Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

FROM DORMITORY WALLS TO MORAL WORLDS: EMPOWERING EDUCATORS AS MORAL ARCHITECTS IN INDONESIAN BOARDING-BASED MADRASAHS Halimatussa'diyah, Halimatussa'diyah; Suriansyah, Ahmad; Bachri, Ahmad Alim; Sulistiyana, Sulistiyana
JURNAL EDUSCIENCE Vol 13, No 1 (2026): Jurnal Eduscience (JES), (Authors from Australia, Taiwan, and Indonesia)
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jes.v13i1.8495

Abstract

Purpose –This study explores the moral and pedagogical dimensions of teacher empowerment within the unique ecosystem of Indonesian boarding-based madrasahs. In these faith-oriented learning environments, educators are not only knowledge transmitters but also moral architects, shaping students' ethical consciousness and communal identity.Methodology – Employing a qualitative multiple case study design, data were collected through in-depth interviews, field observations, and document analysis across three boarding-based madrasahs in South Kalimantan.Findings – The findings reveal that teacher empowerment in these settings transcends administrative or instructional authority, evolving instead into a moral praxis grounded in Islamic values, reflective mentorship, and collective spiritual routines such as Qur’an recitation and muhasabah (self-reflection). Educators exercise moral agency through daily interactions in the dormitory, reinforcing discipline, empathy, and self-accountability. Leadership strategies—such as participatory mentoring, ethical modeling, and arts-based religious practices—serve as integral mechanisms for cultivating a holistic moral environment.Contribution – This study contributes to the growing discourse on teacher empowerment by highlighting how faith-driven moral leadership can be both contextually rooted and pedagogically transformative. It argues that moral empowerment is essential for sustaining ethical schooling cultures, particularly in residential educational settings where learning and living converge. The implications extend toward rethinking teacher development frameworks that integrate spirituality, reflective practice, and community-based moral agency.
Pandangan al-Dzahabī terhadap Tafsir Sufistik al-Sulamī dalam al-Tafsīr wa al-Mufassirūn Darmawan, Darmawan; Halimatussa'diyah, Halimatussa'diyah; Rahmat Hidayat
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 4 No. 1 (2026): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v4i1.1437

Abstract

Salah satu ulama terkemuka yang memberikan keterangan terhadap kitab-kitab tafsir klasik adalah Muhammad Husayn al-Dzahabī melalui kitabnya al-Tafsīr wa al-Mufassirūn. Di antara kitab tafsir yang dibahas adalah Haqā’iq al-Tafsīr karya karya al-Sulamī, yang bercorak sufistik. Dalam kitabnya tersebut, al-Dzahabī memaparkan pandangannya terhadap karakter dan metode tafsir sufistik yang digunakan oleh al-Sulamī. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis pandangan al-Dzahabī terhadap kitab tafsir Haqa’iq at-Tafsir karya al-Sulamī. Menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analisis, data diperoleh melalui kajian pustaka terhadap literatur-literatur terkait. Analisis dilakukan dengan melihat bagaimana pandangan dan kritik al-Dzahabī terhadap tafsir sufistik al-Sulamī dan menyingkap posisi metodologis al-Dzahabī terhadap tafsir sufistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Dzahabī mengakui nilai spiritual serta dimensi keimanan yang terkandung dalam tafsir al-Sulamī. Pada dasarnya, ia tidak menolak secara keseluruhan karya Haqā’iq al-Tafsīr, bahkan dalam beberapa bagian tampak memberikan pembelaan melalui tanggapan yang proporsional terhadap berbagai kritik yang diajukan oleh para ulama. Sikap tersebut merefleksikan pendekatan yang moderat dan ilmiah dalam menilai tafsir sufistik, yakni dengan tetap menghargai aspek spiritualitas tanpa mengabaikan ketelitian metodologis dalam proses penafsiran. Penelitian ini berkontribusi terhadap penerimaan tafsir isyārī dalam konteks yang lebih luas dari penafsiran al-Qur’an berdasarkan pandangan Dhahabī.