Sinta Murlistyarini
Departemen Dermatologi Dan Venereologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya/ Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar, Malang, Indonesia

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Effectiveness of 0.1% Retinol Serum and Astaxanthin Gel on Skin Photoaging Boedhy Setyanto; Sinta Murlistyarini; Dea Florensia
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol. 32 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2022.032.01.12

Abstract

Skin photoaging is cumulative skin damage due to chronic environmental exposure, especially ultraviolet (UV) light, which interferes with the keratinocyte and fibroblast syntheses by matrix metalloproteinases (MMP). Retinol can improve wrinkles, pigmentation, elasticity, firmness, brightness, and various signs of photoaging on the skin. Astaxanthin is a powerful antioxidant that protects the skin from UV rays, inhibits MMP, and stimulates collagen production. This case report presents 2 cases of women complaining about deep skin wrinkles, dullness, and looseness. Physical examination in the facial region revealed wrinkles when resting in the first patient and wrinkles during motion in the second patient. The first patient was diagnosed Glogau III photoaging, while the second patient was diagnosed Glogau II photoaging. Both patients received astaxanthin gel therapy and SPF 33 sunscreen cream every morning, as well as 0.1% retinol serum every night. There was an improvement after six weeks. Astaxanthin and retinol 0.1% can be used as photoaging therapy. Adequate use of photoprotection is also necessary to prevent the worsening of photoaging.
Laporan Kasus: TERAPI KOMBINASI KRIM ASAM GLIKOLAT 8% DAN PEELING ASAM GLIKOLAT 15% PADA HIPERPIGMENTASI AKSILA: SERIAL KASUS PADA 2 PASIEN Sinta Murlistyarini; Noor Hidayah
Majalah Kesehatan Vol. 9 No. 3 (2022): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.03.6

Abstract

Hiperpigmentasi aksila termasuk hiperpigmentasi pascainflamasi yang banyak terjadi pada wanita kulit gelap di daerah tropis. Modalitas terapi yang dapat digunakan salah satunya adalah peeling kimiawi menggunakan asam glikolat (glycolic acid, GA). Tujuan laporan kasus ini untuk melihat perbaikan hiperpigmentasi aksila  yang diberi terapi kombinasi krim GA 8% dan peeling GA 15%. Dilaporkan 2 pasien perempuan berusia 24 dan 23 tahun dengan keluhan kulit kedua ketiak menghitam dan kasar. Pasien pertama rutin menggunakan antiperspiran, sedangkan pasien kedua jarang. Kedua pasien sering mencukur rambut ketiaknya. Pada pasien dilakukan pemeriksaan dermatologis, didapatkan patch hiperpigmentasi, batas tidak tegas, tepi ireguler, bentuk dan ukuran bervariasi. Kedua pasien didiagnosis hiperpigmentasi aksila. Lesi difoto dan dinilai menggunakan Von Luschan’s Chromatic Scale oleh 3 orang penilai independen. Pasien diberikan terapi krim GA 8% tiap malam hari dan peeling GA 15% 2 kali dengan interval 4 minggu. Hiperpigmentasi dinilai pada minggu ke-0, minggu ke-3, dan minggu ke-8. Setelah 8 minggu didapatkan penurunan skor Von Luschan’s Chromatic Scale. Peeling GA 15% termasuk dalam peeling kimiawi superfisial. Hiperpigmentasi kulit adalah salah satu indikasi peeling kimiawi superfisial. Pada hiperpigmentasi aksila dapat diberikan peeling kimiawi GA 15%, dan untuk hasil yang lebih optimal ditambahkan perawatan harian di rumah menggunakan krim GA 8%. Pada kedua pasien, setelah diberikan terapi terjadi perbaikan klinis. Pada 2 kasus ini telah terbukti bahwa terapi kombinasi krim GA 8% dengan peeling GA 15% dapat mengurangi keluhan hiperpigmentasi pascainflamasi pada aksila.
Tinjauan Literatur: MIKROBIOM PADA KULIT DALAM PERSPEKTIF DERMATOLOGI Nurrahma Wahyu Fitriyani; Sinta Murlistyarini
Majalah Kesehatan FKUB Vol. 9 No. 2 (2022): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2022.009.02.7

