Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

MAKNA SIMBOL SENYUM PADA IKLAN LAY’S (SEMIOTIKA IKLAN LAY’S SMILE PACK VERSI TVC 2017) Hartono, Dudi
Perspektif Komunikasi: Jurnal Ilmu Komunikasi Politik dan Komunikasi Bisnis Vol 3, No 1 (2019): Perspektif Komunikasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/pk.3.1.39-49

Abstract

Persaingan makanan ringan yang ketat seperti keripik kentang menuntut produsen menggunakan cara-cara kreatif dalam beriklan. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh LAY’S. Brand ini menggunakan kemasan unik dengan visual  senyum.  Tak  hanya  digunakan  pada  kemasan,  visual  senyum  ini  kemudian  diterjemahkan  dalam  bentuk audio video dalam sebuah iklan televisi. Menjadi menarik untuk dikaji, bagaimana simbol senyum memberikan makna dalam relasi yang terjalin pada konsumennya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna senyum dalam  iklan  LAY’S  di  media  televisi.  Pendekatan  yang  digunakan  adalah  kualitatif  dengan  paradigma konstruktivis. Metode yang dipakai  yakni Semiotika Charles Sanders Peirce, dengan  mendasarkan pada Object, Representament  dan  Interpretant.  Data  diperoleh  dengan  cara  melalui  pengamatan  dan  analisis  konten,  serta ditambah dengan pengumpulan melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa setiap orang harus bisa tersenyum dalam keadaan bagaimanapun. Senyum merupakan tanda awal ketulusan hati yang lebih berharga dari sebuah hadiah. Makna senyuman bisa dilihat dari raut wajah sesuai dengan senyumannya. Walaupun dalam iklan  tersebut  terlihat  ada  senyuman  palsu  atau  pura-pura,  akan  tetapi  hal  tersebut  merupakan  salah  satu  cara untuk mendapatkan hubungan yang baik dengan orang lain.Kata Kunci: Makna Senyum, Iklan Televisi, Semiotika Charles Sanders Peirce
Mitos Militerisme pada Busana Kampanye (Analisis Semiotika Roland Barthes Busana Kampanye Agus Harimurti Yudhoyono–Sylviana Murni) Dudi Hartono; Riyan Hidayatullah
JCommsci - Journal Of Media and Communication Science Vol. 2 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jcommsci.v2i2.42

