Joppy Mudeng
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,Universitas Sam Ratulangi.Jl. Kampus Unsrat Bahu, Manado 95115, Sulawesi Utara, Indonesia

Published : 33 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : JURNAL ILMIAH PLATAX

Application of chlorophyll in carrageenan from algae Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty 1996 Kurniawan, Budi; Mantiri, Desy M. H.; Kemer, Kurniati; Rompas, Rizald M.; Kawung, Nickson J.; Mudeng, Joppy D.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 2 (2022): ISSUE JULY-DECEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i2.41935

Abstract

The aim of this study is to determine the effect of NaOH and KOH on carrageenan. The addition of natural dyes was carried out with different concentrations of carrageenan and the value of viscosity and gel strength of the algae Kappaphycus alvarezii to a mixture of natural dyes. The samples of algae were taken from the cultivation area in Belang waters, Southeast Minahasa Regency. The results of this study on the addition of natural dyes in refined carrageenan have succeeded in giving a green color and did not affect the viscosity and gel strength of the carrageenan gel when compared to the control (without treatment). The viscosity value of carrageenan with 4% NaOH concentration was 53.34-53.69 cP and KOH concentration was 49.55-50.03 cP. The gel strength value at 4% NaOH concentration was 74.11-74.89 mm/g/sec, while at 5% KOH concentration it was 84.22-84.89 mm/g/sec. The viscosity and gel strength still meet standards set by the Food Agriculture Organization (FAO).Keywords: Carrageenan, natural dye, Kappaphycus alvarezii, viscosity, gel strengthAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh NaOH dan KOH terhadap karagenan. Pada penelitian ini dilakukan penambahan pewarna alami dengan konsentrasi yang berbeda terhadap refined carrageenan dan nilai viskositas serta kekuatan gel karagenan dari alga Kappaphycus alvarezii terhadap campuran pewarna alami. Sampel alga diambil dari area budidaya di Perairan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara. Hasil penelitian tentang penambahan pewarna alami pada refined carrrageenan telah berhasil memberikan warna hijau dan tidak mempengaruhi viskositas serta kekuatan gel karagenan jika dibandingkan dengan kontrol (tanpa perlakuan). Nilai viskositas karagenan dengan konsentrasi NaOH 4% adalah 53,34 – 53,69 cP dan konsentrasi KOH 5% sebesar 49,55 – 50,03 cP. Nilai kekuatan gel pada konsentrasi NaOH 4% sebesar 74,11-74,89 mm/g/det, sedangkan pada konsentrasi KOH 5% diperoleh 84,22-84,89 mm/g/det. Viskositas dan kekuatan gel tersebut masih memenuhi standar yang ditetapkan oleh Food Agriiculture Organization (FAO).Kata kunci: Karagenan, pewarna alami, Kappaphycus alvarezii, viskositas, kekuatan gel
Phycoeritryn Pigments In Carrageenan From Algae Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty 1996 Tumalun, Abigael Joanete; Mantiri, Desy Maria Helena; Paransa, Darus Sa'adah Johanis; Rompas, Rizald Max; Kemer, Kurniati; Mudeng, Joppy
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 2 (2022): ISSUE JULY-DECEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i2.42456

Abstract

Kappaphycus alvarezii is a marine alga cultivated in Indonesia and produces carrageenan. Carrageenan is a product used in the cosmetic, food, and pharmaceutical industries. This study aimed to test the viscosity and gel strength of refined carrageenan with the addition of natural dye phycoerythrin from the algae Halymenia durvillei with different concentrations. Refine carrageenan was made using alkaline solvents of 4% NaOH and 5% KOH and then boiled using a pressure cooker. The results showed a reddish color change in the pure carrageenan refinement with the addition of phycoerythrin pigment, especially at a concentration of 50%. The average value of refined carrageenan viscosity for 4% NaOH concentration was 49.22 – 50.27 cP, and 5% KOH concentration ranged from 47.16 – 50.12 cP. Testing the gel strength of the refined carrageenan, the average NaOH 4% was 72.67 – 82.00 mm/g/sec, and the 5% KOH concentration was 81.00 – 81.78 mm/g/sec. The addition of phycoerythrin pigment to refine carrageenan had no effect on viscosity and gel strength. Drying at a temperature of 100oC obtained a water content of semi-refined carrageenan between 2.91 - 4.38%, this value is in accordance with the standard for carrageenan water content from FAO, which is a maximum of 12%.Keywords: Carrageenan, phycoerythrin pigments, Kappaphycus alvarezii, Halymenia durvillei, viscosity, gel strength.AbstrakKappaphycus alvarezii merupakan alga laut yang dibudidayakan di Indonesia dan penghasil karagenan. Karagenan merupakan suatu produk yang digunakan dalam industri kosmetik, makanan, dan juga farmasi. Tujuan dari penelitian adalah menguji viskositas dan kekuatan gel terhadap karagenan refine yang ditambahkan pigmen fikoeritrin dari alga Halymenia durvillei dengan perbedaan konsentrasi. Karagenan refine dibuat dengan menggunakan pelarut alkali NaOH 4% dan KOH 5% selanjutnya direbus dengan tekanan tinggi. Hasil yang didapat menunjukan bahwa terjadi perubahan warna kemerahan pada karagenan refine dengan penambahan pigmen fikoeritrin, terutama pada konsentrasi 50%. Nilai rata-rata viskositas karagenan refine untuk konsentrasi NaOH 4% adalah 49.22 – 50.27 cP, dan konsentrasi KOH 5% berkisar 47.16 – 50.12 cP. Pengujian kekuatan gel pada karagenan refine diperoleh rata-rata NaOH 4% sebesar 72.67 – 82.00 mm/g/det dan konsentrasi KOH 5% adalah 81.00 – 81.78 mm/g/det. Penambahan pigmen pada karagenan refine tidak berpengaruh pada viskositas dan kekuatan gel. Pengeringan dengan suhu 100OC memperoleh kadar air pada karagenan semi refine antara 2.91 - 4.38%, nilai tersebut telah sesuai dengan standar kadar air karagenan dari FAO yaitu maksimum 12%.Kata kunci: Karagenan, pigmen fikoeritrin, Kappaphycus alvarezii, Halymenia durvillei, viskositas, kekuatan gel. 
Addition of Caulerpa racemosa on Commercial Goldfish Ornamental Fish Feed to Increase Color Saturation Ngangi , Edwin L. A.; Longdong, Sammy N.J.; Mudeng, Joppy D.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i2.56079

