Putra, Ridwan Abdullah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Profile and Pregnancy Outcome in Preeclampsia with and Without Cardiac Abnormalities Complication Aqilah, Nurjihan Syarifah; Pribadi, Adhi; Cool, Charlotte Johanna; Aziz, Muhammad Alamsyah; Pramudyo, Miftah; Astuti, Astri; Putra, Ridwan Abdullah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.742

Abstract

Introduction: This study was conducted to determine the profile of maternal characteristics and outcomes, as well as neonatal outcomes of mothers giving birth with preeclampsia and complications of cardiac abnormalities compare to preeclampsia without complications of cardiac abnormalities.Methods: This study used a descriptive cross-sectional research method with purposive sampling.Results: Out of 78 samples, there were 10 pregnant women with cardiac abnormalities. The predominant age is in the 18 - 35 years range at 51 (65.4%) samples. Comorbidities found were eclampsia 8 (10.3%) and HELLP syndrome 3 (3.8%). There was no maternal mortality. The major method of delivery was perabdominal in preeclampsia with cardiac abnormalities 10(100.0%). The neonatal outcome obtained APGAR scores of 7-10 as many as 57 (73.1%) babies, 8 (10.2%) babies with score 4-6, and 13 (16.7%) babies with score 0-3. There were 16 (20.5%) babies born with SGA, 58 (74.4%) with AGA, and 4 (5.1%) with LGA. Most neonatal born with normal APGAR score (58 babies or 74.4%). In the PE group with heart defects, there was 1 (10.0%) baby with severe asphyxia as in stillbirth. While in preeclampsia without cardiac abnormalities 11 (16.2%) babies were born with severe asphyxia and 8 (10.2%) stillbirths.Conclusion: The maternal outcomes were (1) comorbidities of eclampsia and HELLP syndrome, (2) the majority of delivery methods being caesarean section., and in neonatal outcomes, most babies were born with normal APGAR score and appropriate gestational age (AGA).Profil dan Luaran Kehamilan pada Preeklamsia dengan dan Tanpa Komplikasi Kelainan JantungAbstrakPendahuluan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil karakteristik dan luaran maternal, serta luaran neonatal ibu melahirkan dengan preeklamsia dengan komplikasi kelainan jantung dan preeklamsia tanpa komplikasi kelainan jantung.Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif potong lintang dan pengambilan sampel penelitian purposif.Hasil: Dari 78 sampel, didapatkan 10 ibu hamil dengan kelainan jantung. Usia paling banyak ada pada rentang usia 18 - 35 tahun 51(65.4%) sampel. Penyakit pernyerta didapatkan eklamsia 8(10.3%) dan sindrom HELLP 3(3.8%). Tidak ditemukan kematian ibu. Metode persalinan terbanyak yaitu perabdominal pada PE dengan kelainan jantung 10(100.0%). Hasil luaran neonatal kelahiran bayi tunggal, didapatkan skor APGAR 7-10 sebanyak 57(73.1%) bayi, 8(10.2%) bayi dengan skor 4-6, dan 13(16.7%) bayi dengan skor 0-3. Terdapat 16(20.5%) bayi lahir dengan SGA, 58(74.4%) dengan AGA, dan 4(5.1%) dengan LGA. Hasil luaran neonatal terbanyak dengan kondisi APGAR normal (58 bayi atau 74.4%). Pada kelompok PE dengan kelainan jantung ditemukan 1(10.0%) bayi dengan luaran asfiksia berat begitu pun dengan stillbirth. Sedangkan pada PE tanpa kelainan jantung sebanyak 11(16.2%) lahir dengan asfiksia berat dan 8(10.2%) stillbirth.Kesimpulan: Luaran kehamilan yang ditemukan yaitu (1) penyakit penyerta berupa eklamsia dan sindrom HELLP, (2) metode persalinan terbanyak yaitu caesarean section, dan hasil luaran neonatal terbanyak adalah dengan kondisi APGAR normal dan AGA.Kata kunci: Luaran kehamilan; Luaran neonatal; Preeklamsia dengan kelainan jantung
Precision Chromosomal Surgery before Birth: Allele-Specific CRISPR-Cas9 Editing for Trisomy 21 in Perinatal Medicine Sanjaya, I Nyoman Hariyasa; Andonotopo, Wiku; Bachnas, Muhammad Adrianes; Prabowo, Wisnu; Yuliantara, Eric Edwin; Lukas, Efendi; Dewantiningrum, Julian; Pramono, Mochammad Besari Adi; Wiradnyana, Anak Agung Gede Putra; Mulyana, Ryan Saktika; Kusuma, Anak Agung Ngurah Jaya; Pangkahila, Evert Solomon; Gumilar, Khanisyah Erza; Darmawan, Ernawati; Akbar, Muhammad Ilham Aldika; Yeni, Cut Meurah; Aldiansyah, Dudy; Bernolian, Nuswil; Pribadi, Adhi; Anwar, Anita Deborah; Suryawan, Aloysius; Putra, Ridwan Abdullah; Gondo, Harry Kurniawan; Nugraha, Laksmana Adi Krista; Andanaputra, Waskita Ekamaheswara Kasumba; Dharma, Wibisana Andika Krista; Djanas, Dovy; Stanojevic, Milan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.965

