Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Efektivitas Konseling Family Centre Care Dalam Meningkatkan Successful Aging Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Belimbing Padang Tahun 2024 Sari Setiarini; Nurhamidah Rahman
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 20, No 2 (2026): Vol 20 No. 02 JANUARI 2026
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v20i2.7581

Abstract

Peningkatan usia harapan hidup menuntut perhatian terhadap kualitas hidup lansia, salah satunya melalui pencapaian successful aging yang mencakup aspek fisik, psikologis, kognitif, dan sosial. Namun, keterbatasan dukungan keluarga masih menjadi hambatan utama bagi lansia dalam mencapai penuaan yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas konseling Family-Centered Care (FCC) dalam meningkatkan successful aging pada lansia. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan pendekatan pre-test dan post-test kelompok kontrol (non-equivalent control group design). Sampel berjumlah 34 lansia yang dibagi ke dalam kelompok intervensi (n = 17) dan kelompok kontrol (n = 17). Kelompok intervensi mendapatkan konseling FCC, sedangkan kelompok kontrol tidak memperoleh intervensi. Tingkat successful aging diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan kuesioner terstandar. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji normalitas Shapiro–Wilk menunjukkan data tidak berdistribusi normal (p 0,05), sehingga analisis perbedaan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan uji Mann–Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan skor successful aging pada kelompok intervensi setelah pemberian konseling FCC (p = 0,001), sementara kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang bermakna (p = 0,263). Perbandingan perubahan skor antar kelompok menunjukkan bahwa peningkatan successful aging pada kelompok intervensi secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (p = 0,002). Temuan ini mengindikasikan bahwa konseling FCC efektif dalam meningkatkan successful aging pada lansia melalui penguatan dukungan keluarga, peningkatan kapasitas adaptif, dan keterlibatan sosial. Kesimpulannya, konseling berbasis Family-Centered Care terbukti efektif dalam meningkatkan successful aging pada lansia dan layak diintegrasikan dalam praktik keperawatan gerontik serta layanan kesehatan primer sebagai strategi promotif dan preventif yang berkelanjutan.Kata kunci: Family-Centered Care, konseling, successful aging, lansia. 
PEMBERDAYAAN KELUARGA DALAM PENANGANAN AWAL KEGAWATDARURATAN SESAK NAPAS PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU MELALUI EDUKASI KESEHATAN Nurhamidah Rahman; Anisa Pebristi; Sari Setiarini; Fanisa Sriani; Fanny Lovia Bunda
Jurnal Abdimas Saintika Vol 7, No 2 (2025): November Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v7i2.31041

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi dengan beban kasus tertinggi kedua di dunia setelah India, dan sesak napas merupakan salah satu keluhan yang berpotensi berkembang menjadi kondisi kegawatdaruratan yang mengancam nyawa apabila tidak ditangani secara tepat. Karena sebagian besar pengobatan TB dijalani di rumah, keluarga perlu diberdayakan agar mampu mengenali tanda bahaya dan melakukan pertolongan awal saat pasien mengalami sesak napas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga pasien TB paru dalam penanganan awal kegawatdaruratan sesak napas melalui edukasi kesehatan. Kegiatan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Anak Air Padang, Sumatera Barat pada tahun 2025, dengan sasaran 20 keluarga pasien TB paru yang berperan sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO). Metode kegiatan meliputi edukasi kesehatan, demonstrasi, simulasi (re-demonstrasi), pemberian leaflet dan video edukasi, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test pengetahuan dan lembar observasi keterampilan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan bermakna rerata skor pengetahuan keluarga dari 55,4 (kategori kurang) menjadi 86,7 (kategori baik) (p = 0,000), serta peningkatan capaian keterampilan praktik posisi semi fowler dari 35% menjadi 90% peserta yang mampu melakukan dengan benar. Kegiatan ini terbukti efektif meningkatkan kesiapsiagaan keluarga dalam menghadapi kegawatdaruratan sesak napas pasien TB paru di rumah, dan direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan serta direplikasi di wilayah kerja Puskesmas lain.Kata Kunci: pemberdayaan keluarga; kegawatdaruratan; sesak napas; tuberkulosis paru; edukasi Kesehatan
EFEKTIVITAS EDUKASI KESEHATAN MENTAL TERHADAP PENURUNAN RISIKO GANGGUAN STRES PASCATRAUMA PADA PENYINTAS BENCANA YANG TINGGAL DI WILAYAH PASIR PUTIH KOTA PADANG Anisa Febristi; Sari Setiarini; Cyintia Permata Ayu; Bunga Cita Lestari
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 8, No 2 (2025): November 2025
Publisher : STIKES Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v8i2.31075

