Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

PENGARUH PENGUPASAN KULIT BIJI DAN PEMBERIAN ATONIK TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH TANAMAN BADUNG (Garcinia dulcis (Roxb.) Kurz.) Nyoman Srilaba; Jhon Hardy Purba; Ida Ayu Sri Utami Dewi
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.424 KB) | DOI: 10.37637/ab.v1i1.395

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Agronet Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Panji Sakti, Jalan Bisma No. 22 Singaraja, pada ketinggian ± 100 m diatas permukaan laut pada bulan Juli – Oktober 2014. Penelitian ini memakai Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah berupa pengupasan kulit yang terdiri dari tiga cara yaitu tanpa pengupasan kulit biji (K0), pengupasan kulit biji hanya bagian punggung (bagian cembung) (K1), pengupasan seluruh kulit biji (K2). Faktor kedua adalah konsentrasi atonik yang terdiri dari empat taraf, yaitu tanpa penggunaan atonik (0 ml/l) (A0), perendaman atonik dengan konsentrasi 1,25 ml/l (A1), perendaman atonik dengan konsentrasi 2,50 ml/l (A2), dan perendaman atonik dengan konsentrasi 3,75 ml/l (A3). Terdapat 12 kombinasi perlakuan, masing-masing diulang 3 kali, sehingga terdapat 36 perlakuan kombinasi perlakuan. Setiap unit percobaan terdiri dari 100 benih, sehingga keseluruhan terdiri dari 3600 benih. Pengamatan terhadap perkecambahan dilaksanakan setiap hari, sampai benih berumur 60 hari setelah tanam. Variabel yang diamati meliputi: penyerapan air (ml), benih mulai berkecambah (hst), akhir perkecambahan (hst), benih rusak (%), daya kecambah (%), daya tumbuh (%), tinggi kecambah (cm). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan pengupasan kulit biji dan pemberian atonik serta kombinasi pengupasan kulit biji dan pemberian atonik berpengaruh tidak nyata terhadap variabel penyerapan air, benih mulai berkecambah, akhir perkecambahan, benih rusak, daya kecambah, dan tinggi kecambah. Perlakuan pengupasan kulit biji dan pemberian atonik berpengaruh nyata terhadap daya tumbuh, namun demikian kombinasi pengupasan kulit biji dan pemberian atonik berpengaruh tidak nyata.
PENGARUH LAMA PERENDAMAN DAN KONSENTRASI ATONIK TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH JATI (Tectona grandis L.) Nyoman Srilaba; Jhon Hardy Purba; I Ketut Ngurah Arsana
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.677 KB) | DOI: 10.37637/ab.v1i2.400

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman dan konsentrasi atonik serta interaksinya terhadap perkecambahan benih jati. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok terdiri dari 2 faktor yaitu lama perendaman (6 hari, 9 hari, dan 12 hari) serta konsentrasi atonik (0 ml/l larutan, 0,5 ml/l larutan, 1 ml/l larutan dan 1,5 ml/l larutan). Variabel yang diamati meliputi benih mulai berkecambah, akhir perkecambahan, lama perkecambahan, benih tidak berkecambah, benih rusah, benih berkecambah, kecepatan tumbuh kecambah, kecambah tumbuh dan tinggi kecambah umur 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan lama perendaman berpengaruh sangat nyata terhadap benih mulai berkecambah, benih tidak berkecambah, benih rusak, benih berkecambah, kecepatan tumbuh kecambah, kecambah yang tumbuh dan tinggi kecambah umur 60 hari. Sedangkan terhadap variabel yang lain berpengaruh tidak nyata. Lama perendaman benih selama 9 hari menunjukkan hasil yang terbaik terhadap benih mulai berkecambah yang tercepat yaitu 5 hst, benih yang tidak berkecambah terkecil yaitu 12,33%, benih berkecambah terbanyak yaitu 28,83%, kecepatan tumbuh kecambah yaitu 2,57% per etmal dan kecambah yang tumbuh yaitu 23%. Tetapi pada variabel tinggi kecambah umur 60 hari, lama perendaman selama 12 hari memberikan hasil yang paling tinggi yaitu 14,56 cm. Konsentrasi atonik berpengaruh sangat nyata terhadap benih rusak dan benih berkecambah dan berpengaruh nyata terhadap benih mulai berkecambah, benih tidak berkecambah, kecepatan tumbuh kecambah, kecambah yang tumbuh dan tinggi kecambah umur 60 hari. Sedangkan terhadap variabel yang lain berpengaruh tidak nyata. Konsentrasi atonik 1,5 ml/l menunjukkan hasil benih rusak terendah yaitu 12,67%, benih berkecambah tertinggi yaitu 26%. Interaksi antara lama perendaman selama 9 hari dan konsentrasi atonik 1,5 ml/l larutan menunjukkan hasil terbaik dibandingkan dengan interaksi lainnya.
PENGARUH PUPUK KANDANG SAPI DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI (Glycine max L. Merrill) VARIETAS EDAMAME Jhon Hardy Purba; I Putu Parmila; Kadek Karimas Sari
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.626 KB) | DOI: 10.37637/ab.v1i2.396

