Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Dampak Lingkungan dan Keberlanjutan Peternakan Ayam Ras Pedaging Pola Kemitraan Wahyuni, Etty; Santoso, Dwi
Agrikultura Vol 34, No 2 (2023): Agustus, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i2.46783

Abstract

Usaha peternakan ayam ras pedaging adalah usaha agribisnis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena meningkatnya jumlah penduduk akan mendorong meningkatnya kebutuhan akan pangan yang bersumber dari protein hewani. Perkembangan ini pada sisi lain juga memunculkan beberapa permasalahan seperti dampak lingkungan dan risiko usaha yang dapat mengancam keberlanjutan usaha tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis dampak lingkungan usaha peternakan ayam ras pedaging, (2) mengetahui persepsi masyarakat terhadap dampak lingkungan yang dihasilkan usaha peternakan ayam ras pedaging, dan (3) menganalisis keberlanjutan dan atribut sensitif dalam usaha peternakan ayam ras pedaging. Responden penelitian ini terdiri dari masyarakat yang bermukim di sekitar usaha peternakan ayam ras pedaging dan peternak ayam ras pedaging dengan pola kemitraan. Responden masyarakat ditentukan dengan metode purposive sampling dengan kriteria bermukim di sekitar lingkungan peternakan dalam radius 500 m dan terpilih sebanyak 20 responden dari 4 kecamatan di Kota Tarakan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis pohon masalah, deksriptif persentase dan Multidimensional Scalling dengan teknik pendekatan Rap-USAP, analisis sensitif (Leverage analysis), Monte Carlo, nilai stress dan nilai koefisien determinasi (R2). Hasil penelitian menunjukkan dampak lingkungan yang ditimbulkan adalah pencemaran udara dan tanah, persepsi masyarakat menunjukkan ketidaknyamanan terhadap pada bau tidak sedap, lalat dan kerusakan jalan sekitar peternakan. Usaha peternakan berdasarkan dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan teknologi cukup berkelanjutan, kecuali dimensi kelembagaan menunjukkan kategori kurang berkelanjutan.
Smallholding farmers wellbeing in ecosystem services area of high food provider in border area of Indonesia Wahyuni, Etty; Sutrisno, Adi; Santoso, Dwi; Egra, Saat
JOURNAL OF SOCIOECONOMICS AND DEVELOPMENT Vol 6 No 2 (2023): October
Publisher : Publisher of Widyagama University of Malang (UWG Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/jsed.v6i2.4838

Abstract

The utilization of wetland areas poses a threat to the wetland ecosystems’s vitality. The Kayan Sembakung Delta in North Kalimantan Province is one of the wetland ecosystems that is widely used by humans for various activities, raising concenrs about its sustainability. This study aims to assess the area’s carrying capacity and environmental capacity as well as the level of welfare of small farmers. The research was conducted in March-June 2020 in Tanjung Buka Village, Tanjung Palas Tengah District, Bulungan Regency, which is part of the Kayan Sembakung Delta area. The study employed an analysis of the carrying capacity of the environment as well as an analysis of the poverty and welfare assessment of farmer households using the Nested Sphere of Poverty (NESP) approach. The results showed that Tanjung Buka Village has an area with a high carrying capacity and environmental capacity as a food provider covering an area of 61,352.12 ha. Small farmers experience subjective and objective welfare in the moderate category. Increasing the welfare of small-scale farmers can be done through efforts such as repairing houses below proper standards, meeting food needs, increasing consumption of protein (meat, eggs, fish), providing clean water, diversifying income sources, ease of access to food. sources of employment, promoting conservation of wood and plant species, securing  land tenure, complying with local regulations, and improving infrastructure JEL Classification A13; B40; B55
PEMANFAATAN MEDIA TANAM AKUAPONIK SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING MELALUI PROGRAM KKN TEMATIK MBKM UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN DI WILAYAH JUATA LAUT KOTA TARAKAN Munira, Munira; Yasin, Nur Azizah; Andriani, Rika; Lilit, Sona Wanda; Hardyantoro, Vicko Tri; Khairani, Zulfa Rahmalia; Gusriani, Gusriani; Octamelia, Mega; Wahyuni, Etty; Khaerunnisa, Khaerunnisa; Rahman, Fathur
Borneo Community Health Service Journal SPECIAL EDITION
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/neotyce.v3i3.4717

