Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Introducing Sleep Hygiene to the Church of Sidang Jemaat Allah Bethlehem Congregation, Bogor, West Java Alya Dwiana; Triyana Sari; David Limanan
MITRA: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 5 No 1 (2021): MITRA: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitra.v5i1.1806

Abstract

Insomnia is one of the most common health problems. Approximately one-third of adults show symptoms related to insomnia. Around 9%-15% of people have sleeping disorders dan suffer the consequences of it in the daytime, and roughly 6% suffer from diagnosed insomnia. Although the prevalence and significant effects of insomnia have been known, sleep disorders are still rarely diagnosed and receive proper treatments. Lack of sleep will create sleep debt that the body will have to compensate for by adding more sleep time in the next day. Should this compensation fail to be fulfilled, the individual will suffer from excessive sleepiness, memory problems, difficulty concentrating, and disturbances in performing daily activities. Chronic lack of sleep can also decrease memory and cognitive abilities, trigger mood disorders and even cause hallucination. The Sidang Jemaat Allah Bethlehem church (GSJA) is one of the biggest churches in Bogor. The people of GSJA’s knowledge of healthy sleep patterns and their sleep quality was unknown. Therefore, it was necessary to provide sleep health education to raise the awareness of the importance of healthy sleep patterns, both the quantity and the quality, in practicing a healthy lifestyle. We also assessed their sleep quality using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire. The data show that out of 41 participants, 30 of them (73.11%) have poor sleep quality (score ≥ 5) and most of them were in the 71-80-year-old age group. The participants' level of understanding about sleep hygiene has increased after the event.
PENGENALAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS-ACQUIRED IMMUNODEFICIENCY SYNDROME DI BUNDA MULIA SCHOOL JAKARTA Alya Dwiana; Ernawati Ernawati; Andriana KD
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1099.226 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v3i1.8054

Abstract

The trend of the prevalence of cases of sexually transmitted diseases (STDs) of Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV-AIDS) in the population aged 15-49 years increased from 0.16% to 0.43% in 2013 and will continue to increase. Many doctors and scientists have stated how important comprehensive prevention efforts are, before the prevalence of HIV STDs in the Asia-Pacific region increased to 10 million sufferers by 2020. Several factors influence the occurrence of HIV-AIDS STDs among adolescents, one of which is the lack of accurate information. Therefore, health education, especially sexual education and healthy living behaviors are teachings that can help adolescents to deal with life problems that originate from sexual drive and relationships. Education about how HIV-AIDS STDs are transmitted and prevented is the main weapon against HIV-AIDS STDs, because there is no treatment or vaccine that can prevent the spread of HIV-AIDS STDs. Counseling about STD HIV-AIDS is carried out at Bunda Mulia School, which is one of the youth communities that can be used as an example of efforts to prevent STD HIV-AIDS early. Prevention is carried out by interactive counseling in the form of discussions and question and answer sessions, which aim to provide a clear understanding for teenage students as well as teachers and school staff on how to prevent transmission of HIV-AIDS STDs. Before and after counseling, pre-test and post-test are held to assess whether there is a change in understanding of STD HIV-AIDS. The activity was followed by 88 students from grade 10-12. Overall, there was an increase in the knowledge of participating students about STD HIV-AIDS with an average point of 1.34 to 1.55 after participating in counseling activities. So it can be concluded that the objectives of extension activities have been achieved.ABSTRAK:Kecenderungan prevalensi kasus Penyakit Menular Seksual (PMS) Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV-AIDS) pada penduduk usia 15-49 tahun meningkat dari 0.16% menjadi 0.43% di tahun 2013 dan akan terus semakin meningkat. Banyak dokter dan ilmuwan telah menyatakan betapa pentingnya upaya pencegahan yang menyeluruh, sebelum prevalensi PMS HIV di wilayah Asia pasifik meningkat menjadi 10 juta penderita pada tahun 2020.Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya PMS HIV-AIDS di kalangan remaja salah satunya adalah kurangnya informasi yang akurat. Maka dari itu, pendidikan kesehatan terutama pendidikan seksual dan perilaku hidup sehat merupakan pengajaran yang dapat menolong remaja untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber dari dorongan seksual dan pergaulan. Pendidikan tentang bagaimana PMS HIV-AIDS ditularkan dan dicegah adalah senjata utama melawan PMS HIV-AIDS, karena tidak ada pengobatan atau vaksin yang dapat mencegah penyebaran PMS HIV-AIDS. Penyuluhan mengenai PMS HIV-AIDS dilakukan di Sekolah Bunda Mulia yang merupakan salah satu komunitas remaja yang dapat dijadikan sebagai contoh upaya pencegahan PMS HIV-AIDS secara dini. Pencegahan dilakukan dengan penyuluhan yang interaktif berupa diskusi dan sesi tanya jawab, yang bertujuan untuk memberikan pemahaman yang jelas bagi para siswa remaja serta guru dan petugas sekolah mengenai cara mencegah penularan PMS HIV-AIDS. Sebelum dan sesudah penyuluhan, diadakan pre-test dan post-test untuk menilai apakah ada perubahan dalam pemahaman mengenai PMS HIV-AIDS. Kegiatan diikuti oleh 88 siswa/i kelas 10-12. Secara keseluruhan terjadi peningkatan pengetahuan siswa peserta mengenai PMS HIV-AIDS dengan rata-rata poin 1.34 menjadi 1.55 setelah mengikuti kegiatan penyuluhan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan kegiatan penyuluhan telah tercapai
PENDIDIKAN SEKSUAL PADA SISWA DI SEKOLAH BUDI MULIA, BOGOR Triyana Sari; Alya Dwiana; Susilodinata Halim
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 4, No 3 (2021): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v4i3.13615

