Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PELATIHAN PENGOLAHAN STIK BUAH MANGROVE BAGI MASYARAKAT DESA PASSARE APUA KECAMATAN LANTARI JAYA KABUPATEN BOMBANA SULAWESI TENGGARA Muhaimin Hamzah; Sahindomi Bana; Haslianti; La Gandri; Herlan Hidayat; Muhammad Nur Findra
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 6 No. 4 (2022): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2022
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v6i4.18159

Abstract

The factors causing the degradation of mangroves in the Passare Apua village are low income, education, and community skills. Information from the Passare Apua Village Government revealed that 25% of the population did not have a job, so they were classified as non-productive people with minimal educational backgrounds and skills. The solution to the problems are to increase supervision, education, skills and income of local communities, for example by providing training programs on product processing made from local resources. One of the local resources that the people of Passare Apua Village have not utilized is the mangrove fruit which is still often found in the area. Mangrove fruit has been known as a resource that can be processed into food, such as mangrove sticks. This activity aims to train the community to produce processed mangrove products in the form of mangrove sticks with a high nutritional and economic value which the community can later make as an additional source of income. The method of implementing this activity consisted of two stages: counseling/delivery of materials and demonstrations and practices of processing mangrove fruit into mangrove sticks. The results of this activity indicated that the target audience had been able to process mangrove fruit into mangrove stick snacks and was interested in developing this mangrove stick as one of the new products to be marketed. --- Faktor-faktor penyebab degradasi mangrove di Desa Passare Apua adalah rendahnya pendapatan, pendidikan dan keterampilan masyarakat. Informasi yang didapatkan dari Pemerintah Desa Passare Apua diketahui 25% penduduk belum memiliki pekerjaan sehingga tergolong masyarakat non-produktif dengan latar belakang pendidikan dan keterampilan yang sangat terbatas. Solusi terhadap permasalahan tersebut adalah meningkatkan pengawasan, pendidikan, keterampilan dan pendapatan masyarakat setempat, misalnya dengan memberikan program pelatihan pengolahan produk berbahan baku sumberdaya lokal. Salah satu sumberdaya lokal yang belum dimanfatkan oleh masyarakat Desa Passare Apua adalah buah mangrove yang masih sering dijumpai di kawasan tersebut. Buah mangrove telah dikenal sebagai salah satu sumberdaya yang dapat diolah menjadi bahan pangan, seperti stik mangrove. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih masyarakat menghasilkan produk olahan mangrove berupa stik mangrove yang bernilai gizi dan ekonomis tinggi yang nantinya dapat diproduksi oleh masyarakat sebagai sumber pendapatan tambahan. Metode pelaksanaan kegiatan ini terdiri dari dua tahap, yaitu penyuluhan/penyampaian materi dan demonstrasi serta praktek pengolahan buah mangrove menjadi stik mangrove. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa Khalayak sasaran telah mampu mengolah buah mangrove menjadi cemilan stik mangrove dan berminat untuk mengembangkan stik mangrove ini sebagai salah satu produk baru yang akan dipasarkan.
RENOVASI ALAT SERO UNTUK MENGATASI KELANGKAAN PAKAN PADA BUDIDAYA LOBSTER LAUT DI DESA TAPULAGA KABUPATEN KONAWE Wellem Hendrik Muskita; Agus Kurnia; Rahmad Sofyan Patadjai; La Ode Baytul Abidin; Laode Muhamad Hazairin Nadia; Asriyana Asriyana; Muhaimin Hamzah; Hasnia Arami; Muslim Tadjudah; Abdullah Abdullah
Jurnal Abdi Insani Vol 9 No 4 (2022): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v9i4.814

