Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

KARAKTER KEPEMIMPINAN ISLAM DALAM NOVEL ``PENAKLUK BADAI`` DAN ``DAHLAN``: ISLAMIC LEADERSHIP CHARACTER IN THE NOVEL ``PENAKLUK BADAI`` AND ``DAHLAN`` Nabylla, Nuranisa; Hermawan, Sainul; Sabhan
LOCANA Vol. 6 No. 2 (2023): JURNAL LOCANA
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jlc.v6i2.164

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membandingkan karakter tokoh mengenai kepemimpinan Islam dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan MN dan Dahlan karya Haidar Musyafa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakter yang dimiliki tokoh mengenai kepemimpinan Islam dalam kedua novel tersebut berpedoman pada delapan prinsip, yakni prinsip saling menghormati dan memuliakan, prinsip menyebarkan kasih sayang, prinsip keadilan, prinsip persamaan, prinsip perlakuan yang sama, prinsip berpegang pada akhlak yang utama, prinsip kebebasan, dan prinsip menepati janji. Perbandingan antara kedua novel tersebut menunjukkan persamaan dan perbedaan dalam kepemimpinan Islam. Persamaan kedua novel tersebut terletak pada pembuatan organisasi keislaman dan tujuan dalam menyebarkan Islam. Perbedaan kedua novel tersebut berkaitan dengan lokasi atau tempat penyebaran Islam. This study aims to describe and compare the characters regarding Islamic leadership in the novel Conqueror of Storms by Aguk Irawan MN and Dahlan by Haidar Musyafa. The method used in this research is descriptive qualitative. The results of this study indicate that the characters possessed regarding Islamic leadership in the two novels are guided by eight principles, namely the principle of mutual respect and glorification, the principle of spreading affection, the principle of justice, the principle of equality, the principle of equal treatment, the principle of adhering to the main character, the principle of freedom, and the principle of keeping promises. The comparison between the two novels shows the similarities and differences in Islamic leadership. The similarities between the two novels lie in the creation of an Islamic organization and the goal of spreading Islam. The difference between the two novels relates to the location or place of the spread of Islam.
MANIFESTASI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM CERITA RAKYAT KALIMANTAN SELATAN SERTA RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR : MANIFESTATION OF CHARACTER EDUCATION VALUES IN SOUTH KALIMANTAN FOLK STORIES AND ITS RELEVANCE AS TEACHING MATERIAL Dinda Ayu Nurkamila; Sainul Hermawan; Dewi Alfianti
LOCANA Vol. 7 No. 1 (2024): JURNAL LOCANA
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jlc.v7i1.204

Abstract

         Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai pendidikan karakter cerita rakyat Kalimantan Selatan serta memberikan referensi bahan ajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Analisis data menggunakan teknik content analysis model Endraswara. Sumber data penelitian, yaitu delapan buku cerita rakyat dengan data berupa kutipan yang menunjukkan tujuh nilai karakter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rasa hormat terdapat pada 6 cerita, tanggung jawab pada 8 cerita, kejujuran pada 5 cerita, toleransi pada 4 cerita, kebijaksanaan pada 5 cerita, tolong-menolong pada 8 cerita, dan demokrasi pada 4 cerita. Cerita rakyat yang diteliti selaras dengan nilai pendidikan karakter, kecuali nilai tolong-menolong yang terdapat pada salah satu kutipan di buku Asal Mula Tajau Pecah dan Beramban, dan nilai tanggung jawab yang terdapat pada salah satu kutipan di cerita Utuh Gariwai dan Tombak Pusaka. Penelitian ini menunjukkan relevansi sebagai bahan ajar berbasis pendidikan karakter.                                Kata kunci: Nilai pendidikan karakter, cerita rakyat, bahan ajar  This research aims to describe the values of character education in South Kalimantan folklore and provide references as teaching materials. This research uses a qualitative approach and descriptive methods. Data analysis uses content analysis techniques with the Endraswara model. The data source for this research is eight books of South Kalimantan folklore with data in the form of quotes showing the seven character values contained in the folklore. The research results show that the character education component is contained in folklore. The value of respect is found in 6 stories, responsibility is found in 8 stories, honesty is found in 5 stories, tolerance is found in 4 stories, wisdom is found in 5 stories, mutual help is found in eight stories, and democracy is found in 4 stories. The folklore studied is in line with the value of character education, except for the value of helping which is found in one of the quotes in the book Asal Mula Tajau Pecah and Beramban, as well as the value of responsibility which is found in one of the quotes in the story Utuh Gariwai and Tombak Pusaka. This research shows its relevance as a teaching material based on character education. Keywords:The values of character education, folklore, teaching materials  
NOVELISASI GAME ASSASSIN’S CREED UNITY (KAJIAN INTERTEKSTUAL) : NOVELIZATION OF THE GAME ASSASSIN'S CREED UNITY (INTERTEXTUAL STUDY) Muhammad Hafiz Ansari; Sainul Hermawan; Dewi Alfianti
LOCANA Vol. 7 No. 1 (2024): JURNAL LOCANA
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jlc.v7i1.206