Abstract

Objective: Trisomy 21 remains the most common live-born aneuploidy and a major contributor to perinatal morbidity. Although prenatal screening, particularly non-invasive prenatal testing (NIPT), has advanced substantially, clinical management offers no corrective options. Emerging allele-specific genome-editing approaches propose targeted removal or silencing of the extra chromosome 21. This review summarizes current evidence and evaluates the translational relevance of these technologies in perinatal medicine.Methods: A narrative review was conducted following PRISMA-aligned procedures. A structured search of PubMed, Scopus, and Web of Science (January 2000–July 2025) identified 1,242 records. After duplicate removal, title/abstract screening, and full-text assessment based on predefined inclusion criteria, 54 studies met eligibility requirements. Data were synthesized across four domains: mechanistic strategies, developmental applicability, translational feasibility, and ethical–regulatory considerations.Results: Allele-specific CRISPR-Cas9 studies demonstrated selective cleavage of the supernumerary chromosome 21 in cellular models, with partial restoration of near-euploid transcriptional patterns. Additional approaches—XIST-mediated silencing and centromere destabilization—provided alternative mechanisms with varying stability and specificity. Evidence remains limited to in vitro systems, with no validated embryo or fetal applications. Key challenges include mosaicism, delivery barriers, individualized SNP targeting, and ethical governance.Conclusions: Allele-specific chromosome editing represents a promising but still experimental direction for future perinatal therapeutics. Current findings justify continued multidisciplinary investigation while emphasizing cautious interpretation and rigorous ethical oversight prior to any clinical translation. Abstrak Tujuan: Trisomi 21 tetap menjadi aneuploidi yang paling sering ditemukan pada kelahiran hidup dan merupakan kontributor utama terhadap morbiditas perinatal. Meskipun skrining prenatal—khususnya non-invasive prenatal testing (NIPT)—telah mengalami kemajuan yang signifikan, penatalaksanaan klinis hingga kini belum menawarkan opsi korektif. Pendekatan pengeditan genom spesifik alel yang mulai berkembang mengusulkan penghilangan atau penghambatan terarah terhadap salinan ekstra kromosom 21. Tinjauan ini merangkum bukti terkini serta mengevaluasi relevansi translasional teknologi tersebut dalam kedokteran perinatal.Metode: Tinjauan naratif dilakukan dengan mengikuti prosedur yang selaras dengan PRISMA. Pencarian terstruktur terhadap PubMed, Scopus, dan Web of Science (Januari 2000–Juli 2025) mengidentifikasi 1.242 rekaman. Setelah penghapusan duplikasi, penyaringan judul/abstrak, dan penilaian teks lengkap berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditentukan, sebanyak 54 studi memenuhi persyaratan kelayakan. Data disintesis ke dalam empat domain: strategi mekanistik, aplikabilitas perkembangan, kelayakan translasional, serta pertimbangan etika dan regulasi.Hasil: Studi CRISPR-Cas9 spesifik alel menunjukkan pemotongan selektif terhadap kromosom 21 supernumerari pada model seluler, dengan pemulihan parsial pola transkripsi menuju profil ekspresi gen yang menyerupai kondisi euploid. Pendekatan lain—seperti penghambatan berbasis XIST dan destabilisasi sentromer—menyediakan mekanisme alternatif dengan tingkat kestabilan dan spesifisitas yang bervariasi. Bukti saat ini terbatas pada sistem in vitro, tanpa aplikasi yang tervalidasi pada embrio maupun janin. Tantangan utama meliputi mosaikisme, hambatan pengantaran, kebutuhan penargetan SNP individual, serta tata kelola etis.Kesimpulan: Pengeditan kromosom spesifik alel merupakan arah yang menjanjikan, namun masih bersifat eksperimental bagi terapi perinatal di masa mendatang. Temuan saat ini mendukung keberlanjutan penelitian multidisipliner, sekaligus menekankan perlunya interpretasi yang hati-hati dan pengawasan etika yang ketat sebelum penerapannya dalam praktik klinis.Kata Kunci: Bedah genom janin; CRISPR-Cas9; Penyuntingan gen perinatal; Terapi kromosom; Trisomi 21