Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Phinisi Integration Review

ANALISIS REPRESENTASI KELAS SOSIAL DALAM FILM SNOWPIERCER (2013) DAN MANFAATNYA DALAM PEMBELAJARAN SOSIOLOGI DI SMA Kasim, Hasanudin; Nur, Hasruddin; Amir, Arfenti; Jalal, Jalal; Sriwahyuni, Sriwahyuni
Phinisi Integration Review Volume 7 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pir.v7i2.61334

Abstract

Abstract. This research aimed to analyze and describe the representation of social class in the Snowpiercer (2013) and its benefits to study sociology in senior high school. The type of approach in this research was a qualitative descriptive method with the Snowpiercer (2013) as the data source. The data collection technique used documentation technique. Data analysis was content analysis by applying the Miles and Huberman model. The research results show that the representation of social class was very dominant and played an important role in the plot and narrative of the Snowpiercer (2013), including: a) upper class vs lower class; b) exploitation and oppression; c) resistance and revolution; d) visual symbolism; e) upper class decadence; and f) manipulation of information. Then, the benefits of the Snowpiercer (2013) in studying sociology of senior high school including: visualizing social structure in learning material, visualizing social inequality in learning material, visualizing diversity and identity in learning, and visualizing rebellion and social change in learning.Abstrak.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan representasi kelas sosial dalam Snowpiercer (2013) dan manfaatnya dalam pembelajaran sosiologi di SMA. Jenis pendekatan pada penelitian ini merupakan pendekatan kualitatif metode deskriptif analisis dengan objek Snowpiercer (2013) sebagai sumber datanya. Teknik pengumpulan data yaitu teknik dokumentasi. Analisis data adalah analisis isi dengan menerapkan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukan bahwa representasi kelas sosial sangat dominan dan memainkan peran penting dalam plot dan narasi Snowpiercer (2013) antara lain: a) kelas atas vs kelas bawah; b) eksploitasi dan penindasan; c) perlawanan dan revolusi; d) simbolisme visual; e) dekadensi kelas atas; dan f) manipulasi informasi. Kemudian adapun manfaat Snowpiercer (2013) dalam pembelajaran sosiologi di SMA antara lain: memvisualisasikan struktur sosial dalam materi pembelajaran, memvisualisasikan ketimpangan sosial dalam materi pembelajaran, memvisualisasikan diversitas dan identitas dalam pembelajaran, dan memvisualisasikan pemberontakan dan perubahan sosial dalam pembelajaran.
ANALISIS PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN KARAKTER SOSIAL SISWA MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER Sulastri, Sarah; Iskandar, Abdul Malik; Amir, Arfenti; Jalal, Jalal
Phinisi Integration Review Volume 9 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pir.v9i1.82822

Abstract

Abstract. Character education constitutes a crucial foundation for shaping students’ personalities so that they can live ethically and responsibly within society. In this context, the role of teachers is not limited to formal classroom instruction but also involves facilitating the reinforcement of character values through non-formal activities such as extracurricular programs. This study is urgent given the increasing demand for character education amid the social complexity and developmental dynamics of elementary school students. However, efforts to integrate character education into extracurricular activities are often not implemented systematically and structurally by some educators. This research employed a qualitative approach using a case study method at SDN 14 Allu, Bantaeng District. The main informants were extracurricular instructors, sixth-grade students, and the school principal. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. The findings indicate that teachers play a significant role in shaping students’ social character through close and non-hierarchical interactions, the use of social moments as opportunities for value learning, and the provision of spaces for reflection and expression. Nevertheless, several obstacles were identified, including limited time and facilities, teachers’ methodological understanding, and minimal parental support. Overall, extracurricular activities were found to enhance students’ cooperation, self-confidence, tolerance, discipline, and social awareness when facilitated through appropriate and reflective approaches.Abstrak.  Pendidikan karakter merupakan fondasi penting dalam membentuk kepribadian siswa agar mampu hidup bermasyarakat secara etis dan bertanggung jawab. Dalam konteks ini, peran guru tidak hanya terbatas pada pengajaran formal di kelas, tetapi juga harus mampu memfasilitasi penguatan nilai-nilai karakter melalui kegiatan non-formal seperti ekstrakurikuler. Penelitian ini menjadi urgen mengingat semakin tingginya kebutuhan akan pendidikan karakter di tengah kompleksitas sosial dan dinamika perkembangan siswa sekolah dasar. Namun, upaya integrasi pendidikan karakter dalam kegiatan ekstrakurikuler seringkali belum dilakukan secara sistematis dan terstruktur oleh sebagian pendidik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di SDN 14 Allu, Kecamatan Bantaeng. Informan utama dalam penelitian ini adalah guru pembina ekstrakurikuler, siswa kelas VI, dan kepala sekolah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memainkan peran signifikan dalam membentuk karakter sosial siswa melalui pendekatan interaksi akrab dan non-hierarkis, penggunaan momen sosial sebagai pembelajaran nilai, serta pemberian ruang refleksi dan ekspresi. Meskipun demikian, ditemukan beberapa hambatan, seperti keterbatasan waktu, sarana, pemahaman metodologis guru, serta minimnya dukungan orang tua. Secara keseluruhan, kegiatan ekstrakurikuler terbukti mampu meningkatkan kerja sama, kepercayaan diri, toleransi, disiplin, dan kepedulian sosial siswa ketika difasilitasi dengan pendekatan yang tepat dan reflektif.