Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Islamic Criminal Law in a Plural Legal Order: A Systematic Literature Review of Qanun Jinayah Effectiveness in Aceh, Indonesia Yuni Roslaili; Fauzan, Faisal; Suparwany
El-Hadhanah : Indonesian Journal Of Family Law And Islamic Law Vol. 5 No. 2 (2025): El-Hadhanah: Indonesian Journal of Family Law and Islamic Law
Publisher : Prodi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/hadhanah.v5i2.7885

Abstract

The Qanun Jinayah represents Aceh’s distinctive model of Islamic criminal law within Indonesia’s secular constitutional framework. Its implementation has generated considerable debate regarding legitimacy, effectiveness, and alignment with national and international human rights standards. Despite extensive discourse, existing studies remain fragmented and largely descriptive, lacking an integrated analytical framework to evaluate its real societal impact. This study addresses that gap by systematically reviewing literature published between 2014 and 2024 using the PRISMA methodology. Relevant sources were identified through Google Scholar and managed with Mendeley for screening, duplication removal, and thematic classification. Nine empirical and conceptual studies met the inclusion criteria. The findings reveal a dual narrative: while the Qanun Jinayah demonstrates normative effectiveness in reflecting Islamic principles and supporting moral governance, institutional and socio-cultural effectiveness remains partial due to weak law enforcement capacity, inconsistent procedural alignment with national law, and limited protection of individual rights. This review contributes theoretically by proposing a multi-dimensional effectiveness framework that integrates normative, institutional, and socio-cultural dimensions offering a more holistic tool for assessing hybrid Islamic-secular legal systems. The study concludes that while Qanun Jinayah upholds regional autonomy under Law No. 44/1999 and Law No. 11/2006, substantive reform is urgently required to enhance institutional legitimacy and human rights compliance. The findings hold significant implications for scholars and policymakers seeking to reconcile Islamic criminal law with Indonesia’s plural legal order and for comparative research on localized Sharia implementation in plural legal contexts.
PEMBAYARAN KEMBALI OBJEK CESSIE PADA PENYELESAIAN PEMBIAYAAN DALAM PERJANJIAN HIWALAH: Analisis Kasus Pailit Bprs Hareukat Fauzan, Faisal; Raisya, Putri; Iqbal, Muhammad
Al-Iqtishadiah: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah Vol. 7 No. 1 (2026): Al-Iqtishadiah: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah
Publisher : Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu bentuk penyelesaian pembiayaan bermasalah dalam perbankan syariah adalah melalui pengalihan piutang atau yang dikenal dengan Cessie. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepatuhan nasabah dalam melakukan pembayaran kembali objek cessie pada PT. BPRS Hareukat Lambaro pasca pailit, serta mengkaji kesesuaian praktik tersebut dalam akad Hiwalah berdasarkan perspektif hukum ekonomi syariah. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis empiris dengan metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara dengan advokat pemegang cessie dan dokumentasi dari praktik di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar nasabah tidak mematuhi kesepakatan pembayaran kembali meskipun telah dilakukan penjadwalan ulang (rescheduling) oleh pihak kreditur baru. Upaya persuasif yang dilakukan seperti pemanggilan dan penawaran rescheduling belum membuahkan hasil optimal, sehingga ditempuh jalur somasi dan kemungkinan litigasi. Dalam perspektif syariah, mekanisme pengalihan piutang melalui cessie dapat dikategorikan sebagai bentuk Hiwalah al-haqq, yaitu pengalihan hak tagih kepada pihak lain yang sah secara hukum. Pihak kreditur baru tidak mengambil keuntungan dari proses ini dan lebih menekankan prinsip keadilan, tolong-menolong, dan transparansi dalam penagihan. Namun, realisasi pelunasan utang tetap bergantung pada iktikad baik debitur. Karena itu, diperlukan penguatan regulasi dan pendekatan keagamaan dalam meningkatkan kepatuhan nasabah terhadap pembayaran utang dalam sistem perbankan syariah.