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persamaan dan perbedaan antara unsur pembangun dari novel dengan versi gamenya. Fokus utama penelitian ini ialah permainan video dan novelisasi Assassin’s Creed Unity sebagai kajian penelitian dengan mengkaji persamaan dan perbedaan yang terdapat pada keduanya. Perbedaan dan persaman yang dimaksud ialah pada unsur intrinsiknya terdiri atas tokoh penokohan, latar, alur, dan sudut pandang pada gim dan novel. Metode yang digunakan adalah deskriptif komparatif, yaitu mendeskripsikan dan membandingkan. Hasil pada penelitian ini terdapat persamaan dan perbedaan yang disebabkan oleh adanya penambahan dan pengurangang pada setiap unsur intrinsiknya. Kata kunci: intertekstual, novelisasi, dan gim The purpose of this study is to describe the similarities and differences between the elements of the novel and the game version. The main focus of this research is the video game and novelization of Assassin's Creed Unity as a research study by examining the similarities and differences found in both. The differences and similarities in question are in the intrinsic elements consisting of characterization, setting, plot, and point of view in the game and novel. The method used is descriptive comparative, which is describing and comparing. The results in this study are similarities and differences caused by the addition and subtraction of each intrinsic element. Keywords: intertextual, novelization, game
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF PADA PEMBELAJARAN RESENSI UNTUK PESERTA DIDIK KELAS XI SMAN 2 BANJARMASIN Noor Asiah; Sainul Hermawan; Ahsani Taqwiem
LOCANA Vol. 7 No. 1 (2024): JURNAL LOCANA
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jlc.v7i1.208

Abstract

This study aims to describe the needs of students, the feasibility of interactive multimedia, and students' responses to interactive multimedia review text. This study used the Research and Development (R&D) method, with a 4-D research model consisting of define, design, develop, and disseminate stages. The results of this study indicate that 100% of class XI students at SMAN 2 Banjarmasin have a high level of need and are interested in using interactive multimedia in learning review texts. Through the research results it is known that the interactive multimedia that has been developed is rated "Very Eligible" with an overall percentage of 94% by material and media experts. While the results of the responses of students get a value of "Very Positive" with an overall percentage of 89%. Based on the results of research and development, it can be concluded that interactive multimedia in learning review text for class XI students is appropriate for use in learning.
PEMBELAJARAN ESTETIKA RESEPSI SASTRA LAHAN BASAH SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI (TEACHING AND LEARNING THE RECEPTION AESTHETIC OF WETLAND LITERATURE AS A DIFFERENTIATED LEARNING MODEL) Hermawan, Sainul; Effendi, Rustam; Yasin, Moh Fatah; Sabhan, Sabhan; Alfianti, Dewi; Syaifullah, Syaifullah; Fitriani, Fitriani; Aryadi, Aryadi
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v14i2.20200

