Claim Missing Document
Check
Articles

PENAMBAHAN PROGRAM AKTIVITAS UNTUK MENGEMBALIKAN KUALITAS PLACE PADA MALL PLUIT VILLAGE Wijaya, Daniel; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30871

Abstract

Pluit Village Mall, which was established in 1996 and has an area of 86,691 square meters, used to be the main entertainment center in the Pluit area. However, the number of visitors continues to decrease every year. Pluit Village Mall did not anticipate the changing times that resulted in changing activity patterns. The facilities remain the same, the architectural style lags and the lack of innovation makes the people of Pluit abandon this mall. To determine the factors that caused the decline in the number of visitors at Pluit Village Mall, the author used comparative, qualitative, and direct observation research methods. Data collected from various sources, including journals and the internet, were compared with current theoretical findings. The results of the comparison show that additional buildings that offer a variety of new facilities that are different from the old ones are needed to re-attract visitors and improve the quality of Pluit Village Mall. A "Sportstainment" support facility is proposed to connect Pluit Village Mall with Pluit Reservoir. It is hoped that this will be a successful strategy to attract more visitors, both from Pluit residents and from the rest of North Jakarta. Mall Pluit Village can transform into a new destination of interest to a wide range of people by presenting new and exciting facilities. Not only is the latest generation looking for a more diverse and dynamic shopping and entertainment experience, but longtime visitors will also want to appeal to the new generation.  Keywords:  Comparative  research; Mall Pluit Village; Program; Sportstainment; Strategy Abstrak Mall Pluit Village, yang didirikan pada tahun 1996 dan memiliki luas 86.691 meter persegi, dulunya merupakan pusat hiburan utama di kawasan Pluit. Namun, jumlah pengunjung terus berkurang setiap tahunnya. Mall Pluit Village tidak mengantisipasi perubahan zaman yang mengakibatkan perubahan pola aktivitas. Fasilitasnya yang tetap sama, gaya arsitekturnya yang tertinggal, dan kurangnya inovasi membuat masyarakat Pluit meninggalkan mal ini. Untuk menentukan faktor-faktor yang menyebabkan penurunan jumlah pengunjung di Mall Pluit Village, penulis menggunakan metode penelitian komparatif, kualitatif, dan observasi langsung. Data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk jurnal dan internet, dibandingkan dengan temuan teori saat ini. Hasil komparasi menunjukkan bahwa bangunan tambahan yang menawarkan berbagai fasilitas baru yang berbeda dengan yang lama diperlukan untuk kembali menarik pengunjung dan meningkatkan kualitas Mall Pluit Village. Konsep fasilitas pendukung "Sportstainment" diusulkan untuk menghubungkan Mall Pluit Village dengan Waduk Pluit. Diharapkan ini akan menjadi strategi yang berhasil untuk menarik lebih banyak pengunjung, baik dari penduduk Pluit maupun dari seluruh Jakarta Utara. Mall Pluit Village dapat berubah menjadi destinasi baru yang diminati berbagai kalangan dengan menghadirkan fasilitas baru dan menarik. Tidak hanya generasi baru yang mencari pengalaman berbelanja dan hiburan yang lebih beragam dan dinamis, tetapi pengunjung lama juga ingin menarik kembali pembaruan ini. Di tengah persaingan ketat dengan mal-mal lainnya di Jakarta, menggabungkan elemen olahraga dan hiburan dalam satu tempat dapat menjadi kunci sukses dalam mengembalikan kualitas Mall Pluit Village.
REVITALISASI KAWASAN HARMONI: PENANGANAN SUDUT SIMPANG HARMONI DENGAN KARAKTER HIJAU Michael, Frans; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30873