Abstract

Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh manusia. Sebagai pertahanan fisik terluar, kulit bertugas untuk mencegah invasi dari berbagai patogen. Kolonisasi dari berbagai bakteri, jamur, dan virus yang disebut mikrobiom pada kulit berperan esensial dalam proteksi tubuh terhadap patogen yang menyerang, perkembangan dari sistem imun, maturasi dan homeostasis dari imunitas kulit, serta pembersihan sisa-sisa produk alami tubuh. Sebagian besar mikroba yang hidup pada kulit bersifat komensal atau mutualistik pada kondisi normal. Gangguan dan ketidakseimbangan pada komposisi normal mikrobiom, atau disbiosis, dapat menyebabkan pergeseran mikrobiota komensal pada kulit menjadi komunitas mikrobiota yang berbahaya pada penyakit kulit noninfeksi seperti dermatitis atopik, psoriasis, dan akne. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran mikrobioma secara fisiologis pada kulit serta pada beberapa penyakit kulit yang umum dijumpai, seperti dermatitis atopik, akne vulgaris, dan psoriasis. Berbagai studi telah menunjukkan adanya pengaruh perubahan komposisi mikrobiota dapat memicu munculnya penyakit kulit, merangsang eksaserbasi, dan berkontribusi pada progresivitas penyakit kulit. Meningkatnya minat pada penelitian mengenai mikrobiom pada kulit diharapkan dapat membantu para ahli dermatologi untuk lebih banyak mengembangkan alat diagnostik, meningkatkan pehamaman terhadap patogenesis penyakit kulit, serta mengembangkan berbagai modalitas terapi untuk tata laksana pasien yang lebih terpersonalisasi, bahkan dapat disesuaikan dengan karakteristik mikrobiom pada masing-masing individu. Ruang gerak pengembangan dalam hal mikrobiom pada kulit masih sangat luas dan akan memiliki implikasi yang signifikan baik dalam konteks preventif, klinis, maupun terapeutik.  
Laporan Kasus: EFEKTIVITAS KOMBINASI KRIM ASAM TRANEKSAMAT DAN TRETINOIN PADA MELASMA TIPE EPIDERMAL Sinta Murlistyarini; Vina Listy Pramita
Majalah Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2023): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2022.010.01.6

Abstract

Melasma adalah hipermelanosis tipikal di daerah wajah yang terpapar sinar ultraviolet. Gambaran klinis melasma berupa makula kecoklatan dengan tepi ireguler. Meskipun terdapat berbagai macam modalitas terapi untuk melasma, belum terdapat modalitas terapi yang terbukti superior, adanya efek samping dan tingkat rekurensi yang tinggi. Pada pengobatan melasma,  penggunaan kombinasi berbagai pendekatan dan modalitas terapi baru yang efektif serta aman diperlukan untuk mencapai hasil yang lebih baik. Asam traneksamat merupakan terapi yang relatif baru dengan mekanisme kerja sebagai penghambat plasmin, menekan angiogenesis dan sekaligus menghambat neovaskularisasi pada melasma. Tretinoin mengurangi hiperpigmentasi dengan menginduksi deskuamasi dan menurunkan aktivitas tirosinase. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kombinasi dua bahan depigmentasi topikal krim asam traneksamat 3% dan tretinoin 0,0375% pada melasma tipe epidermal. Dilaporkan kasus wanita 38 tahun dengan keluhan bercak kecoklatan pada kedua pipi dan pelipis sejak 7 tahun. Pemeriksaan lampu Wood didapatkan bercak coklat batas tegas dengan tepi kontras dibandingkan lainnya. Pasien didiagnosis melasma tipe epidermal. Pada kasus ini pengobatan melasma menggunakan kombinasi bahan depigmentasi dengan berbagai mekanisme target agar dapat memberikan hasil lebih optimal akibat efek sinergistik yang dapat meningkatkan efikasi dan penetrasi bahan aktif dari masing-masing agen. Pasien diterapi dengan kombinasi krim asam traneksamat 3% dan tretinoin 0,0375%. Selama 8 minggu perawatan, didapatkan perbaikan klinis, penurunan skor rerata mMASI dan skor DLQI serta tidak didapatkan efek samping. Terapi melasma dengan menggunakan kombinasi krim asam traneksamat 3% dan tretinoin 0,0375% diketahui efektif, aman, serta berefek pada peningkatan kualitas hidup pasien.
Terapi Asam Tranexamat dalam Bidang Dermatologi Murlistyarini, Sinta; Pratama, Lucky
Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan Vol 1 No 3 (2022): Edisi Juni
Publisher : RSUD Dr. Saiful Anwar Province of East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/jk-risk.01.3.5

