Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Penyuluhan Kesehatan Terkait Edukasi Menstruasi dan Mkm (Manajemen Kebersihan Menstruasi) Pada Remaja Putri Mentari, Ika Ayu; Jannah, Raudatul; Aisyah, Siti; Kharisma, Putri Lisa; Pratama, Rizky Putra; Shety, Shety; Radityo, Muhammad Bayu
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 2, No 3 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v2i3.11577

Abstract

Menstruasi adalah keluarnya darah dari rahim secara teratur setiap bulannya dan menjadi indikasi penanda organ kandungan wanita sudah berfungsi dengan baik. Menstruasi terkait dengan beberapa kesalahanpahaman tentang praktik kebersihan diri. Manajemen kebersihan menstruasi sangat penting untuk dijaga karena pada saat menstruasi sangat rentan terjadi gangguan saluran kemih, gangguan saluran reproduksi dan iritasi kulit terutama pada bagian genitalia. Tujuan kegiatan pengabdian ini untuk memberikan edukasi terkait menstruasi dan manajemen kebersihan menstruasi (MKM). Kegiatan pengabdian dilakukan di SMP Muhammadiyah 3 Samarinda khususnya di kelas VII dengan jumlah remaja putri sebanyak 23 orang. Metode penyuluhan menggunakan metode ceramah dan media penyuluhan menggunakan booklet dan video animasi, waktu pelaksanaan penyuluhan yaitu pada bulan November 2023. Berdasarkan hasil pretes dari sebelum dilakukan penyuluhan untuk tingkat pengetahuan tentang menstruasai dan manajemen kebersihan didapatkan score rata-rata 48,69 dan hasil setelah dilakukan penyuluhan (postest) didapatkan rata-rata score tingkat pengetahuan peserta meningkat menjadi 80.Kata Kunci: Edukasi, Penyuluhan, Menstruasi, MKMMenstruation is the discharge of blood from the uterus regularly every month and is an indication that a woman's uterine organs are functioning properly. Menstruation is linked to several misconceptions about personal hygiene practices. Menstrual hygiene management is very important to maintain because during menstruation it is very susceptible to urinary tract disorders, reproductive tract disorders and skin irritation, especially on the genitals. The aim of this service activity is to provide education regarding menstruation and menstrual hygiene management (MKM). Service activities were carried out at SMP Muhammadiyah 3 Samarinda, especially in class VII, with a total of 23 adolescent girl. The extension method uses the lecture method and the education media uses booklets and animated videos, the time for the extension is in November 2023. Based on the pretest results from before the counseling was carried out for the level of knowledge about menstruation and hygiene management, the average results were 48.6 and the results after the counseling were carried out (posttest) it was found that the level of participants' knowledge increased to 80.
IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER DAN POTENSI ANTIDIARE EKSTRAK DAUN CINCAU (Stephania capitata (Blume) Spreng) Ika Ayu Mentari; Indah Hairunisa; Arsyik Ibrahim; Aditya Fridayanti
Jurnal Ilmiah Manuntung Vol 5 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Manuntung
Publisher : jurnal ilmiah manuntung sekolah tinggi ilmu kesehatan samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51352/jim.v5i1.211

Abstract

Indonesia biodiversity has the second highest number of indigenous medical plants after the amazon rain forest, meanwhile Indonesian people usually used plants as a medicine source and some medicine plants have been developed as modern drugs. One of medicine plant in Indonesia that usually used as a refreshment was grass jelly (Stephania capitata (Blume) Spreng). This plant frequently found in Sumatra, Borneo and Java island and the leaf of grass jelly has been reported as a medicine against stomach complaint (diarrhea) and fevers. This research was designed to investigate the secondary metabolites and the efficacy of leaf extract of grass jelly as anti diarrhea. The leaves extraction was done by using maceration with ethanol solvent at room temperature. Meyer reagent, dagendroff reagent, methanol, magnesium band, hydrochloric acid, iron (III) chloride, anhydrous acetic acid, sulfuric acid, chloroform were used for identification of secondary metabolites from grass jelly leaves. For potency anti diarrhea, animals were divided into six group: diarrhea group, treatment group with loperamid HCl and treatment group of leaf extract of grass jelly. The results showed that the leaf extract of grass jelly contain saponin, phenol, sterol and triterpen and the treatment with leaf extract of grass jelly significantly decreasing time duration of diarrhea.
Karakterisasi simplisia dan identifikasi senyawa fitokimia ekstrak Pakis Sayur (Diplazium escelentum Swartz) Yoga Pratama, Virgiawan; Rahayu, Putri Dwi; Putri, Selmi; Tiara; Long, Yuliana; Mentari, Ika Ayu
JOURNAL OF PHARMACEUTICAL (JOP) Vol. 2 No. 1 (2024): Journal of Pharmaceutical (JOP)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/jop.v2i1.1549

