Kejadian Tuberkulosis di wilayah kerja UPT Puskesmas Beru selama tiga tahun terakhir sejak 2022 (33 kasus) hingga 2024 (42 kasus) ditambah kasus putus obat dan kekambuhan tertinggi di tahun 2024 sebanyak 7 kasus. Kondisi ini berkaitan erat dengan sumber daya manusia. Permasalahan dalam memberantas penyakit tuberkulosis di UPT Puskesmas Beru adalah belum adanya kader tuberkulosis. Kurangnya tenaga kesehatan yang tersedia berdampak juga terhadap kesulitan mendeteksi dini gejala tuberkulosis atau kesulitan dalam penemuan kasus ditambah dengan beberapa desa yang sulit dijangkau. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan kualitas sumberdaya kesehatan, membentuk kader tuberkulosis, mengintegrasikan aspek pelayanan dengan mindfulness spiritual, memecahkan permasalahan kesehatan pasien tuberkulosis berbasis riset. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah dengan cara sosialisasi pada tenaga kesehatan dan kader, pelatihan, dan pendampingan serta monitoring pelaksanaan. Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat bagi tenaga kesehatan dan kader kesehatan (peningkatan keterampilan teknis, efisiensi dalam penyusunan asuhan keperawatan, dan ketersediaan panduan pembelajaran), bagi kader tuberkulosis (legalitas formal, peningkatan kapasitas kader, kemampuan operasional yang mandiri, dan peningkatan empati dan spiritualitas). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat telah terlaksana dengan baik, kader tuberkulosis telah terbentuk, para tenaga kesehatan dan kader tuberkulosis telah memahami materi yang disampaikan. Para kader juga telah mampu melakukan deteksi dini masalah tuberkulosis. Program ini diharapkan dapat membekali kader agar mampu dan berpartisipasi aktif dalam upaya penanganan pasien tuberkulosis di wilayah kerja UPT Puskesmas Beru.