Abstract

Kegiatan budidaya lobster yang dilakukan oleh nelayan di Desa Tapulaga masih menghadapi kendala utama yakni kelangkaan pakan segar ikan rucah utamanya pada musim angin barat. Kondisi ini sangat menyulitkan untuk penyediaan pakan segar untuk diberikan ke lobster peliharaan nelayan. Oleh karena itu para nelayan mengandalkan hasil tangkapan ikan dari sero sebagai sumber pakan budidaya lobster. Namun dari hasil pemantauan kami di lokasi Desa Tapulaga menunjukkan bahwa alat tangkap sero di desa tersebut sudah banyak yang rusak. Tujuan pengabdian ini adalah membantu nelayan dalam perbaikan alat tangkap sero sehingga hasil tangkapan ikan yang dapat diberikan langsung dan kondisinya segar ke lobster meningkat. Metode kegiatan meliput pengamatan langsung tingkat kerusakan sero di Desa Tapulaga. Kemudian penyuluhan, penentuan waktu renovasi dan kegiatan renovasi sero. Selanjutnya adalah evaluasi perbaikan alat sero melalui jumlah hasil tangkapan ikan. Program kegiatan yang dilakukan mendapat respon yang positif yang ditunjukkan dengan antusiasme dan partisipasi masyarakat yang luar biasa dalam pelaksanaan kegiatan. Renovasi sero diaplikasikan dengan patok kayu yang rusak dengan patok kayu baru sebanyak 244 buah dan panjang jaring baru yang dipasang untuk mengganti jaring lama yang rusak sepanjang 60 meter dengan tinggi 3 meter. Hasil ikan yang tertangkap setelah dilakukannya perbaikan sero menjadi meningkat baik jenis maupun jumlah ikannya. Bahwasanya antusiasme dan respon masyarakat nelayan Desa Tapulaga Kecamatan Soropia Sulawesi Tenggara sangat tinggi dan sangat terbantu dengan kegiatan pengabdian ini. Hasil tangkapan ikan di sero lebih meningkat baik jumlah maupun spesiesnya dengan kegiatan perbaikan (renovasi) alat tangkap sero dibanding sebelumnya. Ikan yang tertangkap saat fase bulan purnama lebih banyak dibanding ikan yang tertangkap saat bulan gelap.
KAJIAN PRODUKSI BUDIDAYA UDANG VANAME DI KABUPATEN KOLAKA Tri Yulianingsih; B. Budiyanto; Irdam Riani; Muhaimin Hamzah; Akhmad Mansyur; Abdul Sarifin
Jurnal Sosial Ekonomi Perikanan Vol 7, No 4: NOVEMBER 2022: JURNAL SOSIAL EKONOMI PERIKANAN
Publisher : UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsep.v7i4.23572

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap  produksi udang vaname di Kabupaten Kolaka.  Penelitian dilakukan pada bulan  Juni sampai Juli 2020. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 17 pembudidaya yaitu  yaitu semua pembudidaya udang vaname yang melakukan produksi pada saat penelitian. Sampel dalam penelitian menggunakan metode sensus. Pengambilan data dengan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu analisis regresi linear berganda dengan menggunakan SPSS 16.0. Hasil analisis uji F  menunjukkan bahwa secara simultan jumlah benur,  pakan, kapur, pupuk, kincir dan luas lahan berpengaruh signifikan terhadap produksi udang vaname. Selanjutnya secara parsial, faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap produksi adalah jumlah benur dan luas lahan, sedangkan faktor-faktor yang  berpengaruh tidak signifikan terhadap produksi udng vaname adalah   jumlah pakan,  kapur, pupuk dan  kincir. Kata Kunc : Budidaya udang vaname, faktor produksi, signifikan, parsial, simultan
Pengaruh Sumber protein berbeda pada pakan buatan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup rajungan (Portunus pelagicus) Jarfin Jarfin; Agus Kurnia; Muhaimin Hamzah; Wellem H. Muskita; Oce Astuti
Jurnal Media Akuatika Vol 6, No 2 (2021): April
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jma.v6i2.16186

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tepung limbah ikan cakalang (TLI), tepung ikan (TI) dan tepung keong bakau (TKB)  dalam pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup rajungan (P. pelagicus) yang dipelihara pada keramba jaring apung. Tiga jenis pakan yaitu pakan A (26% TLI + 20 TI + 20% TKB), pakan B (20% TLI + 26 % TI + 20% TKB), dan pakan C (20% TLI + 20% TI + 26% TKB) diberikan pada benih rajungan selama 60 hari pemeliharaan. Sebanyak 60 ekor benih rajungan (bobot awal : 58,02±4,23 g) dipelihara dalam 12 wadah (3 ekor per wadah) dan diberi pakan dua kali sehari. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan mutlak (PM) ,panjang dan lebar karapaks,  laju pertumbuhan spesifik (LPS) dan kelangsungan hidup rajungan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kombinasi sumber protein yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap PM, panjang karapaks, LPS dan kelangsungan hidup rajungan. PM rajungan berkisar 7,67-10,02 g, panjang karapaks berkisar 0,31-0,41 cm, lebar karapaks berkisar 0,31-0,39 cm, LPS berkisar 0,19-0,64% dan kelangsungan hidupnya 100%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tepung ikan, tepung limbah ikan cakalang dan tepung keong bakau dengan komposisi yang berbeda dalam pakan dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup rajungan (Portunus pelagicus)Kata kunci: Pakan formulasi, pertumbuhan, sumber protein berbeda, rajungan, Portunus pelagicus
Pengaruh Penambahan Tepung Daun Bayam Dalam Pakan Komersil Terhadap Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla serrata) Yang Dipelihara Dengan Sistem Resirkulasi Tertutup Edi Edi; Wellem H. Muskita; Oce Astuti; Agus Kurnia; Muhaimin Hamzah; Yusnaini Yusnaini
Jurnal Media Akuatika Vol 5, No 1 (2020): Januari
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.202 KB) | DOI: 10.33772/jma.v5i1.13988

