Palawi, Ari
Unknown Affiliation

Published : 29 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

PERKEMBANGAN SENI RAPAI BUBEE DI KABUPATEN PIDIE JAYA Rosya, Fatma; Palawi, Ari; Zuriana, Cut
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 5, No 3 (2020): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v5i3.22551

Abstract

ABSTRAKPenelitian dengan judul perkembangan seni Rapai Bubee di Pidie Jaya mengangkat masalah bagaimana perkembangan seni Rapai Bubee di Pidie Jaya dan cara melestarikannya. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan perkembangan seni Rapai Bubee dan cara melestarikannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Narasumber dalam penelitian ini seniman sekaligus Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) yaitu Syeh Husni. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan seni Rapai Bubee berdasarkan lima generasi dan perkembangannya dapat dilihat dari bentuk penyajian serta kendala-kendala yang ada seiring perkembangan seni Rapai Bubee tersebut. Cara melestarikan seni Rapai Bubee dapat dilakukan oleh faktor masyarakat dan pemerintah. Masyarakat harus melestarikan seni Rapai Bubee secara turun-temurun kepada generasi berikutnya. Sedangkan pemerintah harus mengapresiasikan seni Rapai Bubee dengan cara mendorong, membina serta mengalokasikan anggaran untuk sarana dan prasarana pertunjukan seni agar seni Rapai Bubee dapat berkembang dan dikenal oleh masyarakat luas.Kata Kunci: Perkembangan, Seni Rapai Bubee, Pelestarian
TATA TEKNIK SUARA MUSIK GARAPAN ETNIK DALAM SEREMONIAL PEMBUKAAN PKA 7 Oskandar, Dahri; Palawi, Ari; Nurlaili, Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 4, No 3 (2019): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v4i3.15289

Abstract

Penelitian ini berjudul Tata Suara Musik Garapan Etnik dalam Seremonial Pembukaan PKA 7 mengangkat masalah Bagaimanakah teknik tata suara musik garapan teknik dalam seremonial pembukaan PKA 7 . Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan teknik tata suara musik garapan teknik dalam seremonial pembukaan PKA 7. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian adalah penata musik pekan kebudayaan Aceh ke 7 2018, sound enginer/sound man fam studio, orang yang dituakan di Aceh. Pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan mereduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) adalah sebuah acara yang dilakukan 4 tahun sekali. Pekan kebudayaan Aceh ini dilakukan untuk memperkenalkan ke anekaragaman budaya dan tradisi Aceh ke seluruh masyarakat Aceh. Di dalam pembukaan PKA ke 7 2018 terdapat sebuah penampilan yaitu gabungan musik tradisi Aceh yang dikolaborasikan dengan musik kreasi dan menjadi sebuah penampilan yang ditampilkan pada saat seremonial pembukaan PKA yang ke 7. Untuk menyukseskan acara dan agar informasi suara bisa terdengar oleh banyak orang, maka dibutuhkan pengeras suara berupa sound system begitu juga dalam musik garapan etnik PKA. Dalam beberapa perangkat yang harus diperhatikan guna menghasilkan suara dan kualitas maksimal.Kata Kunci: tata suara, musik garapan etnik, PKA 7
PERKEMBANGAN SENI PERTUNJUKAN KUDA KEPANG DI SANGGAR SETIA BUDAYA DESA BLANG PAKU KECAMATAN WIH PESAM KABUPATEN BENER MERIAH TAHUN 2012-2018 Viliani, Devi; Palawi, Ari; Ismawan, Ismawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 4, No 3 (2019): AGUSTUS
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v4i3.15290