Abstract

Pulau Kalimantan dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah, salah satunya adalah tanaman pakis sayur (Diplazium esculentum Swartz), yang berpotensi sebagai obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi simplisia dan identifikasi senyawa fitokimia dari ekstrak pakis sayur. Evaluasi dilakukan melalui pengujian organoleptik, kadar sari larut etanol, susut pengeringan, ekstraksi, fraksinasi, skrining fitokimia, dan analisis senyawa flavonoid menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Hasil menunjukkan bahwa simplisia pakis sayur memiliki bau khas, tanpa rasa, dan berwarna hijau kecoklatan, sedangkan ekstraknya berbau khas, memiliki rasa pahit, dan berwarna hijau kehitaman. Kadar sari larut etanol simplisia tercatat sebesar 14,34%, dengan susut pengeringan 2,16%, yang memenuhi standar kualitas. Ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol menghasilkan rendemen sebesar 7,81%. Fraksinasi menggunakan n-heksan dan akuades menghasilkan fraksi dengan ciri organoleptik yang berbeda. Skrining fitokimia mengidentifikasi keberadaan alkaloid, flavonoid, polifenol, dan saponin dalam ekstrak, yang menunjukkan potensi aktivitas biologis. Uji KLT mengungkapkan keberadaan flavonoid dengan nilai Rf 0,21. Berdasarkan temuan ini, pakis sayur berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif dengan prospek pengembangan untuk aplikasi farmakologis lebih lanjut.
Investigating the Bioactivity Potential and Standardization of Two Stingless Bee Propolis from East Kalimantan Kustiawan, Paula Mariana; Syahbana, Muhammad Ali; Pratika, Rika; Ichsan, Muhammad Nor; Mentari, Ika Ayu; Hairunnisa, Indah; Setiawan, Irfan Muris; Syaifie, Putri Hawa; Ramadhan, Donny; Chanchao, Chanpen
Pharmaceutical Sciences and Research Vol. 11, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The standardization of raw materials from nature is essential before they are made into products. Until now, there is still limited information regarding the standardization of propolis from stingless bees. This research aims to determine the bioactivity with standardized specific and non-specific parameters of ethanol extracts from Homotrigona apicalis and Homotrigona fimbriata propolis. The methods include organoleptic tests, tests for water-soluble and ethanol-soluble compound content, drying shrinkage tests, specific gravity tests, water content tests, metal contamination tests, phytochemical screening, and determining total phenolic and flavonoid content. The free radical scavenging capacity was measured using the DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) method, and antimicrobial activity against Candida albicans, Propionibacterium acnes, Streptococcus mutans, Salmonella typhi, and Escherichia coli was assessed using the agar well diffusion method. The results indicated that the standardization parameters tested on H. apicalis and H. fimbriata propolis met the standard criteria. Both species contain alkaloids, flavonoids, phenolics, tannins, and saponins. Generally, the propolis extracts from these two stingless bees exhibit potential antioxidant and antimicrobial effects. The total phenolic content for H. apicalis was 0.963 ± 0.041 mg GAE/g, while for H. fimbriata, it was 0.345 ± 0.004 mg GAE/g. The total flavonoid content for H. apicalis was 12.066 ± 0.465 mg QE/g, and for H. fimbriata, it was 9.325 ± 0.031 mg QE/g. All these results can be used as a reference for developing products derived from stingless bees.
Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Sungkai (Peronema Canescens Jack.) terhadap Kadar Malondialdehid pada Tikus Jantan (rattus norvegicus) Mentari, Ika ayu; Raihana, Laila
FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sains Vol. 2 No. 1 (2024): Bulan Juli 2024 Faskes : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sains
Publisher : Program Studi Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32665/faskes.v2i1.3230

