Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PERAN ADOBE ILLUSTRATOR DALAM MEMBANGUN KETERAMPILAN KREATIF UNTUK MEMPERKUAT PESAN PERDAMAIAN: TINJAUAN PENDEKATAN VISUAL KOMUNIKASI ANTARBUDAYA Hidayat, Fahri; Nurur Ramadani, Zahrotun
Jurnal Grafis Vol 3, No 1 (2024): Jurnal Grafis Volume 3, Nomor 1
Publisher : Universitas Catur Insan Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi telah memperluas interaksi antarbudaya di era globalisasi, namun juga menghadirkan kompleksitas konflik yang memerlukan pendekatan holistik. Komunikasi antarbudaya menjadi krusial dalam mempromosikan pemahaman, toleransi, dan kerjasama di tengah perbedaan yang semakin kompleks. Artikel ini mengkaji peran Adobe Illustrator sebagai alat untuk mengembangkan keterampilan kreatif dalam komunikasi antarbudaya, dengan fokus pada potensinya dalam memperkuat pesan perdamaian melalui pendekatan visual yang efektif. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Adobe Illustrator mampu meningkatkan kreativitas visual, mempengaruhi emosi audiens, dan memfasilitasi kolaborasi antarbudaya dalam membangun pesan perdamaian. Kesimpulan menyoroti pentingnya inovasi dalam komunikasi visual untuk mempromosikan harmoni dalam keragaman budaya.
The Internalizing Principles of Religious Moderation in Creating a Moderate Islamic Generation Syarifah, Sabilatus; Hidayat, Fahri
Nizham Jurnal Studi Keislaman Vol 12 No 02 (2024): Nizham: Jurnal Studi Keislaman
Publisher : Pascasarjana IAIN Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/nizham.v12i02.8185

Abstract

This research aims to examine the role of internalizing the values of religious moderation in forming generation Z who practice wasathiyah Islam in understanding and implementing their religion. The research method is literaturestudy, a research technique that focuses on collecting data through analysis of literature from various sources relevant to the research topic. Research findings show that religious education that encourages the internalization of the values of religious moderation has a significant impact in forming generation Z who tends to instill wasathiyah Islam. Generation Z who are involved in religious education tend to have a tolerant and inclusive attitude in religious practices, and are able to carry out religious demands in a balanced manner with the values ofmoderation. Overall, religious education that prioritizes the internalization of the principles of religious moderation plays a key role in forming generation Z who understands and practices wasathiyah Islam, which in the end cancontribute to the creation of a more harmonious and inclusive society in a comprehensive context . 
Peran Pemikiran Pendidikan K. H. Hasyim Asy’ari dalam Dinamika Pemikiran Pendidikan Islam di Indonesia Majiid, Muhammad Luthful; Hidayat, Fahri
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 5 No. 8 (2024): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v5i8.3283

