Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Tranformasi Sastra Lisan Krinok ke dalam Komposisi Musik Musik Orkestra Gunawan, Indra; Handayani, Lusi; Irianto, Ikhsan Satria; Gustyawan, Tofan
Prosiding Seminar Nasional Humaniora Vol. 4 (2025): Prosiding Seminar Nasional Humaniora
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krinok oral literature can also be called performance literature because of its delivery by means of performance or show. In this article, it is discussed how the exploration of Krinok oral literature is transformed into a musical work or musical composition with an orchestral formation. The delivery style of Krinok oral literature with a singing style becomes the basis for the creation of the music itself such as singing text, tone, vocal melody, harmony, and development of structural forms. This music composition is titled “Bungo Bermada”, this title is made based on the meaning of praise. The method used is Mixed Method from qualitative and quantitative as the development of musical and extramusical ideas (philosophical aspects) into a musical composition “Bungo Bermada”,. The collection techniques consisted of interviews, observations, and literature studies. Meanwhile, the data analysis technique used consists of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. For testing this product is a prototype of musical composition in the form of Digital Scoring (digital audio visual). Abstrak Sastra lisan Krinok dapat juga disebut sastra pertunjukan karena penyampaian nya dengan cara di pertunjukan atau dipertontonkan. Dalam artikel ini, dibahas bagaimana eksplorasi sastra lisa Krinok ditranspormasikan menjadi karya musik atau komposisi musik dengan formasi orkestra. Gaya penyampaian sastra lisan Krinok dengan gaya nyanyian menjadi dasar penciptaan musik itu sendiri seperti teks nyanyian, nada, melodi vokal, harmoni dan pengembangan bentuk struktur. Komposisi musik ini diberi judul “Bungo Bermada”, judul ini dibuat berdasarkan makna puji-pujian. Metode yang digunakan adalah Mixed Method dari kualitatif dan kuantitatif sebagai pengembangan gagasan musikal dan ekstramusikal (aspek filosofi) menjadi komposisi musik “Bungo Bermada”,. Teknik pengumpulan yang dilakukan terdiri dari wawancara, observasi dan studi pustaka. Sedangkan untuk teknik analisis data yang digunakan terdiri dari, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk pengujian produk ini adalah prototipe komposisi musik berupa Scoring Digital (audio visual digital).
BENTUK DAN UPAYA PELESTARIAN TARI KUDA LUMPING PADA PAGUYUBAN MEKAR BUDOYO DI KELURAHAN PAAL LIMA KECAMATAN KOTA BARU PROVINSI JAMBI Simanjorang, Susanthi; Gustyawan, Tofan; Handayani, Lusi
Prabung Seni: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 4 No. 01 (2025): Prabung Seni: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v4i01.46794

Abstract

Tari Kuda Lumping merupakan tari tradisional Jawa yang dibawa oleh masyarakat Desa Kemanukan, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo. Saat ini tari tersebut berkembang di Kelurahan Paal Lima, Kecamatan Kota Baru, Provinsi Jambi. Kelurahan Paal Lima ditempati oleh etnis Jawa, Minang, Batak, Melayu, Kerinci dan lainnya. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui Bentuk Tari Kuda Lumping dan untuk mengetahui Upaya Pelestarian yang dilakukan Paguyuban Mekar Budoyo di Kelurahan Paal Lima. Metode penelitian yang digunakan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data secara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dengan teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah bentuk Tari Kuda Lumping yang terdiri dari beberapa elemen pendukung seperti gerak tari, musik, tata rias dan busana , pola lantai dan properti. Adapun Upaya pelestarian terbagi menjadi tiga aspek yaitu aspek perlindungan, aspek pengembangan dan aspek pemanfaatan. Upaya perlindungan dilakukan dengan cara mengajarkan tarian kepada penari yang lebih muda dan melakukan aktivitas latihan secara rutin sebelum tarian ditampilkan. Upaya pengembangan dilakukan dengan cara pengembangkan motif gerak dan musik. Upaya pemanfaatan dilakukan dengan cara memperkenalkan tarian ini kepada masyarakat umum dan mengisi acara-acara.
PEMERANAN TOKOH RAHMAN DALAM NASKAH ORANG-ORANG SETIA KARYA ISWADI PRATAMA Habillah, Ari; Irianto, Ikhsan Satria; Gustyawan, Tofan
Prabung Seni: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 4 No. 01 (2025): Prabung Seni: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v4i01.46988