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana Perkembangan Seni Pertunjukan Kuda Kepang di Sanggar Setia Budaya Desa Blang Paku Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener Meriah Tahun 2012-2018. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan bagaimana perkembangan seni pertunjukan Kuda Kepang di Sanggar Setia Budaya Desa Blang Paku Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener Meriah dari Tahun 2012-2018. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu pendekatan Kulitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini adalah Ketua sanggar Setia Budaya, Gamboh (Pawang), serta anggota Penari yang mengerti tentang perkembangan seni pertunjukan Kuda Kepang. Sedangkan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah perkembangan seni pertunjukan Kuda Kepang tahun 2012-2018. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi dengan menggunakan teknik analisis data; mereduksi data, penyajian data dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa adanya perkembangan pada seni pertunjukan Kuda Kepang dari tahun 2012-2018 secara bertahap seperti iringan musik yang semakin lengkap, Gending tarian, Gending atraksi, kostum yang di pakai lebih seragam, tata rias lebih modern, serta pada unsur magic yang lebih ramah terhadap masyarakat tidak seekstrim pada tahun 2012. Dan adanya faktor-faktor yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan kesenian Kuda Kepang seperti: Interaksi sosial budaya, adanya kontak dengan kebudayaan lain dan arus teknologi informasi.Kata Kunci: perkembangan, seni pertunjukan, Kuda Kepang
KAJIAN KOREOGRAFI TARI KREASI PANEN LAWANG DI SANGGAR DANCE KILOMETER NOL KOTA SABANG Syahdanir, Yulia; Palawi, Ari; Supadmi, Tengku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v4i2.13148

Abstract

Penelitian yang berjudul Kajian Koreografi Tari Kreasi Panen Lawang di sanggar Dance Kilometer Nol Kota Sabang Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana koreografi tari kreasi Panen Lawang di sanggar Dance Kilometer Nol, Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan koreografi tari kreasi Panen Lawang di sanggar Dance Kilometer Nol. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini adalah koreografer atau pencipta tari Panen Lawang, yang menjadi objek penelitian yaitu koreografi tari Panen Lawang. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai hal yang diteliti, wawancara untuk menggali keterangan yang lebih mendalam, dan dokumentasi yang dilakukan dengan cara mengumpulkan gambar-gambar untuk membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. Teknik analisis data yang dilakukan dengan reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan verifikasi data (conclusion drawing). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Panen Lawang adalah tari kreasi baru yang diciptakan oleh M. Deni Gunawan, gerak pada tari Panen Lawang ini merupakan gerak pada kebiasaan masyarakat dalam aktivitas memanen cengkeh, pada awal penciptaan tari Panen Lawang koreografer terlebih dahulu menentukan tema dasar sebelum melakukan proses penggarapan sehingga terciptalah sebuah karya yang baik. Sebuah karya tari yang diciptakan harus melalui beberapa tahap yang dimulai dari tahap eksplorasi gerak/pencarian gerak, improvisasi dan komposisi tari yang akan digarap. Tari Panen Lawang memiliki pola lantai pada setiap pertunjukkannya, iringan musik pada tari Panen Lawang sangat berperan penting sebagai musik pengiring dan penuntun gerak lainnya. Tata busana tari Panen Lawang disesuaikan dengan tema tari, dalam hal ini koreografer menggunakan baju yang telah dikreasikan dengan nuansa coklat seperti cengkeh itu sendiri. Tata rias tari Panen Lawang sendiri merupakan rias cantik namun tetap sederhana, sehingga sesuai dengan tema dan karakter seorang petani cengkeh.Kata Kunci: tari Panen Lawang, kajian koreografi
TANTANGAN POPULARITAS MUSIK ACEH DALAM INDUSTRI MUSIK NASIONAL Iswanda, Odi; Palawi, Ari; Lindawati, Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v4i2.13144

