Claim Missing Document
Check
Articles

SARANA EDUKASI HIBURAN DAN REKREASI KWEETANG Yashinta Mettaserani Dewi; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6827

Abstract

Public space is one important element for an area that can be a guide and reflect the character of a society. The existence of public space is a necessity that must be met in the formation or development of an area. At present, public space is also expected to function as a third place that is able to answer the needs of the community to fill the time between returning to work and returning home. Kwitang has minimal social interaction due to the lack of public space facilities that can facilitate the activities of residents in the area. Kwitang is one of the area that requires public space, which not only functions aesthetically, but also functions as a social function such as entertainment and recreation education facilities. The purpose of designing public facilities in this area is to produce public facilities that facilitate activities in the Kwitang, and provide a forum for residents of Kwitang to expose their identity, which is pencak silat art from those area. This public facility is expected to become a neutral third place, a place to relieve stress, a place to gather and discuss after work, school and other activities. The concept of typology of educational facilities for entertainment and recreation uses a qualitative method by looking at the previous typology retrospectively and analyzing the behavior in them, which results in typology of entertainment and recreation education facilities into a single building unit that is connected to the surrounding environment. Entertainment and recreation education facilities that are designed can become a public space that is the identity of a Kwitang Region itself. AbstrakRuang publik merupakan salah satu elemen penting bagisuatu kawasan yang dapat menjadi petunjuk dan mencerminkan karakter suatu masyarakat. Keberadaan ruang publik menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi dalam pembentukan atau perkembangan suatu kawasan. Saat ini, ruang publik juga diharapkan dapat berfungsi sebagai ruang ketiga yang mampu menjawab kebutuhan masyarakatnya untuk mengisi waktu diantara pulang bekerja hingga pulang kerumah. Kelurahan Kwitang memiliki interaksi sosial yang minim akibat kurangnya sarana ruang publik yang dapat memfasilitasi kegiatan  penduduk di kelurahan tersebut. Dengan demikian Kwitang merupakan salah satu Kawasan yang membutuhkan ruang publik, yang bukan hanya berfungsi secara estetika, tetapi juga berfungsi sebagai fungsi sosial seperti sarana edukasi hiburan dan rekreasi. Tujuan dari dirancangnya fasilitas publik pada kawasan ini adalah untuk menghasilkan fasilitas publik yang mewadahi kegiatan pada kelurahan Kwitang, dan memberikan wadah kepada penduduk kelurahan Kwitang untuk menyalurkan identitas yakni seni pencak silat dari suatu kelurahan tersebut. Fasilitas publik inilah yang diharapkan dapat menjadi sebuah ruang ketiga yang bersifat netral, menjadi sebuah wadah untuk melepas kepenatan sehari-hari, tempat untuk berkumpul dan berdiskusi selepas bekerja, sekolah dan kegiatan lainnya. ­Konsep tipologi dari sarana edukasi hiburan dan rekreasi menggunakan metode kualitatif dengan melihat tipologi terdahulunya secara retrospektif dan menganalisis perilaku didalamnya, yang menghasilkan tipologi sarana edukasi hiburan dan rekreasi menjadi satu kesatuan bangunan yang terhubung dengan lingkungan sekitar. Sarana edukasi hiburan dan rekreasi yang dirancang dapat menjadi suatu ruang publik yang menjadi identitas suatu Kawasan Kwitang itu sendiri.
SATU UNTUK TIGA : HUNIAN MULTIGENERASI Musselina Oktavanya Widiyanto; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10787

