Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Analisis Kestabilan Transien Dengan MetodeTime Domain Simulation Pada Sistem Kelistrikan Kalimantan 275 kV Elza Dwi Rachmayanti; Margo Pujiantara; Imam Robandi
SinarFe7 Vol. 1 No. 1 (2018): Sinarfe7-1A 2018
Publisher : FORTEI Regional VII Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.101 KB)

Abstract

Indonesia adalah negara yang masih membutuhkan banyak energi di masa depan. Pulau Kalimantan adalah salah satu pulau yang memiliki wilayah terbesar di Indonesia. Pulau ini memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia, salah satunya menyangkut kebutuhan energi listrik. Meningkatnya era globalisasi saat ini, menjadikan energi listrik merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memenuhi permintaan beban yang meningkat di pulau Kalimantan membangun sistem saluran transmisi 275kV yang saling terhubung. Pembangunan saluran transmisi adalah pengembangan saluran transmisi 150kV. Pengembangan, membuat sistem akan ditinjau untuk bekerja dengan aman dan andal. Dalam tugas akhir ini sistem akan dievaluasi dari stabilitas transien menggunakan metode simulasi domain waktu (TDS). Kasus-kasus yang diberikan untuk studi analisis stabilitas transien adalah gangguan generator dan interupsi 3 fase sirkuit pendek. Dari hasil simulasi yang didapat, untuk kasus gangguan generator dan hubung singkat pada salu an sirkuit ganda tidak menyebabkan sistem untuk keluar dari sinkronisasi, karena ketika generator mati atau korsleting, catu daya hilang antara 5-7 % Kekuatan yang hilang dapat dipenuhi oleh sistem interkoneksi. Hasil dari stabilitas transien dalam hal respon sudut rotor, respon frekuensi, dan respon tegangan diperoleh hasil yang diharapkan yang dapat kembali ke keadaan stabil.
Penentuan Critical Clearing Time Untuk Analisis Kestabilan Transien Sistem Kelistrikan Kalimantan 275kV Atiqah Hilmy Raditya; Margo Pujiantara; Imam Robandi
SinarFe7 Vol. 1 No. 1 (2018): Sinarfe7-1A 2018
Publisher : FORTEI Regional VII Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.071 KB)

Abstract

Energi listrik masih dibutuhkan Indonesia sampai masa yang akan datang. Pulau Kalimantan adalah salah satu pulau di Indonesia yang memiliki peranan penting dalam perekonomian dan industri, sehingga dibutuhkan pengembangan sistem kelistrikan sesuai dengan kebutuhan beban yang bertambah. Untuk memenuhi daya pada suatu wilayah yang memiliki kekurangan maka dilakukan pengembangan interkoneksi sistem kelistrikan Kalimantan 275 kV dengan jalur transmisi Sei Raya, Ketapang, Sampit, Palangkaraya, Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, Bontang, dan Tanjung Redeb. Dalam proses pengembengan interkoneksi terdapat kendala seperti gangguan sirkuit pendek (short circuit) dan generator lepas yang mempengaruhi kestabilan sistem kelistrikan. Pada penelitian ini dilakukan analisis pada sistem kelistrikan 275kV Kalimantan untuk menentukan kestabilan sistem. Analisis kestabilan sistem dilakukan dengan menentukan pemadaman waktu kritis (Critical Clearing Time) akibat generator lepas dan sirkuit pendek 3 fasa pada saluran Samarinda-Balikpapan. Hasil analisis kestabilan transien akibat sirkuit pendek 3 fasa pada saluran Samarinda- Balikpapan tahun 2022 didapatkan waktu yang bisa dipertahankan kestabilannya yaitu 0,990 detik dan waktu tidak stabil yaitu 0,991 detik. Tahun 2024 didapatkan waktu yang bisa dipertahankan kestabilannya yaitu 0,220 detik dan waktu tidak stabil yaitu 0,221 detik. Sedangkan Tahun 2026 didapatkan waktu yang bisa dipertahankan kestabilannya yaitu 1,720 detik dan waktu tidak stabil yaitu 1,721 detik. Hasil gangguan akibat generator lepas yaitu seluruh sistem dalam keadaan stabil, karena respon sudut rotor, respon frekuensi, dan respon tegangan masih dalam batas standard.
Analisis Kestabilan Transien pada Master Plan Sistem Kelistrikan Kalimantan 500 kV Menggunakan Time Domain Simulation Nur Atiqah Rianty Sari; Margo Pujiantara; Imam Robandi
SinarFe7 Vol. 1 No. 1 (2018): Sinarfe7-1A 2018
Publisher : FORTEI Regional VII Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.798 KB)