Abstract

Stunting menjadi salah satu permasalahan utama di tengah masyarakat karena angka kejadian stunting yang tinggi hingga saat ini. Stunting diketahui sebagai keadaan gagal tumbuh pada anak karena kurangnya asupan gizi kronis atau dalam jangka waktu yang lama. Hal ini umumnya disebabkan asupan gizi makanan tidak sesuai dengan kebutuhan gizi anak, dari 5 (lima) Kabupaten dan Kota di Kalimantan Utara yang terdiri dari Nunukan menjadi daerah dengan angka stunting tertinggi sebesar 30%, sedangkan Tarakan 25,9%. Kegiatan Pengabdian Sukses Akuaponik sebagai program wajib KKN Tematik MBKM Universitas Kalimantan Tarakan Tahun 2023, dilaksanakan di daerah Juata Laut Tarakan. Metode pelaksanaan kegiatan ini adalah memberikan edukasi mengenai metode tanam akuaponik, edukasi budidaya yang dapat dilakukan, pencetakan media pembuatan akuaponik, serta mendemonstraikan proses budidaya. Budidaya pada media Akuaponik yang dilakukan adalah dengan mengkombinasikan kangkung dan lele. Tanaman kangkung merupakan jenis sayuran daun yang banyak digemari oleh masyarakat untuk dikonsumsi.Tanaman kangkung dan Ikan Lele, keduanya memiliki kandungan gizi yang cukup banyak sehingga dapat menjadi penyedia gizi yang baik bagi masyarakat. Aquaponik adalah sistem pertanian berkelanjutan yang sudah lama berkembang di Indonesia dan merupakan jenis urban farming yang sedang tren, yang menggabungkan antara hidroponik dengan akuakultur. Program Success Aquaponik ini diharapkan dapat terus berlanjut dan dapat membantu penurunan kasus Stunting di Daerah Juata Laut, dan dapat membuat orang ingin membangun atau membuat Aquaponik sendiri untuk bantuan pangan mandiri dan juga membantu berbagai pihak dalam Penurunan Stunting. Kata Kunci: Akuaponik, gizi, stunting
KINERJA DAN SALURAN PEMASARAN BERAS DI KECAMATAN SEBATIK BARAT PULAU SEBATIK CW, Dewi Elviana Cahyaning; MS, Etty Wahyuni; Kusnandar, Hasan Fahmi
J-PEN Borneo : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/jpen.v7i1.5161

Abstract

Beras adalah makanan pokok yang penting bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia. Perdagangan membentuk saluran distribusi beras dari petani ke konsumen. Struktur pasar yang terbentuk akan menentukan sistem penetapan harga komoditi yang dipengaruhi lembaga yang terlibat dan posisi lembaga tersebut pada pasar. Salah satu sentra pengembangan sektor pertanian di Pulau Sebatik adalah Kecamatan Sebatik Barat. Kecamatan Sebatik Barat merupakan wilayah pengembangan usahatani padi. Padi merupakan jenis komoditi yang baru dikembangkan oleh petani di Desa Binalawan, yang sebelumnya didominasi komoditi kelapa sawit dan kakao. Petani padi di Kecamatan Sebatik Barat umumnya bersifat subsisten dan menerima harga pasar. Keterbatasan pengetahuan kelayakan usahatani dan informasi pasar menjadi kelemahan yang memperlemah posisi tawar petani. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji struktur, perilaku, dan kinerja pemasaran beras di Kecamatan Sebatik Barat. Metode peneltian yang digunakan adalah sensus. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan perilaku pasar membentuk dua saluran pemasaran yaitu Saluran 1(petani – pedagang pengecer – konsumen akhir) Saluran 2(petani – pedagang pengepul – pedagang pengecer – konsumen akhir).  Secara umum, tingkat efisiensi pemasaran beras pada setiap saluran pemasaran yang terbentuk di Kecamatan Sebatik Barat termasuk dalam kategori efisien.
Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Kompos Bernilai Jual Menggunakan Metode Takakura di Area TPS 3R Kota Tarakan Banyuriatiga Banyuriatiga; Etty Wahyuni; Anang Sulistyo; Nove Kurniati Sari; Dwi Santoso; Muh. Adiwena
Sejahtera: Jurnal Inspirasi Mengabdi Untuk Negeri Vol. 2 No. 3 (2023): Juli : Jurnal Inspirasi Mengabdi Untuk Negeri
Publisher : Universitas Maritim AMNI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58192/sejahtera.v2i3.1065