Abstract

ABSTRACTThe importance of fashion campaigns in the process of political communication in Indonesia has gained its own spotlight over the years. Clothing is seen to have an artifactual communication function as a political statement, or at least the image the user wants to display. So the meaning of dressing the contestants was faced with a variety of public interpretations. As Kris Budiman explained clothing has an ambiguous double face. On one side, the face of the dress looks attractive and seductive. Conversely, on the other hand, clothing also have the meaning of falsehood as well as deceive (Budiman, 2004). AHY -SYLVI campaign campaign is modeled, or at least inspired, from military tactical uniforms, AHY institution originated before deciding to participate in Jakarta 2017 Regional Head Election. Agus Harimurti Yudhoyono calls his campaign uniform with TactiCool term. A very entertaining and slang term. Blend the actual term Tactical (Tactical) and Cool (Cool). Moreover, then the design of the sergam was made body-fit body fitting alias that makes the clothes look more fashionable. By choosing a black color and sticking emblems here and there make the clothes feel very army-look.  To examine the AHY-SYLVI campaign uniform and the various embedded symbols, the authors use the Roland Barthes Semiotics analysis approach. Barthes's perspective on this myth becomes one of its semiological traits that opens up the new realm of semiology, that is, further excavations of marking to achieve the myths that work in the daily reality of society. This is what the authors of Roland Barthes's semiotics theory say is more appropriate in the choice of AHY-SYLVI fashion or uniform campaign as a particular symbol. Keywords: AHY; Semiotics; campaign fashion; Army Look;  Roland Barthes ABSTRAKSIPentingnya pernanan busana kampanye dalam proses komunikasi politik di Indonesia telah mendapatkan sorotan tersendiri selama ini. Pakaian dipandang memiliki fungsi komunikasi artifaktual sebagai pernyataan politik, atau setidak-tidaknya citra yang ingin ditampilkan oleh pemakainya. Sehingga makna berbusana para kontestan pun berhadapapan dengan tafsir publik yang beragam. Seperti dijelaskan Kris Budiman busana punya wajah ganda yang ambigu. Di satu sisi, wajah busana tampak menarik dan menggoda. Sebaliknya, di sisi lain, busana juga punya makna kepalsuan sekaligus mengelabui (Budiman, 2004). Busana kampanye AHY –SYLVI mencontoh, atau setidak-tidaknya terinspirasi, dari seragam taktikal militer, institusi AHY berasal sebelum memutuskan terjun dalam kontstasi Pilkada DKI Jakarta 2017. Agus Harimurti Yudhoyono menyebut seragam kampanye-nya dengan istilah TactiCool. Sebuah istilah yang sangat entertaining dan gaul. Memadukan istilah sebenarnya Tactical (Taktis) dan Cool (Keren). Apalagi kemudian desain sergam itu dibuat body-fit alias pas badan yang membuat baju itu terlihat lebih modis. Dengan memilih warna hitam dan menempelkem emblem di sana-sini membuat baju tersebut tersasa sangat army-look. Untuk mengkaji seragam kampanye AHY – SYLVI berikut berbagai simbol yang melekat di dalamnya, penulis menggunakan pendekatan analisa Semiotika Roland Barthes. Perspektif Barthes tentang mitos ini menjadi salah satu ciri semiologinya yang membuka ranah baru semiologi, yaitu penggalian lebih jauh tentang penandaan untuk mencapai mitos yang bekerja dalam realita keseharian masyarakat. Hal inilah yang menurut penulis pendekatan teori semiotika Roland Barthes lebih tepat dalam pilihan busana atau seragam kampanye AHY – SYLVI sebagai sebuah simbol tertentu. Kata Kunci: AHY; Semiotika; busana kampanye; Army Look; Roland Barthes
MAKNA SIMBOL SENYUM PADA IKLAN LAY’S DI TELEVISI (ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PEIRCE) Dudi Hartono; Asep Sugalih
Perspektif Komunikasi: Jurnal Ilmu Komunikasi Politik dan Komunikasi Bisnis Vol 3, No 1 (2019): Perspektif Komunikasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.781 KB) | DOI: 10.24853/pk.3.1.39-49