Abstract

Pemanfaatan kebutuhan energi listrik di pulau Kalimantan semakin meningkat, sehingga membutuhkan sistem transmisi yang mampu menyalurkan daya secara optimal untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Untuk mewujudkan hal tersebut, Perusahaan Listrik Negara (PLN) merencanakan pengembangan transmisi master plan sistem kelistrikan Kalimantan 500 kV. Rencana pengembangan sistem transmisi menghubungkan antara provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Dengan pengembangan sistem transmisi tersebut, maka diperlukan analisis kestabilan transien terhadap sistem. Pada penelitian ini dilakukan analisis kestabilan transien menggunakan metode domain waktu (Time Domain Simulation, TDS) akibat generator lepas (generator outage) dan gangguan hubung singkat 3 fasa (short circuit). Analisis ini bertujuan untuk mengetahui respon sudut rotor, tegangan, dan frekuensi pada sistem. Hasil simulasi yang diperoleh akibat generator lepas adalah sistem kehilangansuplai daya terbesar dari total pembangkitan untuk tahun 2023-2050 yaitu 5,78%. Saat gangguan hubung singkat 3 fasa pada bus dan satu saluran double circuit 500 kV sistem dapat kembali stabil.
Perbaikan CCT Pada Multi Machine Infinite Bus Dengan Supercapacitor Energy Storage Menggunakan Critical Trajectory Talitha Puspita Sari; Rafin Aqsa Izza Mahendra; Ardyono Priyadi; Vita Lystianingrum; Margo Pujiantara; Sjamsjul Anam
SinarFe7 Vol. 3 No. 1 (2020): Sinarfe7-3 2020
Publisher : FORTEI Regional VII Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.827 KB)

Abstract

Kestabilan transien merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam menjaga kontinuitas dari suatu sistem tenaga listrik apabila terjadi gangguan besar secara tiba-tiba. Namun, terdapat keterbatasan waktu operasi dari suatu sistem proteksi untuk mengisolasi gangguan sebelum sistem menjadi tidak stabil dan lepas sinkronisasi. Critical Clearing Time (CCT) adalah batasan waktu yang diperbolehkan untuk mengisolasi suatu gangguan untuk membuat sistem menjadi stabil. Untuk meningkatkan kestabilan sistem, memasang Supercapacitor Energy Storage (SCES) merupakan salah satu metode untuk memperpanjang nilai CCT. SCES dapat menyerap dalam jumlah besar dalam waktu yang cepat ketika terjadi gangguan. Penelitian ini mengusulkan identifikasi dari efek kontrol SCES dalam memperpanjang nilai CCT. SCES seolah-olah menjadi beban sesaat dan memperpanjang nilai CCT bergantung dari kemampuan kontroler dalam merespon gangguan. Pemodelan kontrol diaplikasikan dalam SCES yang terpasang pada salah satu bus generator dengan kapasitas yang telah ditentukan. Modified Fouad dan Anderson 3-machine 9-bus dengan single machine to infinite bus digunakan untuk memvalidasi metode yang disusulkan. Selain itu, metode critical trajectory yang mana diketahui memiliki kecepatan hitung yang lebih cepat dan memiliki keakuratan lebih baik dibandingkan metode Time Domain Simulation (TDS) digunakan untuk mendapatkan nilai CCT. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan kontrol yang lebih cepat ketika terjadi gangguan, maka nilai CCT pada sistem yang dihasilkan akan menjadi lebih tinggi. Nilai kenaikan tertinggi terjadi ketika kontroler bekerja pada saat 0.001 detik.
Efek Penambahan SCES Pada Sistem Multimesin dengan Damping dan Kontroler Berdasarkan Metode Critical Trajectory Ardyono Priyadi; Nazila Iyyaya Fariha; Talitha Puspita Sari; Vita Lystianingrum; Margo Pujiantara; Sjamsjul Anam
SinarFe7 Vol. 3 No. 1 (2020): Sinarfe7-3 2020
Publisher : FORTEI Regional VII Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.633 KB)