Abstract

Penelitian ini berjudul Tantangan Popularitas Musik Aceh dalam Industri Musik Nasional. Penelitian ini mengangkat masalah tentang apa saja hambatan musik populer Aceh menuju industri musik nasional, bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja hambatan musik populer Aceh menuju industri musik nasional. Pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah pemilik dan produser Kasga Record, produser IMM Production, band-band terkenal di Aceh dan seniman-seniman Aceh. Penelitian ini dilakukan di Banda Aceh. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa musik industri pertama kali berkembang di Aceh yaitu pada tahun 80-an yaitu dimana pada era itu Abu Bakar AR mengeluarkan album Jen Jen Jok setelah album itu beredar dan diterima di pasar Aceh, selanjutnya lahirlah musik-musik sejenis yang diindustrikan. Namun pada era (90-an) mulai masuklah musik etnis kolaborasi moderan yang mana musik Aceh ini memperkuat tradisi sehingga masyarakat juga tidak kehilangan musik tradisi. Kemudian masuk kembali musik moderen, namun tidak meninggalkan musik tradisi. Banyak band yang beraliran moderen namun banyak juga band etnis kolaborasi moderen. Band-band/musisi setelah terkenal di daerah, mereka pun ingin lebih populer dan ingin beranjak menuju nasional. Kebdala-kendala dan hambatan-hambatan menuju kesuksesan pun harus mereka lalui dan mereka jalani, untuk menjadi sukses harus mempunyai kualitas yang terbaik dan mempunyai karakter musik yang kuat sehingga tidak kalah bagus dibandingkan band-band ternama Indonesia. Kualitas musik mereka pun harus ditingkatkan sehingga lebel-lebel ternama nasional tertarik. Terdapat 2 tahapan kendala yang harus dilalui yaitu 1) Hambatan non musikal yaitu hambatan kerja sama, hambatan dalam bidang produksi, hambatan dalam bidang persaingan, hambatan dalam bidang artistik dan hambatan dalam bidang fasilitas. 2) Hambatan musikal dimana menunjukan kualitas dan kuantitas yang musik telah diciptakan.Kata kunci: tantangan, popularitas musik Aceh, industri musik
BENTUK SENI PERTUNJUKAN WAYANG KULIT DI SANGGAR LESTARI BUDAYA KABUPATEN BENER MERIAH Aulia, Lilik Safriana; Palawi, Ari; Supadmi, Tri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v4i2.13142

Abstract

Penelitian yang berjudul Bentuk Seni Pertunjukan Wayang Kulit di Sanggar Lestari Budaya Kabupaten Bener Meriah ini mengangkat masalah bagaimana bentuk pertunjukan wayang kulit. Disanggar Setia Budaya Kabuten Bener Meriah pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif , dan jenes penelitiannya diskriptif, lokasi penelitian ini Disanggar Setia Budaya Kabuten Bener Meriah, dan penelitian ini yang menjadi informan yaitu Tupardi sebagai ketua sanggar Setia Budaya, Ujang sebagai wiyogo (pemusik) dalam pertunjukan wayang kulit , Sukinem selaku sindhen. Teknik penggumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi, penyajian data dan verifikasi. Hasil penelitian seni pertunjukan wayang kulit di sanggar lestari budaya, disajikan dalam beberapa acara adat seperti acara pernikahan, acara sunat rasul, memperingati hari-hari besar yaitu malam satu suro, malam syawal dan hari ulang tahun desa. Bentuk penyajian seni wayang kulit memilih unsur pendukung: pemusik, alat musik, kostum dan rias, lagu yang digunakan dalam seni pertunjukan wayang kulit yaitu: gendang, gong, kempul, Bonang, ktuk knong, saron penembung, saron barung, saron penerus, saron panacah, gambang kayu, pking, gender, slenthem, busana yang digunakan oleh wiyogo (pemusik). Busana yang digunakan oleh dalang terdiri dari Blangkon, Baju jas berwarna hitam, kain sarung yang sudah dibuat menjadi rok agar mudah digunakan, kain panjang yang diikat di pinggang setelah memakai sarung, sedangkan busana yang digunakan oleh para pemusik adalah baju persatuan sanggar Lestari Budaya, dan blangkon. Sedangkan sindhen menggunakan pakaian biasa tanpa menggunakan kebaya, tatarias yang digunakan sangat sederhana. Musik yang digunakan adalah musik karawitan.Kata kunci: bentuk, seni pertunjukan, Wayang Kulit
ANALISIS STRUKTUR GERAK SEUDATI DI ACEH Fahreza, Iqbal; Supadmi, Tri; Palawi, Ari
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 4, No 2 (2019): MEI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v4i2.13140