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan buatan dengan tepung daun bayam (TB) dalam pakan komersial (PK) terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting bakau (S. serrate) yang dipelihara dengan sistem resirkulasi tertutup. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Terdapat empat jenis pakan buatan dengan presentase yang berbeda PK 55% TB 40% B 5% (Pakan A), PK 50% TB 45% B 5%(Pakan B), PK 45% TB 50% B 5% (Pakan C) dan PK 40% TB 55% B 5% (Pakan D) diberikan kepada kepitng bakau selama 60 hari. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan mutlak (PM), laju pertumbuhan spesifik (LPS) dan kelangsungan hidup (SR.). Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai rata-rata pertumbuhan mutlak berkisar antara 17,3 – 22,3 g sedangkan nilai rata-rata laju pertumbuhan spesifik pada kepiting bakau yang diberikan pakan uji berkisar antara 0,0025 – 0,0038 % dan nilai rata-rata kelangsungan hidup kepiting bakau yaitu 100%. Hasil analisa sidik ragam menunjukan pakan buatan dengan penambahan tepung bayam memberikan pengaruh yang tidak signifikan (P>0,05) terhadap pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik dan kelangsungan hidup. Peneitian ini menyimpulkan bahwa tepung daun bayam dapat ditambahkan pada pakan buatan berkisar 40-50 %.Kata kunci: Pakan buatan komersial, tepung bayam, kepiting bakau, sistem resirkulasi tertutup.
Subtitusi Minyak Ikan Dengan Minyak Kelapa Tradisonal Dalam Pakan Terhadap Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Kepiting Rajungan (Portunus pelagicus) Agus Kurnia; Oce Astuti; Muhaimin Hamzah; Indriyani Nur; Yusnaini Yusnaini; Siti Manfus
Jurnal Media Akuatika Vol 5, No 4 (2020): Oktober
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jma.v5i4.21088

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengamati respon pertumbuhan dan kelangsungan hidup rajungan yang diberi pakan yang mengandung komposisi substitusi minyak ikan (MI) dengan minyak kelapa tradisional (MKT) yang berbeda dalam pakan.Tiga jenis pakan rajungan dibuat dengan komposisi substitusi minyak ikan dengan minyak kelapa tradisional yaitu 4%MI+2%MKT(pakanA), 3%MI+3%MKT(pakanB), 2%MI+4%MKT(pakanC). Sebanyak 36ekor rajungan (bobot tubuh awal:53.653.23g) disebar kedalam 12 akuarium (3ekor per akuarium)dan dipelihara selama 45 hari dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari pada jam 07.00 pagi-19.00 malam. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan mutlak(PM),laju pertumbuhan spesifik(LPS),panjang lebar karapas,konsumsi pakan(KP),efisiensi pakan(EP),rasio konversi pakan(RKP)dantingkat kelangsungan hidup. Hasil analisis statistik menunjukan bahwa perbedaan komposisi substitusi minyak ikan dengan minyak kelapa tradisional dalam pakan memberikan respon yang sama terhadap pertumbuhan mutlak,laju pertumbuhan spesifik,panjang dan lebar karapas,konsumsi pakan,rasio konversi pakan dan tingkat kelangsungan hidup rajungan. Pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik rajungan yang diberi pakan uji berkisar antara 3,34g-59,7g dan 0.09%-0,21%.Efisiensi pakan dan rasio konversi pakan rajungan yang diberi pakan uji berkisar antara1,97g-3,11g dan55,05-33,36.Penelitian ini menyimpulkan bahwa substitusi minyak ikan dengan minyak kelapa tradisional dalam pakan dapat meningkatkan efisiensi pakan, pertumbuhan  dan kelangsungan hidup rajungan.Kata Kunci: Minyak Kelapa Tradisonal, minyak ikan, Pertumbuhan, Kelangsungan Hidup, Rajungan.
Substitusi Minyak Ikan dengan Minyak Sawit dalam Pakan Buatan terhadap Pertumbuhan Rajungan (Portunus pelagicus) Muhammad Arif; Muhaimin Hamzah; Agus Kurnia
Jurnal Media Akuatika Vol 5, No 4 (2020): Oktober
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.912 KB) | DOI: 10.33772/jma.v5i4.14949

