Claim Missing Document
Check
Articles

DESAIN LAPANGAN BASKET SMAN 70 JAKARTA Maria Veronica Gandha; Nina Carina
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1348.137 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.17704

Abstract

To prepare for Face-to-face Learning in the Pandemic Period, SMA 70 is preparing for the best facilities and infrastructure. One of the facility needed is an open field. SMA 70 has a large outdoor area that can be used for outdoor activities both for sports and for other activities such as ceremonies and even outdoor classroom. Sport as one of the mandatory subject at school and is also the second bastion of COVID-19 prevention. The  face-to-face learning activities that stop since March 2020 has caused some facilities and infrastructure poorly maintained. The 70th High School Basketball Court is an example of an infrastructure that has been damaged. The previous basketball court renovation transform the concrete platform to asphalt finishing which is far from certain requirements a basketball court should meet, such as size standards, safety, comfort and others. For this reason, renovation are needed to create a basketball court that is friendly and safe for students to use for their various activities. SMAN 70 as a public school has many limitations of facilities and infrastructure, such as in in funding, in knowledge and manpower. For this need, the team have a collaboration with SMA 70 conducted a program with the title "Basketball Court Design for SMAN 70 Jakarta" as a tangible contribution of architectural science related to outdoor space planning (open space). In particular, the design will be presented in the form of 2- and 3-dimensional images and material suggestions. The goal of this design is to improve sports facilities with international and safety standard at SMAN 70 Jakarta, as well as support the implementation of face-to-face learning during the COVID-19 pandemic.
REAKTIVASI AREA PALMA-PURWOKERTO MELALUI URBAN AKUPUNKTUR Shanti Debby Suwandi; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22248

Abstract

The Palma Area is located in the center of Purwokerto City, Central Java. This area has various images attached to the local community since it was first operated. Before the independence of the Republic of Indonesia, this area was a resident of Kranji Village, then it was converted into the Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) railway line to facilitate the delivery of sugar by the Dutch East Indies government. After that, this area was developed and changed its name to East Purwokerto Station. During the independence of the Republic of Indonesia, this area caught fire and caused a decrease in the number of visitors, so it was turned into a warehouse for PT Pupuk Sriwijaya. In the end, the function of this area was completely transformed into a shop or commercial area while maintaining the authenticity of the station building. The name Palma is taken from one of the famous and victorious photo printing shops of its time. Due to the failure of the project to be built, these places keep the station area that has been evicted and shops whose buildings are still there. At this time, the city of Purwokerto is experiencing infrastructure development and increasing population growth. This is also supported by the surrounding areas which consider the City of Purwokerto as a center of trade and education. As an area visited by the people of Purwokerto City and its surroundings, the Palma Area is experiencing a decline in existence and degradation of activity and physical activity. Therefore, action is needed to improve the quality and quantity so that the Palma Area can come back to life. Through the Urban Acupuncture method, the Palma Area is planned to be a public activity point that has a commercial area and public space for the people of Purwokerto. Thus, the Palma Area can again become an attraction for Purwokerto. Keywords: Acupuncture; Crowded; Palma; Purwokerto Abstrak Area Palma terletak di pusat Kota Purwokerto, Jawa Tengah. Area ini memiliki berbagai citra yang melekat pada masyarakat setempat sejak pertama kali dioperasikan. Sebelum kemerdekaan RI, area ini merupakan sebuah permukiman penduduk bernama Desa Kranji, kemudian dialihfungsikan menjadi jalur kereta api Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) untuk mempermudah pengiriman gula oleh pemerintahan Hindia-Belanda. Setelah itu, area ini dikembangkan dan berganti nama menjadi Stasiun Purwokerto Timur. Saat kemerdekaan RI, area ini dibakar dan sempat mengalami penurunan jumlah pengunjung, sehingga fungsinya dialihkan menjadi Gudang PT Pupuk Sriwijaya. Hingga pada akhirnya, fungsi area ini berubah total menjadi pertokoan atau area komersial dengan tetap menjaga keaslian gedung stasiun. Nama Palma diambil dari salah satu toko cetak foto yang terkenal dan jaya pada masanya. Karena kegagalan proyek yang akan dibangun, tempat ini berujung menyisakan area stasiun yang telah digusur dan pertokoan yang bangunannya masih ada. Di masa ini, Kota Purwokerto mengalami perkembangan infrastruktur dan pertambahan penduduk yang terus meningkat. Hal ini juga didukung oleh daerah-daerah di sekitarnya yang menjadikan Kota Purwokerto sebagai pusat perdagangan dan pendidikan sehingga, menimbulkan banyak titik aktivitas dan keramaian di Kota Purwokerto. Namun, tidak demikian dengan Area Palma cenderung mengalami kemunduran eksistensi dan degradasi aktivitas dan fisik. Oleh karena itu, diperlukan tindakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas agar Area Palma dapat hidup kembali. Melalui metode Urban Akupunktur, Area Palma direncanakan menjadi sebuah titik aktivitas publik yang memiliki area komersial dan ruang publik bagi masyarakat Purwokerto. Dengan demikian, Area Palma dapat kembali menjadi daya tarik Kota Purwokerto.
REVITALISASI KAWASAN PECINAN SURYAKENCANA BOGOR SEBAGAI SEBUAH STRATEGI DALAM MENINGKATKAN CITRA KAWASAN Ryan Salim; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22250