Abstract

Dwelling is an essential form of conscious human activity. The form, aesthetics or beauty, and organization of environment that build become part of how a person lives. The concept of dwelling itself closely related to time and space. Therefore, the concept may shift or replaced according to the phenomena that occurred during the period of time. It is the same thing that we feel today in the presence of COVID – 19. Newly promoted health protocols, such as social isolation creates domino effect. Outdoor activities must be carried out in the dwelling, causing the shelter to need a place to accommodate these new needs. This also creates new problems with the existence of various age groups in one family. With the aim of creating a family ecosystem in one dwelling based on issue of social isolation that interferes with how to interact, the Architectural Programming (Cherry, 2009) method are applied and also points from MASS : Designing senior housing for safe interaction (2020). The application of this method produces programs that suit the needs of each age group in a family as well as paying attention to initial issue, in this case social isolation. One for Three: Multigenerational House is a new shared space concept that combines the needs of three generation and attention to safe interaction in social isolation. In addition, One for Three: Multi-generational House retains the value of independence and identity in all group of age.  Keywords : group of age; multigeneration; safe interaction; shared space; social isolationAbstrak Berhuni merupakan salah satu bentuk kegiatan manusia secara sadar yang esensial. Bentuk, estetika, dan organisasi lingkungan binaan semuanya menjadi bagian dari bagaimana seseorang tinggal. Konsep berhuni memiliki kaitan yang erat dengan waktu dan ruang. Oleh karena itu, konsepnya akan tergeser atau digantikan sesuai dengan fenomena yang terjadi pada kurun waktu yang dimaksud. Sama hal nya yang kita rasakan saat ini yaitu adanya COVID – 19. Protokol kesehatan yang baru digalakan seperti sosial isolation dan menimbulkan efek domino. Kegiatan outdoor harus dilakukan di dalam hunian sehingga menyebabkan hunian memerlukan tempat untuk menampung kebutuhan baru tersebut. Hal ini juga menimbulkan masalah baru dengan adanya kelompok usia yang bervariasi pada satu keluarga. Dengan tujuan menciptakan ekosistem keluarga dalam satu hunian berdasarkan isu terhadap social isolation yang mengganggu cara berinteraksi, maka diterapkan metode Architectural Programming (Cherry, 2009) dan poin dari MASS : Designing senior housing for safe interaction (2020). Penerapan metode ini kemudian menghasilkan program yang sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok usia dalam suatu keluarga, serta memperhatikan isu awal yaitu social isolation. Satu untuk Tiga : Hunian Multigenerasi merupakan konsep berhuni shared space yang baru dengan menyatukan kebutuhan tiga generasi dan memperhatikan poin safe interaction in social isolation. Selain itu, . Satu untuk Tiga : Hunian Multigenerasi tetap mempertahankan nilai kemandirian dan identitas pada segala usia. 
PERANCANGAN RUMAH SUSUN HIJAU DI CENGKARENG DENGAN PENDEKATAN RETHINKING TYPOLOGY DAN TRANSPROGRAMMING Alexander Jason; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16973

Abstract

Jakarta is a city with a very high population density. Every year the population in Jakarta increases by around 88 thousand people according to the Central Statistics Agency for the Special Capital Region of Jakarta in 2020. This is partly due to the high level of urbanization. The high urbanization resulted in the increasing demand for housing. However, the limited amount of land has resulted in higher land prices while the purchasing power of most people for housing in Jakarta has decreased and has led to the emergence of slums. The bad impact of living in slums is the weakening in the quality of health which has a direct impact on the weakening in the standard of living of its inhabitants. Therefore, it is needed flats that not only deal with the problem of slum settlements but also deal with health and economic problems of the residents of the flats so that the standard of living of the community is increasing and has a healthy living environment. The concept of this project is housing that is able to accommodate the lives of Low-Income Communities. This project is a new solution for livable housing that is able to improve the welfare of Low-Income Communities through the main housing program as well as supporting programs for planting areas and independent markets. Residents are expected to be able to live and work in a healthy environment. The design approach uses "Rethinking Typology" which pays attention to aspects of spatial form/configuration, function, and image in a dwelling and the relationship between concepts and program contexts in buildings. Keywords:  housing; rethinking typology; slum settlement AbstrakJakarta merupakan kota dengan tingkat kepadatan penduduk sangat tinggi. Setiap tahun penduduk di Jakarta bertambah sekitar 88 ribu jiwa menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta tahun 2020. Hal ini antara lain disebabkan tingkat urbanisasi yang tinggi. Tingginya urbanisasi mengakibatkan bertambahnya kebutuhan akan perumahan. Namun jumlah lahan yang terbatas mengakibatkan harga lahan semakin tinggi sementara kemampuan daya beli sebagian besar masyarakat untuk hunian di Jakarta semakin menurun dan menjadikan timbulnya permukiman kumuh. Dampak buruk dari bermukim di permukiman kumuh adalah menurunnya kualitas kesehatan yang berdampak langsung pada turunnya taraf kehidupan penghuninya. Oleh karena itu dibutuhkan hunian susun yang bukan hanya menangani masalah permukiman kumuh tetapi juga menangani masalah kesehatan dan perekonomian para penghuni rumah susun tersebut agar taraf kehidupan masyarakat semakin meningkat dan mempunyai lingkungan hidup yang sehat. Konsep proyek ini adalah hunian yang mampu mengakomodasi kehidupan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Proyek ini adalah solusi baru hunian layak huni yang mampu meningkatkan kesejahteraan MBR melalui  program utama  hunian serta program pendukung area tanam dan pasar mandiri. Penghuni diharapkan dapat bermukim sekaligus bekerja di dalam lingkungan yang sehat. Pendekatan perancangan menggunakan “Rethinking Typology” yang memperhatikan aspek bentuk/konfigurasi spasial, fungsi dan citra dalam suatu hunian dan hubungan antara konsep dan konteks program dalam bangunan.
SUDIRMAN ONLINE TRANSPORT HUB Abi Rafi Pratama; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12313

