Thysa Thysmelia Affandi
Fakultas Kedokteran, Universitas Swadaya Gunung Jati

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

The Influence of Internal Factors on the Success of Leprosy Treatment at Cibuaya Health Center, Indonesia Sari, Anggi Novita; Risman, Muhammad; Affandi, Thysa Thysmelia
GHMJ (Global Health Management Journal) Vol. 8 No. 2s (2025): Special Issues
Publisher : Yayasan Aliansi Cendekiawan Indonesia Thailand (Indonesian Scholars' Alliance)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35898/ghmj-82s1238

Abstract

Background: Indonesia still has a significant number of leprosy cases; there was an increase in cases to 12,441 compared to the previous year, which was 10,976 (WHO, 2023). At the national level, the target percentage of leprosy treatment has not been reached; 87% achievement was obtained, while the national indicator target is 90%. Age, gender, marital status, education level, occupation, and leprosy type are among the internal characteristics that contribute to the effectiveness of leprosy therapy. The most leprosy cases in Karawang Regency are found in Cibuaya Health Center, Indonesia. Aims: This study aims to determine the influence of internal factors (age, gender, marital status, education, occupation, and leprosy type) on the success of leprosy treatment at the Cibuaya Health Center. Methods: Observational analysis with cross-sectional design was used in this study with a sample size of 110 respondents at the Cibuaya Health Center. Medical records from patients receiving leprosy treatment at the Cibuaya Health Center served as the sample. Total sampling, a non-probability sampling technique, has been used. The study was conducted in June 2024. Results: Leprosy treatment success was found to be influenced by age (p=0.09), gender (p=0.001), marital status (p=0.012), education level (p=0.001), and leprosy type (p=0.001) in the bivariate analysis using the Chi-square test. However, the occupation factor did not show a significant effect on treatment success (p=0.275). Based on multivariate logistic regression analysis, Leprosy type was the most dominant factor influencing treatment success (Exp(B) = 38.863). The limitation of this study is that it did not investigate internal factors in the success of leprosy treatment by using laboratory results (such as BTA testing) after treatment. Conclusion: The success of leprosy treatment at the Cibuaya Health Center is influenced by age, gender, marital status, education level, and leprosy type. The most influential factor on the success of leprosy treatment is the type of leprosy. However, the occupation factor did not show a significant effect on treatment success. These findings can inform targeted strategies to improve treatment outcomes, especially among high-risk groups such as Multibacillary (MB) patients and the elderly.
Hubungan Status Gizi dan Anemia dengan Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada Ibu Hamil Aterm di UPT. Puskesmas Majasem Kota Cirebon Utami, Diana Mega; Ahmad, Zulkifli; Affandi, Thysa Thysmelia
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.49881

Abstract

Low birth weight (LBW) is an important indicator in assessing the health status of mothers and babies. LBW is closely related to nutritional status and anemia during pregnancy, both of which are public health problems in Indonesia. Pregnant women with chronic energy deficiency (CED) and anemia have a higher risk of giving birth to babies with LBW. Aim: To determine the correlation between nutritional status and anemia with the incidence of low birth weight (LBW) in term pregnant women at the Majasem Health Center, Cirebon City. Methods: This study was conducted in May 2025 at the Majasem Health Center, Cirebon City, used an analytical observational design with a cross-sectional approach. A sample of 90 term pregnant women was selected using a purposive sampling technique based on medical record data from November 2023 to October 2024. The analysis was carried out using the Fisher's Exact Test and Prevalence Ratio (PR). Results: Showed that 22.2% of pregnant women experienced CED and 20.0% experienced anemia. As many as 14.4% of babies were born with low birth weight. There is a significant correlation between nutritional status and the incidence of low birth weight babies (p=0.007; PR=5.744), and anemia with the incidence of low birth weight babies (p=0.020; PR=4.643). Conclusion: There is a correlation between nutritional status and anemia with the incidence of low birth weight infant in term pragnency. Pregnant women with CED and anemia have a higher risk of giving birth to low birth weight babies (LBW).
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN GIZI DENGAN KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI KRONIS PADA IBU HAMIL TRIMESTER 1 DAN 2 DI PUSKESMAS GUNUNG LINGKAS KOTA TARAKAN Ignatius Hapsoro Wirandoko; Thysa Thysmelia Affandi; Ryan Maheswara
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 9 No 1 (2023): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v9i1.9358