Abstract

Harmoni junction reached its heyday in the 19th century marked by the emergence of the Societeit de Harmonie building and followed by the construction of hotels in the vicinity. However, the Harmoni intersection has experienced degradation of the area's vitality due to changes and developments. The Harmoni area in recent years has only become a transit point for Transjakarta users and is not as busy as it was during its heyday. Currently, Harmoni Intersection is undergoing development in terms of transportation with the construction of the Harmoni MRT station and the renovation of the Harmoni Transjakarta Central Shelter. In line with the development carried out by the government in terms of public transportation, it is necessary to develop functions and activities that can revive the Harmony Area. The method used is a qualitative and comparative method by examining the history of the development of the Harmony Area until it reached its heyday and the turning point of the reason for degradation to date. To obtain a proposal for a suitable function for the Harmony Area by handling the abandoned corner of the Harmoni Intersection of the former Hotel Des Galeries. The concept of a breathing place as a new landscape for the city of Jakarta can be a solution to revitalize the Harmony Intersection in the middle of the increasingly crowded city of Jakarta. In addition, the concept of a breathing place is harmonized with the idea of green architecture in helping to deal with pollution in Jakarta. Meanwhile, the addition of main entertainment functions such as aviaries as exhibitions, exhibitions about the history of Harmony Intersection and city parks, as well as main functions according to the needs of public transportation users such as working areas and coffee shops. Keywords: Breathing Place; District Degradation; Green Architecture; Harmoni District; Revitalization Abstrak Simpang Harmoni mencapai masa kejayaannya pada abad 19 ditandai dengan munculnya bangunan Societeit de Harmonie dan diikuti dengan pembangunan hotel-hotel di sekitarnya. Namun, simpang Harmoni mengalami degradasi kevitalan kawasan akibat perubahan dan perkembangan zaman. Kawasan Harmoni beberapa tahun terakhir hanya menjadi tempat transit bagi pengguna Transjakarta dan tidak ramai aktivitas seperti saat masa kejayaannya. Saat ini, Simpang Harmoni sedang mengalami pengembangan dalam sisi transportasi dengan adanya pembangunan stasiun MRT Harmoni dan Renovasi Halte Sentral Transjakarta Harmoni. Selaras dengan pengembangan yang dilakukan pemerintah dari sisi transportasi publik, perlu dilakukan pengembangan fungsi dan aktivitas yang dapat menghidupkan Kawasan Harmoni kembali. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dan komparatif dengan mengkaji sejarah dari perkembangan Kawasan Harmoni hingga mencapai masa kejayaannya dan titik balik alasan terjadi degradasi hingga saat ini. Untuk memperoleh usulan fungsi yang cocok bagi Kawasan Harmoni dengan penanganan Sudut Simpang Harmoni bekas Hotel Des Galeries yang terbengkalai. Konsep breathing place sebagai lanskap baru bagi Kota Jakarta, dapat menjadi solusi untuk memvitalkan kembali Simpang Harmoni di tengah Kota Jakarta yang semakin padat. Selain itu, konsep breathing place diselaraskan dengan konsep arsitektur hijau dalam membantu penanganan polusi di Jakarta. Sementara itu, dilakukan juga penambahan fungsi utama hiburan seperti aviari sebagai pameran, pameran tentang histori Simpang Harmoni dan taman kota, serta fungsi utama sesuai kebutuhan pengguna transportasi publik seperti working area dan coffee shop.
UPAYA MEMAKNAI KEMBALI CITRA EKS BANDARA KEMAYORAN MELALUI GALERI EDUKASI AVIASI Santosa, Aaron Pratama; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33923

Abstract

Kemayoran Airport, built in the 1930s and officially operational on July 8, 1940, is a historic airport that played a significant role in the development of aviation in Indonesia. Constructed by the Dutch East Indies government, it featured modern facilities comparable to European airports of its time. After undergoing various significant historical phases, including the Japanese occupation during the Asia-Pacific War and Indonesia's independence revolution, the airport continued to operate and evolve until its closure on March 31, 1985, due to limitations in accommodating rapid advancements in aviation technology, with the rise of wide-body aircraft and rapid population growth near Kemayoran airfield. Kemayoran Airport subsequently fell into neglect and was replaced by new infrastructure. The traces of Kemayoran Airport’s former glory have almost completely disappeared, rendering it a "placeless" area, with the remaining airport relics in a deteriorated condition. This project seeks to revive the image of aviation through placemaking, envisioning creative aviation-themed spaces for both the public and aviation community. Centered on an educational gallery, it offers diverse aviation-related programs accessible to all age groups and skill levels. The initiative aims to restore the identity of the former Kemayoran Airport with a meaningful function, while fostering awareness, appreciation, and public interest in the importance of aviation. Keywords: aviation; educational gallery; former kemayoran airport; history; placemaking Abstrak Bandara Kemayoran, dibangun sejak 1930-an dan resmi beroperasi 8 Juli 1940, merupakan bandara bersejarah dengan peran penting dalam perkembangan penerbangan di Indonesia. Bandara ini dibangun pemerintah Hindia Belanda dengan fasilitas modern setara bandara di Eropa pada masanya. Setelah melewati berbagai fase sejarah penting, termasuk pendudukan Jepang selama Perang Asia Pasifik dan masa revolusi kemerdekaan Indonesia, bandara ini terus beroperasi dan berkembang hingga akhirnya ditutup pada 31 Maret 1985 karena keterbatasan dalam menampung kemajuan pesat teknologi penerbangan, terutama dengan hadirnya model pesawat berbadan besar yang baru serta meledaknya jumlah populasi penduduk di wilayah sekitar lapangan udara Kemayoran. Bandara Kemayoran kemudian mulai terabaikan dan digantikan oleh infrastruktur baru. Jejak kejayaan Bandara Kemayoran hampir sepenuhnya hilang, menjadikannya sebagai kawasan yang dianggap "placeless", dengan peninggalan bandara yang tersisa dalam kondisi memprihatinkan. Proyek ini bertujuan untuk mengangkat kembali citra aviasi. Melalui metode placemaking akan lahir usulan ruang kreatif berbasis aviasi yang dapat diakses oleh masyarakat umum maupun masyarakat aviasi. Program utama berupa galeri edukasi akan menyediakan berbagai program terkait aviasi, yang dapat diakses oleh masyarakat umum maupun profesional. Melalui upaya ini, diharapkan citra eks Bandara Kemayoran dapat diangkat kembali dengan fungsi baru yang lebih bermakna, sekaligus meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat terhadap pentingnya dunia aviasi.
PENANGANAN DEGRADASI LAHAN GAMBUT MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR REGENERATIF DI PONTIANAK Horis, Ivonne Nelvina; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35594