Abstract

The advancement of the Transportation system goes hand in hand with the advancement of Technology. The ease of the need for public transportation can be easily accessed through smartphones, anywhere, and anytime so as to bring up the term Online Transportation. Online transportation is an internet-based transportation service in every transaction activity, ranging from booking, monitoring lines, payment, and assessment of the service. The impact of the progress of online-based public transportation can be both positive and negative. The positive impact is the ease of accessing public transportation anywhere and anytime. Another positive impact of online transportation is a fairly good level of comfort compared to conventional public transportation in terms of personal tracking, to help users in moving quickly. The negative impacts in the advancement of online-based public transportation are congestion caused by the buildup of online vehicles, friction between online pengemudi Transportasi onlines and conventional pengemudi Transportasi onlines and the use of the shoulder of the road that is used as points of customer waiting areas that cause the volume of roads to be limited and create congestion. Therefore, Sudirman Online Transportation Hub is present to organize their space or gathering points to be more organized and more organized movement and monitoring. Transport hub facility for online-based public transportation is a project created so that transportation, especially online-based ones no longer use the shoulder of the road for the gathering area, user waiting area and so on, so that the pengemudi Transportasi online and the user both have decent facilities to wait, pick up, and also rest. The facility also features many other supporting functions that are specially created so that they can be accessed using applications specifically designed for the project. Keywords: congestion; moving quickly; Transport hub facility; Online transportation AbstrakKemajuan sistem Transportasi berjalan beriringan dengan kemajuan Teknologi. Kemudahan kebutuhan akan transpotasi publik dapat dengan mudah di akses melalui smartphone, dimanapun, dan kapanpun sehingga memunculkan istilah Transportasi Online. Transportasi online adalah pelayanan jasa transportasi yang berbasis internet dalam setiap kegiatan transaksinya,mulai dari pemesanan,pemantauan jalur, pembayaran dan penilaian terhadap pelayanan jasa itu sendiri.  Dampak dari kemajuan Transportasi publik berbasis online dapat bersifat positif maupun negatif. Dampak positifnya adalah kemudahan dalam mengakses transportasi publik dimana pun dan kapan pun. Dampak Positif lain dari Transportasi online adalah tingkat kenyamanan yang cukup baik dibanding dengan transportasi publik konvensional dalam hal personal tracking, sehingga mampu membantu pengguna dalam berpindah tempat dengan cepat. Dampak negatif dalam kemajuan transportasi publik berbasis online adalah kemacetan yang disebabkan penumpukan kendaraan online, pergesekan antara pengemudi transportasi online dengan pengemudi Transportasi konvensional dan penggunaan bahu jalan yang dijadikan titik-titik area menunggu customer yang menyebabkan volume jalan menjadi terbatas dan membuat kemacetan. Untuk itu Sudirman Online Transport Hub hadir untuk mengatur ruang atau titik-titik berkumpul mereka supaya lebih tertata dan lebih teratur pergerakan dan pemantauannya. Fasilitas (Transport hub) untuk transportasi publik berbasis online ini merupakan  sebuah proyek yang dibuat agar transportasi khususnya yang berbasis online tidak lagi menggunakan bahu jalan untuk area berkumpul,area menunggu pengguna dan sebagainya, sehingga antara pengemudi dengan pengguna sama-sama memiliki fasilitas yang layak untuk menunggu, menjemput dan juga beristirahat. Fasilitas ini juga dilengkapi banyak fungsi pendukung lain yang dibuat khusus supaya dapat diakses menggunakan aplikasi yang dirancang khusus untuk proyek ini.
KAJIAN DESAIN KANTOR UNTUK GENERASI MILENIAL DENGAN KONSEP PERKAMPUNGAN SEBAGAI PENGEMBANGAN DARI TIPOLOGI KANTOR Felicia Melina Ismanto; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4488