Abstract

Jumlah sampah meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi. Kota Tarakan yang berada di Provinsi Kalimantan Utara hingga saat ini juga dihadapkan pada persoalan sampah dan upaya yang sudah dilakukan adalah menggalakkan program sampah semesta (Semua Mesti Terlibat) dengan melibatkan masyarakat melalui program 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Pengabdian ini bertujuan untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik bernilai jual. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah penyuluhan dan praktik lapangan, masyarakat diajak untuk memisahkan sampah organik dari sampah lainnya dan melakukan pengolahan dengan cara mengumpulkan, memisahkan dan mengolah sisa-sisa sampah tersebut menjadi kompos. Dilanjut dengan tanya jawab dan diakhiri dengan umpan balik menggunakan form untuk mengetahui tingkat penyerapan materi oleh masyarakat. Diharapkan melalui pengabdian masyarakat ini dapat terbentuk kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kualitas lingkungan di sekitarnya.
PENINGKATAN LITERASI KEUANGAN MELALUI PENGENALAN SI APIK SEBAGAI ALAT PENGELOLAAN KEUANGAN DIGITAL BAGI UMKM KABUPATEN NUNUKAN HM, Irawati; Wahyuni, Etty; Setiawan, Rusdy; Malik, Aan Digita; Junaid, Muh.Tharmizi
Jurnal Pepadu Vol 5 No 4 (2024): Jurnal PEPADU
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/pepadu.v5i4.5900

Abstract

Kabupaten Nunukan, yang terletak di perbatasan antara Indonesia dan Malaysia, memiliki potensi ekonomi yang signifikan, terutama dalam sektor UMKM. Meskipun era digital telah menghadirkan peluang baru, UMKM di Kabupaten Nunukan masih menghadapi tantangan serius terkait literasi keuangan, yang berdampak pada pengelolaan keuangan yang kurang sistematis dan akurat. Untuk mengatasi masalah ini, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Provinsi Kalimantan Utara menyelenggarakan Pelatihan Literasi Keuangan Angkatan 1. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan literasi keuangan dan kemampuan digital UMKM di Kabupaten Nunukan melalui pengenalan dan penerapan Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SI APIK). Kegiatan pelatihan ini menggunakan metode pengajaran (ceramah), tutorial (praktik), dan pendampingan langsung, yang berlangsung selama tiga hari, dari 28 hingga 30 Mei 2024, di Sayn Cafe, Kabupaten Nunukan, dan diikuti oleh 50 pelaku UMKM. Hasil dari pelatihan ini menunjukkan peningkatan pemahaman peserta tentang literasi keuangan dan kemampuan dalam menggunakan SI APIK untuk pencatatan dan analisis keuangan. Sebanyak 90% peserta berhasil menggunakan aplikasi tersebut dengan baik, dan ada peningkatan pengetahuan pada 80% peserta setelah sesi pengajaran. Namun, beberapa peserta mengalami kesulitan teknis awal dalam mengunduh aplikasi, yang berhasil diatasi melalui bimbingan langsung selama pelatihan. Kesimpulannya, pelatihan ini berhasil meningkatkan literasi keuangan dan kemampuan digital UMKM di Kabupaten Nunukan, yang pada gilirannya diharapkan mendukung keberlanjutan dan pertumbuhan usaha serta meningkatkan daya saing di pasar.
EDU KIDS’ DAY: CHARACTER BUILDING UNTUK ANAK-ANAK DESA NAINSID KECAMATAN LUMBIS KABUPATEN NUNUKAN Kusmaryani, Woro; Wahyuni, Etty; Ramli, Ramli
Jurnal Pengabdian Masyarakat Borneo Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/jpmb.v8i2.5682