Abstract

Tujuan utama dari studi kestabilan transien adalah untuk memastikan bahwa sistem dapat mempertahankan sinkronisasinya pada kondisi transien. Kestabilan transien dapat dievaluasi menggunakan metode critical trajectory, dengan cara menghitung Critical Clearing Time (CCT). Salah satu keuntungan menggunakan metode critical trajectory adalah nilai CCT diperoleh secara langsung dan dapat memberikan nilai yang lebih akurat dari metode time domain simulation. Pada penelitian kali ini, diusilkan penambahan Supercapacitor Energy Storage (SCES) dan damping untuk memperbaiki kestabilan transien pada sistem multi mesin. SCES adalah sebuah alat penyimpan energi listrik yang dapat menyimpan dan menyuplai listrik dalam jumlah besar secara cepat, sedangkan damper winding dapat meredam osilasi ketika kondisi unstable steady state. Dengan adanya penambahan SCES dan damping pada sistem, kestabilan akan menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Kestabilan sistem ditunjukkan dengan meningkatnya nilai CCT. Sistem multi mesin yang terhubung dengan infinite bus digunakan untuk melakukan validasi metode yang diusulkan. Selain itu, test system juga mencakup Automatic Voltage Regulator (AVR) dan governor.
Perbaikan Nilai CCT Menggunakan SCES Berdasarkan Critical Trajectory Dalam Sistem Multimesin Dengan Damping Ardyono Priyadi; Risqiya Maulana; Talitha Puspita Sari; Vita Lystianingrum; Margo Pujiantara; Sjamsjul Anam
SinarFe7 Vol. 3 No. 1 (2020): Sinarfe7-3 2020
Publisher : FORTEI Regional VII Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.209 KB)

Abstract

Kestabilan adalah salah satu aspek penting dalam sistem kelistrikan. Ketika terjadi gangguan, sistem kelistrikan harus diamankan oleh sistem pengaman. Analisa kestabilan sistem tenaga juga diperlukan dalam mengamankan sistem. Critical Clearing Time (CCT) adalah waktu maksimum bagi sistem pengaman untuk mengisolasi gangguan sebelum hilang sinkron. Sistem dapat kembali ke kondisi stabil ketika gangguan diisolasi sebelum nilai CCT. Salah satu metode untuk meningkatkan stabilitas sistem tenaga adalah meningkatkan nilai CCT. Supercapacitor Energy Storage (SCES) dan damper winding dapat digunakan untuk memperpanjang nilai CCT. Damper winding akan meredam osilasi saat terjadi gangguan pada sistem. Sedangkan SCES adalah perangkat yang mampu menyimpan dan melepaskan energi secara cepat. Selain itu, metode critical trajectory digunakan untuk menghitung CCT. Selanjutnya, IEEE Fouad-Anderson 3 Generator-9 Bus digunakan untuk memvalidasi metode yang diusulkan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem stabilitas meningkat dengan menggunakan SCES dan damping dalam sistem.
Setting Differential Relay Transformer (87T) dengan Pertimbangan Vector Group pada PLTU Tenayan 2x110 MW Margo Pujiantara; Teuku Rizki Firdausi; Vincentius Raki Mahindara; Vita Lystianingrum
SinarFe7 Vol. 3 No. 1 (2020): Sinarfe7-3 2020
Publisher : FORTEI Regional VII Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.434 KB)

Abstract

PT. Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Unit Bisnis Jasa Operasi dan Pemeliharaan (UBJOM) PLTU Tenayan memiliki peralatan proteksi yang berfungsi sebagai penunjang kegiatan pembangkitan listrik. Salah satu proteksi utama yang digunakan pada PLTU Tenayan adalah differential relay transformer (87T). Differential relay ini berfungsi melindungi main transformator dari gangguan dan bekerja dengan cepat dan selektif dalam memutus gangguan. Pada sistem kelistrikan PLTU Tenayan, main transformator maupun transformator UAT memiliki konfigurasi vector group, sehingga menyebabkan arus yang mengalir pada kedua sisi transformator akan berbeda, dan arus yang dirasakan oleh CT pada kedua sisi transformator akan berbeda pula, sehingga relay beroperasi tanpa adanya gangguan. Pada tanggal 9 Desember 2018, terjadi trip pada generator unit 1 PLTU Tenayan, sehingga menyebabkan blackout. Kejadian ini diduga akibat sambaran petir di sisi transmisi 150 kV. Pada penelitian ini akan dilakukan analisis setting differential relay transformer (87T) dengan pertimbangan vector group pada PLTU Tenayan 2x110 MW. Metode penelitian dengan simulasi menggunakan software ETAP 12.6.0. Hasil analisis dari simulasi dan perhitungan di dapatkan nilai Idiff 1,5 Ie dan slope sebesar 120%, nilai ini akan digunakan untuk setting differential relay transformer. Dari hasil pengujian didapatkan bahwa differential relay transformer hanya bekerja ketika gangguan internal saja dan tidak beroperasi ketika gangguan eksternal. Sehingga differential relay transformer (87T) aman dari kesalahan trip dan kesalahan operasi.
Evaluasi Proteksi Sistem Kelistrikan Pembangkit Jenis Gas Turbine Generator 3x18 MW Pada PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri) Chandra Agung Ramadhan; Margo Pujiantara; Ardyono Priyadi
Jurnal Teknik ITS Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v11i2.87919