Abstract

Background: Adolescence is a transition period from childhood to adulthood. It is characterized by development of secondary sexual organs, changes in emotions and ways of thinking. It confused them and caused great curiosity. Itcan be fulfilled quickly through social media and close friends, because its the easiest sources to get, but can lead to risky sexual behavior. Budi Mulia Public High School Bogor has pretty much students and requires appropiatesexual education to prevent risky sexual behavior. The principal of Budi Mulia High School in collaboration with Faculty of Medicine, Tarumanagara University, held awareness in sexual education, specifically, adolescentpersonal health care. Method: This program was held on June 8–9, 2021 at 9–10 AM using Zoom meeting. Participants were grouped by gender, each group is given knowledge about sexual education. Results: Thisprogram was attended by 311 participants, from 15–19 years old, most othem received sexual education (93.9%) from parents/teachers/religious seminars (59.5%). From 91 participants who filled out pre-test, most of themthought that sexual education was important for health (96.7%), taught them to be responsible (96.7%), and able to make decisions about sexual behavior (85.7%). These results increase in the post-test. This indicates that continuingsexual education for adolescents is important. Suggestion: Sexual education needs to be held continuously according to the stages of human sexual development. Education to parents and teachers also important to remove taboos and myths in society. Capability to find proper information in cyberspace is very important. ABSTRAKLatar Belakang: Remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa. Masa ini ditandai dengan terjadinya perkembangan organ seksual sekunder, perubahan emosi dan pola pikir. Perubahan ini membingungkan sehinggamenimbulkan rasa ingin tahu yang besar. Hal tersebut dapat dipenuhi denga cepat melalui media sosial dan teman, karena informasi yang paling mudah didapatkan, namun dapat menimbulkan perilaku seksual berisiko. Sekolah Menengah Umum Budi Mulia Bogor memiliki jumlah siswa yang cukup banyak dan memerlukan informasi pendidikan seksual yang tepat untuk mencegah perilaku seksual berisiko. Pimpinan SMU Budi Mulia bekerjasama dengan FK Universitas Tarumanagara mengadakan penyuluhan pendidikan seksual sebagai bagian dari pemeliharaan kesehatan pribadi remaja. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 8–9 Juni 2021 pukul 09.00–10.00 WIB melalui aplikasi zoom meeting. Peserta dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin dan diberikan pengetahuan mengenai pendidikan seksual. Hasil: Kegiatan diikuti oleh 311 peserta, usia 15–19 tahun, mayoritas pernah mendapatkan pendidikan seksual (93,9%) dari orang tua/guru/seminar keagamaan (59,5%). Dari 91 peserta yang mengisi pre-test, sebagian besar  berpendapat bahwa pendidikan seksual penting untuk kesehatan (96,7%), mengajarkan mereka bertanggungjawab (96,7%), dan dapat mengambil keputusan akan perilaku seksual (85,7%). Hasil tersebut meningkat pada post test. Hal ini menunjukkan pentingnya pendidikan seksual yang  berkelanjutan bagi remaja. Saran: Pendidikan seksual perlu diadakan terus menerus sesuai tahapan perkembangan seksual manusia. Pendidikan kepada orangtua dan guru juga penting untuk menghilangkan tabu dan mitos di masyarakat.  Kemampuan untuk mencari informasi yang tepat di dunia maya juga sangat penting
Dampak stres terhadap tekanan darah Mahasiswa Kedokteran Universitas Tarumanagara sebelum ujian Keterampilan Klinis Dasar Blok Sistem Muskuloskeletal Bepri Agnesia Kawi; Alya Dwiana
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i2.3855