Abstract

Peatlands are critical ecosystems with a strategic role in carbon storage and global climate balance. However, the condition of peatlands in Pontianak, West Kalimantan, has suffered serious degradation due to fires and improper land management, threatening their ecological functions and the socio-economic well-being of local communities. This study aims to formulate a regenerative architectural approach that can restore the ecological functions of peatland ecosystems while also addressing the need for adaptive and sustainable spaces. The literature review refers to regenerative design theory, which goes beyond sustainable and restorative design by emphasizing the synergy between humans and nature to create healthy and productive ecological systems. The methods used include literature studies, analysis of peatland characteristics, and conceptual design based on regenerative principles, including efficient water management and the use of lightweight materials and construction techniques responsive to peat conditions. The results indicate that regenerative architectural design can minimize ecological damage by maintaining groundwater levels, supporting biodiversity recovery, and creating educational spaces for communities to understand the importance of peatland conservation. This approach allows for a balanced integration of environmental, social, and economic needs in the sustainable development of degraded peatland areas. Keywords: land degradation; peatland; pontianak; regenerative architecture Abstrak Lahan gambut merupakan ekosistem penting dengan peran strategis dalam penyimpanan karbon dan keseimbangan iklim global, namun kondisi lahan gambut di Pontianak, Kalimantan Barat, mengalami degradasi serius akibat kebakaran dan pengelolaan yang tidak sesuai, yang mengancam fungsi ekologis dan sosial ekonomi masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan merumuskan pendekatan arsitektur regeneratif yang mampu mengembalikan fungsi ekosistem lahan gambut sekaligus memenuhi kebutuhan ruang yang adaptif dan berkelanjutan. Kajian literatur mengacu pada teori desain regeneratif yang melampaui desain berkelanjutan dan restoratif, menekankan pada sinergi antara manusia dan alam untuk menciptakan sistem ekologi yang sehat dan produktif. Metode yang digunakan adalah studi literatur, analisis karakteristik lahan gambut, dan perancangan konseptual dengan prinsip regeneratif, termasuk pengelolaan air yang efisien dan penggunaan material serta teknik bangunan yang ringan dan responsif terhadap kondisi gambut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain arsitektur regeneratif diharapkan dapat meminimalkan kerusakan ekologis dengan mempertahankan kadar air tanah, mendukung pemulihan biodiversitas, dan menciptakan ruang edukatif bagi masyarakat tentang pentingnya konservasi gambut. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya keseimbangan antara kebutuhan lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam pembangunan berkelanjutan di kawasan gambut yang terdegradasi.
PENERAPAN KONSEP EDU-TOURISM SEBAGAI SOLUSI ARSITEKTUR REGENERATIF PADA LAHAN PASCATAMBANG TIMAH DI BANGKA Sanjaya, Joanne Valencia; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35595

