Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

SCREENING AND DETERMINATION OF EMULSIFICATION ACTIVITY OF SURFACTANT-PRODUCING BACTERIA FROM PALM OIL INDUSTRY LIQUID WASTE Elsyana, Vida; Alvita, Livia Rhea; Afifah, Dian Ayu; Feladita, Niken; Setiawan, Panji
Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA Vol 16, No 2 (2025): May 2025
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jpmipa.v16i2.90726

Abstract

Biosurfactants are natural surfactants produced by certain microorganisms (bacteria, fungi, and yeast) and are considered the best candidates for replacing synthetic surfactants. Bacteria isolated from oil spill areas have shown the ability to produce biosurfactants. This study enriched bacteria from anaerobic wastewater of palm oil industry in Lampung then isolated and screened natural surfactant-producing bacteria and measured their emulsification activity. Screening of surfactant-producing bacteria was carried out using oil spreading assay and their emulsification activity was measured based on the emulsification index (EI). The results of the study obtained 7 bacterial isolates and all showed positive results in the oil spreading assay. The highest emulsification index (EI) was produced by the fifth isolate (LAC5) with a value of 42.32%. These results show the potential for emulsification activity of biosurfactants produced by anaerobic wastewater bacteria from palm oil industry ponds.
Pengembangan Minuman Serbuk Kelor Dengan Teknik Granulasi Alvita , Livia Rhea; Afifah, Dian Ayu; Elsyana, Vida
Jurnal Pengabdian Nasional Vol 6 No 1 (2025)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/jpn.v5i2.4155

Abstract

Moringa oleifera (tanaman kelor) merupakan salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai sumberbahan baku pangan yang memiliki efek farmakologi. Desa Bulok memiliki potensi penghasil tumbuhankelor, dimana tumbuhan ini banyak dibudidayakan warga desa Bulok sehingga menghasilkan produkandalan dalam bentuk serbuk kelor dan kapsul kelor. Beberapa produk hasil olahan tersebutdikoordinasikan oleh Usaha Kecil Menengah (UKM) setempat yang diberi nama UKM Lamban Kelor.UKM Lamban Kelor ingin mengembangkan usahanya melalui minuman instan siap saji yang tidakmeninggalkan ampas, sehingga efek farmakologi yang dimiliki tanaman kelor dapat dimanfaatkan olehmasyarakat luas. Salah satu teknik pembuatan minuman instan yang dapat di aplikasikan padaserbuk kelor adalah menggunakan teknik granulasi. Pada program pengabdian ini berhasil dibuatminuman instan dari serbuk kelor yang siap seduh dan tanpa meninggalkan ampas. Serbuk keloryang dimiliki UKM Lamban Kelor di inovasi dengan teknik granulasi sehingga menghasilkan minumaninstan siap seduh. Pada kegiatan ini UKM lamban Kelor juga berhasil membentuk media sosial Lamban Kelor yang selanjutnya akan digunakan sebagai media promosi dan edukasi terkait manfaatkelor bagi kesehatan masyarakat. Kata kunci: kelor, granulasi, minuman instan
Pelatihan Kreatif Pembuatan Sabun Cuci Piring Berbasis Ekstrak Alami Citrus aurantium untuk Peningkatan Keterampilan Guru IPA SMP Kabupaten Pringsewu Lampung Variyana, Yeni; Fitria, Murni; Silmi, Fadian Farisan; Saputra, Anggi; Elsyana, Vida; Hanifah, Windia
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30653/jppm.v10i2.1258