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kandang sapi dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai edamame dilaksanakan bulan Mei - Juli 2016 di Desa Joanyar, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, pada ketinggian tempat ± 500 meter di atas permukaan laut. Penelitian lapang ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), terdiri dari dua faktor yang disusun secara faktorial. Faktor pertama adalah pemberian dosis pupuk kandang sapi yaitu: tanpa menggunakan pupuk kandang sapi, pemberian dosis pupuk kandang sapi 10 ton.ha-1, pemberian dosis pupuk kandang sapi 20 ton.ha-1, dan pemberian dosis pupuk kandang sapi 30 ton.ha-1. Faktor kedua adalah jarak tanam yaitu: menggunakan jarak tanam 40 x 10 cm, menggunakan jarak tanam 40 x 15 cm, dan menggunakan jarak tanam 40 x 20 cm. Dengan demikian terdapat 12 perlakuan kombinasi masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Pemberian pupuk kandang sapi berpengaruh nyata terhadap jumlah polong total per tanaman. Jumlah polong total per tanaman terbanyak diperoleh pada pemberian pupuk kandang sapi 30 ton.ha-1 yaitu 50,38 polong. Jarak tanam berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah polong total per tanaman dengan penggunaan jarak 40 x 20 cm yaitu 50,78 buah. Interaksi antara dosis pupuk kandang sapi dan jarak tanam berpengaruh sangat nyata (p
Response of Mungbean [Vigna radiata (L.)Wilczek] Varieties to Plant Spacing under Irrigation at Gewane, Northeastern Ethiopia Nuru Seid Tehulie; Tarikua Fikadu; Jhon Hardy Purba
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.384 KB) | DOI: 10.37637/ab.v0i0.613

Abstract

Production of mungbean has been increasing in Ethiopia because of its high importance as a source of protein and foreign exchange earnings. Determination of appropriate plant density for the varieties of mungbean can increase its productivity. Therefore, an experiment was conducted to determine the effect of inter and intra row spacing on growth, yield components and yield of mung bean varieties under irrigation. The treatments consisted of factorial combinations of three inter row spacing (30, 40, and 50 cm), three-intra row spacing (5, 10 and 15 cm) and two mungbean varieties (N-26 and MH-97) laid out in randomized complete block design with three Replications. The main effect of varieties, inter row spacing and intra row spacing was highly significant and significant on plant height, secondary branch and where the longest plant height (41.71 cm) was for variety MH-97 and from 5 cm intra row spacing, respectively and maximum number of secondary branch was recorded for variety MH-97 (8.91) and from 15cm intra row and 50cm inter row spacing, respectively.  The interaction effect of the variety, inter and intra row spacing was highly significant on number of primary branch per plant, number of pod per plant and crop stand count percentage where the highest number of primary branches (7.00) was recorded from variety MH-97 at 50 cm inter row spacing and highest number pods per plant (30.15) were recorded for variety MH-97 at 40 cm inter row and (31.34) at 15cm intra row spacing. Where the highest crop stand count at harvest were recorded from variety MH-97  (97.00%) at 40 cm inter row spacing .The main effect of inter row spacing and intra row spacing were highly significant and significant on above ground dry biomass and the highest above ground dry biomass at inter row spacing of 30 cm ( 5968.8 kg ha-1) and intra row spacing 5cm 6145.9 kg ha-1).The main effect of variety, inter-row and intra-row spacing were highly significant on harvest index and grain yield where the highest harvest index was from variety MH-97 (20.91%), inter row spacing of 40 cm which give (21.18%) and intra row spacing 10 cm which give  (20.30%) and the highest grain yield from Variety MH-97 (1117.94 kg ha-1), inter row spacing 40 cm (1213.75 kg ha-1) and intra row spacing 10 cm which give (1151.67 kg ha-1) However, this tentative generalization based one season at one location requires further studies over years and locations to give a valid recommendation.
KAJIAN PEMBERIAN PUPUK KANDANG AYAM PEDAGING DAN PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PETSAI (Brassica chinensis L.) Jhon Hardy Purba; Putu Sri Wahyuni; Irwan Febryan
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.566 KB)