Abstract

Asam Traneksamat merupakan antifibrinolitik sintetik analog lisin yang pertama kali dipatenkan pada tahun 1957. Pada awalnya asam traneksamat diindikasikan untuk digunakan dalam kondisi perdarahan abnormal atau kecenderungan perdarahan akibat hiperfibrinolisis lokal maupun sistemik. Namun saat ini penggunaannya meluas ke bidang dermatologi khususnya untuk digunakan pada urtikaria kronik dan angioedema, serta melasma. asam traneksamat bekerja dengan secara reversible memblok binding site plasmin yang menghambat aktivasi plasminogen menjadi plasmin sehingga dapat menstabilkan pembekuan darah. Asam traneksamat juga dapat mengurangi pelepasan vasoactive peptides yang dimediasi oleh plasmin seperti bradikinin dan histamin sehingga dapat membantu mengendalikan gejala urtikaria dan angioedema. Asam traneksamat memiliki peran penting pada melasma dengan cara mengurangi aktivasi plasmin pada kulit yang terpapar UV sehingga menghambat pelepasan asam arakidonat dan prostaglandin E2 yang pada akhirnya akan menghambat proses melanogenesis. Asam traneksamat telah digunakan secara oral dan topical sebagai terapi pada penyakit kulit dengan efek samping yang minimal. Namun masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui cara kerja, dosis, serta cara pemberian yang optimal untuk mengatasi keainan pada kulit.
Laporan Kasus: TERAPI INTENSE PULSE LIGHT PADA PASIEN AKNE VULGARIS DENGAN ERITEMA PASCA AKNE: DUA LAPORAN KASUS Mayasari, Ayunita; Murlistyarini, Sinta
Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 3 (2024): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.03.7

Abstract

Akne vulgaris (AV) adalah penyakit yang tidak terbatas pada kulit, namun juga mempengaruhi jiwa, karena dapat menyebabkan jaringan parut wajah, perubahan warna kulit, hingga tekanan sosial psikologis, dan emosional. Insidensi AV terbanyak pada remaja usia, namun dapat menyerang semua usia. Perubahan warna kulit seperti eritema pasca akne (EPA) disebabkan oleh adanya penyembuhan luka di struktur mikrovaskuler superfisial dermis. Terapi konvensional AV dengan formulasi topikal dan oral sering kali tidak efektif serta dapat menyebabkan efek samping seperti resistensi, teratogenik dan minimnya efisiensi dalam mengatasi EPA atau eritema pasca inflamasi (EPI). Intense Pulse Light (IPL) adalah sumber cahaya intens polikromatik non-koheren dari 400-1200nm yang dapat dimodikasi oleh filter untuk memberikan iradiasi dengan panjang gelombang tertentu. IPL bekerja sebagai bakterisidal, anti-inflamasi, menekan kelenjar sebasea, dan koagulasi kapiler tertentu. Tujuan penulisan laporan kasus ini untuk mengetahui efektivitas IPL terhadap pasien AV dengan EPA. Telah dilaporkan dua kasus akne vulgaris derajat berat dan ringan dengan EPA pada wajah pasien. Kedua pasien mendapatkan terapi IPL yang diberikan selama 2 minggu sekali. Terapi IPL pada kasus ini dilakukan sebanyak tiga kali menunjukan adanya perbaikan setelah pemberian terapi pertama. Modalitas terapi ini menjadi salah satu pilihan terapi untuk perubahan warna kulit pasca akne yang berkepanjangan. Terapi IPL pada kasus ini dilakukan sebanyak tiga kali menunjukan adanya perbaikan setelah pemberian terapi pertama. Maka dapat disimpulkan bahwa modalitas terapi ini dapat menjadi salah satu pilihan terapi untuk pasien dengan adanya perubahan warna kulit pasca akne yang berkepanjangan.
Produksi personal care product berbasis atsiri untuk peningkatan kemandirian santri Sukardi; Sarosa, Aji Hendra; Nirwana, Wa Ode Cakra; Nurhadianty, Vivi; Murlistyarini, Sinta; Dewi, Luthfi Kurnia
Jurnal Inovasi Hasil Pengabdian Masyarakat (JIPEMAS) Vol 7 No 2 (2024)
Publisher : University of Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jipemas.v7i2.20887