Abstract

Suryakencana Street in the Suryakencana Chinatown Area, Bogor City is famous for its culinary delights. Although currently the culinary diversity in Suryakencana continues to grow, the presence of other culinary spots in Bogor has made Suryakencana's culinary name start to fade. To be able to restore and strengthen the image of the Suryakencana Area as a tourist visit route, new attractors are needed. The existence of the new attractor can improve the image of the Chinatown area, elevate Chinatown culture and make the Suryakencana area a culinary tourism area and Chinatown culture. The urban acupuncture method is used in selecting points that need to be "healed" as well as selecting new functions as attractors with the aim of improving the image of the faded Chinatown area. The selection of cultural functions as attractors is realized in a cultural center that is not only a place for cultural performances, but also can accommodate the needs of the local community for the need for shared space, expression space, and commercial space. Suryakencana Cultural Center can be a new magnet for this area. This cultural center will also be a link between the northern area of ​​the area where there are temples and markets, with the southern area which is the culinary area. The presence of this cultural center makes the culture in the Suryakencana Chinatown area to survive in line with the development of the city of Bogor. Keywords: Acupuncture; Attractor; Chinatown; Culture; Suryakencana Abstrak Jalan Suryakencana di Kawasan Pecinan Suryakencana, Kota Bogor terkenal akan kulinernya. Walaupun saat ini keragaman kuliner di Suryakencana terus bertambah namun kehadiran titik kuliner lain di Bogor menjadikan nama besar kuliner Suryakencana mulai pudar. Untuk dapat mengembalikan dan memperkuat citra Kawasan Suryakencana sebagai jalur kunjungan wisata, diperlukan attractor baru. Keberadaan attractor baru tersebut dapat meningkatkan citra kawasan pecinan, mengangkat budaya pecinan dan menjadikan kawasan Suryakencana sebagai kawasan wisata kuliner dan budaya pecinan. Metode  urban acupuncture digunakan dalam memilih titik yang perlu di “sembuhkan” serta pemilihan fungsi baru sebagai attractor dengan tujuan meningkatkan citra kawasan pecinan yang sudah pudar. Pemilihan fungsi budaya sebagai attractor diwujudkan dalam sebuah cultural centre yang tidak hanya menjadi tempat pertunjukan budaya, tetapi juga bisa mengakomodir kebutuhan masyarakat setempat akan kebutuhan ruang bersama, ruang ekspresi, serta ruang komersil. Suryakencana Cultural Center dapat menjadi magnet baru bagi kawasan ini. Cultural centre ini juga akan menjadi penghubung antara area utara kawasan yang mana terdapat vihara dan pasar, dengan area selatan yang merupakan area kuliner. Kehadiran Cultural Centre ini membuat budaya pada Kawasan Pecinan Suryakencana dapat bertahan sejalan dengan berkembangnya Kota Bogor.
PENATAAN ALUN-ALUN, PASAR DAN HUNIAN SEBAGAI TITIK TEMU KOMUNITAS MASYARAKAT EMPANG KOTA BOGOR Grace Edria; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22254