Abstract

World Health Organization menyatakan pada tahun 2014 didapatkan hampir seperempat populasi di Indonesia mengalami peningkatan tekanan darah. Menurut Departemen Kesehatan Indonesia, hipertensi menduduki peringkat kedua setelah stroke sebagai penyebab kematian terbanyak. Stres merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan hipertensi primer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stres terhadap tekanan darah pada mahasiswa kedokteran sebelum menjalani ujian keterampilan klinis. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan desain cross sectional. Total responden yang mengikuti penelitian ini adalah 40 mahasiswa yang berdasarkan kuesioner Depression, Anxiety, and Stress Scale (DASS) terdiri dari 21 orang yang tidak stres dan 19 orang yang stres ketika akan menghadapi ujian keterampilan klinis. Hasil pengukuran dianalisis menggunakan t-test tidak berpasangan. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna antara stres dengan tekanan darah mahasiswa kedokteran yang akan menjalani ujian keterampilan klinis (p>0,05).
Pengaruh aroma terapi lavender terhadap peningkatan kualitas tidur mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Reyna Lauwsen; Alya Dwiana
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i1.5855

Abstract

Berdasarkan data yang diambil dari Journal of Clinical Sleep Medicine (2007), sekitar 30% masyarakat di dunia mengalami gangguan tidur berupa insomnia. Berbagai terapi farmakologi dan non-farmakologi telah dikembangkan untuk membantu memperbaiki kualitas tidur manusia, salah satunya adalah penggunaan aroma terapi Lavender (Lavandula angustifolia). Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan efek aroma terapi Lavender terhadap peningkatan kualitas tidur. Metode yang digunakan adalah quasy experimental dengan desain cross-over kepada kelompok sampel dengan menggunakan parameter kuisioner PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Index) untuk menilai kualitas tidur pada mahasiswa Kedokteran di Universitas Tarumanagara. Sebanyak 42 orang responden penelitian terbagi menjadi 2 kelompok dan keduanya mendapatkan aromaterapi lavender dan placebo secara bergantian dengan periode wash out diantaranya.  Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji non-parametrik Wilcoxon Signed Rank.  Pada penelitian ini baik aroma terapi Lavender maupun plasebo secara statistik dapat meningkatkan kualitas tidur (p < 0.05).  Dengan demikian, aroma terapi Lavender tidak lebih bermanfaat dalam memperbaiki kualitas tidur dibandingkan dengan plasebo.
Pengaruh musik klasik terhadap tingkat kecemasan mahasiswa blok Sistem Muskuloskeletal Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rachelle Betsy; Alya Dwiana
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i1.5863

Abstract

World Health Organization tahun 2016 melaporkan sekitar 26,67% masyarakat di dunia mengalami gangguan mental berupa gangguan cemas dan depresi. Berbagai terapi farmakologi dan non-farmakologi telah dikembangkan untuk membantu memperbaiki tingkat kecemasan manusia, salah satunya adalah penggunaan musik klasik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh music klasik terhadap tingkat kecemasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan uji controlled-trial kepada kelompok sample dengan menggunakan parameter kuisioner STAI-S (Spielberger’s State and Trait Anxiety Inventory-State) untuk menilai tingkat kecemasan. Total responden yang mengikuti penelitian ini adalah sebanyak 60 orang dan terbagi ke dalam 2 kelompok (perlakuan dan kontrol). Studi ini merupakan studi analitik komperatif variable numerik dan dalam melakukan analisa data digunakan uji-t independent. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa music klasik secara statistik tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat kecemasan.
Perbedaan tingkat intelegensia spasial antara pengguna dominan tangan kiri dengan pengguna dominan tangan kanan pada sekelompok mahasiswa di Universitas Tarumanagara Rachel Natalia; Alya Dwiana
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i1.5864