Abstract

Indonesia yaitu PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang mengalami permasalahan sistem kelistrikan pada salah satu pabriknya. Permasalahan tersebut disebabkan oleh adanya hubung singkat pada salah satu bus di pabrik Pusri 4 dan disinyalir adanya miskoordinasi antar rele pengaman. Miskoordinasi rele pengaman menyebabkan circuit breaker pada generator open karena adanya arus hubung singkat kiriman. Saat circuit breaker generator open, maka terjadi ayunan daya pada pembebanan. Disinyalir generator hanya diatur default dan tidak dipersiapkan untuk mengatasi gangguan tersebut. Dari permasalahan tersebut menyebabkan adanya gangguan secara kompleks hingga menyebabkan blackout pada pabrik lama Pusri. Karena generator hanya diatur default, maka ketika ada kasus blackout, generator akan off secara tiba-tiba. Generator yang sering off secara tiba-tiba karena adanya gangguan dapat menyebabkan berkurangnya kapabilitas generator dalam membangkitkan daya serta berdampak pada lifetime dari generator tersebut. Blackout ini menyebabkan kerugian yang sangat besar untuk PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang, oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi terhadap sistem proteksi internal generator. Tugas akhir ini berfokus pada beberapa rele internal generator sebagai sistem proteksinya. Rele tersebut antara lain adalah rele sinkronisasi, rele hilang eksitasi, rele arus lebih urutan negatif, rele arus lebih dengan kendali tegangan, rele frekuensi, dan rele diferensial. Studi evaluasi ini dilakukan dengan menggunakan software ETAP 12.6 agar mendapatkan hasil simulasi yang sesuai dengan kejadian di lapangan. Hasil dari Tugas Akhir ini dapat menjadi rekomendasi untuk PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang serta berbagai instansi guna melindungi generator ketika terjadi gangguan serupa.
Evaluasi Sistem Koordinasi Proteksi dengan Mempertimbangkan Busur Api pada Substation Tursina Timur PT. Kaltim Daya Mandiri (KDM) Reyna Safilla Yusnianti; Margo Pujiantara; Sjamsjul Anam
Jurnal Teknik ITS Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v11i2.92246

Abstract

T Kaltim Daya Mandiri (KDM) merupakan perusahaan penyedia utilitas dan energi yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan suplai daya pada fasilitas produksi pupuk kaltim dan perumahan PT. Pupuk Kaltim serta perusahaan yang berada pada wilayah Kaltim Industrial Estate (KIE). Seiring dengan meningkatnya aktivitas industri, PT Katim Daya Mandiri merencanakan pengembangan sistem dengan penambahan pembebanan sebesar 5 MW pada daerah Tursina Timur. Dengan penambahan tersebut, tentu menimbulkan peningkatan arus hubung singkat yang memicu terjadinya gangguan. Salah satu gangguan yang mungkin terjadi yaitu bahaya busur api (Arc Flash) yang dapat membahayakan para pekerja didalam pabrik dan merusak peralatan disekitarnya. Dalam pelaksanaan pengembangan penambahan beban tersebut, diperlukan perencanaan dan evaluasi sistem kelistrikan yang matang karena keandalan serta keamanan sebuah sistem kelistrikan adalah syarat utama yang harus dipenuhi maka studi busur api harus dilakukan. Evaluasi dilakukan dengan menghitung energi insiden berstandar IEEE 1584-2002 serta menentukan persyaratan dari pakaian pelindung bagi pekerja atau Personal Protective Equipment (PPE) berdasarkan National Fire Protection Association (NFPA) 70E. Sehingga, diharapkan kemungkinan terjadinya bahaya busur api pada sistem kelistrikan dapat diminimkan dan dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi PT. Kaltim Daya Mandiri (KDM) kedepannya.
Simplifikasi Analisa Bahaya Arc Flash Menggunakan Metode Kurva Batasan Energi pada PT. Pertamina RU VII Syarif Kasim Pande Aji Seta Kusalya; Margo Pujiantara; Ontoseno Penangsang
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.110746