Abstract

Latar belakang Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah keadaan dimana ibu menderita kekurangan kalori dan protein (malnutrisi) yang berlangsung menahun (kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu hamil. Ibu hamil dengan masalah gizi berdampak terhadap kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi Pada tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) 2015-2030 target nasional ibu hamil KEK adalah 5% , sedangkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 di Indonesia, prevalensi KEK wanita hamil umur 15-49 tahun adalah 17,3%. Hasil tersebut menunjukan bahwa prevalensi risiko KEK pada ibu hamil masih tinggi. Tujuan Mengetahui hubungan Tingkat pengetahuan gizi dengan kejadian kurang energi kronik pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas Gunung Lingkas kota Tarakan. Metode Penelitian ini bersifat observasional dengan rancangan Cross Sectional. Pengambilan data menggunakan teknik simple random sampling kepada 89 responden ibu hamil Trimester 1 dan 2. Variabel pengetahuan diukur menggunakan kuisoner dan variabel kejadian kekurangan energi kronik diukur langsung menggunakan pita (LILA). Variabel pengetahuan dibagi menjadi baik dan buruk, Sedangkan Variabel kejadian KEK dibagi menjadi mengalami dan tidak mengalami KEK. Hasil Hasil korelasi antara pengetahuan gizi dengn kejadian Kekurangan energi kronik pada ibu hamil menunjukkan korelasi yang signifikan (p <0,005). Simpulan Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi dengan kejadian kekurangan energi kronik pada ibu hamil trimester 1 dan 2
PERBANDINGAN JUMLAH KONTAMINASI TELUR SOIL TRANSMITTED HELMINTS (STHs) PADA SAYURAN SELADA (LACTUCA SATIVA) DI PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERN KOTA CIREBON Ruri Eka Maryam Mulyaningsih; Thysa Thysmelia Affandi; Fauzany Reyhan Maulana
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 2 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i2.9458

Abstract

LATAR BELAKANG Soil Transmitted Helmints (STHs) adalah penyakit kecacingan yang merupakan penyakit endemik pada daerah tropis dan sub tropis. Selada (Lactuca sativa) merupakan bahan makanan yang banyak digunakan sebagai lalapan. Kontaminasi telur STHs pada sayuran selada yang dimakan dengan higienitas kurang baik dapat menyebabkan masalah klinis. Hal tersebut diketahui dengan sangat tingginya prevalensi di Indonesia yaitu antara 2,5 hingga 62%. TUJUAN Mengetahui persentase kontaminasi telur STHs dan jenis telur STHs terbanyak pada selada (Lactuca sativa), serta menganalisis perbandingan jumlah kontaminasi telur STHs pada selada di pasar modern dan pasar tradisional di Kota Cirebon. METODE Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan data menggunakan teknik cluster sampling. Analisis bivariat menggunakan uji chi square untuk membandingkan jumlah kontaminasi. HASIL Sayuran selada yang terkontaminasi telur STHs pada pasar tradisional 18 sampel (37,5%) dan pasar modern 9 sampel (18,8%). Jenis telur STHs terbanyak ialah Ascaris Lumbricoides di pasar tradisional 17 telur (77,3%) dan pasar modern 7 telur (58,3%). Ditemukan 4 jenis telur STHs yaitu Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Hookworm, Strongyloides stercoralis. Terdapat perbandingan jumlah kontaminasi telur STHs pada sayuran selada (Lactuca sativa) di pasar modern dan pasar tradisional dengan nilai p-value 0,041. SIMPULAN Hasil analisis bivariat diketahui kontaminasi telus STHs pada sayuran selada (Lactuca sativa) di lebih banyak di pasar tradisional dibandingkan di pasar modern kota Cirebon (p=0,041). Kata Kunci : Kontaminasi, Soil Transmitted Helminthes, Selada BACKGROUND Soil-transmitted helminths (STHs) is a helminthic disease that an endemic in tropical and sub-tropical areas. Lettuce (Lactuca sativa) is a common food ingredient in daily cooking. STHs egg contamination in lettuce vegetables eaten with poor hygiene can cause clinical problems. The prevalence of helminthiasis in Indonesia is 2,5-62%. OBJECTIVE To Knowing the highest percentage of STHs egg contamination and STHs egg types in lettuce (Lactuca sativa), as well as analyzing the comparison of the amount of STHs egg contamination in lettuce (Lactuca sativa) in modern and traditional markets in Cirebon City. METHODS This research an analytic observational study with a cross sectional approach. Data collection is using a cluster sampling. Bivariate analysis uses the chi-square test to compare the amount of contamination. RESULTS Contamination of STHs eggs in traditional 18 samples (37,5%) and modern markets were 9 samples (18,8%). Most STH egg types in traditional and modern markets are Ascaris Lumbricoides with 17 eggs (77,3%) and 7 eggs (58,3%). Types of STHs eggs were found, there are Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Hookworm, Strongyloides stercoralis. There is a significant comparison of the amount of STHs egg contamination in lettuce (Lactuca sativa) between modern markets and traditional markets with a p-value of 0.041. CONCLUSION The analysis of bivariate results found that lettuce vegetables (Lactuca sativa) in traditional markets in Cirebon City were more contaminated with STHs eggs than in modern markets in Cirebon City (p=0.041). Keyword : Contamination, Soil Transmitted Helminthes, Lettuce
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kersen (Muntingia calabura L.) terhadap Bakteri Escherichia coli Weni, Mustika; Marfuati, Sri; Fauzah, Shofa Nur; Affandi, Thysa Thysmelia
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 3 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i3.9618

