Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengaruh Formulasi Cendawan Entomopatogen Metharizium anisopliae(Metchnikoff) Sorokin dan Beauveria bassiana(Bals.-Criv.) Vuill terhadap Pertumbuhan dan Daya Tahan Hama Penyakit pada Bibit Kelapa Sawit (Pre nursery) Gunawan, Juan Felix; Rahayuwati, Sat; Pratomo, Bayu; Afrianti, Suratni
Agroprimatech Vol. 8 No. 2 (2024): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/agroprimatech.v8i2.5409

Abstract

Entomopathogenic fungi are fungi that can cause death to insect pests. Some reports state that entomopathogenic fungi are endophytic or can grow in plant tissue and are positive for plant growth and produce phenol substances that insects do not like. The study aims to determine whether the formulation of entomopathogenic fungi Metharizium anisopliae (Metchnikoff) Sorokin and Beauveria bassiana (Bals.-Criv.) Vuill given to pre-nursery oil palm seedlings can help increase growth and resistance to pests and plant diseases. The study used factorial RAK with 3 replications and 2 factors, namely M. anisopliae fungus (M) with 4 levels: M0 = 0 g (control), M1 = 5g, M2 = 10g, and M3 = 40g, and B. bassiana fungus (B) with 4 levels namely: B0 = 0g (control), B1 = 5g, B2 = 10g, and B3 = 40g. The research resultsshowed that sprouts could grow into seedlings well, with an average third leaves appearing at week 12 after planting. The results of ANOVA analysis showed that the treatment factor of M. anisopliae and B. bassiana fungus gave an effect that was not significantly different on the parameters of the number of leaves, plant height, stem diameter, leaf length, number of leaf spots, leaf spot area, number of insect bites, insect bite area, plant length, crown wet weight, crown dry weight, root wet weight, root dry weight and root crown ratio. In other words, adding various doses of mixed formulation of M. anisopliae and B. bassiana did not provide a response to trigger plant growth and prevent the undesirable effects of insects. There are suggested that the two fungi are already in the oil palm seedling tissue as endophytes but until the 12th week, they have not shown any effect as a growth promotor or preventive effect the seddling tissue not liked by insects.
Analysis Of Biomass Of Mucuna Bracteata DC Due To The Provision Of Coffee Skin Waste As An Alternative Fertilizer Tarigan, Andry Admaja; Perangin-angin, Hagai Jorenta; Afrianti, Suratni; Sulastri, Yustina Sri; Sihaloho, Martha Adiwaty; Pratomo, Bayu
Agroprimatech Vol. 9 No. 1 (2025): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/agroprimatech.v9i1.6504

Abstract

Biomass Analysis of Mucuna bracteata DC Due to the Application of Coffee Husk Waste as an Organic Nutrient Source. Mucuna bracteata DC is a cover crop that plays a crucial role in soil conservation and soil fertility improvement. This study aims to analyze the effect of liquid organic fertilizer (LOF) derived from coffee husk waste on the biomass growth of Mucuna bracteata DC, particularly in terms of fresh shoot weight, fresh root weight, dry shoot weight, and dry root weight. The research was conducted at Jalan Kuali No. 50, Medan Petisah District. The experiment was designed using a Completely Randomized Block Design (CRBD) with a single-factor treatment consisting of seven LOF dosage levels: K0 (no treatment), K1 (5 mL/polybag), K2 (10 mL/polybag), K3 (15 mL/polybag), K4 (20 mL/polybag), K5 (25 mL/polybag), and K6 (30 mL/polybag), with four replications, totaling 28 experimental plots. The results showed that the application of coffee husk LOF significantly affected the biomass growth of Mucuna bracteata DC. The highest fresh shoot weight (9.51 g) and dry shoot weight (2.14 g) were recorded in treatment K6 (30 mL/polybag), whereas the highest fresh root weight (2.29 g) and dry root weight (0.32 g) were observed in treatment K5 (25 mL/polybag). Higher LOF doses generally increase plant biomass up to an optimal threshold, beyond which nutrient absorption efficiency by roots declines. Overall, the optimal LOF dosage for maximizing biomass growth in Mucuna bracteata DC ranges between 25–30 mL/polybag. The use of coffee husk waste as an organic nutrient source presents a sustainable alternative for improving plant productivity while reducing dependency on synthetic fertilizers.
Mutu Papan Partikel dari Campuran Batang dan Cangkang Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq) dengan Penggunaan Resin Davidson Silalahi, Calvin; R. Sitinjak, Rama; Pratomo, Bayu
Jurnal Indonesia Sosial Teknologi Vol. 2 No. 07 (2021): Jurnal Indonesia Sosial Teknologi
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3653.909 KB) | DOI: 10.59141/jist.v2i07.196