Abstract

Along with the changing times, technological developments and changes in human attitudes, new fields of work began to develop, especially in the field of creative industries. This field is increasingly in demand by Millennials, people born in the late 1990s until the beginning of 2000. Flexible working hours and the dynamic nature of work are the main attractions of the industry. Besides, the initial capital that is not too large is also the main attraction for Millennials to open new creative industry startups. For this reason, new spaces are needed to work by the needs or habits of Millennials, but still pay attention to the standards of office regulatory requirements. The author examines and analyzes the behavior of millennial generations in the world of work to find new typologies, programs, and appropriate architectural designs. The program presented is the need for the millennial generation to work, a forum for developing entrepreneurs to become good entrepreneurs and able to respond to the outside world. In it, this building has spaces as a place to the community for workers, which is one of the behaviors of the millennial generation to develop better. AbstrakSeiring dengan perubahan zaman, perkembangan teknologi dan perubahan sikap manusia, bidang-bidang pekerjaan baru mulai berkembang, terutama bidang industri kreatif. Bidang ini semakin diminati oleh para Millennials yaitu orang yang lahir pada akhir tahun 1990 sampai awal tahun 2000. Jam kerja yang fleksibel dan sifat pekerjaan yang dinamis menjadi daya tarik utama dari bidang industri tersebut. Selain itu, modal awal yang tidak terlalu besar juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para Millennials untuk membuka startup-startup industri kreatif baru. Untuk itu dibutuhkan ruang-ruang baru untuk bekerja yang sesuai dengan kebutuhan atau kebiasaan Millennials akan tetapi tetap memperhatikan standar-standar kebutuhan peraturan kantor. Penulis mengkaji dan menganalisis tentang perilaku generasi milenial didalam dunia kerja untuk menemukan tipologi baru, program serta desain arsitektural yang tepat. Program yang disajikan merupakan kebutuhan generasi millennial didalam bekerja yaitu sebuah wadah bagi para entrepreneur yang sedang berkembang agar menjadi entrepreneur yang baik dan mampu menyikapi dunia luar. Didalamnya, bangunan ini memiliki ruang-ruang sebagai wadah untuk berkomunitas bagi para pekerja, yang mana hal ini merupakan salah satu perilaku dari generasi millennial untuk berkembang menjadi lebih baik.
Sinema Terbuka Sebagai Ruang Ketiga di Jakarta Tramilia Salsabila Utami; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8579

Abstract

Cinema in Jakarta generally located in a shopping mall in Jakarta. Cinema nowadays becomes a destination for people but not yet become a third place. The lack of third place in Jakarta that can provide a place for gathering, as a meeting point, and entertainment makes Jakarta residents used commercial building as a third place. Looking at the design and program a cinema that can meet the conditions and characteristics of a third place by looking at the phenomenon cinema in Jakarta. Open cinema takes layar tancap concept or "misbar" that have been established in Indonesia. The purpose of layar tancap is to give an entertainment in areas that are difficult to reach, apparently can be applied in the city. Under the discussion, a cinema should be able to become the third place so that makes the visitor feel comfortable, with the main activity is watching a movie. Open cinema is expected to become a third place that can provide entertainment watching a movie in Jakarta without having to come to a cinema in a shopping center. Cinema that can become a third place in Jakarta. Giving a cinema with a different atmosphere, trying to give space for people to interact while providing entertainment. Keywords: Entertainment; Open Cinema; Third place AbstrakBioskop di Jakarta umunya berada di dalam pusat perbelanjaan besar di Jakarta. Bioskop saat ini menjadi tujuan namun belum menjadi sebuah third place. Minimnya third place di Kota Jakarta yang dapat memberikan wadah untuk berkumpul, titik temu, dan menyediakan sebuah hiburan membuat warga Jakarta menjadikan bangunan komersil sebuah third place. Bagaimana desain dan program sebuah bioskop yang dapat memenuhi syarat dan ketentuan sebuah third place dengan melihat fenomena bioskop di Jakarta saat ini. Open cinema atau sinema terbuka mengambil konsep layar tancap atau misbar yang dari dulu sudah ada di Indonesia. Layar tancap yang tujuan utamanya adalah untuk memberikan hiburan di daerah yang sulit dijangkau ternyata dapat diterapkan di kota besar. Dalam pembahasan sebuah bioskop seharusnya dapat menjadi ruang ketiga sehingga dapat membuat penggunanya merasa nyaman, dengan memberikan aktivitas utama menonton film. Open Cinema diharapkan dapat menjadi third place yang dapat menyediakan hiburan menonton di Jakarta tanpa harus datang ke bioskop di pusat perbelanjaan kota seperti bioskop saat ini. Open Cinema dapat menjadi sebuah third place di kota Jakarta, yang memberikan hiburan menonton dengan suasana yang berbeda, berusaha memberikan ruang hiburan dan interaksi bagi masyarakat.
PENINGKATAN FASILITAS TAMAN BACA RPTRA ABDI PRAJA PESANGGRAHAN - JAKARTA SELATAN Nina Carina; Diah Anggraini; Mekar Sari Suteja; Maria Veronica Gandha
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.495 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v3i1.8040