Abstract

The widespread exploitation of tin mining in the Bangka Belitung region has led to severe environmental degradation. One of the main causes is the lack of reclamation of post-mining land, leaving behind abandoned mining residues such as tailings and water-filled pits (kolong). These areas are often utilized as tourist spots by local communities,  yet they provide little to no contribution to actual environmental restoration. This research aims to explore how post-tin mining land in Bangka can be designed using a regenerative architectural approach combined with the concept of edu-tourism, functioning both as an educational facility and a means of ecosystem recovery. The methods used is literature studies, site observations, precedent studies, and analysis of the socio-ecological needs of local communities to identify programmatic needs as the basis for designing the proposed facilities. The analytical process was carried out in three stages: (1) identifying the existing site conditions of the post-mining land and surrounding community activities; (2) assessing the regenerative potential of the land and the educational value of environmentally-based tourism; and (3) formulating a program that supports ecological, educational, and social functions. The findings indicate that integrating these concepts can help restore the ecosystem, regenerate degraded mining areas into productive spaces, and utilize tailings as economic and social resources for local communities. Furthermore, this approach presents a potential model for sustainable post-mining land management in similar regions. The novelty of this research lies in the integration of regenerative architecture and edu-tourism to transform former mining lands into ecologically productive and socially beneficial spaces. Keywords:  edu-tourism; kolong; post-mining land; regenerative architecture; tailing Abstrak Maraknya eksploitasi tambang timah yang terjadi di wilayah Bangka Belitung telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup parah. Salah satu penyebab utamanya adalah lahan pascatambang timah yang tidak direklamasi, sehingga meninggalkan jejak tambang berupa tailing dan kolong yang terbengkalai. Area-area ini kerap kali dimanfaatkan sebagai tempat wisata oleh masyarakat sekitar, namun belum memberikan kontribusi nyata terhadap pemulihan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana lahan pascatambang timah di Bangka dapat dirancang dengan pendekatan arsitektur regeneratif dan konsep edu-tourism, sehingga mampu berfungsi sebagai sarana edukasi sekaligus mendukung pemulihan ekosistem. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi lapangan, studi preseden, dan analisis kebutuhan sosial-ekologis masyarakat lokal, untuk mengidentifikasi kebutuhan program sebagai dasar dari fasilitas perancangan. Proses analisis dilakukan melalui tiga tahap: (1) identifikasi kondisi eksisting lahan pascatambang dan aktivitas masyarakat sekitar, (2) potensi regeneratif lahan serta nilai edukatif dari tempat wisata berbasis lingkungan, serta (3) perumusan program ruang yang mendukung fungsi ekologis, edukatif, dan sosial. Hasil penelitian menggambarkan bahwa penggabungan konsep ini mampu membantu memulihkan ekosistem, meregenerasi lahan tambang menjadi ruang produktif, serta memanfaatkan tailing sebagai potensi ekonomi dan sosial bagi masyarakat lokal. Selain itu, pendekatan ini dapat menjadi contoh pengelolaan lahan pascatambang untuk wilayah yang serupa. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada integrasi arsitektur regeneratif dan edu-tourism untuk mentransformasi lahan eks tambang menjadi ruang yang produktif secara ekologis dan bermanfaat secara sosial.
INTEGRASI PANTI SOSIAL, RUMAH SUSUN DAN BUDIDAYA JAMUR SEBAGAI SOLUSI ARSITEKTUR REGENERATIF KAMPUNG KUMUH DAN TUNAWISMA DI JAKARTA Japoetro, Shevia Florentia; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35596

