Claim Missing Document
Check
Articles

STRATEGI GENERASI MUDA DALAM MENGINJIL: BERKACA PADA TELADAN PARA MISIONARIS DALAM SEJARAH GEREJA INDONESIA Hermanto, Yanto Paulus; Alexander, Christopher; Christi, Joseph Patria; Napitupulu, Tina Natalia; Gracia, Jeremy Deo
GENEVA: JURNAL TEOLOGI DAN MISI Vol. 11 No. 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Abdi Allah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71361/gjtm.v11i2.62

Abstract

AbstractThe lack of awareness of the young generation towards evangelism needs to be addressed. As Indonesia will enter the demographic bonus period in 2030-2040, Christianity also needs to take advantage of this opportunity to spread the gospel of the Lord Jesus Christ. Therefore, the young generation needs to prepare themselves to be able to do evangelism effectively, one of which is by understanding evangelism strategies. On this occasion, the author raised the title "The Strategy of the Young Generation in Evangelizing: Reflecting on the Example of Missionaries in Indonesian Church History" with the aim that the young generation can imitate the evangelism strategy that has been implemented by missionaries who have been successful in the history of the Indonesian church. The method used in this study is the library research method. The conclusion of this study is that the young generation must have an evangelism strategy that is divided into at least three important points, namely (1) spiritual life, where the young generation needs to have a good spiritual life before doing evangelism; (2) a heart like Jesus, where the young generation needs to have the attitude of a servant's heart who is willing to serve, a heart filled with compassion and sensitivity to answer the needs of those around them; and (3) creativity, where the young generation needs to use the creativity that God has given them in their daily lives, including in doing evangelism.Keywords: evangelism, evangelism strategy, young generation, Indonesian church history, missionaries AbstrakMinimnya kesadaran generasi muda terhadap penginjilan perlu mendapatkan penanganan. Seiring dengan Indonesia akan memasuki masa bonus demografi pada tahun 2030-2040, maka kekristenan juga perlu memanfaatkan kesempatan ini untuk menyebarluaskan Injil Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu, generasi muda perlu mempersiapkan dirinya agar dapat melakukan penginjilan dengan efektif, salah satunya adalah dengan mengerti strategi penginjilan. Dalam kesempatan kali ini, penulis mengangkat judul “Strategi Generasi Muda dalam Menginjil: Berkaca pada Teladan Para Misionaris dalam Sejarah Gereja Indonesia” dengan tujuan agar para generasi muda dapat meneladani strategi penginjilan yang telah diterapkan oleh para misionaris yang telah tercatat berhasil dalam sejarah gereja Indonesia. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode penelitian kepustakaan (library research). Kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa generasi muda harus memiliki strategi penginjilan yang setidaknya terbagi menjadi tiga poin penting, yaitu (1) kehidupan spiritual, di mana generasi muda perlu memiliki kehidupan spiritual yang baik sebelum melakukan penginjilan; (2) hati seperti Yesus, di mana generasi muda perlu memiliki sikap hati hamba yang mau melayani, hati yang dipenuhi belas kasihan dan kepekaan untuk menjawab kebutuhan orang di sekitar; dan (3) kreativitas, di mana generasi muda perlu menggunakan kreativitas yang telah Tuhan berikan untuk mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari, termasuk dalam hal melakukan penginjilan.Kata kunci: penginjilan, strategi penginjilan, generasi muda, sejarah gereja Indonesia, misionaris
Mewariskan Iman Kristen Pada Generasi Muda Melalui Model Fathering Berdasarkan 1 Tesalonika 2:9-12 Setiawan, Agus; Hermanto, Yanto Paulus
Davar : Jurnal Teologi Vol 6, No 1 (2025): Juni
Publisher : Sekola Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v6i1.147

