Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Development and Validation of Zerumbone Analysis Method Using Ultraviolet-Visible Spectrophotometry Doloking, Haeria; Muhlisuddin, Muhlisuddin; Maddeppungeng, Nurul Muhlisah
Molekul Vol 20 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jm.2025.20.3.15690

Abstract

ABSTRACT. Analytical method development ensures that an analytical procedure is suitable for the identification and quantification of compounds of interest. This study aimed to develop and validate a simple, cost-effective analytical method for the determination of zerumbone using UV-Vis spectrophotometry. Method validation was conducted according to ICH Q2(R2) guidelines, including tests for specificity, linearity, limit of detection (LOD), limit of quantification (LOQ), accuracy, and precision. Zerumbone exhibited a maximum absorption wavelength (λmax) of 212 nm when dissolved in dimethyl sulfoxide (DMSO). The method demonstrated excellent linearity with a determination coefficient (R2) of 0.9991 across a concentration range of 10-50 μg/mL. Accuracy, evaluated via recovery studies, ranged from 91,00% to 110,45%. Precision testing results in a % RSD of 0.58%. The calculated LOD and LOQ were 1.55 μg/mL and 4.70 μg/mL, respectively. This validated method is simple, rapid, and economical, making it a promising alternative for zerumbone analysis in quality control laboratories. Keywords: Zerumbone, Method Development, UV-Vis Spectrophotometry, Validation, ICH Guidelines.
FILSAFAT ILMU DALAM ILMU KEFARMASIAN: FONDASI EPISTEMIK, METODOLOGIS, DAN IMPLIKASI PENGEMBANGAN SAINS-PROFESI FARMASI Doloking, Haeria
Jurnal Farmasi UIN Alauddin Makassar Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Farmasi Edisi Desember
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Perkembangan ilmu kefarmasian menunjukkan transformasi yang semakin kompleks, menghubungkan kimia, biologi, teknologi, dan praktik klinis dalam satu disiplin interdisipliner Tujuan: Artikel tinjauan ini mengkaji landasan filosofis ilmu kefarmasian dengan mengintegrasikan perspektif ontologis, epistemologis, dan aksiologis guna memperkuat identitas farmasi sebagai disiplin ilmu interdisipliner. Secara ontologis, ilmu kefarmasian mencakup realitas berlapis yang meliputi obat sebagai entitas fisikokimia, tubuh manusia sebagai sistem biologis adaptif yang kompleks, serta interaksi obat–organisme dalam konteks terapeutik. Dimensi epistemologis menyoroti pluralisme metode—eksperimental, klinis, observasional, dan komputasional—serta membahas tantangan kontemporer seperti kesenjangan translasi (translational gap), keterbatasan bukti ilmiah, dan opasitas epistemik dalam penemuan obat berbasis kecerdasan buatan. Dimensi aksiologis menekankan tanggung jawab etis dalam penelitian dan praktik kefarmasian, termasuk keselamatan pasien, integritas profesional, jaminan kehalalan, serta keberlanjutan melalui penerapan prinsip green pharmacy. Metode: Pencarian literatur terstruktur pada rentang tahun 2000–2025 memperoleh 25 sumber utama dari basis data internasional yang kemudian disintesis menggunakan pendekatan naratif-kritis. Tinjauan ini mengusulkan suatu kerangka konseptual integratif untuk memandu penelitian, pendidikan, dan pengembangan profesional di bidang farmasi. Hasil: Artikel ini berargumen bahwa landasan filosofis merupakan elemen esensial dalam menavigasi kompleksitas ilmiah, mendukung inovasi yang bertanggung jawab, serta memposisikan farmasi dalam kerangka sosial dan etika, khususnya dalam konteks Indonesia. Kesimpulan: Sintesis ketiga dimensi tersebut menunjukkan bahwa identitas ilmu kefarmasian modern dibentuk oleh kombinasi antara pemahaman filosofis yang mendalam, metodologi ilmiah yang adaptif, dan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan Kata kunci: Ilmu kefarmasian, ontologi, epistemologi, aksiologi, interdisipliner
The Determination of Tartrazine and Sodium Benzoate Levels in Several Jelly Brands in Jeneponto Regency Using UV-Vis Spectrophotometry Dhuha, Nur Syamsi; Doloking, Haeria; Khaerani; Leboe, Dwi Wayuni; Ismail, isriany
Jurnal Farmasi UIN Alauddin Makassar Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Farmasi Edisi Desember
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Jajanan jelly merupakan produk pangan yang banyak dikonsumsi oleh anak-anak dan umumnya mengandung bahan tambahan pangan berupa pewarna sintetis dan pengawet. Tartrazin sebagai pewarna kuning sintetis serta natrium benzoat sebagai pengawet sering digunakan untuk meningkatkan daya tarik dan memperpanjang masa simpan produk. Namun, penggunaan yang melebihi batas maksimum dapat menimbulkan risiko kesehatan. Tujuan: Menentukan kadar tartrazin dan natrium benzoat pada beberapa merek jajanan jelly yang dijual di Pasar Tradisional Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Metode: (1) Produk jelly memiliki komposisi tartrazin dan natrium benzoat, (2) beredar aktif di Pasar Bontoramba, dan (3) berasal dari produsen berbeda. Tartrazin dan natrium benzoat diekstraksi menggunakan teknik ekstraksi cair-cair, kemudian diukur secara kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Konsentrasi masing-masing analit dihitung berdasarkan kurva kalibrasi. Hasil: Kadar tartrazin diperoleh mulai dari di bawah batas deteksi hingga 1,08 mg/L, sedangkan kadar natrium benzoat berada pada kisaran 0,89–2,39 mg/L. Seluruh sampel menunjukkan kadar yang masih berada dalam batas aman menurut regulasi BPOM (300 mg/kg untuk tartrazin dan 600 mg/kg untuk natrium benzoat). Kesimpulan: Kadar tartrazin dan natrium benzoat pada seluruh sampel jajanan jelly yang dianalisis masih berada jauh di bawah batas maksimum penggunaan bahan tambahan pangan, sehingga dinyatakan aman dikonsumsi berdasarkan dua parameter tersebut. Pemantauan rutin tetap diperlukan untuk memastikan kepatuhan produsen terhadap standar keamanan pangan.  Kata Kunci: Tartrazin, Natrium Benzoat, Jelly, Spektrofotometri UV-Vis, Bahan Tambahan Pangan, Keamanan Pangan.