Abstract

Penelitian yang bertujuan mengetahui pengaruh dosis pupuk kandang ayam pedaging dan pupuk hayati BiotamaxTM serta interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil petsai dilaksanakan di Desa Selat, Kabupaten Buleleng, Bali pada bulan November - Desember 2018. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) faktorial, terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk kandang ayam pedaging (A), terdiri atas 3 tingkat, yaitu kontrol (A0), dosis 15 ton.ha-1 (A1), dan 30 ton.ha-1 (A2). Faktor ke dua adalah frekuensi pemberian pupuk hayati dengan empat tingkat, yaitu kontrol (B0), pemberian sekaligus yaitu 7 hari sebelum tanam dengan dosis 0,09 g.petak-1 (B1); frekuensi pemberian 2 kali yaitu 7 hari sebelum tanam dan 14 hari sesudah tanam (hst) dengan dosis setiap pemberian 0,045 g.petak-1 (B2); frekuensi pemberian 3 kali yaitu 7 hari sebelum tanam, 14 hst dan 28 hst dengan dosis setiap pemberian 0,03 g.petak-1 (B3). Hasil penelitian, frekuensi pemberian pupuk hayati BiotaMaxTM sekaligus, memberikan berat kering oven tajuk per tanaman terberat, yaitu 9,39 g. Perlakuan dosis pupuk kandang ayam pedaging dosis 30 ton.ha-1 (A2), menghasilkan berat kering oven tajuk per tanaman terbaik yaitu 9,26 g. Hubungan antara dosis pupuk kandang ayam pedaging dengan berat kering oven tajuk per tanaman menunjukan hubungan linier, yaitu y = 0,0608x + 7,2483 (R2=32,53). Berat ekonomis per hektar terbaik didapatkan pada pemberian dosis pupuk kandang ayam pedaging 30 ton.ha-1 (A2), yaitu seberat 30,10 ton.ha-1. Hubungan antara dosis pupuk kandang ayam pedaging dan berat ekonomis per hektar menunjukan hubungan linier, yaitu y = 0,3247x + 21,699 R2=59,88%. Frekuensi pemberian pupuk hayati BiotaMaxTM sekaligus yaitu 7 hari sebelum tanam dengan dosis 0,09 g.petak-1 (B1) memberikan berat ekonomis per hektar terberat, yaitu 28,21 ton.ha-1. Kombinasi dosis pupuk kandang ayam pedaging dan frekuensi pemberian pupuk hayati BiotaMaxTM berpengaruh tidak nyata (p≥0,05) terhadap pertumbuhan dan hasil petsai.DOI:https://doi.org/10.37637/ab.v2i2.383
POTENTIAL OF LOSS OF ORGANIC FERTILIZER IN LOWLAND RICE FARMING IN KLUNGKUNG DISTRICT, BALI I Nengah Muliarta; Jhon Hardy Purba
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.487 KB) | DOI: 10.37637/ab.v3i2.567