Abstract

ABSTRACTThis research aims to explain how to pass on the Christian faith to today's young generation. Using literature study methods, this research found that every generation must be taught who God is and what He has done for mankind. Paul gave three examples as a spiritual father for the church in Thessalonica, by exhorting, encouraging, and urging. The results of this research show that a fathering model based on 1 Thessalonians 2:9-12 is an effective way to pass on the Christian faith to the younger generation. This method can be a reference for a father or spiritual father who will pass on the Christian faith to the younger generation. Keywords: Fathering, Young Generation, Christian Faith, 1 Thessalonians 2 ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan cara mewariskan iman Kristen pada generasi muda masa kini. Dengan menggunakan metode studi kepustakaan, penelitian ini menemukan bahwa setiap generasi harus diajarkan siapa Tuhan itu dan apa yang telah Dia lakukan bagi umat manusia. Paulus memberikan tiga teladan sebagai bapa rohani bagi jemaat di Tesalonika, dengan cara menasihati, menyemangati, dan mendesak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model fathering berdasarkan 1 Tesalonika 2:9-12 adalah cara yang efektif untuk mewariskan iman Kristen pada generasi muda. Metode ini dapat menjadi referensi bagi seorang ayah atau bapa rohani yang akan mewariskan iman Kristen pada generasi muda. Kata kunci: Fathering, Generasi Muda, Iman Kristen, 1 Tesalonika 2
Efektivitas Bantuan Sosial terhadap Pemerataan Ekonomi: Studi Kasus Gerakan Circunomy Pangayow, Laura Meirien Olivia; Lieberth, Ricard; Tanjung, Vicia Manuela; Tanjung, Vicsel Imanuel; Hermanto, Yanto Paulus
SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2025): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (April 2025)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v5i1.345

Abstract

Socio-economic inequality remains a major challenge in Indonesia despite various social assistance programs. Many initiatives face issues of distribution and long-term dependency. At the same time, economic equity is essential for social stability and sustainable development. This study analyzes the effectiveness of the Circunomy Movement, a community-based model that integrates social assistance with local MSME empowerment through economic circulation. Circunomy involves micro-enterprise product purchases, which are redistributed as social assistance while ensuring transparency via a digital platform. Results show the participation of more than 300 MSMEs and benefits for around 1,000–1,500 individuals in Jakarta and its surroundings. The findings indicate that Circunomy is not only a mechanism of social assistance but also a tool for strengthening community-based economic equity. This bottom-up approach highlights the potential of social solidarity in achieving both social welfare and inclusive economic development.
Synergistic Role of the Church in Social Action: a Case Study of GBI Jemaat Asia Afrika's Community Service Initiatives Sasono, Rakhmad Widodo Dwi; Omega, Yuda Putra; Clarissa, Cindy; Herman, Samuel; Hermanto, Yanto Paulus
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari Vol. 3 No. 5 (2024): May 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/jpmb.v3i5.9368

Abstract

This community service explores the synergistic role of GBI Jemaat Asia Afrika in society, highlighting its social action initiatives. The method involves surveying target institutions, accurately assessing needs, and announcing plans during church services. Contributions are collected and distributed accordingly. This decade-long initiative targets residents of elderly homes, orphanages, and rehabilitation centers. Success indicators include meeting specific needs and receiving acknowledgment from institution managers. Post-action evaluations ensure continuous improvement. Consistent implementation of these activities demonstrates the church's ability to synergistically fulfill its mission of living, faithfulness, and service, providing meaningful support to the less fortunate and enhancing their sustainability.
Program Naturalisasi Timnas Sepakbola Indonesia Ditinjau dari Etika Kristen Pangayow, Laura Meirien Olivia; Hermanto, Yanto Paulus
Misioner Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Misioner
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KIBAID MAKALE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51770/jm.v5i2.245

