Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Rasionalitas dalam swamedikasi vitamin c pada masa pandemi covid - 19 di kota denpasar: Rationality in self-medication of vitamin c during the covid-19 pandemic in denpasar city Suryaningsih, Ni Putu Aryati; Reganata, Gde Palguna; Sutema, Ida Ayu Manik Partha; Putri, Dhiancinantyan Windydaca Brata
Bali Medika Jurnal Vol 8 No 2 (2021): Bali Medika Jurnal Vol 8 No 2 Juli 2021
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v8i2.187

Abstract

Background The pandemic we can call Coronavirus Disease (COVID-19) has a significant impact in all sectors of human life.Indonesia reported its first cases of COVID-19 on March 2,2020 totalin two cases (WHO, 2020). World Health Organization (WHO) recommends to consumption healthy foods and increase immunity with more vitamin that during the pandemic COVID-19.Vitamin C is an alternative to boost the immune system. Increasing consumption of vitamin C needs to be seen by the rationality of using self-medicated vitamin C during the COVID-19 pandemic. Inappropriate or excessive use of vitamins can result in damage to organs such as the kidneys. The purpose of this study was to describe the rationality of Samedication vitamin C during the pandemic COVID-19 in the Denpasar City. Methods: The design of this study is descriptive using a descriptive design that uses non-probability sampling t. The instrument used is a questionnaire. The sample population is 100 respondents in the community in Denpasar. Results: The results of the study show the rationality of using swamedication vitamin C during the pandemic COVID- 19 in Denpasar amounting to 84.73% rational and irrationally of 15.27%, the rationality were measured from the right indication of  the drug, the right way of administration. medication, proper dosage, proper storage and side effect alert.
Gambaran dan Kajian Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas Kota Denpasar Berdasarkan Permenkes Nomor 74 Tahun 2016 Dewi, I Gusti Ayu Agung Kristina; Parthasutema, Ida Ayu Manik; Putri, Dhiancinantyan Windydaca Brata
Bali International Scientific Forum Vol. 1 No. 1 (2020): Bali International Scientific Forum
Publisher : Bali International University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34063/bisf.v1i1.132

Abstract

Background: Puskesmas in Denpasar City do not have pharmacists to carry out pharmacy services as a whole according to the standards, but only played by pharmaceutical technical personnel who can only carry out pharmaceutical services on a limited basis, according to Minister of Health Regulation Number 74 of 2016. Purpose: To describe the application of pharmaceutical service standards in Denpasar City health centers, as well as the factors that influence the implementation of pharmaceutical service standards at the health centers. Method: The study was conducted observationally with a descriptive research design, using questionnaires. The research subjects were those responsible for pharmacy in 11 Denpasar City health centers. Results: The application of pharmaceutical service standards in 11 Denpasar city health centers from the aspects of drug and medical management consumables reached 96.97%, from the aspect of clinical pharmacy services reached 63.85%, from aspects of pharmaceutical resources reached 73.58% and from aspects of service quality control reached 82.68%. Based on the results of the interview identified 18 factors that have the potential to mismatch the application of service standards. Conclusion: The standard of pharmacy services at the Denpasar City Health Center has not been carried out thoroughly according to the Permenkes No. 74 Tahun 2016.
Peningkatan Pengetahuan PKK Banjar Abasan Denpasar Terkait Dagusibu Melalui Pemanfaatan Buku Saku Dagusibu (Embook) Suryaningsih, Ni Putu Aryati; Putri, Dhiancinantyan Windydaca Brata; Sutrisnawati, Ni Nyoman Dwi
Parta: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38043/parta.v6i1.6767