Abstract

Persaingan makanan ringan yang ketat seperti keripik kentang menuntut produsen menggunakan cara-cara kreatif dalam beriklan. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh LAY’S. Brand ini menggunakan kemasan unik dengan visual  senyum.  Tak  hanya  digunakan  pada  kemasan,  visual  senyum  ini  kemudian  diterjemahkan  dalam  bentuk audio video dalam sebuah iklan televisi. Menjadi menarik untuk dikaji, bagaimana simbol senyum memberikan makna dalam relasi yang terjalin pada konsumennya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna senyum dalam  iklan  LAY’S  di  media  televisi.  Pendekatan  yang  digunakan  adalah  kualitatif  dengan  paradigma konstruktivis. Metode yang dipakai  yakni Semiotika Charles Sanders Peirce, dengan  mendasarkan pada Object, Representament  dan  Interpretant.  Data  diperoleh  dengan  cara  melalui  pengamatan  dan  analisis  konten,  serta ditambah dengan pengumpulan melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa setiap orang harus bisa tersenyum dalam keadaan bagaimanapun. Senyum merupakan tanda awal ketulusan hati yang lebih berharga dari sebuah hadiah. Makna senyuman bisa dilihat dari raut wajah sesuai dengan senyumannya. Walaupun dalam iklan  tersebut  terlihat  ada  senyuman  palsu  atau  pura-pura,  akan  tetapi  hal  tersebut  merupakan  salah  satu  cara untuk mendapatkan hubungan yang baik dengan orang lain.Kata Kunci: Makna Senyum, Iklan Televisi, Semiotika Charles Sanders Peirce
Makna Keindahan dalam Iklan Digital Pariwisata Bahari Pantai Sawarna Banten di Youtube (Analisis Semiotika Charles S. Prierce) Dudi Hartono
JIKA (Jurnal Ilmu Komunikasi Andalan) Vol. 4 No. `1 (2021): Vol 4. No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tourism is a potential regional income, so that various regions are competing to market the tourism potential in their respective countries. Tourism promotion using video has become a popular choice because it is easy to place it on the youtube channel. The problem that arises is how then the video reaches the expected target audience. Seeing these data, it is important how to use digital advertising on the YouTube channel as a promotional and marine media, in this case Sawarna beach. Digital advertising, audio-visual, has advantages on the visual side because the audience can see firsthand the beauty of the beach. In addition, the YouTube channel supports its worldwide reach. YouTube audio-visual ads have elements such as shots, colors, backsound and graphics, as semiotic signs, all of which work to form a unified meaning. Through semiotic analysis the author wants to see how the signs used by advertising producers in forming the expected meaning? And how do the producers of these advertisements use certain signs to form the desired meaning?
Maskulinitas dalam Iklan Pembersih Wajah Laki-laki: (Analisis Semiotika Charles S. Peirce pada Iklan Garnier Men Joe Taslim) Dudi Hartono
JIKA (Jurnal Ilmu Komunikasi Andalan) Vol. 6 No. 1 (2023): Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaum laki-laki saat ini mulai menjadi konsumen bagi produk kecantikan yang selama ini menjadi domainnya kaum perempuan. Dalam iklan sabun pembersih wajah yang menampilkan aktor laga Joe Taslim memperlihatkan pesan bahwa laki-laki macho tetap bisa tampil rupawan dengan wajah bersih. Penelitian ini bermaksud mengungkap bagaimana melihat bagaimana konstruksi maskulinitas dalam iklan Garnier Men yang dibintangi aktor laga Joe Taslim dan bagaimana citra atas konstruksi maskulinitas dalam iklan tersebut? Metode yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah Semiotika dengan menggunakan teori dari Charles S. Peirce dan Teori Maskulinitas untuk mengurasi keterkaitan penggunaan tanda dalam iklan tersebut dengan nalar kognitif terhadap aspek gender. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa konstruksi makna dalam iklan Garnier Men’s Turbo Light Oil Control dengan bintang iklan Joe Taslim jelas sekali berusaha mengubah image khalayak terhadap makna maskulinitas atau kejantanan yang sebelumnya identik dengan sosok tubuh yang kekar, wajah dipenuhi bulu-bulu, dan nyaris tidak peduli penampilan yang rapih, melalui iklan ini diubah 180 derajat. Sosok maskulin justru ditampilkan melalui tanda-tanda yang tampak dalam poster iklan tersebut seperti wajah yang mulus dan bersih Joe Taslim, nyaris tanpa bulu-bulu di wajah.  
Masyarakat Tontonan dalam Panggung Covid 19 di Indonesia (Penampilan Dokter Reisa Broto Asmoro dalam Pemberitaan KompasTV) Hartono, Dudi; Arswendi, Riki
Jurnal Audience: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 7 No. 1 (2024): FEBRUARI 2024
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/ja.v7i1.9956