Abstract

Pembangunan karakter mengacu pada proses pengembangan sifat, nilai, dan perilaku positif dan penting yang berkontribusi pada pertumbuhan pribadi, pengambilan keputusan etis, dan kewarganegaraan yang bertanggung jawab. Ini mencakup pengembangan kebajikan seperti kejujuran, integritas, empati, rasa hormat, ketahanan, dan kasih sayang. Pembentukan karakter yang efektif membekali anak-anak dengan pedoman moral dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan hidup, memberikan kontribusi positif kepada komunitas mereka, dan menjalani kehidupan yang memuaskan dan beretika. Ini adalah proses berkelanjutan yang memerlukan pengasuhan, penguatan, dan upaya kolaboratif dari berbagai pemangku kepentingan di lingkungan anak. Kegiatan pembangunan karakter sangat penting bagi anak-anak di daerah pedesaan karena mereka tidak hanya memupuk sifat-sifat dan nilai-nilai positif tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan yang diperlukan untuk berkembang dalam lingkungan unik mereka, memberikan kontribusi yang berarti bagi komunitas mereka, dan mempersiapkan masa depan yang sukses. Program Kemitraan bagi Masyarakat (PKM) Edu Kids’ Day: Character Building untuk Anak-Anak Desa Nainsid Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan ini memprioritaskan pembangunan karakter bagi anak-anak di pedesaan, masyarakat dapat membina generasi individu yang tangguh, penuh kasih sayang, dan berdaya yang mampu mengatasi tantangan, memberikan kontribusi positif kepada masyarakat, dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang mendefinisikan komunitas mereka.
FACTORS AFFECTING THE WORK MOTIVATION OF PLANTATION OVERSEERS AT FAP AGRI LIMITED LIABILITY COMPANY Sunny, Khalid; Jumiati, Elly; Wahyuni, Etty
JURNAL AGRIBISAINS Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal AgribiSains
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jagi.v10i2.14974

Abstract

This article shows identification about the intrinsic and extrinsic factors that influence the work motivation of supervisors (plant foremen and plant clerks) at PT. FAP AGRI, North Kalimantan. The decline in supervisor motivation at the company has caused issues such as unkempt and undisciplined appearances, as well as an increased resignation rate. This study aims to provide a basis for consideration for the company in making policies to improve the performance of supervisors at PT. FAP AGRI. Data was collected using a census method on 109 supervisors who are training center (TC) graduates and still employed at PT. FAP AGRI. Data collection was conducted using a Likert scale questionnaire and analyzed using Structural Equation Modelling – Partial Least Square (SEM–PLS). The results of the study indicate that the intrinsic factors significantly influencing work motivation include self-perception, self-esteem, personal expectations, and personal needs. The extrinsic factors that influence include the type and nature of the work, work groups, work environment, and salary. The analysis shows that extrinsic factors have a greater influence compared to intrinsic factors on supervisor work motivation. This study provides recommendations for PT. FAP AGRI to focus on enhancing extrinsic factors to improve the work motivation and performance of supervisors
Quality Assessment and Comparative Analysis of Malinau Coffee Among Indonesian Specialty Coffees Adi Sutrisno; Etty Wahyuni; Dwi Santoso; Mohammad Wahyu Agang; Deny Titing; Erwan Kusnadi; Tjahjo Tri Hartono; Mas Davino Sayaza; Elida Novita; Rahmat Pramulya; Devi Maulida Rahmah
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 14, No 3 (2025): June 2025
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v14i3.812-822

