan diseminasi budidaya tanaman sagu pada masyarakat Jeflio diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan budidaya tanaman sagu. Metode pelaksanaan kegiatan diawali dengan identifikasi masalah, proses pembibitan, dan penanaman di lapangan serta evaluasi hasil penanaman dengan melihat tingkat keberhasilan pertumbuhan tanaman sagu. Hasil kegiatan ini menunjukkan penanaman dan pertumbuhan bibit tanaman sagu di lapangan mecapai keberhasilan yang tinggi, yaitu 97 % dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan juga sangat tinggi dari adanya keikutsertaan hingga kegiatan pemeliharaan di lapangan.
Kearifan Lokal dan Sosial Budaya Suku Maybrat dalam Membuat Koba-Koba (Am) Sebagai Produk Benda Budaya Maruapey, Azis; Saeni, Fajrianto; Lestaluhu, Rajab; Saeni, Agil; Suaib, Muhammad Ridha
Jurnal Noken: Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 9 No. 1 (2023): Desember 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/jn.v9i1.2978

Abstract

Koba-koba is a unique product of cultural objects (Artifacts) and local wisdom of the Maybrat tribe and has many functions. This research was conducted on the Maybrat tribe community in utilizing forest Pandan as a cultural product in the form of koba-koba (Am). The aim of this research is to find out local wisdom in making koba-koba and the socio-cultural perspective of the Maybrat tribe in interpreting koba-koba. The method in this research is a descriptive method using a Focus Group Discussion (FGD) approach. The results of the research show that the local wisdom of the Maybrat tribe in making and knitting cultural objects in the form of koba-koba is all made from natural materials, starting with the preparation of sheets of Pandan leaves, needles made from bat bones (siwafu) and threads made from gnemon skin fiber (harerem/arus) and stitched by the people. women (mama-mama) form the folds of a coat or umbrella. The socio-cultural perspective of the Maybrat tribe community in making and interpreting koba-koba is a symbol and traditional symbolism that is born from the community and becomes a manifestation of the social and cultural life activities of the Maybrat tribe community in their interaction with their natural environment.
PENGOLAHAN TEPUNG SAGU KERJASAMA KELOMPOK TANI HUTAN (KTH) WENDY, KPHP UNIT V SORONG SELATAN & MAHASISWA PKL KEHUTANAN UM SORONG SEBAGAI WUJUD PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Maruapey, Azis; Saeni, Fajrianto; Nanlohy, Lona H.; Lestaluhu, Rajab; Hahury, Sanny
Indonesian Journal of Engagement, Community Services, Empowerment and Development Vol. 4 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Engagement, Community Services, Empowerment and Developme
Publisher : Yayasan Education and Social Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53067/ijecsed.v4i2.154

Abstract

This Community Service activity program (PkM) aims to empower the community in processing sago starch into sago flour. In this activity, the community was provided with information about processing sago starch into sago flour to increase the economic value of sago. This activity was carried out together with the Wendy Forest Farmers Group (KTH), South Sorong KPHP Unit V, UM Sorong Field Work Practice (PKL) students, where KTH was guided from selecting raw materials, processing raw materials to processing and product packaging processes. The methods used in this service activity are lectures and demonstrations with the aim of creating the community's ability to produce sago flour. The results of this activity went well with the results showing that there had been an increase in KTH's understanding and skills in carrying out the sago starch processing process, as well as community adaptation to the equipment used to support the sago starch production and processing process starting from raw material preparation, processing to packaging