Abstract

The increasing number of homeless individuals and the emergence of informal settlements in Jakarta reflect the complex interconnection between social and environmental issues. Despite the government’s efforts to provide solutions through social shelters and low-cost rental housing (Rusunawa), many individuals continue to live in illegal and inadequate dwellings due to limited access to employment, skills training, and basic life-supporting facilities. Informal settlements not only highlight social vulnerability but also contribute to environmental degradation—particularly along riverbanks, which are often polluted and poorly managed. This study explores the potential to redevelop these settlements into creative vertical housing and social shelters that not only provide decent living spaces but also integrate economic empowerment and ecological regeneration through the incorporation of a mushroom cultivation center. Mushrooms were selected for several reasons: they are commonly found in humid environments such as informal settlements, they are a widely favored food source, and they are well-suited to urban areas with limited space. Moreover, mushrooms have economic value and support organic waste processing systems. The specific mushroom types used in the project—straw mushrooms, oyster mushrooms, reishi, and eucalyptus mushrooms—were chosen based on site conditions, user needs, and the limited human resources available among future residents. The methodology includes literature review, precedent studies, and analysis of site conditions and the socio-ecological needs of users. The design process follows four key stages: (1) identifying the needs of marginalized communities in informal areas, (2) analyzing the potential of mushrooms as social and ecological agents, (3) integrating regenerative functions into the spatial program, and (4) formulating a creative housing concept rooted in regenerative, educational, and recreational architecture. Through this study, it becomes evident that regenerative architecture offers a promising approach to addressing homelessness by integrating it with mushroom cultivation systems. Beyond serving as a food and waste solution, mushroom cultivation presents broader opportunities for empowering homeless communities and improving local ecosystems. The outcomes of this study provide a conceptual foundation and design reference for developing socio-ecological-architectural programs as effective solutions for ensuring sustainability in Jakarta’s marginal urban areas. Keywords: homeless; jakarta; mushroom; regenerative; social housing Abstrak Fenomena meningkatnya jumlah tunawisma dan munculnya permukiman kumuh di Jakarta mencerminkan kompleksitas permasalahan sosial dan lingkungan yang saling berkaitan. Meski pemerintah telah mengupayakan solusi melalui panti sosial maupun penyediaan rumah susun sederhana sewa (rusunawa), banyak individu tetap tinggal di hunian ilegal dan tidak layak karena keterbatasan akses pekerjaan, keterampilan, dan fasilitas pendukung kehidupan. Permukiman kumuh tidak hanya memperlihatkan sisi kerentanan sosial, tetapi juga memperburuk kualitas lingkungan, terutama di area bantaran sungai yang rawan tercemar dan tidak tertata. Studi ini menyoroti potensi pengembangan ulang kawasan kumuh menjadi rusun dan panti sosial kreatif yang tidak hanya menyediakan hunian layak, tetapi juga fungsi pemberdayaan ekonomi dan regenerasi ekologis melalui integrasi pusat budidaya jamur. Budidaya jamur dipilih karena jamur beberapa alasan seperti jamur dapat dijumpai setiap hari khususnya pada Kawasan lembab seperti permukiman kumuh; jamur merupakansalah satu bahan makanan yang disukai dan cocok diterapkan di area perkotaan dengan lahan terbatas, bernilai ekonomi, serta mendukung sistem pengolahan limbah organik. Jenis jamur yang digunakan secara spesifik adalah jamur merang, jamur tiram, jamur reishi dan jamur kayu putih berdasarkan kriteria konteks tapak dan kebutuhan serta batasan sumber daya manusia yang akan menghuni proyek. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, studi preseden, serta analisis tapak dan kebutuhan sosial-ekologis pengguna. Proses pengumpulan data analisis dan hasil jurnal dilakukan melalui empat tahap: (1) identifikasi kebutuhan masyarakat marjinal di kawasan kumuh, (2) kajian potensi jamur sebagai agen sosial dan ekologis, (3) integrasi fungsi regeneratif ke dalam program ruang, dan (4) penyusunan konsep rusun kreatif berbasis arsitektur regeneratif, edukatif, dan rekreatif. Melalui kajian tersebut akan ditemukan bahwa solusi regeneratif arsitektur dapat membantu menyelesaikan permasalahan tunawisma yang diintegtrasikan dengan pusat mengembangan jamur. Budidaya jamur tidak hanya dapat mengatasi limbah dan sumber pangan tetapi dapat memberikan potensi besar bagi tunawisma dan ekosistem secara luas. Hasil kajian dapat inspirasi serta dasar pemikiran untuk mengembangkan program ruang sosial-ekologis-arsitektural sebagai solusi efektif demi keberlanjutan ekosistem di kawasan urban marjinal Jakarta.
EVALUASI REALISASI PANDUAN RANCANG KOTA KAWASAN CIKINI SUB KAWASAN 1 DAN 2 Carina, Nina; Hartawidjaja, Elisha; Pricilia Angel R.M; Angrica, Kelly; Annisa Diva; Chen, Stephen
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i2.29290