Abstract

Pada sistem kelistrikan sering terjadi fenomena busur api (arc flash), sehingga memerlukan analisa untuk menjamin keselamatan pekerja. Analisa busur api dilakukan untuk menentukan kategori Personal Protective Equipment (PPE) terhadap bahaya busur api guna menjamin keselamatan pekerja dari paparan insiden energi yang terpancarkan. Metode analisa busur api secara umum menggunakan standard IEEE 1584-2002 untuk melakukan analisis bahaya busur api, dimana metode tersebut memerlukan banyak parameter yang diperlukan untuk menentukan kategori PPE setiap bus. Jika kelistrikan tersebut terdapat banyak bus, maka akan memakan banyak waktu untuk menentukan kategori PPE. Dengan menggunakan metode kurva batasan energi (energy boundary curve), untuk menentukan kategori PPE secara singkat dan lebih sederhana sesuai dengan ketentuan National Fire Protection Association (NFPA) 70E-2015 hanya memerlukan kurva karakteristik pengaman bus. Dimana kurva karakteristik pengaman bus akan dipotong dengan kurva batas energi, sehingga pada perpotongan kedua kurva tersebut dapat ditentukan kategori PPE yang diperlukan. Studi aktual mengenai simplifikasi analisa busur api dilakukan pada PT. Pertamina RU VII Syarif Kasim. Pada hasil akhirnya, analisa busur api menggunakan metode kurva batas energi pada tiap bus dapat menentukan proses penentuan kategori PPE yang lebih singkat dan sederhana daripada menggunakan metode standard IEEE 1584-2002. Namun, menimbulkan perbedaan jarak batas aman (flash protection boundary), dikarenakan metode kurva batasan energi tidak memperhitungkan nilai insiden energi serta fault clearing time.
Co-Authors Achmad Marzuki Adi Soeprijanto Aditya Aji Nugroho Afif Al Asyad Anam, Sjamsjul Anshori, Addarojatul Ula Syaharuddin Ardyono Priyadi Arif Rakhman Prayuga Ariq Arsya Nanda Atiqah Hilmy Raditya Baghazta Akbar Arzandhy Buchori, Arshad Tareeq Chandra Agung Ramadhan Daniar Fahmi, Daniar Dedet Candra Riawan Dewi Anugrah Rizqi Dicky Putra Adhitya Dimas Anton Asfani Dimas Fajar Uman Putra Dwiyan Anugrah Ernadi Edo Yanuwirawan Elza Dwi Rachmayanti Erhankana Ardiana Putra Fahmi Nurfaishal Farrel Grady Savio Fauzanul Abidin Firman Aji Prasongko Firmansyah, Mochamad Anggi Hafiz Ichwanto Hafiz Ichwanto Henry Haskarya Heri Suryoatmojo I Gusti Ngurah Satriyadi Hernanda Ichsan Nur Khoirudin Imam Robandi inas ratnaning zafirah Jumaras Situngkir Kiki Fajriati Moch. Irsad Taufiqi Mochammad Bagas Boma Bismantaka Mohammad Arian Rahmatullah Muhammad Nur Fattah Mukhamad Subkhi Musthofa, Arif Nazila Iyyaya Fariha Nazila Iyyaya Fariha Ngurah Adi Brahmantia Putra Ni Ketut Aryani Novie Elok Setiawati Nur Atiqah Rianty Sari Nurio Herlambang Ontoseno Penangsang Pande Aji Seta Kusalya Prasetyo, Dhenie Prakash Priyadi, Ardyono Rafin Aqsa Izza Mahendra Rafin Aqsa Izza Mahendra Rahman Efandi Rahmanditya Muhammad Rahmanditya R. Muhammad Rahmanditya R. Muhammad Rahmat Riyadi Reyna Safilla Yusnianti Risqiya Maulana Rizky Fadhli Hasben Robby, Barikly Rony Seto Wibowo Sjamsjul Anam Soedibyo Soedibyo Talitha Puspita Sari Talitha Puspita Sari Talitha Puspita Sari Talitha Puspita Sari Tegar Iman Ababil Tegar Iman Ababil Teuku Rizki Firdausi Teuku Rizki Firdausi Victor Bramson Pardede Vincentius Raki Mahindara Vincentius Raki Mahindhara Vita Lystianingrum Wahyudi Wahyudi Yoga Firdaus Yohanes Sabriant Widyo Utomo Yulia, Tiara Anindita