Abstract

AbstractTeaching and Learning the Reception Aesthetic of Wetland Literature as A Differentiated  Learning Model. This study aims to examine the aesthetics of students' reception of short stories set in wetlands. Achieving this goal is important to show that learning aesthetics of reception can be used as one of the differentiated learning models that is in line with one of the missions of the national curriculum. Wetland literary texts by South Kalimantan authors and students are the main data sources for this study. The data for this study are students' aesthetic responses to literary texts. These responses are studied phenomenologically to reveal students' understanding of wetland environmental issues in the text. This study will examine the aesthetic responses of 25-30 students at SMA Negeri 1 Batu Ampar in Tanah Laut Regency, South Kalimantan. The location of this study was chosen because this school has implemented the Merdeka Curriculum and research related to this national curriculum is still rarely conducted in that place. The responses of the data sources were analyzed to answer the following research problems: How do students respond to various types of wetland literary works presented to them? How does the learning model involve students in learning and how does this involvement impact their understanding of intrinsic elements in relation to understanding social and cultural backgrounds? What are the advantages and disadvantages of this learning model? The study found that contextual learning in the sense of learning that uses teaching materials that are close to the students' culture has the potential to increase student involvement in learning. This learning model succeeded in creating an in-depth discussion about the intrinsic elements of short stories. The elements of the short story were not only identified in terms of their types but also critically thought about the process of their creation. Second, this learning model made students aware of the differences in interpretation when the short story was read by different readers. In other words, this learning model not only fosters critical thinking but also teaches about the importance of democracy and empathy.Keywords: reception aesthetics, wetland literature, differentiated learning AbstrakPembelajaran Estetika Resepsi Sastra Lahan Basah sebagai Model Pembelajaran Berdiferensiasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji estetika resepsi siswa terhadap cerita pendek berlatar lahan basah. Pencapaian tujuan tersebut penting untuk menunjukkan bahwa pembelajaran estetika resepsi dapat dijadikan salah satu model pembelajaran berdiferensiasi yang selaras dengan salah satu misi kurikulum nasional. Teks sastra lahan basah karya penulis Kalimantan Selatan dan siswa menjadi sumber data utama penelitian ini. Data penelitian ini berupa respons estetik siswa terhadap teks sastra. Respons tersebut dikaji secara fenomenologis untuk mengungkap pemahaman siswa terkait dengan isu lingkungan lahan basah yang ada dalam teks. Penelitian ini akan mengkaji respons estetik 25-30 siswa di SMA Negeri 1 Batu Ampar di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Lokasi penelitian ini dipilih karena sekolah ini telah menerapkan Kurikulum Merdeka dan penelitian yang terkait dengan kurikulum nasional ini masih jarang dilakukan di tempat tersebut. Respons sumber data dianalisis untuk menjawab masalah penelitian sebagai berikut: Bagaimana siswa merespons berbagai jenis karya sastra lahan basah yang dipresentasikan kepada mereka? Bagaimana model pembelajaran melibatkan siswa dalam pembelajaran dan bagaimana dampak pelibatan tersebut bagi pemahaman mereka tentang unsur intrinsik dalam kaitannya dengan pemahaman latar sosial dan budaya?  Bagaimana kelebihan dan kekurangan model pembelajaran ini? Penelitian menemukan bahwa pembelajaran yang kontekstual dalam arti pembelajaran yang menggunakan bahan ajar yang dekat dengan budaya siswa berpotensi meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Model pembelajaran ini  berhasil membuat diskusi mendalam mengenai unsur intrinsik cerpen. Unsur-unsur cerpen bukan hanya diidentifikasi jenis-jenisnya tetapi juga dipikirkan secara kritis proses penciptaannya. Kedua, model pembelajaran ini menyadarkan siswa tentang perbedaan tafsir ketika cerpen dibaca oleh pembaca yang berbeda. Dengan kata lain, model pembelajaran ini bukan hanya menumbuhkan pemikiran kritis tetapi juga mengajarkan tentang pentingnya demokrasi dan empati.Kata-kata kunci: estetika resepsi, sastra lahan basah, pembelajaran berdiferensiasi
MULTIKULTURALISME DALAM NOVEL LELAKI KAMPONG AER KARYA SYAFRUDDIN PERNYATA (KAJIAN ETNOGRAFI SASTRA): MULTICULTURALISM IN THE NOVEL LELAKI KAMPONG AER BY SYAFRUDDIN PERNYATA (ETHNOGRAPHIC LITERARY STUDIES) Khairiyah, Hana; Hermawan, Sainul; Taqwiem, Ahsani
LOCANA Vol. 7 No. 2 (2024): JURNAL LOCANA
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jlc.v7i2.184