Abstract

Latar belakang: Malondialdehyde (MDA) adalah senyawa dialdehide yang merupakan produk akhir peroksidasi lipid dan berkahir menjadi seyawa toksik bagi tubuh. Malondialdehid digunakan sebagai parameter pengukuran stress oksidatif yang disebabkan karena peningkatan radikal bebas dalam tubuh. Daun sungkai (Peronema canescens Jack.) memiliki kandungan antioksidan yang dapat menetralisisr aktivitas radikal bebas dalam tubuh. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol daun sungkai (Peronema canescens Jack.) terhadap penurunan kadar malondialdehid pada hewan uji tikus jantan (Rattus norvegicus). Metode: Hewan uji dibagi menjadi 6 kelompok yaitu Kelompok I merupakan kelompok normal tidak mendapat perlakuan, kelompok II merupakan kelompok negatif hanya diberi perlakuan perenangan saja, kelompok III sampai VI merupakan kelompok yang berikan perlakuan perenangan dan pengobatan yang terdiri dari kelompok III diberi vitamin C, kelompok IV sampai VI diberi ekstrak daun sungkai dengan dosis 50mg/kgBB, 100mg/kgBB dan 200mg/kgBB. Pengukuran MDA dilakukan pada hari ke-7 dengan cara pengambilan darah melalui jantung. Hasil: Dosis ekstrak etanol daun sungkai yang efektif menurunkan kadar MDA pada tikus adalah sebesar 50mg/kgBB. Simpulan dan saran: Pemberian ekstrak etanol daun sungkai dapat menurunkan kadar MDA plasma tikus. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kandungan senyawa aktif serta faktor yang berperan dalam menurunkan kadar MDA plasma darah tikus
Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan fraksi daun kokang terhadap Staphylococcus aureus Putri, Bella Pratiwi; Mentari, Ika Ayu
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 7 No. 3 (2023)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v7i3.809

Abstract

Acne vulgaris atau jerawat ialah suatu penyakit kulit yang diakibatkan oleh peradangan pada folikel pilosebasea dengan struktur abnormalitas seperti komedo, pustul, papul, dan nodul. Pada suku Dayak Tunjung, daun kokang digunakan untuk menyingkirkan bercak hitam di wajah dan memulihkan sisa jerawat. Daun kokang diolah jadi bubuk dingin (pupur) untuk merawat kulit dan untuk mengobati jerawat. Riset ini bertujuan guna menguji adanya aktivitas, perbedaan, konsentrasi antibakteri ekstrak etanol, dan fraksi n-heksan daun kokang (Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Metode penelitian menggunakan kuantitatif eksperimental dengan menguji zona hambat bakteri dan uji anova dengan menggunakan sampel daun kokang (Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh), fraksi n-heksan, etanol 96% dan teknik analisis Kruskal wallis. Uji konsentrasi menggunakan ekstrak etanol 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Kontrol positif yang digunakan adalah klindamisin 0,05 gram dan kontrol negatif yang digunakan adalah etanol 96%. Hasil dari ekstrak etanol daun kokang dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100% serta fraksi n-heksan daun kokang dengan konsentrasi 100% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan kategori lemah, sedangkan fraksi n-heksan daun kokang konsentrasi 20%, 40%, 60%, dan 80% tidak memiliki efek dalam membatasi bakteri Staphylococcus aureus. Ada perbedaan aktivitas antibakteri dengan menggunakan ekstrak etanol dan fraksi n-heksan daun kokang (Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh.) terhadap Staphylococcus aureus. Konsentrasi minimum ekstrak etanol daun kokang (Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh.) untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yaitu konsentrasi 20% dan konsentrasi minimum fraksi n-heksan daun kokang (Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh.) untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yaitu konsentrasi 100%.
FORMULASI DAN UJI STABILITAS SEDIAAN KOSMETIK PERONA PIPI (BLUSH ON) DARI EKSTRAK KULIT BUAH RAMBUTAN ( Nephelium lappaceum L) SEBAGAI COLORING AGENT Ika Ayu Mentari; Rahmatang
Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51352/jim.v10i2.885

Abstract

Blush On is one type of cosmetic that produces color on the cheeks, there are two types of dyes commonly used in cosmetics, namely natural dyes derived from plants and synthetic dyes derived from a mixture of two or more chemical compounds. Plants that are often used to form natural dyes are rambutan fruit skin which has anthocyanin content that can provide color pigments. This study aims to determine the extract of rambutan fruit skin can be formulated into a blush on preparation and to determine the stability of the blush on preparation. The research method was carried out experimentally including the extraction of rambutan fruit skin by the maceration method using 96% ethanol, making blush on preparations with three different concentrations including 10%, 20%, 30%. Checking the physical quality of blush on includes organoleptic testing, stability, preference, pH, irritation, spreadability and homogeneity. The results of the study showed that blush on preparations with a concentration of 10% produced a white color, a concentration of 20% was brown and a concentration of 30% produced a reddish brown color. This happens because there are different concentration levels of each formulation of active substances from rambutan fruit skin extract. The stability of the preparation after 3 weeks of storage showed stable results. The conclusion of this study is that rambutan peel extract can be used as a coloring agent in blush on preparations.
Development Ischemic Stroke Model by Right Unilateral Common Carotid Artery Occlusion (RUCCAO) Method Mentari, Ika Ayu; Naufalina, Rifda; Rahmadi, Mahardian; Khotib, Junaidi
Folia Medica Indonesiana Vol. 54, No. 3
Publisher : Folia Medica Indonesiana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study was designed to examine motor and congnitive changes, infarct lesion and neurohistological changes, involving histologic staining and immunohistochemical expression of caspase-3 after induction by right unilateral common carotid artery occlusion (RUCCAO) for 90 minutes. The animals were divided into two groups: sham group and stroke model group. Cognitive impairment was evaluated by Y maze. Motor function was measured on days 0, 1, 3 and 7 using FUAT paradigm. Infarct area, histological and caspase-3 expressions were evaluated on day 14 after RUCCAO. The results showed that RUCCAO induced cognitive and motor impairment on day 3 and 7. Furthermore, stroke model group induced infarct lesion. Hispatology examination showed body damage of neuron cell in the ipsilateral hemisphere. Moreover, expression of caspase-3 on RUCCAO group was significantly higher than that in sham group. In conclusion, RUCCAO method caused significant cognitive and motor function impairment. Furthermore, RUCCAO also induced infarct lesions and cell death in the thalamus brain area. Thus, RUCCAO can be employed as a method for ischemic stroke model, especially in focal ischemia
Uji Aktivitas Antioksidan, Fenolik Total, dan Flavonoid Total dari Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Pandan (Pandanus Amaryllifolius) dan Daun Jeruk Purut (Citrus Hystrix) Mentari, Ika Ayu; Wahyudi, Jundy Eko
Journal of Pharmascience Vol 12, No 2 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i2.20426