Abstract

Malinau Robusta coffee demonstrates untapped potential within the specialty coffee market. This study aims to evaluate the quality of Malinau coffee comprehensively and benchmark it against prominent specialty coffees such as Gayo, Toraja, and Kintamani. A descriptive quantitative method was employed to analyze critical parameters including caffeine content, moisture level, defect value, impurity level, grain size, and flavor profile. Coffee samples were gained from nine coffee-producing villages in Malinau Regency, involving 28 farmers covering 190 ha of coffee plantations. The results identified distinct strengths of Malinau coffee, notably its low moisture level (10.2%) and high caffeine content (1.94%) among the samples, offering a strong and intense flavor profile including chocolatey, a bitter aftertaste, and fruity undertones. Challenges for Malinau coffee includes high defect value (65.7/300 g) and impurity level (0.6%), which undermine its marketability in premium segments. To bring Malinau coffee up to par with other established specialty coffees, improvements in post harvest handling are needed, particularly sorting, quality control and consistent processes methods. By adopting innovative cultivation and processing, Malinau coffee holds strong potential as a competitor of specialty coffee, both for domestic and global markets while highlighting its unique regional identity. Keywords: Malinau coffee, North Kalimantan, Quality improvement, Robusta, Specialty coffee.
KERAGAAN PENDAPATAN PETANI LAHAN KERING DI KECAMATAN TARAKAN TIMUR KOTA TARAKAN MS, Etty Wahyuni
Agrin Vol 14, No 2 (2010): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2010.14.2.109

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keragaan Pendapatan Petani di lahan keringberdasarkan umur petani, tingkat pendidikan, luas lahan, jumlah tanggungan, usahatani dan non usahatani.Penelitian telah dilaksanakan pada petani lahan kering di Mamburungan Timur dan Kampung Enam pada bulanOktober sampai Desember 2008, dengan penelitian kombinasi antara penelitian menerangkan dan penelitiandeskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur rata-rata petani secara umum adalah 48-53 tahun,menunjukkan bahwa petani dalam usia produktif, tingkat pendidikan secara umum adalah SMP (42,5%)menunjukkan kondisi yang cukup memadai untuk menerima serta menerapkan paket teknologi, luas lahanberagam dari dari 1-5 ha tetapi belum diusahakan maksimal oleh petani, jumlah tanggunganper kk petani antara4-5 orang-orang, sumber pendapatan petani masih bertumpu pada sektor pertanian khususnya komoditashortikultura sayur-sayuran dan buah-buahan dan campuran antara hortikultura dan tanaman pangan( 72,5%)hanya 27,5% menjawab memiliki usaha lain diluar sektor pertanian, sedangkan tingkat pendapatan petaniberkisar dari Rp. 750.000-Rp. 1.000.000 per bulan. Analisis model menggunakan metode Chi-Squaremenunjukkan bahwa umur, luas lahan dan sumber pendapatan memiliki hubungan dengan tingkat pendapatanpetani, namun tingkat pendidikan tidak memiliki hubungan terhadap tingkat pendapatan petani.Kata kunci: pendapatan petani,karakteristik petani, pertanian lahan kering ABSTRACTThis research aimed to identify the Income Performance of Farmers Dryland pursuant to characteristic offarmer cover age, mount education, wide farm, sum up responsibility, source of earnings and mount earnings.This research have been done for farmers dryland in chief of village Mamburungan and Kampung Enam onOctober until December 2008, with combination between explanatory research and descriptive research. Resultof research indicate that age of farmer in general range from 48-53 year representing productive age, mounteducation in general SMP (42,5%) representing condition which adequate enough to accept and also applytechnological packet fomentation, wide farm range from 1-5 ha but not yet maximal laboured by farmer, whileamount of responsibility per kk of farmer of responder between 4-5 people. Source of Earnings of farmer still beconvergent effort agriculture chosenly commodity of horticulture of vegetables and fruits or joined to plant foodcrop (72,5%) only 27,5% responder owning the effort peripheral outside agricultural activity, while storey ;level of earnings of farmer of responder range from Rp. 750.000-Rp. 1.000.000 per month. The model foranalysis was that of Chi-Square method show there are relation between age, wide farm and source of earningsto storey ; level of earnings of responder farmer, but mount education not own relation with storey; level ofearnings of responder farmer.Keyword : mount earnings, farmer characteristic, dry farming