Abstract

The Empang neighborhood, also known as the Arab Village, is a part of Bogor that is notorious for being a slum and a filthy place to live and conduct business. When describing the region's early development, it should be noted how involved it was in government affairs. Physical degradation such as abandoned towns, disorganized traditional markets, and inoperable squares are some ways that its development has slowed down over time rather than improved. In the city of Bogor, contemporary marketplaces are currently expanding quickly while old markets are falling behind. Concern must be expressed over the decline of enthusiasts, particularly among the current generation of traditional markets. The old market in the Empang neighborhood is seen as being unattractive because it is excessively filthy, stinky, and dirty and because it does not meet modern needs. The Great Mosque of Empang, An Noer Mosque, and Habib Abdullah's Tomb are all nearby historical landmarks, therefore this project has a great deal of potential to engage with the neighborhood as a welcoming location that offers open space for the locals. A plan to reorganize the residential area, commerce, and services of the Empang Area is developed using the Urban Acupuncture approach. With this design, it is intended that the location will once again serve as a hub for the interaction and gathering of the Empang community. The Empang area can become a dynamic, well-organized place and a new face for the Empang area, which has long since lost its identity, through the Urban Acupuncture strategy. Keywords:  The Square; Bogor; Dwelling; Empang Area; Market Abstrak Kawasan Empang atau yang biasa disebut dengan kampung Arab merupakan kawasan yang di kenal sebagai kawasan pemukiman serta perdagangan dan jasa yang kumuh dan kotor di Kota Bogor. Dalam paparan sejarah pertumbuhannya, semula kawasan Empang sangat aktif kegiatan pemerintahannya. Seiring berjalannya waktu, perkembangannya tidak menunjukkan ke arah yang lebih baik, namun mengalami penurunan dari berbagai aspek, salah satunya yaitu mengalami degradasi fisik, seperti permukiman yang terbengkalai, pasar tradisional yang berantakan dan alun-alun yang tidak berfungsi. Di masa ini, keberadaan pasar modern di Kota Bogor berkembang pesat sedangkan pasar tradisional  semakin tertinggal. Menurunnya peminat peminat khususnya generasi  sekarang akan pasar tradisional harus menjadi perhatian. Pasar tradisional Kawasan Empang yang dinilai sudah terlalu kotor, bau, jorok, tidak mengikuti kebutuhan zaman sehingga menjadi tidak lagi menarik. Berlokasi dekat peninggalan bersejarah, Masjid Agung Empang, Masjid An Noer, dan makam Habib Abdullah menjadikan proyek ini sangat potensial untuk dapat berkolerasi dengan lingkungan sekitar sebagai tempat nyaman yang menyediakan area terbuka bagi masyarakat sekitar. Melalui pendekatan urban akupunktur disusun rencana penataan kembali lingkungan hunian, perdagangan dan jasa kawasan Empang. Dengan penataan ini diharapkan kawasan dapat kembali menjadi sebuah titik temu bagi masyarakat Empang untuk berinteraksi dan berkumpul. Melalui pendekatan urban akupunktur kawasan Empang dapat menjadi area yang hidup dan lebih tertata serta mampu menjadi wajah baru untuk Kawasan Empang yang sejak lama kehilangan identitasnya.
REDESAIN PASAR PALMERAH SEBAGAI BAGIAN DARI REVITALISASI KAWASAN PALMERAH Jonathan Kent; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22293