Abstract

Bencana Alam tidak hanya menimbulkan kerugian fisik, tetapi juga berdampak pada kesehatan mentalpenyintas, salah satunya berupa gangguan stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD).Edukasi kesehatan mental merupakan salah satu intervensi yang dapat meningkatkan pengetahuan,kemampuan koping, dan membantu menurunkan gejala PTSD pada penyintas pascabencana.Tujuan:Menganalisis efektivitas edukasi kesehatan mental terhadap penurunan risiko gangguan stres pascatraumapada penyintas pascabencana galodo.Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimentaldengan pendekatan one-group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 40 responden yang dipilihmenggunakan teknik total sampling. Tingkat gejala PTSD diukur sebelum dan sesudah pemberian edukasikesehatan mental menggunakan kuesioner PTSD yang telah tervalidasi. Edukasi meliputi pengenalanPTSD, reaksi psikologis pascabencana, teknik relaksasi napas dalam, teknik grounding, pentingnyadukungan keluarga, serta informasi mengenai akses layanan kesehatan jiwa. Analisis data dilakukanmenggunakan Paired t-test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05.Hasil: Sebelum intervensi, sebagian besarresponden mengalami gejala PTSD kategori sedang–berat sebanyak 32 responden (80,0%), sedangkan 8responden (20,0%) berada pada kategori ringan. Setelah edukasi kesehatan mental, proporsi respondendengan gejala PTSD kategori sedang–berat menurun menjadi 10 responden (25,0%), sementara 30responden (75,0%) berada pada kategori ringan.. Hasil uji Paired t-test menunjukkan nilai p < 0,001, yangberarti terdapat penurunan gejala PTSD yang bermakna setelah pemberian edukasi kesehatanmental.Kesimpulan: Edukasi kesehatan mental efektif menurunkan tingkat gejala PTSD pada penyintaspascabencana galodo. Intervensi ini dapat dijadikan salah satu strategi promotif dan preventif dalampelayanan keperawatan komunitas serta program penanggulangan bencana untuk mempercepat pemulihanpsikologis penyintas.Kata kunci: Edukasi kesehatan mental, Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD, penyintas bencana.
EFEKTIVITAS BRAIN GYM EXERCISE TERHADAP FUNGSI KOGNITIF SEBAGAI PENCEGAHAN KEGAWATDARURATAN PADA LANSIA Nurhamidah Rahman; Anisa Febristi; Sari Setiarini
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 7, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : STIKES Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v7i1.31071