Abstract

Pondok Pesantren Darul Muttaqin yang terletak di Kecamatan Junrejo, Kota Batu merupakan pesantren dengan misi memberikan layanan pendidikan non-profit. Sampai saat ini biaya operasional pesantren masih sangat bergantung pada donatur. Satu-satunya bidang usaha yang dimiliki oleh Pesantren Darul Muttaqin adalah usaha bengkel Abdurrahman Bin Auf (ABA) untuk mendukung operasional pesantren tetapi belum dapat menjadikan pesantren dapat mandiri secara ekonomi. Oleh karena itu, pengelola pondok pesantren Darul Muttaqin sangat ingin mengembangkan usahanya di bidang lain. Metode pelaksanaan pengabdian menggabungkan aspek pelatihan dan penelitian lapangan untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang suatu topik tertentu. Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan keterampilan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Kegiatan Doktor Mengabdi bertujuan untuk memberikan pelatihan pembuatan produk personal care berbasis minyak atsiri lokal kepada mitra dalam bentuk produk sabun dan Sampo. Pelaksanaan dilakukan dalam tiga tahap, yaitu persiapan pelaksanaan, pemberian materi dan praktik pembuatan, serta monitoring dan evaluasi. Kegiatan telah terlaksana dengan baik, hal ini ditunjukkan dengan adanya respon dari peserta pelatihan sedikit menunjukkan ketidakpuasan, yaitu sebesar 4%, dan juga kepuasan sekitar 52%.  Melalui kegiatan ini, Diharapkan ada keberlanjutan mengenai mengomersialisasikan hasil produksi dari pondok pesantren, sehingga dapat memberikan nilai tambah dalam ekonomi pondok pesantren.
Effect of adipose-derived stem cells-conditioned medium extracellular vesicles on senescent fibroblast and E2F1 expression Ayuningtyas, Vidya Hana Dwi; Prawitasari, Suci; Rofiq, Aunur; Murlistyarini, Sinta
Medical Journal of Indonesia Vol. 33 No. 3 (2024): September
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13181/mji.oa.247217

Abstract

BACKGROUND Adipose-derived stem cells (ADSCs) are well-known for their regenerative properties, especially towards senescent cells. Extracellular vesicles derived from ADSCs are believed to influence the expression level of the E2 promoter binding factor (E2F1) protein, one of the key proteins regulating the cell cycle. This study aimed to investigate the impact of extracellular vesicles from ADSC-conditioned medium (ADSC-CM) on E2F1 levels and their potential to improve aging cells. METHODS Extracellular vesicles from ADSC-CM were introduced into senescent fibroblasts through transfection. Then, the E2F1 protein levels were measured and compared between transfected and untransfected cells. A total of 18 samples were calculated based on Federer’s formulas. E2F1 protein levels were counted using a cell-based enzyme-linked immunosorbent assay. Senescence-associated beta-galactosidase staining was used to quantify the number of senescent cells in each group, and the microculture tetrazolium technique assay was used to assess cellular metabolic activity. RESULTS The number of senescent cells was lower in the transfected group compared to the untransfected group. ADSC-CM extracellular vesicles-transfected fibroblasts exhibited higher levels of E2F1 protein (0.19 [0.17] ng/ml) compared to untransfected fibroblast (0.06 [0.049] ng/ml; p = 0.048). Higher E2F1 protein levels were associated with reduced senescent fibroblasts and increased metabolic viable fibroblasts in the transfected group. CONCLUSIONS ADSC-CM extracellular vesicles positively affected senescent cells by enhancing the level of E2F1.
Terapi Asam Tranexamat dalam Bidang Dermatologi Murlistyarini, Sinta; Pratama, Lucky
Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan Vol 1 No 3 (2022): Edisi Juni
Publisher : RSUD Dr. Saiful Anwar Province of East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/jk-risk.01.3.5