Abstract

The brightness and high color saturation determine the selling price of ornamental goldfish. Color saturation is the color intensity visible to the naked eye from the appearance of goldfish. Caulerpa racemosa seaweed contains β-carotene, a type of carotenoid that is a red, yellow, and orange pigment. The research aimed to determine the effectiveness of adding C. racemosa flour to artificial goldfish (Carrasius auratus) feed. The experimental design used was three treatments of adding C. racemosa flour to artificial feed, namely 0%, 1%, and 1.5%. The experiment was carried out for 45 days with intensive fish care in an aquarium. Observation of color intensity using M-TCF (toca color finder) at the beginning and end of the study by three panelists. The results showed that increasing the color saturation of goldfish with the addition of 1.5% C. recomosa seaweed flour gave the best results. Caulerpa racemosa; Carrasius auratus; artificial feed; carotenoids; M-TCF. Abstrak Nilai jual ikan hias mas koki salah satunya ditentukan oleh kecerahan dan tingginya saturasi warna. Saturasi warna merupakan intensitas warna yang secara kasat mata tampak dari performans ikan mas koki. Rumput laut Caulerpa racemosa mengandung β-karoten yaitu jenis karotenoid yang merupakan zat pigmen warna merah, kuning dan jingga. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektifiktas tepung C. racemosa yang ditambahkan pada pakan artifisial untuk ikan mas koki (Carrasius auratus). Rancangan percobaan yaitu 3 perlakuan penambahan tepung C. racemosa pada pakan artifisial: 0%, 1%, dan 1,5%. Percobaan dilakukan selama 45 hari dengan perawatan ikan secara intensif dalam akuarium. Pengamatan intensitas warna menggunakan M-TCF (toca color finder) pada warna awal dan warna akhir penelitian oleh 3 panelis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan saturasi warna ikan mas koki dengan penambahan tepung rumput laut C. recomosa sebanyak 1,5% memberikan hasil terbaik. Kata kunci: Caulerpa racemosa; Carrasius auratus; pakan artifisial; karotenoid; M-TCF.
Optimasi Berat Awal dan Kedalaman pada Vertikultur Caulerpa lentillifera Menggunakan Tali Nilon Monofilamen Ngangi, M.Si, Edwin L. A.; Wantasen, Adnan S.; Longdong, Sammy N. J.; Rembet, Unstain N.W.J.; Mudeng, Joppy D.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 14 No. 1 (2026): ISSUE JANUARY-JUNE 2026
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v14i1.66721

Abstract

This study aimed to analyze the effects of initial seed weight and cultivation depth on the growth of Caulerpa lentillifera in a vertical culture system using monofilament nylon rope as the planting medium in the coastal waters of Bahoi Village, North Minahasa. A 3×3 factorial design was applied, consisting of three initial weights (50 g, 100 g, and 150 g) and three depths (20 cm, 70 cm, and 120 cm), each with three replications. Observed parameters included absolute growth and specific growth rate (SGR) over a 28-day cultivation period. The results indicated that initial weight significantly affected growth, whereas depth had no significant effect and no interaction was detected between the two factors. The 50 g treatment produced the highest growth performance with an SGR of 1.39 ± 0.08% day⁻¹, which falls within the productivity range of tropical open-sea farming systems. These findings highlight that optimizing seed weight plays a more critical role than shallow depth variation in improving the cultivation efficiency of C. lentillifera under a monofilament nylon-based vertical culture system. Keywords: initial weight; marine aquaculture; C. lentillifera; monofilament nylon; vertical culture system. Abstrak.  Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh berat awal bibit dan kedalaman pemeliharaan terhadap pertumbuhan Caulerpa lentillifera pada sistem vertikultur menggunakan tali nilon monofilamen sebagai media tanam di perairan Desa Bahoi, Minahasa Utara. Percobaan menggunakan rancangan faktorial 3×3 dengan tiga taraf berat awal (50 g, 100 g, dan 150 g) serta tiga taraf kedalaman (20 cm, 70 cm, dan 120 cm), masing-masing tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan harian (SGR) selama 28 hari. Hasil analisis menunjukkan bahwa berat awal berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan, sedangkan kedalaman tidak berpengaruh nyata dan tidak terdapat interaksi antara kedua faktor. Perlakuan 50 g menghasilkan pertumbuhan tertinggi dengan nilai SGR 1,39 ± 0,08% per hari. Nilai tersebut berada dalam kisaran produktivitas sistem budidaya laut terbuka tropis. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa optimasi ukuran bibit lebih menentukan dibandingkan variasi kedalaman dangkal dalam meningkatkan efisiensi budidaya C. lentillifera pada sistem vertikultur berbasis tali nilon monofilamen. Kata kunci: berat bibit; budidaya laut; C. lentillifera; nilon monofilamen; sistem vertikal