Abstract

Radikal bebas merupakan molekul yang tidak stabil diakibatkan elektron yang berpasangan dan dapat menyebabkan kerukan molekul disekitarnya. Akumulatif dari radikal bebas dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti penyakit kardiovaskular, neurodegeneratif dan penyakit kronis lainnya.Radikal bebas dapat dinetralkan dengan menggunakan sumber antiokasidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai dari Aktivitas antioksidan, total phenolic content (TPC) dan total flavonoid content (TFC) dari kombinasi ekstrak etanol daun pandan (Pandanus amaryllifolius) dan daun jeruk purut (Citrus hystrix). Metode uji pada aktivitas antioksidan (DPPH), TPC, dan TFC dari kombinasi ekstrak etanol daun pandan (P. amaryllifolius) dan daun jeruk purut (C. hystrix) dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak etanol daun pandan dan daun jeruk purut dengan kombinasi perbandingan 1:1, 1:2, dan 2:1 memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 47,67; 111,63; dan 28,34 µg/mL, serta dengan nilai dari TPC masing-masing sebesar 106,377; 561,449; dan 561,449 mg GAE/g ekstrak, serta 20.833, 279,166 dan 270.833 mg CE/ g ekstrak untuk nilai TFC. Kata Kunci : Antioksidan, Citrus hystrix, Pandanus amaryllifolius, TPC, TFC Free radicals are unstable molecules due to paired electrons and can cause damage to the surrounding molecules. Accumulative free radicals can cause various diseases such as cardiovascular disease, neurodegenerative and other chronic diseases. Free radicals can be neutralized by using antioxidant sources. This study aims to determine the value of antioxidant activity, total phenolic content (TPC) and total flavonoid content (TFC) from a combination of ethanol extracts of pandan leaves (Pandanus amaryllifolius) and kaffir lime leaves (Citrus hystrix). The test method for antioxidant activity (DPPH), TPC, and TFC from a combination of ethanol extracts of pandan leaves (P. amaryllifolius) and kaffir lime leaves (C. hystrix) was carried out using a UV-Vis spectrophotometer. The results showed that the combination of ethanol extracts of pandan leaves and kaffir lime leaves with a combination ratio of 1: 1, 1: 2, and 2: 1 had antioxidant activity with an IC50 value of 47.67; 111.63; and 28.34 µg/mL, and with TPC values of 106.377; 561.449; and 561.449 mg GAE/g extract, respectively, and 20.833, 279.166 and 270.833 mg CE/g extract for TFC values.
Edukasi Pembuatan Handsanitezer Dari Daun Sirih Sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Diare Di Kecamatan Muara Jawa Ika Ayu Mentari; Prasetyo, Afin Irgi; Partirahman, Derry; Nabiilah, Fitriah; Lestari, Ika Widya; Ulfiyanti, Nanda; Prasetno, Claudya Viona
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v6i2.519

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang kebersihan tangan melalui pembuatan hand sanitizer alami berbahan dasar daun sirih dan jeruk nipis. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan dan praktik langsung oleh mahasiswa di Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan peserta mengenai kebersihan dan sanitasi. Produk hand sanitizer berbahan alami ini tidak hanya efektif secara antimikroba, tetapi juga ramah lingkungan dan ekonomis, memanfaatkan bahan lokal yang mudah didapat. Dengan kegiatan ini, masyarakat dapat meningkatkan kemandirian dalam memproduksi produk kesehatan berbasis sumber daya lokal, sekaligus mendukung pola hidup sehat yang berkelanjutan.