Abstract

Penuaan menyebabkan penurunan fungsi kognitif yang, apabila tidak diantisipasi, dapat meningkatkan risiko kondisi kegawatdaruratan pada lansia, seperti delirium dan jatuh berulang. Brain Gym Exercise merupakan intervensi non-farmakologis berbasis gerakan sederhana yang dilaporkan efektif meningkatkan fungsi kognitif lansia. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas Brain Gym Exercise terhadap peningkatan fungsi kognitif sebagai upaya pencegahan risiko kegawatdaruratan pada lansia di Posyandu Lansia wilayah kerja Puskesmas Andalas, Kota Padang. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest pada 30 lansia yang dipilih secara purposive sampling. Intervensi Brain Gym Exercise diberikan selama 2 minggu (6 sesi, 2 kali/minggu, 15-20 menit/sesi). Fungsi kognitif diukur menggunakan Mini-Mental State Examination (MMSE) sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis dengan Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil menunjukkan peningkatan bermakna rerata skor MMSE dari 21,5 menjadi 25,8 (p = 0,000), dengan proporsi lansia berfungsi kognitif normal meningkat dari 26,7% menjadi 76,7%. Brain Gym Exercise efektif meningkatkan fungsi kognitif lansia dan berpotensi menjadi strategi pencegahan primer terhadap risiko kegawatdaruratan terkait penurunan fungsi kognitif, sehingga direkomendasikan untuk diterapkan secara rutin di Posyandu Lansia.Kata kunci: Brain gym exercise; fungsi kognitif; lansia; kegawatdaruratan; posyandu lansia
PENGETAHUAN, SIKAP, DAN KESIAPAN PERAWAT PUSKESMAS DALAM PENANGANAN KEGAWATDARURATAN BENCANA DI WILAYAH SUMATERA BARAT Sari Setiarini; Nurhamidah Rahman; Cyintia Permata Ayu; Bunga Cita Lestari
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 7, No 2 (2024): November 2024
Publisher : STIKES Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v7i2.31079

Abstract

Sumatera Barat merupakan wilayah dengan risiko multi-bencana tinggi akibat zona subduksi megathrust Mentawai–Siberut yang berpotensi menimbulkan gempa bermagnitudo hingga 8,9 dan tsunami setinggi lebih dari tiga meter di wilayah pesisir. Perawat Puskesmas memiliki peran strategis sebagai responder awal sebelum bantuan dari rumah sakit rujukan tiba, namun sintesis literatur yang komprehensif mengenai pengetahuan, sikap, dan kesiapan mereka pada konteks layanan kesehatan primer di Indonesia masih terbatas. Tujuan: Mensintesis bukti ilmiah mengenai pengetahuan, sikap, dan kesiapan perawat dalam penanganan kegawatdaruratan bencana, faktor-faktor yang memengaruhinya, serta relevansinya terhadap konteks Puskesmas Belimbing dan wilayah Sumatera Barat. Metode: Penelitian ini merupakan Systematic Literature Review yang mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Pencarian dilakukan pada PubMed, ScienceDirect, ProQuest, Google Scholar, dan Garuda menggunakan kombinasi kata kunci Boolean: (“nurses”) AND (“disaster preparedness”) AND (“knowledge”) AND (“attitude”) AND (“emergency response”) AND (“primary health care”) AND (“Indonesia”). Artikel disaring berdasarkan kriteria inklusi-eksklusi dan dinilai kualitas metodologisnya menggunakan pendekatan Joanna Briggs Institute (JBI), kemudian disintesis secara naratif. Hasil: Sebanyak 18 artikel (13 studi primer dan 5 artikel tinjauan) memenuhi kriteria inklusi. Tingkat pengetahuan perawat bervariasi (kategori baik berkisar 48–69%), sikap cenderung lebih positif dibanding pengetahuan dan praktik, serta kesiapan secara konsisten berhubungan dengan riwayat pelatihan dan pengalaman menghadapi bencana sebelumnya. Studi di Kota Padang menunjukkan kesiapsiagaan perawat Puskesmas tergolong cukup baik secara agregat, namun literatur spesifik pada level Puskesmas Belimbing belum ditemukan. Kesimpulan: Pengetahuan dan pelatihan merupakan prediktor konsisten kesiapan perawat, sementara sikap positif belum tentu diikuti kesiapan praktis yang memadai. Kesenjangan riset pada level Puskesmas spesifik di zona risiko megathrust Sumatera Barat membuka peluang penelitian primer lanjutan, khususnya di Puskesmas Belimbing.Kata kunci: Pengetahuan, Sikap, Kesiapan, Perawat, Bencana.