Abstract

Parks initially had two functions, an ecological function or green open space and a passive social function. But along with the changes in the types and patterns of activities and lifestyles, and also because of limited land, a park no longer only bears these two functions but will be empowered to become a park with a variety of interactive community functions. For this reason, the DKI Jakarta Provincial Government has decided to develop a public space that functions more than just green space, called the RPTRA (Child Friendly Integrated Public Space). The addition of the concept of child-friendly is a form of government commitment to improve the quality of life of the community, especially families and children. This paper is the result of a study in the context of carrying out community engagement activities with the target of improving reading park facilities in the Abdi Praja RPTRA, Pesanggrahan Village, South Jakarta. The method of implementation refers to a participatory approach, by exploring the perceived problems of Partners, the views of citizens, hopes for the existence of the current Abdi Praja RPTRA, to then be identified and sought a joint solution to overcome the existing problems. This activity resulted in the addition of collections, education to children in RPTRA in the form of training in coloring and puzzle making. In addition, the provision of workshops can make RPTRA closer and beneficial for visitors of childhood. The addition of an interesting collection of books also the addition of educational children's educational tools in the form of puzzles made by children in fact makes the park more often visited and used as its functionABSTRAK:Taman pada awalnya memiliki dua fungsi, yaitu fungsi ekologis atau ruang terbuka hijau dan fungsi sosial yang bersifat pasif. Namun seiring dengan adanya perubahan jenis dan pola aktivitas serta  gaya hidup, dan juga karena adanya keterbatasan lahan, maka sebuah taman tidak lagi hanya menyandang dua fungsi tersebut namun akan diberdayakan menjadi sebuah taman  dengan fungsi komunitas interaktif ragam fungsi. Untuk itu Pemprov DKI Jakarta  memutuskan mengembangkan ruang publik yang berfungsi lebih dari sekedar RTH, dengan sebutan RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak). Penambahan konsep ramah anak merupakan wujud komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya keluarga dan anak. Tulisan ini merupakan hasil kajian dalam rangka pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dengan target peningkatan fasilitas taman baca di RPTRA Abdi Praja, Kelurahan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Metode pelaksanaannya mengacu pada pendekatan partisipatif, dengan menggali  permasalahan Mitra yang dirasakan, pandangan warga, harapan terhadap keberadaan RPTRA Abdi Praja saat ini, untuk kemudian diidentifasi dan dicarikan solusi bersama untuk mengatasi persoalan yang ada. Kegiatan ini menghasilkan penambahan koleksi, edukasi kepada anak-anak di RPTRA berupa pelatihan  proses mewarnai dan pembuatan puzzle. Selain itu pengadaan workshop dapat membuat RPTRA menjadi lebih dekat serta bermanfaat bagi pengunjung usia kanak-kanak. Penambahan koleksi buku yang menarik juga penambahan alat permaianan anak edukatif berupa puzzle yang dibuat sendiri oleh anak-anak secara nyata membuat taman baca lebih sering dikunjungi dan dimanfaatkan sebagaimana fungsinya
PENYEDIAAN DESAIN SEKAT BELAJAR DI SMK TRIGUNA JAKARTA SELATAN UNTUK PROGRAM LURING NEW NORMA Nina Carina; Mekar Sari Suteja; Maria Veronica Gandha
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v4i2.13014