Abstract

Naskah “Orang-orang Setia” karya Iswadi Pratama merupakan sebuah representasi naskah drama bergaya realisme sosial yang menekankan dialektika idealisme dan pragmatisme pada konflik kemiskinan. Tulisan ini memiliki fokus bagaimana proses pemeranan tokoh Rahman sebagai kaum proletar yang menjadi pusat penggerak cerita dalam naskah ini. Tujuan dari penulisan ini: (1) mewujudkan tokoh Rahman menggunakan teori dan metode pemeranan yang komprehensif; dan (2) mendata proses kreatif penciptaan pemeranan yang autentik. Metodologi proses pemeranan dalam tulisan ini menggunakan pendekatan keaktoran psikologis (Inner Act) dari Constantin Stanislavsky yang diterapkan melalui tahapan sistematis: (1) Analisis tekstual secara komprehensif untuk mengidentifikasi penokohan tokoh Rahman; (2) Mengidentifikasi kontekstual untuk memahami sosiologis tokoh secara komprehensif; serta (3) eksplorasi fisik dan vokal secara intens untuk memanifestasikan perilaku tokoh yang autentik. Temuan utama dalam tulisan ini adalah konsepsi tokoh rahman sebagai karakter yang merepresentasikan keteguhan prinsip dibagian luar, namun menyembunyikan kerapuhan mental dan keyakinan didalamnya. Hal tersebut diwujudkan melalui fisikal dan vokal tokoh Rahman yang menyimpan beban psikologis. Tantangan utama dalam proses ini adalah penyajian komplesitas psikologis tokoh Rahman dalam tiap-tiap adegan. Secara keseluruhan, implementasi metode Inner Act Stanislavsky pada aktor dalam naskah ini tidak hanya menghasilkan validitas tekstual, namun eksplorasi psikologis yang mampu diwujudkan melalui aksi fisik sehingga menciptakan karakter yang autentik dalam naskah ini dapat tercapai, dan mampu merefleksikan dengan efektif tentang isi pada naskah ini.
MAKNA SIMBOLIK PADATARI INAI DALAM UPACARA PERNIKAHAN DI TANJUNG JABUNG BARAT Nabila, Nabila; Gustyawan, Tofan; Utami, Yhovy Hendricasri
Prabung Seni: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 4 No. 01 (2025): Prabung Seni: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v4i01.47104

Abstract

Tari Inai pada upacara adat pernikahan merupakan tarian tradisional adat Melayu Timur yang dilakukan sebagai bagian dari ritual dan proses Upacara Adat Pernikahan. Tarian ini dilakukan oleh penari perempuan disertai penari laki-laki yang menampilkan atraksi gerak silat pada resepsi pernikahan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian ialah para informan selaku Pewaris sekaligus pengurus Sanggar Serase yang bernama Muhammad Yusra Yusuf. Teori yang digunakan ialah teori Semiotika Saussure. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa Makna simbolik Tari Inai pada Upacara Adat Penikahan di Kuala Tungkal, yaitu: makna gerak Tari inai yang memiliki makna simbol berupa (1) Kesucian dan Keanggunaan, (2) Kebahagiaan dan Kesempurnaan. (3) Keunikan dan Keindahan Budaya Melayu. Analisis makna teori Saussure menghasilkan beberapa petanda dan penanda yaitu: (1) Penari memasuki area panggung membawa bunga lilin sebagai penanda acara segera dimulai. (2) Gerak sembah oleh penari, memberi petanda bahwa acara sedang dimulai dan penari siap menyambut kehadiran para tamu undangan. (3) Atraksi gerak silat, memberi penanda yang memiliki makna kekuatan dan keberanian pasangan dan gerakan yang melambangkan kesederhanaan, keanggunan pasangan. (3) Gerak penutup, memberi penanda bahwa acara tarian segera selesai dan akan dilanjutkan dengan acara resepsi pernikahan.