Abstract

Abstract: Background: Self-medication is people's efforts to maintain their own health. However, what needs to be realized is that each drug has a different way of managing it. Miss management of medicines can cause errors in use, changes in the properties of the drug or damage to the drug. DaGuSiBu (Get, Use, Save, Throw Away) is an educational program about health, especially drug management. Objective: to determine the increase in PKK Br Abasan's knowledge regarding DaGuSiBu through the use of the DaGuSiBu Pocket Book (EMBOOK). Method: Activities were carried out through socialization and training related to DaGuSiBu as well as providing EMBOOKs to PKK mothers who were given pretest and posttest. Results: Mrs. PKK Br Abasan experienced an increase in knowledge from the previous pre-test average of 64.64, then increased to 74.43 in the post-test average after being given socialization and giving EMBOOK. Mrs. PKK was also able to practice how to dispose of medicines properly and correctly. Conclusion: There has been an increase in PKK Br Abasan's knowledge regarding DaGuSiBu, it is hoped that PKK’s can become a disseminator of information in the family so that there will be positive behavioral changes in managing medicines in the family in order to improve the health status of individuals and the community. Abstrak: Latar Belakang: Swamedikasi merupakan usaha masyarakat untuk menjaga kesehatannya sendiri. Namun yang perlu disadari bahwa setiap obat memiliki cara pengelolaan yang berbeda-beda. Kesalahan pengelolaan obat dapat menyebabkan kesalahan penggunaan, perubahan sifat obat atau kerusakan obat. DaGuSiBu (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang) merupakan program edukasi tentang kesehatan khususnya pengelolaan obat. Tujuan: untuk mengetahui peningkatan pengetahuan ibu-ibu PKK Br Abasan mengenai DaGuSiBu melalui pemanfaatan Buku Saku DaGuSiBu (EMBOOK). Metode: Kegiatan dilakukan melalui sosialisasi dan pelatihan terkait DaGuSiBu serta pemberian EMBOOK kepada ibu-ibu PKK yang diberikan pretest dan posttest. Hasil: Ibu PKK Br Abasan mengalami peningkatan pengetahuan dari sebelumnya rata-rata pretest 64,64, kemudian meningkat menjadi 74,43 pada rata-rata posttest setelah diberikan sosialisasi dan pemberian EMBOOK. Ibu PKK juga mampu mempraktekkan cara membuang obat dengan baik dan benar. Kesimpulan: Telah terjadi peningkatan pengetahuan ibu-ibu PKK Br Abasan mengenai DaGuSiBu, diharapkan ibu-ibu PKK dapat menjadi penyebar informasi di keluarga sehingga terjadi perubahan perilaku positif dalam pengelolaan obat di keluarga sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan individu dan masyarakat.
Hubungan Dukungan Keluarga Dan Peran Tenaga Kesehatan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Skizofreia di UPT. Puskesmas Bangli Kabupaten Bangli Maseni, I Gusti Ayu Komang Putri; Brata Putri, Dhiancinantyan Windydaca; Sutema, Ida Ayu Manik Partha
Bali International Scientific Forum Vol. 5 No. 2 (2024): Bali International Scientific Forum
Publisher : Bali International University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34063/bisf.v5i2.485

Abstract

Latar belakang : Skizofrenia merupakan salah satu bentuk gangguan jiwa, dimana penyakit skizofrenia mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan perilaku yang aneh, oleh karena itu kesehatan jiwa sangat diperlukan. Pasien skizofrenia banyak yang tertunda melakukan terapi sehingga berdampak buruk. Pengidap skizofrenia belum sepenuhnya memenuhi pengobatan dikarenakan beralasan lupa, merasa sembuh dan bosan minum obat setiap hari. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dan peran tenaga kesehatan terhadap kepatuhan minum obat pada pasien skizofrenia di UPT. Puskesmas Bangli. Metode: Penelitian ini menggunakan design cross sectional. Teknik pengambilan sampel total sampling, jumlah sampel sebanyak 57 responden. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil: Berdasarkan penelitian terhadap 57 responden menggunakan uji korelasi Rank Spearman, ditemukan hasil nilai signifikansi 0,001 (p < 0,05) dan koefisien korelasi 0,821 untuk hubungan antara variabel dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien skizofrenia, ini menujukan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan. Hubungan antara variabel peran tenaga kesehatan dengan kepatuhan minum obat menunjukan nilai Correlation Coefficient 0,817 yang bersifat positif dengan nilai signifikansi 0,005 (p < 0,05). Kesimpulan: Hubungan dukungan keluarga dan peran tenaga kesehatan terhadap kepatuhan minum obat pada pasien skizofrenia memiliki hubungan yang kuat hal ini dapat dilihat dari angka Correlation Coefficient yang positif maka dapat dikatakan bahwa hubungan antar variabel searah.
Kewaspadaan Diri dan Kepatuhan Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas IV Denpasar Selatan Triastawan, I Komang Agus; Widowati, I Gusti Ayu Rai; Tunas, I Ketut; Putri, Dhiancinantyan Windydaca Brata
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 5, No 1 (2024): Januari
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v5i1.17054