Abstract

Rice straw is an abundant resource that was still seen as a waste in intensive rice cultivation. Rice straw is said to be a resource because it can be used as organic fertilizer (compost) and contains nutrients that were beneficial for crop growth and soil fertility. The fact in the field was still found that rice straw was wasted, one of which was burned. A study was conducted through a method of observation and survey involving rice paddy farmers in 3 sub-districts in the district of Klungkung, namely Banjarangkan, Klungkung and Dawan. The aim of the research was to know the production of rice straw waste and the potential of wasted organic fertilizer in intensive rice cultivation. Based on the results obtained the production of dried straw waste in each harvest about 10.21 tons/ha.  Farmers do not utilize rice straw as compost by reason, not knowing how to composting. There were 30.34% of farmers who burn straw because based on the knowledge gained burn is an easy way to restore rice straw to the ground. The impact of burning rice straw was around 5,887,086 - 7,888.7 tons of organic fertilizer wasted.
PENGARUH DOSIS PUPUK PETROGANIK DAN KALIUM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SEMANGKA (Citrulus vulgaris SCARD) Putu Parmila; Jhon Hardy Purba; Luh Suprami
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.229 KB) | DOI: 10.37637/ab.v2i1.407

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk petroganik, dosis pupuk kalium dan interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil semangka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei - Juli 2016 di Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng dengan ketinggian ± 7 meter dari atas permukaan laut. Rancangan yang akan digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) yang terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk petroganik yang tediri atas tiga tingkatan, yaitu: tanpa pupuk petroganik, pupuk petroganik dosis 4 ton.ha-1 (160 g/tanaman/1,6 kg/petak), dan pupuk petroganik dosis 8 ton.ha-1 (320 g/tanaman/3,2 kg/petak). Faktor ke dua dosis pupuk kalium yang terdiri atas tiga tingkatan, yaitu: tanpa pupuk kalium KNO3, pupuk kalium KNO3 dosis 80 kg.ha-1 (16 g/ tanaman/160 g/petak), dan pupuk kalium KNO3 dosis 160 kg ha-1 (32 g/tanaman/320 g/petak). Penggunaan pupuk petroganik pada dosis 8 ton/ha (P2) dan 4 ton/ha memberikan hasil buah segar per hektar secara berurut sebesar 19,189 ton dan 15,844 ton, atau terdapat peningkatan hasil buah segar per hektar secara nyata sebesar 32,24% dan 9,19% bila dibandingkan dengan hasil buah segar per hektar pada tanpa penggunaan pupuk petroganik. Hasil buah segar per hektar menunjukkan bahwa dengan pupuk kalium dosis 160 kg/ha dan 80 kg/ha memberikan hasil buah segar per hektar secara berurut sebesar 18,789 ton dan 16,844 ton, atau secara nyata lebih berat 35,07% dan 21,08% dibandingkan dengan hasil buah segar per hektar pada tanpa pemupukan kalium. Pengaruh interaksi antara dosis pupuk petroganik dan pupuk kalium berpengaruh tidak nyata (p>0,05) terhadap semua variabel pengamatan.
APPLICATION OF COW MANURE, UREA AND NPK FERTILIZER COMBINATION ON THE GROWTH OF PALM OIL (Elaeis guineensis Jacq) IN PRE-NURSERY Heri Setyawan; Sri Manu Rohmiyati; Jhon Hardy Purba
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.564 KB)

Abstract

Seedling performance is a prerequisite for successful palm oil cultivation. Determining the growth of seedlings in addition to genetic factors can also be influenced by the provision of nutrients at the beginning of growth. This research was conducted with the aim to get the best combination of cow manure with urea and NPK on the growth of oil palm seedlings in pre-nursery. This experiment used a factorial design, consisting of a single factor arranged in a completely randomized design (CRD), which is a combined application of cow manure, urea fertilizer and NPK fertilizer consisting of 4 combination levels (0.4 g urea + 0.4 g NPK; 0.2 g urea + cow manure fertilizer, 0.2 g NPK + cow manure fertilizer, and 65 g cow manure fertilizer). Research data was analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at 5% significance level. The results showed that administration of a combination of 0.2 g urea + 40 g cow manure produced the best growth of oil palm seedlings, although it had the same effect as a combination of 0.4 g NPK fertilizer + 50 g cow manure, whereas the combination treatment of 0.4 g urea + 0.4 g NPK fertilizer and 65 g cow manure treatment resulted in lower growth of oil palm seedlings.DOI: 10.37637/ab.v3i1.419
IDENTIFIKASI PERUBAHAN FENOTIP PADI BERAS HITAM (Oryza sativa L.) var CEMPO IRENG HASIL PERLAKUAN KOLKISIN Putu Shantiawan Prabawa; Jhon Hardy Purba
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.824 KB) | DOI: 10.37637/ab.v2i1.403