Abstract

Peningkatan permintaan produk rumah tangga yang ramah lingkungan telah memicu perlunya alternatif bahan baku alami, terutama untuk produk pembersih seperti sabun cuci piring. Banyak produk sabun cuci piring komersial mengandung bahan kimia sintetis yang dapat berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan, terutama pada pewangi yang digunakan. Sebagai alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan, ekstrak Citrus aurantium dapat digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan sabun cuci piring karena mengandung senyawa aktif yang memiliki sifat antibakteri dan memiliki aroma segar alami. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan para guru di Kabupaten Pringsewu dalam memanfaatkan bahan lokal dan ramah lingkungan untuk pembuatan sabun cair cuci piring. Pelatihan dilakukan dengan metode partisipatif dan interaktif, melibatkan 40 guru IPA SMP yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA SMP Pringsewu. Kegiatan ini meliputi penyuluhan materi, praktik langsung, dan evaluasi hasil. Hasil pengisian kuisioner pada peserta pelatihan sebanyak 39 orang (97%) menyatakan mampu meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya pada pembuatan sabun cuci piring berbasis ekstrak Citrus aurantium dengan baik. Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong kesadaran peserta akan pentingnya penggunaan bahan alami dan mendukung ekonomi lokal melalui peluang usaha mandiri berbasis produk alami. The growing demand for eco-friendly household products has led to the need for alternative natural raw materials, especially for cleaning products like dishwashing soap. Many commercial dishwashing soaps contain synthetic chemicals that can negatively impact the environment and health, particularly due to the fragrances used. As a safer and more environmentally friendly alternative, Citrus aurantium extract is used as a base ingredient in dishwashing soap production due to its antibacterial active compounds and natural fresh scent. This initiative aims to enhance the skills of teachers in Pringsewu Regency in utilizing local and environmentally friendly materials to make liquid dishwashing soap. The training was conducted using participatory and interactive methods, involving 40 junior high school science teachers from the Science Teachers Working Group (MGMP IPA) in Pringsewu. The activities included material counselling, hands-on practice, and results evaluation. Based on questionnaire responses from participants, 39 out of 40 trainees (97%) reported significant improvement in their skills and knowledge regarding the production of dishwashing soap using Citrus aurantium extract. Besides skill improvement, this activity is expected to raise participants' awareness of the importance of using natural materials and support the local economy through self-sustained business opportunities based on natural products.
Characteristics of Liquid Sugar from Cassava Flour Using Gelatinization, Liquefaction and Enzymatic Saccharification (amyloglucosidase and α-amylase) Processes Agustina, Tika; Elsyana, Vida; Alvita, Livia Rhea; Ramandani, Adityas Agung; Purnani, Mawar Siti
Walisongo Journal of Chemistry Vol. 7 No. 1 (2024): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v7i1.20458

Abstract

Domestic sugar production is still insufficient to satisfy the national demand for sugar, and production costs are expensive. One of the ingredients that can be used to make liquid sugar is starch. This study aims to determine the response of the resulting reduced sugar by optimizing the substrate concentration, liquefaction, and saccharification time. The method used of Box Behnken Design (BBD) with combinations of 20, 30, and 40% substrate concentrations, liquefaction times of 20, 40, and 60 min, and saccharification times of 20, 40, and 60 min. The characteristics of cassava flour, such as moisture (9.208 ± 0.068%), ash (0.987 ± 0.001%), fiber (2.187 ± 0.033%), and starch (79.876 ± 0.000%), were satisfied on SNI 01-2905-1992. Liquid sugar made from cassava flour reduced the sugar content by 28.299 ± 0.101%. The optimal conditions were 40% substrate concentration, 60 min liquefaction time, and 60 min saccharification time. The characteristics of the validation liquid sugar are in accordance with the specifications for the quality requirements of SNI 01-2978-1992 in the form of moisture content, ash content, and reducing sugar of 5.194 ± 0.003%, 0.996 ± 0.000%, and 29.668 ± 0.761%, respectively. These results highlight the effectiveness of optimizing substrate concentration, liquefaction time, and saccharification time in producing high-quality liquid sugar from cassava flour. This optimization addresses the domestic demand for sugar. It provides a cost-effective solution by utilizing cassava flour, thereby supporting the local agricultural economy and potentially reducing reliance on imported sugar.
Pelatihan Recycle Minyak Jelantah Pada Komunitas Ibu Bisa Lampung Cendekia, Devy; Afifah, Dian Ayu; Elsyana, Vida; Alvita, Livia Rhea; Shintawati, Shintawati; Ermaya, Dewi
Journal of Social Sciences and Technology for Community Service (JSSTCS) Vol 4, No 2 (2023): Volume 4, Nomor 2, September 2023
Publisher : Universitas Teknokrat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33365/jsstcs.v4i2.2977

Abstract

Minyak jelantah merupakan salah satu limbah cair dapur yang jumlahnya cukup banyak, sehingg dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Minyak jelantah sebaiknya tidak digunakan lagi karena bersifat karsinogenik. Salah satu cara penanggulangan permasalahan ini adalah dengan melakukan recycle berbasis minyak jelantah yang memiliki nilai ekonomi, salah satunya sabun batang. Pelatihan recycle  minyak jelantah pada Komunitas Ibu Bisa Lampung bertujuan untuk mengedukasi ibu rumah tangga terkait bahaya minyak jelantah bagi kesehatan serta potensinya sebagai bahan dasar produk homecare, sabun batang. Metode pengabdian yang dilakukan melalui pendekatan PAR (Participatory  Action  Research), sehingga mampu mengatasi permasalahan pada masyarakat dan memenuhi kebutuhan praktis melalui penyuluhan dan pelatihan. Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan materi kegiatan penyuluhan dan pelatihan berhasil diterima dengan baik oleh peserta. Hal ini terbukti sebanyak 80% peserta pelatihan memiliki skor ≥ 70. Dengan kata lain, komunitas Ibu Bisa Lampung tidak lagi melihat minyak jelantah sebagai sampah yang dibuang percuma, tetapi mampu diolah dan dipergunakan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.
UJI EFEKTIVITAS LARVASIDA EKSTRAK ETANOL KULIT BAWANG MERAH (Allium cepa L.) TERHADAP LARVA Aedes aegypti Rahma, Indah Eliza; Elsyana, Vida; Susanti, Dwi
JFM (Jurnal Farmasi Malahayati) Vol 8, No 1 (2025)
Publisher : Jurnal Farmasi Malahayati (JFM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jfm.v8i1.13832