Abstract

Melalui pembahasan ini bisa kita ambil pelajaran terkait profil Hasyim Asy'ari, dengan nama lengkap Muhammad Hasyim Asy'ari ibn 'Abd Al-Wahid bin Abdul Halim. Menurutnya, di Gedang Jombang Jawa Timur, Selasa 24 Dzu Al-Qa'idah 1287 H jatuh pada tanggal 14 Februari 1871 M. Beberapa pemikiran kiai Hasyim Asy'ar tidak lepas dari latar belakang sosio-historis yang melingkupinya. Kyai. Haji. Hasyim Asy'ari adalah sosok yang tahu betul apa yang menjadi kewajiban manusia di muka bumi, sebagai wakil presiden Allah harus selalu mengusahakan kebaikan. Kyai Haji Hasyim terbukti sebagai seorang ulama yang dapat menyampaikan dua hal, yaitu: ilmu dan amal. Pada masanya dikenal dua sistem pendidikan bagi penduduk pribumi Indonesia, yang pertama adalah sistem sekolah asrama Islam Islam dan sistem Barat (Holland Inlandsche Scholen) yang diselenggarakan oleh pemerintah Belanda, yang bertujuan untuk melatih para siswa untuk bekerja dengan upah rendah. tingkat. tingkat Menjabat dan mencampuri administrasi pemerintahan Belanda. Masa belajar di sekolah ini dibatasi tujuh tahun, dan mereka yang ingin melanjutkan sekolah harus pergi ke negeri bunga tulip (Selosoemardjan, 1962). Oleh karena itu, hanya penduduk lokal dari beberapa kabupaten yang mendapatkan kesempatan ini.Pendapat KH Hasyim Asy'ari tentang tasawuf (tasawuf) Hasyim Asy'ari menjelaskan dalam karyanya yaitu dalam kitab Ad-Durar Al-Muntathirah fil Masa'il At-Tis' Asyarah (Taburan Manik-manik lebih dari 19 Bilangan) dan dalam kitab Fin At - Tibyan Nahi' an Muqatha 'atil Arham Wal Aqarib Wal Akhawan (Pernyataan Larangan Pemisahan Kerabat dan Sahabat). Dalam tulisannya ia mengkritik tajam penyimpangan dari studi sufi. Melalui kesimpulan ini dapat kita ambil terkait pola pikir dan ide-ide Kyai Haji Hasyim Asy'ari dari segi kepahlawanan, kependidikan, dan sufi (tasawuf). Yang mana dalam tiga gagasan tersebut Kyai Haji Hasyim Asy'ari memiliki prinsip dan konsep yang logis serta riil, tidak melanggar ketentuan syariat dan bisa diterima oleh banyak kalangan.
Pendekatan Epistemologi Immanuel Kant dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila di MI Ma’arif 02 Bajing Kulon Aditya Suryani, Dian; Hidayat, Fahri
Jurnal Nusantara Raya Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jnr.v4i1.15476

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih dominannya pola pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar yang bersifat hafalan dan belum menumbuhkan kemampuan berpikir reflektif serta kritis peserta didik. Kondisi ini menunjukkan adanya persoalan epistemologis dalam proses pembentukan pengetahuan mengenai nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan pendekatan epistemologi dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila di MI Ma’arif 02 Bajing Kulon serta mengkaji relevansinya dengan pemikiran Immanuel Kant. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan epistemologi diterapkan melalui tiga aspek utama, yaitu pengalaman empiris, penalaran rasional, dan refleksi moral. Peserta didik tidak hanya menerima materi secara verbal, tetapi dilatih mengamati fenomena nyata, menganalisis kasus, berdiskusi, serta merefleksikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan ini sejalan dengan epistemologi rasional-transendental Immanuel Kant yang menekankan keterpaduan antara pengalaman dan akal budi dalam membentuk pengetahuan dan kesadaran moral. Implikasi penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Pancasila berbasis epistemologi mampu mendorong terbentuknya peserta didik yang kritis, berkarakter, dan memiliki kesadaran moral yang lebih matang. Temuan ini dapat menjadi rujukan bagi guru dalam merancang pembelajaran Pancasila yang lebih reflektif, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan karakter, sekaligus memberikan kontribusi bagi pengembangan praktik pendidikan nilai yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
Bridging East and West: A Comparative Study of Pragmatism of Ibn Khaldun and John Dewey in the Philosophy of Education Pratiwi, Risa; Hidayat, Fahri; Siswadi, Siswadi
J-PAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam JPAI Vol. 12 No. 1 Juli-Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jpai.v12i1.37893