Abstract

Berdasarkan konsep lateralisasi otak, korteks serebral hemisfer kanan yang mengendalikan tubuh bagian kiri, cenderung memiliki dominansi untuk mengendalikan kemampuan visual/spasial. Sehingga dapat dinyatakan bahwa pengguna dominan tangan kiri lebih baik dalam intelegensia spasial dibanding dengan pengguna dominan tangan kanan. Tujuan dari penelitian cross-sectional ini adalah untuk mengetahui perbedaan antara kedua preferensi dominan penggunaan tangan dalam intelegensia spasial. Sebanyak 13 responden pengguna dominan tangan kiri dan 13 responden pengguna dominan tangan kanan dari mahasiswa S1 Universitas Tarumanagara yang direkrut dengan teknik convenient non-random sampling. Responden tersebut kemudian selanjutnya melakukan pengisian kuisioner Modified Edinburgh Handedness Inventory untuk memastikan preferensi dominan penggunaan tangannya, dan kuisioner Howard Gardner – Multiple Intelligence Test untuk mengetahui tipe inteligensianya. Data dianalisa dengan uji statsitik t untuk 2 sampel yang tidak berpasangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa intelegensia spasial pada pengguna dominan tangan kiri secara statistik lebih baik daripada pengguna dominan tangan kanan (p = 0.045). Dapat disimpulkan bahwa pengguna dominan tangan kiri memiliki keunggulan dalam intelegensia spasial dibanding dengan pengguna dominan tangan kanan.
Hubungan kualitas tidur dengan memori jangka pendek pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Angkatan 2017 Kelvin Pangestu; Alya Dwiana
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i2.7844

Abstract

Tidur memiliki fungsi yang penting salah satunya untuk daya ingat(memori). Masalah kualitas tidur dan daya ingat mempunyai dampak terutama pada mahasiswa dalam menjalankan kegiatan pembelajaran. Tujuan dari penelitian yang dilakukan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan memori pada mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2017. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode analitik cross sectional dengan teknik Simple Ramdom Sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menilai kualitas tidur dan tes Digit Span untuk menilai daya ingat (memori). Dari 110 responden yang diteliti, Terdapat 76 responden yang memiliki kualitas tidur yang buruk dimana diantaranya sebanyak 61 responden (80,3%) memiliki memori yang buruk dan 15 responden (19,7%) memori yang baik. Terdapat 34 responden yang diketahui memiliki kualitas tidur yang baik, dimana sebanyak 16 responden (47,1%) memiliki memori yang baik dan 18 responden (52,9%) mempunyai memori yang buruk. Dengan demikian dapat disimpulkan terdapat hubungan secara statistik antara kualitas tidur dengan memori pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Angkatan 2017 (p = 0,007).
Hubungan mendengarkan musik klasik dalam menurunkan tekanan darah tinggi pada lansia di Panti Sosial Tresna Wreda Budi Mulia 3 Jakarta Selatan Stevania Nugralia Thielmanuela Izaak; Alya Dwiana
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9752