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi minyak ikan (MI) dengan minyak sawit (MS) dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan rajungan (P. pelagicus). Sebanyak 36 ekor rajungan dengan berat awal rata-rata 12,56 ± 0,18 g, ditebar secara acak ke dalam 12 wadah (3 ekor/wadah) diberi perlakuan pakan buatan berbeda yaitu 6% MI + 0% MS (pakan A), 4% MI + 2% MS (pakan B), dan 2% MI + 4% MS (pakan C). Penelitian ini didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Pertumbuhan mutlak rata-rata tertinggi yang diperoleh pada penelitian ini adalah 30,67 g, laju pertumbuhan spesifik berkisar antara 0,66-1,50%, frekuensi molting berkisar antara 0,00-66,67%, pertumbuhan panjang karapas berkisar antara 0,78-1,49 cm, pertumbuhan lebar karapas berkisar antara 1,62-3,26 cm, dan tingkat kelangsungan hidup berkisar antara 33,33-100%. Secara statitistik, hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi minyak ikan dengan minyak sawit dalam pakan buatan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertumbuhan mutlak rata-rata, namun tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik, frekuensi molting, pertumbuhan panjang karapas, pertumbuhan lebar karapas, dan tingkat kelangsungan hidup rajungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa substitusi 30% minyak ikan dengan minyak sawit dalam pakan buatan menghasilkan pertumbuhan optimal rajungan (P. pelagicus).Kata Kunci : Rajungan (Portunus pelagicus), Minyak Ikan, Minyak Sawit, Pertumbuhan.
Potensi dan Arahan Pengembangan Kampung Wisata Bahari Berbasis Produk Unggulan Mutiara di Kelurahan Palabusa Kota Baubau La Ode Abdul Rajab Nadia; Dedy Oetama; Muhaimin Hamzah; Amadhan Takwir; Muhammad Trial F. Erawan
Kainawa: Jurnal Pembangunan dan Budaya Vol 1 No 2 (2019)
Publisher : Balitbangda Kota Baubau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46891/kainawa.1.2019.115-130

Abstract

Pembangunan pariwisata terintegrasi sektor andalan dan diversifikasi produk dan jasa merupakan salah satu arahan pembangunan daerah Kota Baubau. Salah satu model yang akan dikembangkan adalah kampung wisata berbasis produk unggulan mutiara. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji potensi kawasan dan perencanaan layout kampung wisata bahari berbasis produk unggulan mutiara di Kelurahan Palabusa. Metode pengumpulan data meliputi (1) survei terkait isu dan permasalahan pengembangan pariwisata berbasis pemanfaatan sumber daya perikanan, (2) Focus Group Discussion terfokus oleh beberapa multipihak terkait isu yang dikaji (3) verifikasi dan evaluasi hasil yang diperoleh di lapangan. Kondisi potensi sumber daya alam tersebut akan didokumentasikan. Metode analisa data mencakup analisis spasial, analisis pengembangan kawasan wisata dan tata letak (layout). Berdasarkan hasil analis spasial bahwa wilayah perairan laut yang masih dapat dikembangkan sebagai area budi daya kerang mutiara di Palabusa masih tersedia kurang lebih 61,23 hektar. Saat ini, area budi daya existing secara total baru mencapai 22,22 hektar yang terdiri atas 4,06 wilayah budi daya existing oleh masyarakat lokal dan sekitar 18,16 hektar wilayah budi daya milik PT. Selat Buton. Dari luas efektif tersebut, jika diasumsikan dimanfaatkan sebesar 25% saja, maka akan menampung jumlah keramba ukuran 6×12 meter sebanyak 138 unit. Hasil layout pengembangan kawasan mencakup ruang penerimaan, ruang pelayanan, ruang penyangga, ruang budi daya, ruang wisata/pelayanan, jalur sirkulasi, ruang konservasi situs sejarah. Model pengembangan kampung wisata di Palabusa mencakup ekonomi dan lingkungan, berbasis masyarakat dan keterlibatan multipihak.
Effect of microalgae (Tetraselmis chui Butcher 1959) on growth and survival of nile tilapia (Oreochromis niloticus Linnaeus 1758) reared in low salinity biofloc system Wa Iba; Neneng Wahyuni; Muhaimin Hamzah; Michael A. Rice
Depik Vol 13, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.13.1.36981