Abstract

This study is motivated by contemporary challenges in adaptive and context responsive Islamic Education. This research aims to analyze and compare the educational philosophies of John Dewey and Ibn Khaldun as a basis for developing such a model. Although John Dewey and Ibn Khaldun both emphasize that knowledge must have practical implications and be based on real experiences, research linking their ideas in the context of contemporary Islamic education reform remains limited. Therefore, a comparative analysis is needed to provide a conceptual basis for the renewal of Islamic education in the modern era. This study uses a qualitative approach with a comparative study of the two figures and relevant academic literature. The results of the analysis show that Dewey and Ibn Khaldun have major conceptual similarities, both criticize purely theoretical education and emphasize experiential and practice-based learning as the foundation of meaningful education. Dewey viewed education as a means of continuous social reconstruction as well as a way to shape democratic citizens. Meanwhile, Ibn Khaldun sees education as the foundation for moral formation, social welfare, and the advancement of civilization. The fundamental difference between the two lies in their philosophical foundations. Dewey's thinking is built on secular rationalism and democratic values, while Ibn Khaldun's ideas stem from Islamic moral and spiritual values. The integration of their two schools of thought provides a new framework for the development of an Islamic education paradigm that is pragmatic, contextual, and oriented towards social change. This research also enriches the discourse on Islamic education by connecting the ethical-spiritual dimensions and the practical needs of today's society.
Pertumbuhan Ideologi Pendidikan di Era Reformasi (Kajian Terhadap Ideologi Pendidikan di Kuttab Al Fatih Purwokerto) Hidayat, Fahri
Literasi: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2017)
Publisher : Universitas Alma Ata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/literasi.2017.8(2).85-98

Abstract

AbstrackThe momentum of reform opened the space for the development of various schools of thought and ideology in the public sphere. This is evidenced by, among other things, the emergence of religious education institutions established on the basis of ideology. That is, the discourse on ideology not only develops in discourse space, but has metamorphosed into a real movement in the social sphere. This paper examines the ideological orientation of kuttab Al Fatih Purwokerto, an elementary education institution that wishes to bring back the past to the future by taking the format and form of educational institution from a source claimed to be the original source of early Islamic education.Keyword: education ideology, kuttab al fatih, Islamic education
Enhancing Interest in Religious Learning Through Board Games as a Learning Medium at Al-Husain Quranic Education Center (TPA), Purwokerto, Banyumas Fuad Tamami; Hidayat, Fahri
Malik Al-Shalih : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): Malik Al-Shalih: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam - IAIN Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52490/malikal-shalih.v4i2.6339

Abstract

The decline in interest in religious learning in children is a challenge faced by many non-formal educational institutions, including the Al-Husain Al-Quran Education Park (TPA) in Purwokerto Wetan. This study aims to increase children's interest in religious learning through the application of board games as an interactive and enjoyable learning medium. The method used was classroom action research (CAR) with two cycles, each consisting of planning, implementation, observation, and reflection. The subjects of the study were students at the Al-Husain TPA in Purwokerto Wetan. Data were collected through observation, interviews, and a learning interest questionnaire. The results showed a significant increase in interest in religious learning after the application of board games. Children became more enthusiastic, active, and motivated in participating in learning. The use of board games has proven effective in creating a fun learning atmosphere and encouraging optimal student involvement. Thus, board games can be an innovative alternative in increasing
KONSEP PEMBINAAN KARAKTER DALAM PEMIKIRAN THOMAS LICKONA DAN SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS Wisnu Saputra, Fajar; Hidayat, Fahri
Merdeka Indonesia Jurnal International Vol 5 No 2 (2025): MIJI : Merdeka Indonesia Journal International
Publisher : Merdeka Indonesia Jurnal International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/miji.v5i2.441

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep pendidikan karakter Thomas Lickona dan konsep ta’dīb Syed Muhammad Naquib Al-Attas melalui studi komparatif yang dianalisis dengan dialektika Hegel. Lickona menekankan pembentukan karakter melalui pengetahuan, sikap, dan tindakan moral, sedangkan Al-Attas menempatkan adab dan kesadaran spiritual sebagai inti pendidikan serta mengkritik sekularisasi. Melalui proses tesis–antitesis, keduanya menghasilkan sintesis “pendidikan karakter beradab” yang memadukan moralitas rasional dan spiritual. Hasil penelitian menunjukkan titik temu pada pembiasaan moral dan keteladanan, dengan perbedaan pada dasar epistemologis dan orientasi nilai.