Abstract

Penelitian ini berjudul Analisis Struktur Gerak Seudati Aceh. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana struktur gerak tari Seudati di Aceh. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripiskan bagaimana struktur gerak tari Seudati Aceh. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dan jenis penelitian deskriptif dengan Teknik pengumpulan data yaitu melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah syeh dan penari Seudati di Aceh, sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah tari Seudati. Teknik analisis data yaitu mereduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukan bahwa struktur gerak tari Seudati dapat ditinjau dari dua aspek yaitu tari Seudati berdasarkan unsur sikap dan unsur meliputi gerak kepala, gerak badan, gerak tangan dan gerak kaki dan tari Seudati berdasarkan unsur gerak meliputi motif gerak, frase gerak, kalimat gerak dan gugus gerak. Tari Seudati terdiri dari delapan babak yaitu babak saleum syahi, babak saleum rakan, babak bak saman, babak likok, babak saman, babak kisah, cahi panyang, dan babak lani atau ekstra. Sedangkan tata hubungan yang terdapat di dalamnya yaitu tata hubungan Hierarkis Gramatikal dimana di dalamnya terdapat tata hubungan Sintagmatis dan Tata Hubungan Paradigmatis.Kata Kunci: tata hubungan, tari Seudati, analisis struktur.
GARAPAN ILUSTRASI MUSIKAL PERTUNJUKAN TONEL DALAM LAKON NOSOH GADONG KARYA M. ABBAS Sandika, Edi; Palawi, Ari; Nurlaili, Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v4i1.13131

Abstract

Penelitian ini mengangkat masalah tentang bagaimana proses penggarapan musik, komposisi musik, dan alat musik yang digunakan dalam pertunjukan Tonel Nosoh Gadong karya M. Abbas. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan tentang proses penggarapan musik, komposisi musik, dan alat musik yang digunakan dalam pertunjukan tersebut. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Data penelitian bersumber dari wawancara dan observasi langsung ke lapangan. Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah penulis, pemeran dan penggarap musik dalam Tonel Nosoh Gadong karya M. Abbas, sedangkan objek dalam penelitian adalah garapan ilustrasi musik dalam pertunjukan tersebut. Berdasarkan analisis data temuan penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, proses penggarapan musik dalam pertunjukan Tonel Nosoh Gadong karya M. Abbas berjalan dengan lancar. Baik pemusik dan pemain Tonel, masing-masing telah mampu menyesuaikan diri sehingga pertunjukan menjadi selaras dan menarik. Kedua, komposisi musik dalam pertunjukan Tonel Nosoh Gadong karya M. Abbas ini terbagi ke dalam tiga yaitu musik pembuka, musik peralihan adegan, dan musik penutup. Adapun alat musik yang digunakan terdiri dari dua, yakni alat musik tradisional seperti suling, canang, teganing, gegedem, dan tepukan didong; dan alat musik modern seperti gitar, bass, drum, dan keyboard. Garapan musik dalam pertunjukan Tonel Nosoh Gadong karya M. Abbas sudah memenuhi standar. Selain itu, pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama untuk melestarikan dan memajukan pertunjukan tradisional tersebut agar lebih baik dan tidak terlupakan.Kata kunci: garapan musikal, Tonel, Nosoh Gadong.
PEMBELAJARAN ALAT MUSIK ANGKLUNG PADA SISWA TUNARUNGU DI SMPLB KOTA LANGSA Melina, Nurfi; Palawi, Ari; Nurlaili, Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v4i1.13132