Abstract

Penampilan Dokter Reisa Broto Asmoro sebagai Juru Bicara Tim Komunikasi Gugus Tugas Covid 19 menarik perhatian di tengah kebosasnan dan keputusasaan masyarakat atas situasi Pandemi yang tidak tahu kapan berakhir. Reisa sebagai seorang dokter sekaligus selebritas memiliki daya tarik sebagai narasumber berita di tengah budaya popular, atau masyarakat tontonan. Penelitian ini menggunakan metode Analisis Wacana Kritis Fairclough yang menawarkan model analisis; teks, praktik diskusus dan praktik social. Sebagai pisau analisis peneliti menggunakan teori the Spectacle of the Society dari Guy Debord untuk hubungan budaya popular dengan budaya media dengan menganalisis penampilan media Dr. Reisa Broto Asmoro, seorang juru bicara untuk tugas COVID-19 pemerintah Indonesia, menggunakan tiga dimensi analisis. Fokusnya adalah pada pemilihan tema dan judul dalam laporan berita di Kompas TV. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa (a) penampilan fisik dan citra visual Dokter Reisa memainkan peran penting dalam membentuk persepsi, nilai, dan identitas yang terkait dengan produk media dan budaya popular, (b) paradigma kritis digunakan untuk membongkar dan menelusuri jejaring kekuasaan dalam proses komodifikasi atas penampilan Dokter Reisa Broto Asmoro mempertegas pemberitaan tersesbut dapat dianggap sebagai bagian dari spektakel yang menciptakan pengalaman yang dihasilkan secara kolektif dan diarahkan oleh kepentingan ekonomi dan politik, dan (c) penampilan visual Dokter Reisa Broto Asmoro telah menjadi komoditi yang memiliki nilai jual atau nilai tukar, dan bertranformasi ke dalam budaya konsumerisme di tengah masyarakat penontonnya.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Media Audio Visual terhadapPeningkatan Kemandirian Keluarga dalam Merawat Lansia Hipertensi di KotaTasikmalaya Hartono, Dudi; Cahyati, Peni; Arifin, Unang; Warijan, Warijan
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan usia lanjut membawa konsekuesi peningkatan kejadian penyakit degenaratif, salah satunya penyakit hipertensi. Penyakit hipertensi merupakan salah satu penyakit yang sifatnya kronis dan merupakan faktor utama penyebab gagal jantung, gagal ginjal dan stroke. Angka kejadian hipertensi di Indonesia dari tahun ke tahun terjadi peningkatan termsuk di Jawa Barat dan juga di Kota Tasikmalaya. Upaya strategi yang sudah diprogramkan pemerintah adalah melalui PIS-PK, dimana pelayanan pada pasien hipertensi merupakan salah satu indicator. Pendekatan ini mendorong kemandirian keluarga dalam merawat anggota keluarga (lansia). Kemandirian ini dapat dicapai bila keluarga memiliki pengetahuan. sikap dan keeterampilan dalam merawat lansia hipertensi. Upaya untuk meningkatakan pengetahuan, sikap dan keterampilan dapat dilakukan melalui kegiatan edukasi. Salah satu media edukasi yaitu berbentuk audio visual. Tujuan penelitian ini untuk melihat peningkatan tingkat kemandirian keluarga dalam merawat lansia hipertensi menggunakan edukasi video. Sampel dalam penelitian berjumlah 30 orang kelompok intervensi dan 30 orang kelompok control. Hasil yang di dapatkan adalah sebelum dilakukan intervensi edukasi video baik kelompok intervensi maupun kelompok control berada pada tingkat kemandirian 1 dan setelah dilakukan intervensi edukasi video terdapat peningkatan yang signifikan.
Pengaruh Metode Pembelajaran Eksplisit Dan Implisit Berdasarkan Kapasitas Memori Kerja (Working Memory) terhadap Penguasaan Pasing Bawah dalam Permainan Bola Voli (Studi Eksperimen di SMP Negeri 1 Malausma Kabupaten Majalengka) Hartono, Dudi; Saputra, Yudha Munajat; Sudrazat, Adang
Journal of SPORT (Sport, Physical Education, Organization, Recreation, and Training) Vol 8, No 1 (2024): Journal of S.P.O.R.T
Publisher : Pendidikan Jasmani Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/sport.v8i1.9594