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit penyebab kematian tersering dan dapat ditemukan tanpa gejala sampai perkembangan lanjut. Penanganan hipertensi berupa terapi non-farmakologis (pengaturan diet, penurunan berat badan) dan terapi farmakologis (obat anti hipertensi). Salah satu alternatif terapi non-farmakologis yang dapat digunakan untuk menurunkan tekanan darah tinggi adalah terapi musik klasik. Studi ini dilakukan untuk mengetahui apakah terapi musik klasik dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Metode yang digunakan adalah studi analitik yang dilakukan secara eksperimental. Studi dilakukan terhadap lansia usia 60 tahun keatas di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 Jakarta Selatan. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 42 orang lansia dengan pre-hipertensi, hipertensi derajat I dan hipertensi derajat II yang diambil dengan teknik konsekutif. Sampel dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 21 orang kelompok yang mendengarkan musik klasik dan 21 orang kelompok tidak mendengarkan musik klasik (kelompok kontrol). Berdasarkan hasil pstudi dengan uji Wilcoxon disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tekanan darah yang bermakna secara statistik pada kelompok yang mendengarkan musik klasik (p=0.005), dan tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada kelompok yang tidak mendengarkan musik klasik secara statistik (p=0.18).
PENDIDIKAN SEKSUAL PADA SISWA DI SEKOLAH BUDI MULIA, BOGOR Sari Mariyati Dewi Nataprawira; Triyana Sari; Alya Dwiana; Susilodinata Halim
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 4 No. 3 (2021): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v4i3.13615

Abstract

Background: Adolescence is a transition period from childhood to adulthood. It is characterized by development of secondary sexual organs, changes in emotions and ways of thinking. It confused them and caused great curiosity. Itcan be fulfilled quickly through social media and close friends, because its the easiest sources to get, but can lead to risky sexual behavior. Budi Mulia Public High School Bogor has pretty much students and requires appropiatesexual education to prevent risky sexual behavior. The principal of Budi Mulia High School in collaboration with Faculty of Medicine, Tarumanagara University, held awareness in sexual education, specifically, adolescentpersonal health care. Method: This program was held on June 8–9, 2021 at 9–10 AM using Zoom meeting. Participants were grouped by gender, each group is given knowledge about sexual education. Results: Thisprogram was attended by 311 participants, from 15–19 years old, most othem received sexual education (93.9%) from parents/teachers/religious seminars (59.5%). From 91 participants who filled out pre-test, most of themthought that sexual education was important for health (96.7%), taught them to be responsible (96.7%), and able to make decisions about sexual behavior (85.7%). These results increase in the post-test. This indicates that continuingsexual education for adolescents is important. Suggestion: Sexual education needs to be held continuously according to the stages of human sexual development. Education to parents and teachers also important to remove taboos and myths in society. Capability to find proper information in cyberspace is very important. ABSTRAKLatar Belakang: Remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa. Masa ini ditandai dengan terjadinya perkembangan organ seksual sekunder, perubahan emosi dan pola pikir. Perubahan ini membingungkan sehinggamenimbulkan rasa ingin tahu yang besar. Hal tersebut dapat dipenuhi denga cepat melalui media sosial dan teman, karena informasi yang paling mudah didapatkan, namun dapat menimbulkan perilaku seksual berisiko. Sekolah Menengah Umum Budi Mulia Bogor memiliki jumlah siswa yang cukup banyak dan memerlukan informasi pendidikan seksual yang tepat untuk mencegah perilaku seksual berisiko. Pimpinan SMU Budi Mulia bekerjasama dengan FK Universitas Tarumanagara mengadakan penyuluhan pendidikan seksual sebagai bagian dari pemeliharaan kesehatan pribadi remaja. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 8–9 Juni 2021 pukul 09.00–10.00 WIB melalui aplikasi zoom meeting. Peserta dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin dan diberikan pengetahuan mengenai pendidikan seksual. Hasil: Kegiatan diikuti oleh 311 peserta, usia 15–19 tahun, mayoritas pernah mendapatkan pendidikan seksual (93,9%) dari orang tua/guru/seminar keagamaan (59,5%). Dari 91 peserta yang mengisi pre-test, sebagian besar  berpendapat bahwa pendidikan seksual penting untuk kesehatan (96,7%), mengajarkan mereka bertanggungjawab (96,7%), dan dapat mengambil keputusan akan perilaku seksual (85,7%). Hasil tersebut meningkat pada post test. Hal ini menunjukkan pentingnya pendidikan seksual yang  berkelanjutan bagi remaja. Saran: Pendidikan seksual perlu diadakan terus menerus sesuai tahapan perkembangan seksual manusia. Pendidikan kepada orangtua dan guru juga penting untuk menghilangkan tabu dan mitos di masyarakat.  Kemampuan untuk mencari informasi yang tepat di dunia maya juga sangat penting