Abstract

The practice of New Normal during the COVID-19 pandemic has affected the education system. The implementation of WFH (work from home) or BDR (learning from home) becomes a mandatory requirement all red zone areas in Indonesia. Some drawbacks from BDR are occurred, including the lack of accuracy in teaching material delivery and the lack of supporting facilities for learning from home also found in the teaching activities in SMK Triguna 1956. As the Jakarta Pintar cardholders, the students in this school were not able to carry out online exams due to the absence of such facilities in their homes. Based on that, the school management had submitted a proposal for practical exams in the school, especially for class XII students. This proposal led to the procurement of a supporting facility for COVID-19 transmission prevention, such as the use of a partition that should not obstruct student’s view of the blackboard which is expected to minimize the risk of transmission through droplets and airborne. In collaboration with the UNTAR’s PKM Team, several research activities were undertaken, including literature studies, discussions with teachers and school principals, spatial surveys, material assessment, as well as space measurements. The results from this research propose three design alternatives and five kinds of partition. The entire partitions were built as a mock up and been tested for their rigidity, visual ease, and the movement space. From those tests, the most recommended design was selected and followed by mass duplication per necessary needs. Through the partition installations in the classroom of SMK Triguna 1956, it is hoped to encourage the class XII students in the face-to-face teaching (offline learning), and it can also facilitate the examination properly to meet the prevention rules of COVID-19 transmissionABSTRAK:Pemberlakukan New Normal selama pandemi COVID-19 mempengaruhi sistem pendidikan. Penerapan sistem WFH (work from home) atau BDR (belajar dari rumah) menjadi hal wajib di seluruh daerah dengan kategori zona merah di Indonesia. Beberapa kekurangan BDR seperti tidak tersampaikannya materi ajar secara akurat dan kurangnya fasilitas pendukung belajar dirumah yang memadai menjadi masalah utama yang dijumpai pada kegiatan belajar di SMK Triguna 1956. Sebagai pemegang Kartu Jakarta Pintar, murid-murid di sekolah ini tidak dapat melaksanakan ujian daring (dalam jaringan) karena ketiadaan fasilitas di rumah para siswanya. Berdasarkan hal tersebut, pengelola sekolah mengajukan usulan ujian praktik di sekolah, khususnya bagi siswa kelas XII. Hal ini memerlukan pengadaan fasilitas pendukung protokol pencegahan penularan COVID-19, seperti penggunaan partisi yang diharapkan dapat memperkecil resiko penularan melalui droplet maupun airborne tanpa menghalangi pandangan siswa ke papan tulis. Bekerja sama dengan Tim PKM UNTAR, beberapa kajian dilakukan seperti studi literatur, diskusi dengan guru dan kepala sekolah, survei ruang, studi bahan hingga pengukuran ruang gerak. Kemudian dihasilkanlah 3 alternatif desain dan 5 macam contoh partisi. Keseluruhan contoh partisi dibuat mock up nya dan diuji terhadap kekakuan dan kekuatan bahan, kebebasan visual dan ruang gerak. Dari hasil tersebut diperoleh 1 desain yang paling direkomendasikan untuk menjadi sekat belajar dan digandakan sesuai jumlah kebutuhan. Dengan terpasangnya partisi pada ruang kelas SMK Triguna 1956 dari kegiatan PKM, diharapkan dapat mendukung siswa kelas XII untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka dengan sistem luring (offline), serta memberikan fasilitas memadai bagi pelaksanaan ujian yang memenuhi protokol kesehatan guna pencegahan penyebaran COVID-19
PENYEDIAAN FASILITAS PAPAN TULIS, MADING DAN INFORMASI UNTUK PEMBELAJARAN TATAP MUKA MASA PANDEMI DI SMA TRIGUNA 1956 Mekar Sari Suteja; Nina Carina
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1293.288 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.17642