Abstract

The national football federation (PSSI) has recently adopted a policy of naturalising foreign players as a strategic move to strengthen the national team in the face of limited local talent and the low quality of domestic competition. This policy has become a phenomenon that has sparked various discussions, from political, social, and theological perspectives. Through descriptive qualitative methods with literature studies and interviews with five Christian ethicists, this study found that naturalisation is viewed positively when carried out within the framework of love and justice and understood as a means of God's blessing. These values find their theological basis in the story of Ruth, which shows that accepting foreigners can contribute to the faith community. Thus, the naturalisation of football players is not only a legal and sporting strategy issue, but also has important ethical and theological dimensions in nation building.
Strengthening Batak Tribe Gratitude Worship Overseas as the Preservation of Batak Culture Sitohang, Romauli; Hermanto, Yanto Paulus; Rattu, August B.G.
SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 2 (2023): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Oktober 2023)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v3i2.142

Abstract

Bangsa yang kaya melestarikan budaya dan bahasanya sebagai sarana ikut serta membangun bangsa sesuai cita-cita NKRI, yang terdiri dari berbagai agama, suku, budaya dan Bahasa merupakan kekayaan alam Indonesia, diantaranya adalah suku Batak yang terdiri dari beberapa suku, Bahasa, budaya yang sangat unik. Mereka adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, walaupun ada di perantauan tetap memelihara budaya dan Bahasa itu lewat perkumpulan yang dibentuk di setiap daerah dan itu setiap marga, wujudnyatanya setiap bulan mengadakan ibadah arisan sebagai sarana untuk berkumpul bersama menjalin kekerabatan, bertujuan untuk meregenerasikan budaya kepada kaum muda penerus bangsa dan keluarga di hari esok, serta sekali setahun mengadakan ucapan syukur yang disebut Bonataon, yang dalam pelaksanaannya diadakannya penampilan budaya Batak dalam bentuk tortor lengkap pakai ulos serta gondang Batak, juga Bahasa yang dipakai diupayakan Bahasa Batak, hal itu merupakan bentuk pelestarian budaya serta mewujudkan isi dari keseluruhan Pancasila merupakan ikut sertanya suku Batak dalam mendukung pembangunan bangsa Indonesia.
Generasi Muda Kristen Unggul dalam Karakter melalui Kesehatan Mental Sembiring, Esty Endaria; Hermanto, Yanto Paulus
Vox Dei: Jurnal Teologi dan Pastoral  Vol 4 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46408/vxd.v4i2.414

Abstract

In the next few years, Indonesia will reach the peak of the demographic bonus, where most of the population is of productive age and almost one-third are younger. The demographic bonus needs to be utilized optimally by improving the quality of its human resources. One indicator of the quality of human resources is mental health, which is believed to increase national productivity. Mental health plays a big role in realizing a superior generation. Through descriptive qualitative research methods, this study aims to discuss the superior character of the Christian youth that other young people do not have about mental health and Christian religiosity. The results showed that religiosity was directly proportional to better levels of mental health. The Bible through Christian Education has been shown to have a powerful influence on the mental health of individuals. Emotional intelligence developed through the ability to self-reflect, stress management, emotional release through forgiveness, peaceful conflict resolution, and increased optimism and hope are results that can be implemented in everyday life.
Mencegah Diperhamba Pornografi di Era Media Sosial Hadi, Nathanael Yitshak; Hermanto, Yanto Paulus
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i10.50101

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menolong keluarga, guru juga rohaniawan gereja dalam mencegah anak-anak muda terpapar kecanduan pornografi. Melalui kajian pustaka dan eksposisi 1 Korintus 6:12-20, peneliti menemukan jawaban terhadap tujuan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi eksposisi 1 Korintus 6:12-20 sangat penting dan dapat diterapkan untuk mencegah dan mengatasi kecanduan pornografi. Prinsip-prinsip termuan memberikan panduan yang relevan dan efektif untuk menjaga kesucian dan integritas tubuh, dengan menekankan pentingnya hidup sesuai dengan ajaran Alkitab dan memuliakan Tuhan. Pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek teologis, psikologis, dan praktis ini memberikan solusi komprehensif bagi umat Kristiani dalam menghadapi tantangan kecanduan pornografi di era digital.
FENOMENA GENERASI SANDWICH DARI PERSPEKTIF IMAN KRISTEN Trisanto, Apdhika Kristian; Hermanto, Yanto Paulus
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Volume 6 No. 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i2.43115