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur multikulturalisme dalam novel Lelaki Kampong Aer karya Syafruddin Pernyata dengan menggunakan kajian etnografi sastra. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif analisis dengan sumber data novel Lelaki Kampong Aer karya Syafruddin Pernyata. Pengumpulan data meggunakan tabel pengklasifikasian data melalui teknik membaca, menandai, dan mencatat data. Analisis data dilakukan menggunakan teknik pengklasifikasian dan interpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) multikulturalisme pada aspek bahasa dalam novel terdiri atas bahasa Banjar dan bahasa Inggris, (2) multikulturalisme pada aspek organisasi sosial dalam novel adalah pemerintah, masyarakat, keluarga, dan kekerabatan dalam suku, serta (3) multikulturalisme pada aspek religi dalam novel berupa agama dan mistis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam novel ini membuka pengetahuan mengenai cara pandang dunia melalui pengarang terhadap kehidupan multikulturalisme di Kota Samarinda yang dominan meggunakan bahasa Banjar dalam kehidupan sehari-hari serta perilaku masyarakat yang saling membantu dan menghargai meskipun berbeda suku dan kepercayaan. This research aims to describe the elements of multiculturalism in the novel Lelaki Kampong Aer by Syafruddin Pernyata using ethnographic literary studies. This research uses a qualitative approach and descriptive analysis method with data sources from the novel Lelaki Kampong Aer by Syafruddin Pernyata. Data collection uses data classification tables through reading, marking, and recording data techniques. Data analysis was carried out using data classification and interpretation techniques. The results of the research show that: (1) multiculturalism in the language aspect in the novel consists of Banjar language and English, (2) multiculturalism in the social organization aspect in the novel is government, society, family, and kinship within the tribe, and (3) multiculturalism in the religious aspect in the novel is religion and mysticism. Thus, it can be concluded that this novel opens up knowledge about the world view of multicultural life in Samarinda City, which predominantly uses the Banjar language in everyday life and the behavior of people who help and respect each other even though they have different ethnicities and beliefs.
RELEVANSI CERITA ANAK TERBITAN KEMDIKBUD DENGAN PROFIL PELAJAR PANCASILA: THE RELEVANTION BETWEEN CHILDREN STORY BY KEMDIKBUD WITH PROFIL PELAJAR PANCASILA Aulia, Saidatul; Sainul Hermawan; Dwi Wahyu Candra Dewi
LOCANA Vol. 7 No. 2 (2024): JURNAL LOCANA
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jlc.v7i2.231

Abstract

Profil pelajar Pancasila yang mencapai hingga skala mikro, memerlukan suatu media dengan kompabilitas yang sama sebagai alat internalisasi. Media tersebut ialah buku cerita anak yang diterbitkan Kemdikbud melalui laman daring Budi (Buku Digital) yang bebas akses. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan 8 buku cerita anak yang diterbitkan Kemdikbud sebagai sumber data. Melalui 8 buku tersebut, kutipan yang memuat citra fisik anak, citra realitas sosial anak, citra peran sosial anak, dan dimensi-dimensi profil pelajar Pancasila diolah menjadi data penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku cerita anak terbitan Kemdikbud merupakan media yang representatif karena memuat citra fisik anak, citra realitas sosial anak, citra peran sosial anak, dan seluruh dimensi profil pelajar Pancasila. Namun demikian, citra fisik anak tidak dimuat pada seluruh sumber data dan ciri fisik yang dimuat juga terbatas. Profil pelajar Pancasila that reach to a microscale, requires a medium with the same compatibility as an internalization tool. The media is a children's storybook published by Kemdikbud through online site, named Budi (Buku Digital). This research adopted qualitative approaches descriptive using 8 children stories published by Kemdikbud as a source of data. Through the stories, the physical image of children, the image of social reality of children, the image of child social role, and dimentions of profil pelajar Pancasila are processed into research's data. The research results showed that children story from Kemdikbud is a medium that it is representative because it contains the physical image of children, the image of social reality of children, the image of child social role, and dimentions of profil pelajar Pancasila completely. However, the physical image of children is limited.
Nilai Religi dalam Tradisi Lisan Sansana Dayak Ngaju Ngalimun, Ngalimun; Noortyani, Rusma; Hermawan, Sainul
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 19, No. 1 : Al Qalam (Januari 2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v19i1.4300