Abstract

Penggunaan mutagen kimiawi kolkisin sebagai bahan untuk menginduksi poliplodi pada tanaman, memberikan peluang bagi peningkatan produksi beras hitam yang sampai saat ini produktivitasnya masih rendah. Hal ini berkaitan dengan banyaknya manfaat beras hitam untuk kesehatan, sehingga menyebabkan meningkatnya permintaan konsumen. Perlakuan berbagai dosis kolkisin diharapkan mampu meningkatkan dosis gen, sehingga tanaman mimiliki penampilan dan produksi yang lebih baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perubahan fenotip pada genotip padi beras hitam (Oryza sativa L.) var Cempo Ireng akibat perlakuan berbagai dosis kolkisin. Penelitian menggunakan desain petak tunggal dengan 4 perlakuan konsentrasi colchicine (0, 250, 500 dan 750 ppm) pada 2 genotipe padi beras hitam (Ungaran dan Cempo Ireng). Analisis data menggunakan independent t-test level signifikan 5%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan kolkisin dengan konsentrasi 750 ppm efektif dalam menginduksi mutasi sehingga menyebabkan perubahan fenotip pada sebagian besar karakter tanaman pada kedua genotip.
Balinese Traditional Agroforestry as Base of Watershed Conservation I Gusti Diah Ayu Yuniti; Jhon Hardy Purba; Nanang Sasmita; Liris Lis Komara; Tomycho Olviana; I Made Kartika
Journal of Applied Agricultural Science and Technology Vol. 6 No. 1 (2022): Journal of Applied Agricultural Science and Technology
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.35 KB) | DOI: 10.55043/jaast.v6i1.54

Abstract

Forests, traditional gardens and green spaces play an important role in regulating the water flow of an area. Along with the high demand for land in Bali for agriculture and tourism, many forest areas have been converted into hotels and settlements. Forest conversion has caused many problems such as erosion, soil fertility decreased, flora fauna extinction, floods, drought, global warming and the disturbing watershed, especially rivers for springs. The purpose of this study is the development of watershed conservation in Bali based on traditional agroforestry. The method that used is vegetation analysis. Calculation of the erosion amount using the USLE formula. Sampling was done by ten plots. The results showed that traditional agroforestry vegetation consisted of vertical and horizontal structures. The characteristic of traditional agroforestry is that dominant plants are distributed irregularly, thus creating a miniature structure like a forest. The vertical structure consists of trees, horizontal structure filled with species of garden plants and agriculture. Trees have roots spread intensively in the soil and reduce nutrient leaching. Land cover by vegetation protects the soil and erosion. The agroforestry has a role as an act of soil and water conservation. Traditional agroforestry land cover has a relatively low C coefficient (0.05-0.25) compared to other lands. The level of erosion hazard is low and moderate. Average erosion value of 55.01 t.ha-1.yr-1. This indicates that traditional agroforestry makes the soil have a higher ability to absorb water, thereby reducing surface runoff. Likewise, organic material that improves the water content capacity. In addition, water quality can be improved through the humus filter function. During a long dry season, there is a drought due to low rainfall, but rivers and springs were able to supply water for the peoples daily needs. This condition occurs because of the tree retentions in traditional gardens. Conservation actions need to be taken, namely maintaining trees vegetation, increasing reforestation, bench terraces use, mounds and mulch use. This condition also places traditional agroforestry as a sustainable land management system.