Abstract

Tranexamic Acid, a synthetic lysine-analogue antifibrinolytic, was first patented in 1957. In the beginning, It is indicated for use in certain conditions with abnormal bleeding or bleeding tendencies in which local or systemic hyperfibrinolysis is considered to be involved. Recently its use has been increasing in the field of dermatology especially for use in chronic urticaria and angioedema, as well as melasma. Tranexamic acid is an inhibitor of plasmin, and it is a synthetic derivative of the amino acid lysine that reversibly blocks binding sites on the plasminogen molecule, inhibiting the plasminogen activator from converting plasminogen to plasmin thereby preventing degradation of the fibrin clot. Tranexamic acid can also reduce the release of plasmin-mediated vasoactive peptides such as bradykinin and histamine so that it can help control the symptoms of urticaria and angioedema. Tranexamic acid has an important role in melasma by reducing plasmin activation in UV-exposed skin, thereby inhibiting the release of arachidonic acid and prostaglandin E2, which in turn will inhibit the melanogenesis process. Tranexamic acid has been tried topically, orally, and intradermally in the treatment of dermatological disorder with minimal adverse effects. However, more randomized trials are needed to fully elucidate the exact mechanism of action, ideal route, frequency, and duration of administration of the drug, along with its potential to treat dermatological disorders.
TERAPI KOMBINASI BEDAH KIMIA ASAM LAKTAT DAN ASAM FITIK PADA MELASMA DENGAN FITZPATRICK'S SKIN TYPE IV Tazakka, Achmad Aidil; Murlistyarini, Sinta; Ekasari, Dhany Prafita
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 50 No 4 (2023): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v50i4.464

Abstract

Terapi baku emas melasma hingga saat ini adalah hidrokuinon. Berbagai terapi adjuvan telah dikembangkan diantaranya bedah kimia a-hydroxy acid (AHA). Terapi bedah kimia asam laktat (LA) dan asam fitik (PA) merupakan AHA yang masih jarang digunakan pada melasma. Dilaporkan dua pasien perempuan dengan keluhan bercak kecoklatan pada kedua pipi. Pemeriksaan dermatologis regio malar didapatkan makula dan patch hiperpigmentasi multipel dengan Fitzpatrick's skin type IV. Pemeriksaan lampu Wood pasien pertama dididagnosis melasma tipe epidermal dan pasien kedua melasma tipe campuran. Kedua pasien diberikan krim tretinoin 0,05% setiap malam, tabir surya SPF 45 dua kali/hari, tindakan bedah kimia kombinasi LA dan PA setiap empat minggu sebanyak empat kali. Tidak didapatkan efek samping seperti rasa terbakar, kulit kemerahan, atau rasa nyeri. Observasi secara klinis terdapat perbaikan pada lesi epidermal. Kemampuan penetrasi kombinasi LA dan PA yang dangkal menyebabkan penurunan kontras lesi epidermis pada kedua pasien. Hal ini disebabkan LA dan PA memiliki molekul besar sehingga memiliki efek pada lesi superfisial dibandingkan lesi yang lebih dalam. Kombinasi LA dan PA pada kedua pasien memiliki keamanan dan kenyamanan yang baik. Terapi bedah kimia kombinasi LA dan PA dapat menjadi pilihan terapi adjuvan melasma dengan Fitzpatrick's skin type IV.