Abstract

Addition of microalgae in the biofloc system may improve growth and survival of Nile tilapia. Also, culturing Nile tilapia in saline water biofloc system may be an adaptation for freshwater shortage. In this study, the growth and survival of Nile tilapia cultured in a low salinity biofloc system with added microalgae was investigated. Increasing salinity in the culture system was done by gradually adding sea water into acclimatization container (618 L, v) on weekly basis for 4 weeks until 9 psu salinity was reached. Tilapia were allowed to adapt to salinity change for one week and fed with commercial feed twice a day until satiation. The biofloc experiment was conducted with 3 microalgal density treatments (5, 15 and 25 104 cells. mL-1) in triplicates. Average initial weight of experimental fish was 4.82 0.76 g. Tilapia were reared for 40 days in aquaria (35 35 40 cm, l w h, 15 L, v) containing 8 individuals fish in each aquarium. The commercial pellets were delivered twice per day at 5% of tilapia biomass until satiation. T. chui was added to the tilapia culture every week. This study showed that the addition of microalgae did not affect the fish weight gain, specific growth rate and survival (p0.05). However, feed conversion ratio and culture productivity were better in tilapia supplied with weekly addition of T. chui at 15 104 cells mL-1 compared to other densities tested.Keywords:SalineBioflocMicroalgae
EFFECT OF DIFFERENT CULTURE MEDIA ON THE GROWTH AND CHLOROPHYLL-a CONTENT OF Navicula sp. and Synechococcus sp Haslianti; Wa Ode Nilda Arifiana Effendy; Suwarjoyowirayatno; La Ode Baytul Abidin; Muhaimin Hamzah; Asmariani; Fatmawati; Wa Ode Intiyani Mangurana; Herlan Hidayat; Asjun
BIOTROPIA Vol. 33 No. 2 (2026): BIOTROPIA Vol. 33 No. 2 May 2026
Publisher : SEAMEO BIOTROP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11598/btb.2026.33.2.2708

Abstract

ARTICLE HIGLIGHTS- Walne medium significantly enhances microalgae growth and chlorophyll-a content.- F2+Si medium effectively supports Navicula sp. growth in cultivation.- Urea+NPK limits microalgae due to nutrient deficiency.- Optimal media selection is crucial for tropical microalgae cultivation. ABSTRACTThis research addressed a critical knowledge gap regarding the optimal cultivation conditions for indigenous microalgal strains from high-biodiversity tropical marine ecosystems, offering insights into their physiological responses to varied nutrient regimes. In particular, this study focused on evaluating the effect of three different culture media (Walne, F2+Si, and Urea+NPK) on the growth and chlorophyll-a content of local microalgae isolates, Navicula sp. and Synechococcus sp., isolated from Southeast Sulawesi waters. The isolates were cultivated at a laboratory scale in January 2025 using 250 mL Erlenmeyer flasks containing 100 mL of media, under continuous aeration at room temperature (26 - 30 °C) and constant illumination (90 µmol photons/m²/s). Growth was monitored every two days. The results demonstrated that Walne medium yielded the highest cell density and chlorophyll-a content for both species. In Walne medium, Navicula sp. reached a peak density of 8,656,000 ± 53,777 cells/mL with a specific growth rate (SGR) of 1.1453 ± 0.033, while the density of Synechococcus sp. reached 4,965,833 ± 16,646 cells/mL with an SGR of 0.8297 ± 0.032. The F2+Si medium also supported good growth, particularly for Navicula sp. (SGR of 1.0967 ± 0.003). However, the Urea+NPK medium consistently produced the lowest results for all parameters due to limitations in micronutrient and vitamin. One-Way ANOVA revealed no significant difference (P > 0.05) between Walne and F2+Si media for the growth of Navicula sp., but Walne medium was significantly superior for Synechococcus sp. This study concluded that the choice of the culture medium is crucial for optimizing microalgal growth. Walne medium is recommended as the optimal medium for cultivating both Navicula sp. and Synechococcus sp., whereas F2+Si serves as an effective alternative for Navicula sp. The findings underscore the importance of comprehensive nutrient formulations for maximizing biomass yield in local isolates and provide a foundation for developing cost-effective cultivation strategies in tropical regions.