Abstract

Permasalahan penyakit infeksi dan penyakit tropik masih menjadi permasalahan yang sangat penting karena angkakesakitan dan kemartian yang cukup tinggi. Escherichia coli adalah salah satu bakteri yang dapat menyebabkaninfeksi. Resistensi Escherichia coli sering dilaporkan terjadi, salah satunya Antimicrobial Resistant in Indonesiatelah melaporkan Escherichia coli resisten terhadap beberapa jenis antibiotik, oleh sebab itu dibutuhkan alternatiflain untuk menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Daun kersen mengandung senyawa flavonoid,tannin, saponin yang diketahui berkhasiat sebagai antibakteri. Tujuan: Mengetahui aktivitas antibakteri ekstraketanol daun kersen (Muntingia calabura L.) terhadap bakteri Escherichia coli. Metode: Penelitian ini merupakanpenelitian eksperimental dengan rancangan penelitian post-test only control grup design. Penelitian inimenggunakan 7 kelompok, 2 kelompok kontrol dan 5 kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan terdiri dariekstrak etanol dari daun kersen konsentrasi 2%, 10%, 20%, 40%, 60%. Kelompok kontrol yaitu kontrol positif(K(+)) dengan cotrimoxazole dan kontrol negatif ((K(-)) yaitu Dimethyl Sulfoxide (DMSO) 10%. Data diujimenggunakan uji One-way Anova. Hasil: Rata-rata zona hambat terbesar pada konsentrasi 60% yaitu 10,5 mm,sedangkan rata-rata zona hambat terkecil pada konsentrasi 10% yaitu 6 mm, konsentrasi 2% tidak didapatkanadanya zona hambat Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada setiap konsentrasi ekstrak etanol daunkersen terhadap bakteri Escherichia coli dan Kadar hambat minimum dari ekstrak etanol daun kersen terhadapbakteri Escherichia coli ada pada konsentrasi 10% dengan rata-rata zona hambat 6 mmKata Kunci: Ekstrak Daun Kersen, Escherichia coli, Aktivitas AntibakteriABSTRACTThe problem of infectious diseases and tropical diseases is still a very important problem because the morbidityand mortality rates are quite high. Escherichia coli is a bacteria that can cause infection. Escherichia coliresistance is often reported, one of which is Antimicrobial Resistance in Indonesia which has reported thatEscherichia coli is resistant to several types of antibiotics, therefore other alternatives are needed to inhibit thegrowth of Escherichia coli bacteria. Cherry leaves contain flavonoid compounds, tannins, saponins which areknown to have antibacterial properties. Objective: To determine the antibacterial activity of ethanol extract ofcherry leaves (Muntingia calabura L.) against Escherichia coli bacteria. Methods: This research is anexperimental study with a post-test only control group design. This study used 7 groups, 2 control groups and 5treatment groups. The treatment group consisted of ethanol extract from cherry leaves at concentrations of 2%,10%, 20%, 40%, 60%. The control group was the positive control (K(+)) with cotrimoxazole and the negativecontrol (K(-)) namely Dimethyl Sulfoxide (DMSO) 10%. Data were tested using the One-way Anova. Results:Obtained the largest average inhibition zone at a concentration of 60%, namely 10,5 mm, while the smallestaverage inhibition zone at a concentration of 10%, namely 6 mm, concentrations of 2% found no inhibition zoneConclusion: There is a significant difference in each concentration of the ethanol extract of cherry leaves againstEscherichia coli bacteria and the minimum inhibition level of the ethanol extract of cherry leaves againstEscherichia coli bacteria is at a concentration of 10 % with an average inhibition zone of 6 mm
HUBUNGAN IBU HAMIL DENGAN KEKURANGAN ENERGI KRONIS TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-60 BULAN DI PUSKESMAS ROWOKELE Affandi, Thysa Thysmelia; Ardhian Yudha Candra Pranowo; Nanang Ruhyana
InaBHS (Indonesian Journal of Biomedicine and Health Science) Vol 4 No 1 (2025): Indonesian Journal of Biomedicine and Health Science
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/inabhs.v4i1.10798