Abstract

Penelitian yang berjudul Pembelajaran Alat Musik Angklung pada Siswa Tunarungu di SMPLB Kota Langsa mengangkat masalah bagaimanakah pembelajaran alat musik angklung pada siswa tunarungu di SMPLB Kota Langsa, dan kendala apa saja yang dialami oleh guru dan siswa dalam pembelajaran alat musik angklung pada siswa tunarungu di SMPLB Kota langsa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrispsikan pembelajaran alat musik angklung pada siswa tunarungu di SMPLB Kota Langsa dan mendeskripsikan kendala apa saja yang dialami oleh guru dan siswa/siswi dalam pembelajaran alat musik angklung pada siswa tunarungu di SMPLB Kota Langsa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa dan guru di SMPLB Kota Langsa. Objek dalam penelitian ini adalah pembelajaran alat musik angklung pada siswa tunarungu di SMPLB Kota Langsa. Teknik pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumetasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan pendekatan induktif yang meliputi 3 langkah, yaitu: Reduksi data, Penyajian data dan Penarikan kesimpulan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa proses pembelajaran alat musik angklung pada siswa tunarungu terdiri dari 5 tahap, yaitu: Pengenalan struktur orgonologi angklung, teknik dasar Angklung, dan pengenalan lagu, pengenalan notasi angka, memainkan alat musik angklung. Kendala yang didapat adalah peserta didik yang tidak konsentrasi dan serius dalam proses pembelajaran, dan juga dalam segi metode pembelajaran sulit diterapkan secara optimal disebabkan oleh kondisi peserta didik.Kata Kunci: pembelajaran alat musik angklung, tunarungu.
KERAJINAN GERABAH DI DESA ATEUK JAWO KECAMATAN BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH Safda, Deslima; Ismawan, Ismawan; Palawi, Ari
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sendratasik Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Program Studi Pendidkan Seni Drama, Tari dan Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sendratasik.v4i1.13130

Abstract

Penelitian berjudul Upaya Pengrajin Gerabah dalam Mempertahankan Eksistensi Kerajinan di Gampong Ateuk Jawo kecamatan Baiturrahman kota Banda Aceh, ini mengangkat masalah bagaimana upaya pengrajin gerabah dalam mempertahankan eksistensi dilihat dari proses, bahan bakunya, teknik pembuatan, alat yang digunakan serta bentuk yang dihasilkan serta apa saja kendala yang dihadapi pengrajin gerabah dalam mempertahankan eksistensi kerajinannya di Gampong Ateuk Jawo, Banda Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi dan proses pembuatan Gerabah di desa Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh serta mendeskripsikan apa saja kendala yang dihadapi pengrajin gerabah dalam mempertahankan eksistensi kerajinannya di desa Ateuk Jawo. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi non-partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan, yaitu mereduksi data, menyajikan (display) dan verivikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa beberapa masyarakat masih ada yang memproduksikan kerajinan Gerabah, kerajinan yang dihasilkan berbentuk periuk nasi (kanot bu), belanga (beulangong), piring nasi (pinee), asbak rokok dan cobek (capah) sehingga Gerabah di Ateuk Jawo masih exist. Proses pembuatan kerajinan Gerabah di desa Ateuk Jawo melalui beberapa langkah yaitu: pengolahan tanah, pembentukan Gerabah, pengeringan Gerabah, dan proses pembakaran. Upaya yang dilakukan oleh pengrajin Gerabah di desa Ateuk Jawo dalam mempertahankan eksistensi kerajinannya adalah berbentuk pemasaran secara rutin yang dilakukan oleh masyarakat setempat dan proses pembuatan gerabah masih menggunakan cara tradisional. Kendala yang dihadapi pengrajin yaitu faktor pengrajin yang melakoni pekerjaan ini sudah semakin sedikit, dikarenakan pengrajin berasal dari ibu rumah tangga yang berusia lanjut. Kemudian bahan baku yang digunakan sulit ditemukan serta keberadaan gerabah dipengaruhi dengan adanya perkakas rumah tangga yang yang memiliki fungsi sama. Maka dari itu mereka mengadakan kerjasama dan gotong royong yang bertujuan untuk memajukan industri gerabah dan juga pariwisata yang ada di Gampong Ateuk Jawo, mereka saling memberi semangat dalam hal membuat gerabah.Kata kunci: eksistensi, kerajinan gerabah, kendala dan upaya