Abstract

Penelitian ini ditulis untuk mengkaji nilai religi dalam tradisi lisan Sansana Dayak Ngaju yang keberadaannya sudah mulai susah ditemukan dalam masyarakat. Tulisan ini pula diharapkan mampu membuka ruang dan menumbuhkan peminat kembali untuk mengembangkan kebudayaan Masyarakat Dayak. Adapun nilai religi dalam tradisi lisan Sansana Dayak Ngaju di pandangan sebagai kepercayaan bahwa manusia hidup di dunia hanya sementara di alam bawah (dunia) yang disebut dengan Pantai Danum Kalunen, dan akan kembali lagi kealam asalnya yaitu alam atas atau Lewu Liau atau disebut juga Lewu Tatau Dia Rumping Tulang, Randung Raja Isen Kamalasu. Jadi, konsep ketuhanan orang Dayak Ngaju adalah sang Maha Tunggal, Maha Agung, Maha Mulia, Maha Jujur, Maha Lurus, Maha Kuasa, Maha Suci, Maha Pengasih dan Penyayang Maha  Adil, Kekal Abadi, Maha Mendengar, yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk memberikan kehidupan kepada manusia ia  adalah Ranying, yang mempunyai kekuatan untuk mencipta (Hatalla). Suku Dayak Ngaju mengakui bahwa di alam ini ada suatu  zat yang menguasai dunia dan hidupnya. Dalam usahanya mengenal Tuhan suku Dayak Ngaju mengenal nama-nama Mahatala dan Duwata. Mahatala adalah ilah yang menguasai alam atas (langit, atau alam sesudah mati), dan Duwata adalah ilah yang menguasai bumi alam bawah (dunia, dan kehidupan ini). Menurut pandangan Dayak Ngaju, setiap orang mati adalah Buli Lewu Tatau Dia Rumpung Tulang, Rundung Raja Isen Kamalasu Uhat, yaitu surga, tempat yang kaya raya, sejahtera dan membahagiakan.
Ekranisasi Novel 3 Srikandi Karya Silvarani: Ecranisation 3 Srikandi Novel By Silvarani risnawati, rici; Hermawan, Sainul; Alfianti, Dewi
LOCANA Vol. 8 No. 1 (2025): JURNAL LOCANA
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jlc.v8i1.244

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur intrinsik novel dan film, perubahan alih wahana novel ke film, serta tafsiran film 3 Srikandi berdasarkan novel 3 Srikandi. Metode menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data berupa novel dan film 3 Srikandi. Data yang digunakan berupa kutipan dari paragraf dan kalimat. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca, teknik dokumentasi, serta teknik catat. Teknik analisis data menggunakan teknik deskriptif komparatif. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa karya sastra tidak hanya pada novel, tetapi mampu melampaui ke bentuk lainnya. Penelitian ini menemukan persamaan dan perbedaan yang disebabkan peralihan media sehingga memunculkan penambahan dan pengurangan pada unsur intrinsik. Perubahan dari novel ke film 3 Srikandi berupa perbandingan, pengontrasan, pengurangan, penambahan dan perubahan bervariasi. Selain itu, tafsiran film terhadap novel memunculkan alasan sutradara dalam menggarap 3 Srikandi dengan memaknai pesan yang terkandung di dalam novel. Kata kunci: ekranisasi, novel, film Abstract This research aims to define the intrinsic elements of novel and film, the adaptation pf novel into film, and the interpretation of the film 3 Srikandi based on the novel 3 Srikandi. The method uses a qualitative approach with a descriptive method. The data source is in the form of the novel and film 3 Srikandi. The data used is in the form of excerpts from paragraphs and sentences. The data collection technique uses reading technique, documentation technique, and note-taking technique. The data analysis technique uses comparative descriptive methods. The results of this study prove that literary works are not only novels but can transcend to other forms. This study finds similarities and differences caused by media switching that give rise to additions and subtractions to intrinsic elements. The changes from the novel to the movie 3 Srikandi in the form of comparison, contrast, subtraction, addition, and change vary. In addition, the film's interpretation of the novel gives rise to the director's reason for working on 3 Srikandi by interpreting the message in the novel. Keywords: ecranisation, novel, film
HEGEMONI DALAM NOVEL YANG TELAH LAMA PERGI KARYA TERE LIYE: THE HEGEMONY IN TERE LIYE'S NOVEL YANG TELAH LAMA PERGI Sri Annisa; Sainul Hermawan; Ahsani Taqwiem
LOCANA Vol. 8 No. 2 (2025): JURNAL LOCANA
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jlc.v8i2.354

Abstract

Hegemoni merujuk pada konsep kekuasaan yang diperoleh melalui persetujuan terhadap nilai yang berlaku dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk menggambarkan mengenai hegemoni dijelaskan, membentuk struktur sosial, serta memengaruhi interaksi antartokoh dalam novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Yang Telah Lama Pergi karya Tere Liye merepresentasikan kompleksitas dinamika dominasi kekuasaan dalam membentuk struktur sosial dan identitas individu. Melalui analisis terhadap tokoh utama seperti Mas’ud, Ajwad, Remasut, dan Biksu Tsing, ditemukan berbagai bentuk dominasi kekuasaan, seperti melalui pengaruh budaya, peran kaum intelektual, dan penanaman ideologi, yang turut membentuk pandangan dunia dan perilaku tokoh-tokoh tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya untuk mengkaji latar belakang munculnya hegemoni dalam novel melalui pendekatan yang berbeda, sehingga dapat memperkaya pemahaman terhadap representasi hegemoni dalam teks sastra.