Abstract

The city of Jakarta as the National Capital is always growing and changing. To control and manage this the DKI Jakarta Provincial Government has a tool in the form of a-Urban Design Guidelines (UDGL) as stated in DKI Jakarta Provincial Governor Regulation number 147 of 2017 concerning Guidelines for Preparing Urban Design Guidelines. UDGL was prepared as a strategy to implement quality policies on urban design and urban architecture. UDGL guides urban design actors, including urban planning and design expertise, developers, private sectors, and other parties, to create a common perception and consistency with local governments. The large number of actors who play a role in the development of the city of Jakarta, as well as the very rapid changes in city development, are challenges in realizing physical development by the UDGL. The 2030 DKI Jakarta Provincial Spatial Planning Plan has designated the Cikini Area in Central Jakarta as one of the central system activities of the Central Jakarta Administrative City. As a guide, what is stated in the UDGL document can be implemented completely as stated, but it can also only be implemented partially. The evaluation of the City Design Guide for the Cikini Region Sub Regions 1 and 2 aims to assist the DKI Jakarta Provincial Government in seeing the suitability of the guideline with the implementation of the development that is taking place. By using descriptive-analytical-comparative methods, the research produced direct observation results in the field which were compared with the aspects contained in the UDGL and other supporting documents. The results of the study purposed to be a review to help the DKI Jakarta Provincial Government see the suitability of development to determine steps for the next UDGL.
PENGAMATAN KESESUAIAN TATA GUNA LAHAN DI SUB KAWASAN 2 MANGGARAI JAKARTA SELATAN Carina, Nina; Angelita Natasya; Putri Mentari Supit; Angel Stevany
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 1 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i1.33985

Abstract

Since it was still called Batavia, Jakarta has been the center of government. The strategic location of Jakarta with its port has for centuries made this city grow and develop continuously. All changes and developments occur quickly, both planned and unplanned. For this reason, the Jakarta City Government created Urban Design Guidelines (UDGL) to guide all development directions towards a better Jakarta. The relocation of the National Capital to Kalimantan will result in DKI Jakarta being transformed into DK Jakarta; the center of the national economy and a global city. Transportation system support to overcome congestion has been implemented and continues to be planned in various ways, such as providing various integrated public transportation systems, to developing city areas that are oriented towards public transportation systems commonly known as TOD (Transit Oriented Development). Manggarai Station is the busiest station in Jabodetabek and is planned to become a central station. Thus, the Manggarai area is one of the locations that will be developed as a TOD. Unfortunately, the Manggarai area does not have UDGL. Using the descriptive identification method obtained through direct observation in the field and comparing it with the land use contained in the Detailed Jakarta Spatial Plan and Land Use Theory, findings, suggestions, and recommendations were obtained to be used for DCKTRP as consideration in preparing the Manggarai Area UDGL in the future. Observations on the suitability of land use in Sub Region 2 are an inseparable part of the 3 observations carried out in the Manggarai Area. ABSTRAK Sejak masih bernama Batavia, Jakarta telah menjadi pusat pemerintahan. Letak kota Jakarta yang strategis dengan pelabuhannya selama berabad-abad menjadikan kota ini tumbuh dan berkembang terus menerus. Segala perubahan dan perkembangan terjadi dengan cepat, baik terencana maupun tidak terencana. Untuk itu, Pemerintah Kota Jakarta membuat Pedoman Rancang Kota (PRK) atau Urban Design Guidelines (UDGL) untuk memandu segala arah pembangunan menuju Jakarta yang lebih baik. Pemindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan akan mengakibatkan DKI Jakarta menjelma menjadi DK Jakarta, yaitu kota yang menjadi pusat perekonomian nasional dan kota global. Dukungan sistem transportasi untuk mengatasi kemacetan telah dilaksanakan dan terus direncanakan dengan berbagai cara, seperti penyediaan berbagai sistem transportasi umum yang terintegrasi, hingga pengembangan kawasan kota yang berorientasi pada sistem transportasi umum atau biasa dikenal dengan TOD (Transit Oriented Development). Stasiun Manggarai merupakan stasiun tersibuk di Jabodetabek dan direncanakan menjadi stasiun sentral. Dengan demikian Kawasan Manggarai menjadi salah satu lokasi yang akan dikembangkan sebagai TOD. Sayangnya, saat ini kawasan Manggarai belum memiliki PRK. Dengan metode identifikasi deskriptif yang diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan dan membandingkannya dengan tata guna lahan yang tertuang pada Rencana Detail Tata Ruang Jakarta serta teori Tata Guna Lahan pada Kawasan TOD, diperoleh temuan, saran dan rekomendasi untuk dijadikan bahan pertimbangan oleh Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (DCKTRP) dalam penyusunan PRK Kawasan Manggarai kedepannya. Pengamatan kesesuaian tata guna lahan di Sub Kawasan 2 merupakan satu bagian tak terpisahkan dari 3 pengamatan yang dilakukan di Kawasan Manggarai.