Abstract

Tingginya kadar gula dalam darah adalah tanda penyakit metabolik yang disebut diabetes melitus (DM). Keberhasilan terapi DM bergantung pada kepatuhan pasien untuk mencapai kualitas hidup yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kewaspadaan diri terhadap kepatuhan penggunaan obat pada pasien DM tipe 2 (DM-2). Penelitian cross sectional dilakukan pada bulan Februari-April 2023. Sampel adalah pasien DM-2 di Puskesmas IV Denpasar Selatan yang memenuhi kriteria inklusi, direkrut secara purposive. Data dianalisis dengan Chi Square Test, dan disajikan secara deskriptif. Sejumlah 120 responden berpartisipasi dalam penelitian ini. Mayoritas responden berada pada rentang usia 48-58 tahun (44.2%); perempuan (63.3%); berpendidikan menengah (44.2%); ibu rumah tangga (29.2%); berpendapatan ≤2,5 juta per bulan, dan terdiagnosa DM-2 ≤10 tahun (75.9%). Hasil penelitian menunjukkan sebesar 35.0% memiliki kewaspadaan diri pada kategori baik, dan sejumlah 48.3% responden patuh pada pengobatan. Terdapat hubungan antara kewaspadaan diri terhadap kepatuhan pengobatan (P=0,002; α=0,05; coefficient kontigensi =0,350). Penelitian ini menunjukkan pasien DM-2 memiliki kewaspadaan diri yang kurang memadai dan kepatuhan yang rendah.  Oleh karena itu, program edukasi pasien harus ditingkatkan, terutama untuk pasien diabetes yang rentan dan anggota keluarganya. Apoteker diharapkan berperan aktif dalam memberikan edukasi kepada keluarga dan pasien terkait penyakit DM dan kompikasinya.
SOSIALISASI APOTEKER CILIK (APOCIL) DI SD NEGERI 3 TONJA DENPASAR eka_arimbawa; Satrya Dewi, Dewa Ayu Putu; Windydaca Brata Putri, Dhiancinantyan; Adi Purwa Hita, I Putu Gede
UNBI Mengabdi Vol. 1 No. 1 (2020): UNBI Mengabdi
Publisher : Universitas Bali Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34063/um.v1i1.141

Abstract

Pengobatan sendiri merupakan hal yang dilakukan masyarakat dalam melakukan penyembuhan karena penyakit, terutama oleh orang tua kepada anak-anak. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk dapat meningkatkan pemahaman kepada siswa SD mengenai fungsi, dosis, jenis obat yang tepat, dan menjelaskan tidak semua obat terasa pahit melalui sosialisasi APOCIL. Metode yang digunakan adalah berupa presentasi oral oleh apoteker, animasi, video, praktek peracikan, wawancara, dan pre-post-test pemahaman penggunaan obat. Hasil pengabdian masyarakat menunjukkan sebagian besar siswa SD lebih memilih obat dalam bentuk sirup, mengetahui obat paracetamol sebagai penurun panas, menyukai vitamin, dan pernah menggunakan obat tradisional tetapi kurang mengetahui penggunaan antibotik secara tepat. Hasil nilai rata-rata APOCIL skor pre-test 67.1 dan post-test 89.3. Sosialisasi APOCIL memberikan peningkatan pemahaman penggunaan obat. Perlu diberikan perhatian khusus mengenai penggunaan antibiotik kepada siswa SD. Oleh karena itu pentingnya dilakukan edukasi salah satunya melalui iklan obat dalam media televisi untuk memastikan keamanan obat