Abstract

Kulit bawang merah (Allium cepa L.) memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai larvasida hayati yaitu senyawa flavonoid, saponin, tanin, alkaloid. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi efektivitas ekstrak kulit bawang merah sebagai larvasida terhadap larva Aedes aegypti instar III, dan menentukan nilai LC50 setelah 24 jam pengamatan. Ekstraksi kulit bawang merah dilakukan dengan metode refluks menggunakan pelarut etanol 96%. Uji efektivitas larvasida ekstrak kulit bawang merah sebagai larvasida Aedes aegypti dilakukan pada konsentrasi ekstrak sebesar 1%, 3% dan 5%. Rendemen ekstrak etanol kulit bawang merah menggunakan metode refluks diperoleh sebesar 8,05%. Ekstrak kulit bawang merah memiliki efektivitas sebagai larvasida dengan konsentrasi dengan mortalitas tertinggi pada konsentrasi 5% yaitu 100%. Hasil LC50 didapatkan nilai 0,455% dan dapat dikatakan bahwa ekstrak kulit bawang merah bersifat sangat beracun sebagai larvasida.
Potensi Ekstrak Limbah Tangkai Buah Cabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.) Sebagai Biolarvasida Aedes aegypti Lestari, Diana; Susanti, Dwi; Elsyana, Vida
Jurnal Medika Malahayati Vol 9, No 4 (2025): Volume 9 Nomor 4
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v9i4.21263

Abstract

Tangkai cabai termasuk limbah organik yang dihasilkan dari buah cabai. Tangkai buah cabai merah keriting (Capsicum annuum L.) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, steroid dan fenolik yang berpotensi dimanfaatkan sebagai biolarvasida. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas dan menentukan konsentrasi optimal ekstrak tangkai buah cabai merah keriting sebagai biolarvasida terhadap nyamuk Aedes aegypti. Ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% didapatkan hasil 115,34 gram ekstrak dengan rendemen 11,534%. Proses penelitian ini menerapkan 5 kelompok perlakuan yang meliputi ekstrak tangkai buah cabai merah keriting dengan konsentrasi 1%, 3%, 5%, bubuk abate 1% untuk menjadi kontrol positif serta akuades untuk menjadi kontrol negatif, dengan setiap kelompok yang isinya 25 larva Aedes aegypti instar III dan IV dan dilakukan 4 kali proses yang mengulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak 5% efektif sebagai larvasida dengan tingkat kematian mencapai 100%. Konsentrasi efektif (LC50) ekstrak tangkai buah cabai merah keriting (Capsicum annuum L.) yang dapat mematikan 50% larva nyamuk Aedes aegypti berada pada konsentrasi 1,718%. Pengujian membuktikan bahwa ekstrak tangkai buah cabai merah keriting efektif serta bersifat toksik dalam mematikan larva Aedes aegypti.
Enhancement of Pineapple Industrial Waste Delignification Through the Effect of Microwave Irradiation Duration with Alkali Assistance. Rhea Alvita, Livia; Elsyana, Vida; Hidayat, Rahmat; Saputra, Anggi; Variyana, Yeni; Rustiawan Jody, Rafli
Indonesian Journal of Chemical Analysis (IJCA) Vol. 9 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Chemical Analysis
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/ijca.vol9.iss1.art8

Abstract

Delignification is an important step for removing lignin, increasing the accessibility of cellulose and hemicellulose for various industrial applications. This study investigated the effect of microwave irradiation duration on the alkaline-assisted delignification of pineapple peel waste using a Completely Randomized Design (CRD) with irradiation times of 0, 15, 30, and 45 minutes at a constant power of 45 W. Compositional analysis was performed using the Chesson–Datta method, while structural and chemical modifications were evaluated through Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) and Scanning Electron Microscopy (SEM). The results indicated that increasing irradiation time significantly improved delignification efficiency (P < 0.05), with the highest lignin reduction of 57.6% achieved at 45 minutes, accompanied by increases in cellulose and hemicellulose contents of 62.79% and 55.8%, respectively. FTIR spectra confirmed the removal of lignin through the reduction of characteristic functional group intensities. Moreover, SEM analysis revealed pronounced structural disruption, increased surface irregularity, and enhanced porosity after treatment, indicating effective breakdown of the lignocellulosic matrix and improved exposure of cellulose fibers. These findings demonstrate that microwave-assisted alkaline treatment is a promising approach for enhancing the valorization of pineapple industry waste.