Tren marriage is scary ramai diperbincangkan oleh generasi Z terutama di media online TikTok, X, Facebook dan Instagram. Dampak negatif semakin terasa ketika beberapa lembaga survei merilis data tentang penurunan tren menikah di kalangan generasi Z dan tentu fenomena ini akan membawa dampak negative. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Fokus penelitian pada eksplorasi persepsi, pandangan, serta pengalaman generasi Z tentang pernikahan, dengan menekankan pada aspek psikologis, sosial, dan ekonomi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis fenomena marriage is scary dan menilai implikasinya terhadap pemeliharaan lima prinsip dasar (al-daruriyyat al khams). Hasil penelitian menggambarkan bahwa fenomena marriage is scary pada generasi Z UIN Raden Intan Lampung terjadi karena disebabkan beberapa hal, yaitu faktor struktural (ekonomi dan sosial) dan faktor kultural (pemahaman agama dan pengaruh media). Meskipun terdapat ketakutan, mereka tetap ingin melangsungkan pernikahan meski tidak dalam waktu dekat. Tren marriage is scary dipandang tidak bertentangan dengan syariat selama tidak berimplikasi pada keengganan seseorang untuk melangsungkan pernikahan dan tidak berakibat terjerumusnya seseorang pada perzinahan. Tren tersebut menyalahi syariat apabila berakibat pada penurunan angka pernikahan dan bergejolaknya pergaulan bebas, karena pernikahan merupakan institusi penting untuk menjaga tujuan utama syariat (Maqashid Al Syariah).