Abstract

Saat ini kebutuhan bahan papan terus mengalami peningkatan biasanya bahan papan ini merupakan bahan yang diperoleh dari hutan. Salah satu Tujuan yang dilakukan adalah dengan menggantikan kayu dengan material lain seperti papan partikel untuk memenuhi kebutuhan kayu pada bidang perumahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkang dan batang kelapa sawit dan resin. Cangkang dan batang yang telah dihaluskan dicampur dalam wadah dan diaduk sesuai Komposisi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh kecuali pada daya serap air dan modulus of elasticity pada komposisi papan partikel. Pada pengukuran sifat fisis dan mekanis didapatkan papan dengan kualitas terbaik pada komposisi 90%:10% dengan nilai kerapatan sebesar 1,10 g/cm³, nilai kadar air 1,01%, nilai pengembangan tebal terbaik sebesar 0,56%, nilai MOE terbaik sebesar 30,515 kg/cm² pada komposisi 90%:10%, dan nilai MOR sebesar 236,99 kg/cm². Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian sifat fisis dan mekanis papan partikel telah memenuhi standard SNI 03 - 2105-2006.
Pengaruh Tingkat Kematangan Pupuk Organik Cair (POC) Kulit Semangka (Citrullus Vulgaris Schard.) Terhadap Pembibitan Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis jacq.) di pre nursery Christina, Chyntia; R Sitinjak, Rama; Pratomo, Bayu
Jurnal Indonesia Sosial Teknologi Vol. 2 No. 07 (2021): Jurnal Indonesia Sosial Teknologi
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3435.107 KB) | DOI: 10.59141/jist.v2i07.197

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi terbaik dari pemberian POC kulit semangka (Citrullus vulgaris Schard.) terhadap pembibitan kelapa sawit, mengetahui tingkat kematangan terbaik POC kulit semangka (Citrullus vulgaris Schard.) yang optimal untuk pertumbuhan bibit kelapa sawit, dan mengetahui pengaruh interaksi antara pemberian POC kulit semangka dengan tingkat kematangan POC kulit semangka (Citrullus vulgaris Schard.) terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit. Penelitian ini dilaksanakan di area Pertanaman Masyarakat di Martubung. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 Faktorial. Faktor I adalah tingkat kematangan POC kulit semangka dengan 3 taraf yaitu : T0 = 0 hari, T1 = 2 minggu, dan T2 = 4 minggu. Faktor II adalah konsentrasi POC kulit semangka dengan 4 taraf yaitu : K1 = 5%, K2 = 10%, K3 = 20%, dan K4 = 40%. Data hasil pengamatan dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA). Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa tingkat kematangan, konsentrasi, dan interaksi POC kulit semangka tidak berpengaruh positif terhadap tinggi bibit, namun POC kulit semangka dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi bibit kelapa sawit di pre nursery dan pertumbuhan tinggi bibit yang terbaik ada pada perlakuan T2K3 (dengan tingkat kematangan POC kulit semangka umur 4 minggu dan dosis POC kulit semangka 20%) dengan rataan 20,61 cm. Tingkat kematangan, konsentrasi, dan interaksi POC kulit semangka juga tidak berpengaruh positif terhadap diameter batang, namun POC kulit semangka dapat meningkatkan ukuran diameter batang bibit kelapa sawit di pre nursery dan diameter batang yang terbaik ada pada perlakuan T0K1 (dengan tingkat kematangan POC kulit semangka 0 hari dan dosis POC kulit semangka 5%) dengan rataan 6,54 cm. Tingkat kematangan, konsentrasi, dan interaksi POC kulit semangka juga tidak berpengaruh positif terhadap jumlah daun, namun POC kulit semangka dapat meningkatkan jumlah daun bibit kelapa sawit di pre nursery dan pertumbuhan jumlah daun yang terbaik ada pada perlakuan T0K1 (dengan tingkat kematangan POC kulit semangka 0 hari dan dosis POC kulit semangka 5%) dengan rataan 2,78 cm.