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi fenomena generasi sandwich di Indonesia dari perspektif iman Kristen, fokus pada bagaimana nilai-nilai etis dan moral dapat membantu mengatasi tantangan kompleks yang dihadapi oleh generasi ini. Generasi sandwich, yang harus memenuhi kebutuhan finansial bagi orang tua dan anak-anak mereka, sering mengalami tekanan psikis dan fisik yang signifikan. Dalam konteks ini, nilai-nilai seperti kasih, pengorbanan, dan tanggung jawab sosial dari perspektif iman Kristen menjadi krusial dalam memberikan landasan moral dan dukungan spiritual. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis literatur yang relevan dari berbagai sumber akademik dan keagamaan. Temuan utama menunjukkan bahwa komunitas Kristen dan gereja memiliki potensi besar untuk memberikan dukungan yang bermakna melalui program-program pendidikan, konseling keluarga, dan pelayanan sosial. Implikasi praktis penelitian ini termasuk pengembangan sumber daya yang sesuai dengan kebutuhan generasi sandwich, serta penguatan jaringan sosial dalam komunitas Kristen.
Pernikahan Kristen: Persetujuan Orang Tua atau Keputusan Pribadi menurut Alkitab Setiawan, Agus; Hermanto, Yanto Paulus
TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 2 (2023): Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Transformasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53674/teleios.v3i2.69

Abstract

Abstract: Marriage is an important decision in life, especially in the Christian faith, and both parties must be fully involved in the decision-making process. However, parental consent is not always given, which can cause tension and conflict within the family due to differences in culture, religion, social status, or other factors. This research focuses on the issue of parental approval versus personal decisions in Christian marriage based on Biblical views. The purpose of this study is to identify factors that shape attitudes toward parental consent versus personal decisions in marriage and to explore how the Bible views this issue. The research methodology used is a library research method, which includes collecting and analyzing data from books, journals, and official websites related to Christian marriage, parental consent in marriage, and personal decisions to marry. Although the Bible does not explicitly require parental consent for marriage, it recognizes the importance of family, community, and civil authority as structures that support marriage. The novelty of this research lies in its exploration of the complex and multifaceted nature of Christian marriage, parental consent, and the personal decision to marry, as well as its contribution to the ongoing discussion of this important issue.Abstrak: Pernikahan adalah keputusan penting dalam hidup, khususnya dalam iman Kristen, dan kedua belah pihak harus terlibat penuh dalam proses pengambilan keputusan. Namun persetujuan orang tua tidak selalu diberikan sehingga dapat menimbulkan ketegangan dan konflik dalam keluarga karena perbedaan budaya, agama, status sosial, atau faktor lainnya. Penelitian ini berfokus pada persoalan persetujuan orang tua versus keputusan pribadi dalam pernikahan Kristen berdasarkan pandangan Alkitab. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membentuk sikap terhadap persetujuan orang tua versus keputusan pribadi dalam pernikahan dan untuk mengeksplorasi bagaimana Alkitab memandang masalah ini. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kepustakaan, yang meliputi pengumpulan dan analisis data dari buku, jurnal, dan website resmi terkait pernikahan Kristen, persetujuan orang tua dalam pernikahan, dan keputusan pribadi untuk menikah. Meskipun Alkitab tidak secara eksplisit mewajibkan izin orang tua untuk menikah, Alkitab mengakui pentingnya keluarga, komunitas, dan otoritas sipil sebagai struktur yang mendukung pernikahan. Kebaruan penelitian ini terletak pada eksplorasinya terhadap sifat pernikahan Kristen yang kompleks dan beragam, izin orang tua, dan keputusan pribadi untuk menikah, serta kontribusinya terhadap diskusi berkelanjutan mengenai isu penting ini.