Abstract

Latar belakang: Stunting merupakan suatu kondisi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam jangka waktu yang cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting secara garis besar dikelompokkan menjadi 3 yaitu, individu, tingkat masyarakat, rumah tangga (keluarga). Prevalensi stunting di jawa tengah berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, Kabupaten Kebumen merupakan target prioritas penanganan stunting dari 160 kabupaten/kota yang ada di Indonesia. Prevalensi stunting di Kabupaten Kebumen pada tahun 2017 sebesar 28,50%. Ibu hamil beresiko mengalami Kekurangan Energi Kronis jika memiliki Lingkar Lengan Atas (LILA) <23,5 cm. Ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis beresiko melahirkan bayi stunting. Tujuan: mengetahui hubungan ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK) terhadap kejadian stunting pada balita usia 24-60 bulan di wilayah kerja puskesmas rowokele kabupaten kebumen. Metode: Penelitian deskriptif retrospektif yang melibatkan 44 responden berada pada wilayah kerja Puskesmas Rowokele. Data penelitian diperoleh dari data sekunder. Analisis data menggunakan uji Statistik Deskriptif. Hasil: Hasil analisis bivariat dengan korelasi uji spearman diketahui hubungan antara Status KEK dengan Stunting dengan p value sebesar 0,001, p= <0,05 dan r=0,539 yang artinya berkorelasi sangat kuat dengan arah positif dimana dua variabel atau lebih yang berhubungan tersebut berjalan paralel atau menunjukkan arah yang sejalan. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara ibu hamil dengan KEK terhadap kejadian stunting pada balita usia 24-60 bulan di wilayah kerja Puskesmas Rowokele, terdapat hubungan antara Status KEK ibu hamil dengan Stunting yang berkorelasi sedang dengan arah positif dimana ibu hamil dengan KEK maka besar akan terjadi stunting. Kata Kunci: stunting, Kekurangan Energi Kronis, Ibu hamil KEKLatar belakang: Stunting merupakan suatu kondisi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam jangka waktu yang cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting secara garis besar dikelompokkan menjadi 3 yaitu, individu, tingkat masyarakat, rumah tangga (keluarga). Prevalensi stunting di jawa tengah berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, Kabupaten Kebumen merupakan target prioritas penanganan stunting dari 160 kabupaten/kota yang ada di Indonesia. Prevalensi stunting di Kabupaten Kebumen pada tahun 2017 sebesar 28,50%. Ibu hamil beresiko mengalami Kekurangan Energi Kronis jika memiliki Lingkar Lengan Atas (LILA) <23,5 cm. Ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis beresiko melahirkan bayi stunting.Tujuan: mengetahui hubungan ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK) terhadap kejadian stunting pada balita usia 24-60 bulan di wilayah kerja puskesmas rowokele kabupaten kebumen.Metode: Penelitian deskriptif retrospektif yang melibatkan 44 responden berada pada wilayah kerja Puskesmas Rowokele. Data penelitian diperoleh dari data sekunder. Analisis data menggunakan uji Statistik Deskriptif.Hasil: Hasil analisis bivariat dengan korelasi uji spearman diketahui hubungan antara Status KEK dengan Stunting dengan p value sebesar 0,001, p= <0,05 dan r=0,539 yang artinya berkorelasi sangat kuat dengan arah positif dimana dua variabel atau lebih yang berhubungan tersebut berjalan paralel atau menunjukkan arah yang sejalan.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara ibu hamil dengan KEK terhadap kejadian stunting pada balita usia 24-60 bulan di wilayah kerja Puskesmas Rowokele, terdapat hubungan antara Status KEK ibu hamil dengan Stunting yang berkorelasi sedang dengan arah positif dimana ibu hamil dengan KEK maka besar akan terjadi stunting.Kata Kunci: stunting, Kekurangan Energi Kronis, Ibu hamil KEK