Abstract

The Covid-19 pandemic has also changed the pattern of learning and the quality of children's education. Many observers of the world of education inspect that the online learning system that has been implemented has caused many negative impacts such as the magnitude of the learning loss of students. This is due to the limited mastery of information technology, facilities, infrastructure, and internet access. After more than a year of a pandemic, on August 24, 2021, the government lowered the PPKM level for the Jabodetabek and Java-Bali cities from level 4 to 3. Reopen direct learning (PTM) is planned to start Monday, August 30, 2021. According to the Joint Decree of the Four Ministers, the PTM that will be implemented will consist of 2 phases, namely a transition period (2 months from the start of PTM) and new habits (after the transition period). This PKM partner, SMA Triguna, is a private high school under the Triguna Foundation which also wants to realize the PTM program in their school. However, the limited income budget is their main problem in procuring health protocol facilities such as the provision of blackboards, madding and information. The PKM implementation process is carried out through the survey stage and board prototype study; The design results review of the collaborative PKM Team with the title "Identification of Infrastructure Needs for Direct Learning System in the Pandemic Period at Triguna High School 1956"; Re-measurement in the field; material and price surveys; The submission of working drawings from partners; Looking for materials and craftsmen; The making boards process; Ended up with the handover of products from the PKM Team to Partners. It is hoped that the results of this PKM in the form of school and class information boards can increase the readiness for the implementation of the direct learning process at Triguna High School 1956.Pandemi Covid-19 juga turut merubah pola pembelajaran dan mutu pendidikan anak. Banyak pengamat dunia pendidikan melihat bahwa sistem pembelajaran daring yang selama ini diterapkan, banyak menimbulkan dampak negatif seperti besarnya learning loss peserta didik. Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan penguasaan teknologi informasi, sarana, prasarana, dan akses internet. Setelah setahun lebih pandemik, 24 Agustus 2021 pemerintah menurunkan level PPKM wilayah Jabodetabek dan kota Jawa-Bali dari level 4 menjadi 3. Pembukaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbataspun direncanakan dimulai Senin 30 Agustus 2021. Menurut Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri, PTM yang akan dilaksanakan akan terdiri atas 2 fase yaitu masa transisi (2 bulan sejak dimulainya PTM) dan kebiasaan baru (setelah masa transisi). Mitra PKM ini, SMA Triguna, merupakan sekolah SMA Swasta dibawah Yayasan Triguna yang turut menginginkan terealisasinya program PTM disekolah mereka. Namun, keterbatasan anggaran pendapatan menjadi permasalahan utama mereka untuk mengadakan sarana-prasarana protokol kesehatan seperti pengadaan papan tulis, madding dan informasi. Proses pelaksanaan PKM dilakukan melalui tahap survey dan studi prototype papan; review terhadap hasil desain Tim PKM kolaborasi dengan judul "Identifikasi Kebutuhan Prasarana Kegiatan Belajar Sistem Tatap Muka Masa Pandemi di SMA Triguna 1956"; pengukuran kembali di lapangan; survey material dan harga; pengajuan gambar kerja dari mitra; pencarian material dan tukang; pembuatan papan dan diakhiri dengan serah terima produk dari Tim PKM ke Mitra. Diharapkan hasil PKM berupa papan informasi sekolah dan kelas ini dapat menambah kesiapan pelaksanaan proses Pembelajaran Tatap Muka di SMA Triguna 1956.
IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PRASARANA KEGIATAN BELAJAR SISTEM TATAP MUKA MASA PANDEMI DI SMA TRIGUNA Nina Carina; Mekar Sari Suteja
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.296 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.17656

Abstract

The COVID-19 pandemic has changed all aspects of life. In the education system, to avoid and prevent the transmission of the Covid-19 virus, the government has established an online learning system (on the network), as a learning system that eliminates direct meetings between students and teachers in school buildings. However, the system cannot be separated from all the shortcomings and problems it causes. With the decline in new daily cases, cases of death due to Covid-19, and vaccinations for people aged 12-17 years, the government has obligated schools to reopen direct learning (PTM) in a limited way. Triguna High School has volunteered to be one of the first schools to implement Limited Direct Learning in DKI Jakarta. To obtain limited PTM,  SMA Triguna must meet several requirements. Through discussions, interviews, field identification, the PKM team helps SMATriguna to identify the completeness of those requirements. As a final result, the PKM Team helped SMA Triguna to design two types of information boards, namely the school information board as a place to attach formal information, and the class information board to attach information related to the class activity. Class information boards are made in a special design to arouse the enthusiasm for learning and achievement of Triguna High School students when limited PTM is carried out. The selection of shapes, colors, and materials is used as a consideration in realizing creativity. The existence of an information board is not only needed for disseminating information related to activities, health conditions, and other information, but also a fulfillment of one of the requirements for achieving A accredited SMA Triguna.