Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Studi Tematik Hadis Tentang Mahar dan Budak dalam Tinjauan Syar’i Shohibul Umam; Hafidz Taqiyuddin
Akhlak : Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat Vol. 3 No. 1 (2026): Januari: Akhlak : Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/akhlak.v3i1.1745

Abstract

Dowry and slaves are two different things. Mahar is property or something given by a husband to his wife as part of their marriage. This is supported by a hadith from Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam which says "Marry a woman with a dowry even if it's only a piece of egg." (Narrated by Bukhari). Meanwhile, slaves are human beings who are the same as other people and have rights that must be respected. There are several hadiths from Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam which emphasizes protection for slaves. One example is "Indeed Allah Subhanahu wa Ta'ala will empower three people: a young man who is given an advantage by Allah in worship, a man who donates alms in secret so that his left hand does not know what his right hand is doing, and a slave owner who are honest and treat them well." (Narrated by Bukhari). This shows that slaves must be treated fairly and well by their employers and must not be seen as merchandise or exploited to work without pay.
PENERAPAN HUKUM WARIS ISLAM DALAM PEMBAGIAN HARTA WARISAN DI MASYARAKAT PEDESAAN INDONESIA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Taqiyuddin, Hafidz
Syakhsia Jurnal Hukum Perdata Islam Vol 26 No 2 (2025): Juli - Desember
Publisher : Islamic Civil Law Departement of Shari'a Faculty at Islamic State University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37035/syaksia.v26i2.12481

Abstract

Penelitian ini menelaah bagaimana hukum waris Islam diterapkan dan dipahami dalam keragaman sosial serta budaya masyarakat Indonesia. Kajian ini memusatkan perhatian pada interaksi antara norma hukum, praktik adat, dan relasi gender dengan mensintesis temuan dari tiga puluh dua penelitian ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun hukum Islam memberikan kerangka yang jelas mengenai pembagian warisan, penerapannya dalam kehidupan masyarakat sering kali dipengaruhi oleh tradisi lokal dan struktur sosial yang kuat, yang membentuk cara pandang terhadap keadilan dan keseimbangan. Tiga tema utama muncul dari berbagai penelitian tersebut. Pertama, ketimpangan gender masih menjadi persoalan yang terus berulang, di mana perempuan kerap menerima perlakuan tidak setara meskipun ketentuan fikih memberikan hak yang jelas. Kedua, koeksistensi antara hukum Islam dan hukum adat menciptakan ruang negosiasi, di mana tafsir lokal sering kali menyesuaikan atau menafsirkan ulang ketentuan formal hukum Islam. Ketiga, rendahnya kesadaran dan literasi hukum di kalangan masyarakat pedesaan masih menjadi hambatan dalam mewujudkan praktik distribusi warisan yang adil. Dengan memadukan perspektif hukum, budaya, dan etika, penelitian ini menawarkan pemahaman yang menyeluruh tentang hukum waris Islam sebagai sistem moral yang hidup. Penelitian ini menegaskan bahwa keadilan sejati dalam pewarisan tidak hanya menuntut pembaruan hukum, tetapi juga dialog budaya, pendidikan masyarakat, dan empati sosial. Pendekatan seperti ini memungkinkan hukum Islam tetap setia pada landasan etiknya sekaligus tanggap terhadap keragaman sosial yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.
Pendidikan Spiritualitas yang Berbasis Ekologis sebaga Upaya Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan Raisul Muhadidsin; Nabila Firliya Zahra; Hafidz Taqiyuddin
Karakter : Jurnal Riset Ilmu Pendidikan Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Februari: Karakter : Jurnal Riset Ilmu Pendidikan Islam
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/karakter.v3i1.1892

Abstract

The global ecological crisis indicates that technical methods and regulations alone are insufficient to change human behavior related to the environment, thus requiring approaches that touch on moral and spiritual aspects. This study aims to design and examine spiritual-ecological education as an alternative approach in building sustainable environmental awareness. This research uses a qualitative method based on literature study using Miles and Huberman's analysis through summarization, exposition, and data conclusion drawing. The results of the study show that spiritual-ecological education has three important outcomes, namely: (1) the integration of the values of monotheism, khalifah, and ecological trust creates a solid environmental ethical framework; (2) the methods of ecosufism and scientia sacra deepen students' affective and reflective understanding of the relationship between humans and nature; and (3) contextual learning methods such as eco-pesantren and environmental programs may connect spiritual values with real ecological activities. This study contributes scientifically by developing a theoretical basis for spiritual-ecological education that combines theological, philosophical, and pedagogical aspects of environmental education. These results imply the importance of developing lesson plans and teacher training that place spirituality as the basis of ecological understanding, with the caveat that drawing general conclusions from the study results requires further empirical testing.