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu untuk menguji : (1) perbedaan pengaruh metode pembelajaran eksplisit dan implisit berdasarkan pada kapasitas working memory terhadap penguasaan keterampilan pasing bawah; (2) perbedaan pengaruh kapasitas working memory rendah dan tinggi pada pembelajaran menggunakan metode eksplisit dan implisit terhadap penguasaan keterampilan pasing bawah; dan (3) interaksi antara metode pembelajaran dan kapasitas working memory terhadap penguasaan keterampilan pasing bawah dalam permainan bola voli.Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperimen dengan desain factorial. Penelitian ini dilakukan pada peserta didik di SMP Negeri 1 Malausma dengan rata-rata usia 13 tahun dan jumlah sampel 48 orang terbagi dalam 2 kelompok eksperimen dengan perlakuan metode pembelajaran eksplisit dan implisit. Peserta didik mengikuti program pembelajaran adalah sampel sukarela, pemula dalam permainan bola voli, tidak memiliki keterbatasan pada penglihatan, pendengaran. Hasil pengukuran diperoleh skor rata-rata sebesar 9.30 atau sekitar 27% peserta didik memiliki kapasitas working memory pada kelompok dengan perlakuan metode pembelajaran eksplisit dan implisit.Hasil penelitian ini menunjukan yaitu : (1) terdapat perbedaan pengaruh metode pembelajaran eksplisit dan implisit berdasarkan kapasitas working memory terhadap penguasaan keterampilan pasing bawah; (2) tidak terdapat perbedaan pengaruh kapasitas working memory rendah dan tinggi pada pembelajaran dengan menggunakan metode eksplisit dan implisit terhadap penguasaan keterampilan pasing bawah; dan (3) tidak ada interaksi antara metode pembelajaran dan kapasitas working memory terhadap penguasaan keterampilan pasing bawah dalam permainan bola voli. Kata kunci : pembelajaran, metode eksplisit, implisit, working memory dan            pasing bawah.
Analisis Pengaruh Iklim Kerja dan Motivasi Terhadap Kinerja Pegawai: Studi Kasus pada UPTD Puskesmas di Kota Tasikmalaya Cahyati, Peni; Hartono, Dudi; Sasmita, Anah
JUDICIOUS Vol 4 No 2 (2023): Judicious
Publisher : Neolectura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37010/jdc.v4i2.1259

Abstract

This study analyzes the influence of work climate and motivation on employee performance at the Primary Health Care Unit (UPTD Puskesmas) in Tasikmalaya City. Employee performance (Y) is affected by work climate (X1) and motivation (X2) both partially and simultaneously. However, there are dimensions within each variable that require improvement, such as leadership's responsiveness to assistance requests in the work climate and the provision of recognition in motivation. The research employs a descriptive and verificative survey method with path analysis. Findings reveal that a positive work climate fosters a conducive work environment, while strong motivation drives employees towards achieving organizational goals. Based on these findings, it can be concluded that factors of leadership, work climate, motivation, and employee performance are interrelated within the context of Primary Health Care Units, contributing to the effectiveness of primary healthcare services.
Peningkatan Kapasitas Penanggung Jawab Program Kesehatan Jiwa dalam Upaya Kesehatan Jiwa Masyarakat di Kota Tasikmalaya Cahyati, Peni; Kustiawan, Ridwan; Hartono, Dudi
Abdimas Galuh Vol 6, No 2 (2024): September 2024
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v6i2.16019

Abstract

Masalah kesehatan jiwa di masyarakat memerlukan pendekatan dan strategi melibatkan masyarakat dan diawasi oleh petugas kesehatan. Oleh karena itu,puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan jiwa di tingkat dasar perlu dipersiapkan dengan melatih tenaga perawat  agar mampu memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien gangguan jiwa berbasis komunitas di wilayahnya masing-masing. Perawatan Kesehatan Jiwa Masyarakat merupakan salah satu strategi berupa program peningkatan  pengetahuan dan keterampilan yang diberikan kepada petugas kesehatan melalui pelatihan dalam rangka upaya membantu masyarakat menyelesaikan masalah kesehatan . Sebanyak 22 orang penanggung jawab program kesehatan jiwa di Puskesmas se Kota Tasikmalaya  menjadi peserta pelatihan Perawatan Kesehatan Jiwa  Masyarakat.  Hasil pelatihan menunjukkan skor pengetahuan penanggung jawab  program Kesehatan Jiwa Masyarakat naik sebesar 3,08 poin dibandingkan sebelumnya. Hasil uji normalitas data kedua variabel berdistribusi normal maka menggunakan uji parametrik Paired-T test. Hasil uji Paired-T didapatkan nilai ρ = 0,000 (ρ < 0,05), maka H0 ditolak, dan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pengetahuan sebelum dan setelah pelatihan.