Abstract

Palmerah Palmerah Market is one of the economic centers of the region that has a major influence on the surrounding environment. This market was revitalized in 1999, and now the market has expired. This also affects the changes in the function of space that occur in the market. And have an impact on the pattern of buying and selling activities in the Palmerah Market. In addition, the physical condition of the market building experienced a lot of decline, causing the condition of the Palmerah Market to continue to lose its existence. The declining market conditions have a negative impact on the environment. Starting from the narrowing of pedestrian paths and vehicle lanes, to the accumulation of garbage and creating slum points and congestion. In order for various land functions in the Palmerah area to function optimally, a redesign of the Palmerah Market is needed with an Urban Acupuncture approach. Where the building can synergize with other functions in the form of offices and public spaces with the transprogramming design method. It is also directly connected to the functions of the surrounding buildings. The existence of Palmerah Market as a regional magnet in the middle of the TOD area is a vital area for the region and opens up new potential for the region. So, Redesign Palmerah Market is able to become an important point for the Region and bring new goals to the Palmerah area. Keywords: Market; Palmerah; Redesign; Urban Acupuncture Abstrak Pasar Palmerah adalah salah satu pusat perekonomian kawasan yang mempunyai pengaruh besar bagi lingkungan sekitarnya. Pasar ini pernah direvitalisasi pada tahun 1999, dan saat ini masa pakai pasar telah habis. Hal tersebut juga berpengaruh pada perubahan fungsi ruang yang terjadi dalam pasar. Dan berdampak pada pola aktivitas jual beli dalam Pasar Palmerah. Selain itu, Kondisi fisik bangunan pasar mengalami banyak penurunan, sehingga menyebabkan kondisi Pasar Palmerah terus kehilangan eksistensinya. Selain itu, kondisi pasar yang kian menurun membawa dampak buruk bagi lingkungannya. Mulai dari penyempitan  jalur pedestrian dan jalur kendaraan, hingga penumpukan sampah dan tercipta titik - titik kumuh serta kemacetan. Agar berbagai fungsi lahan  pada  kawasan  Palmerah berfungsi dengan optimal maka dibutuhkanlah Redesign Pasar Palmerah dengan pendekatan Urban Acupuncture. Dimana bangunan dapat bersinergi dengan fungsi lainnya berupa perkantoran dan ruang publik dengan metode perancangan transprogramming. Juga terkoneksi secara langsung dengan fungsi bangunan sekitarnya. Keberadaan Pasar Palmerah sebagai magnet kawasan di tengah kawasan TOD menjadi area vital bagi kawasan dan membuka potensi baru bagi kawasan. Sehingga Redesain Pasar Palmerah mampu menjadi titik  penting bagi Kawasan dan membawa tujuan baru bagi Kawasan Palmerah.
PERANCANGAN RUANG EDU-REKREASI SAMPAH PLASTIK SEBAGAI USAHA MENGHIDUPKAN KAWASAN PESISIR MUARA ANGKE Evan Christopher; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22294

Abstract

Muara Angke is one of the largest fishing boat harbor areas in Jakarta which is abundant in the potential of its natural resources. However, the potentials that are owned are starting to be closed and less developed. This is due to the pile of garbage in the coastal area of Muara Angke which causes the quality of the surrounding environment to degrade. Piles of garbage regularly come from the flow of 13 rivers in Jakarta which empties into the Jakarta Bay every time the West Wind season arrives. Based on the data, the composition of the existing waste piles is dominated by plastic type waste as much as 46-57%. In addition to the dominating composition of plastic waste, there is also a strong indication of the increasing amount of plastic waste since the pandemic due to changes in people’s behaviour during the pandemic (online shopping, food packaging, etc.). Responding to the existing condition, handling is needed to overcome the environmental degradation that occurs. The handling needed is a treatment that can pull back the movement of the population to the coastal area of Muara Angke. The approach used in this treatment is urban acupuncture. Through the urban acupuncture approach, the location of the intervention that needs to be improved and the types of functions that can be offered are obtained. Keywords:  Degradation; Muara Angke; Urban Acupuncture; Waste Abstrak Muara Angke merupakan salah satu kawasan pelabuhan kapal ikan terbesar di Jakarta yang melimpah akan potensi sumber daya alam yang dimiliki. Namun, potensi-potensi yang dimiliki mulai tertutup dan kurang berkembang. Hal ini disebabkan oleh adanya tumpukan sampah di kawasan pesisir Muara Angke yang menyebabkan kualitas lingkungan sekitar mengalami degradasi. Tumpukan sampah rutin hadir dari aliran 13 sungai di Jakarta yang bermuara di teluk Jakarta setiap musim angin Barat tiba. Berdasarkan data, komposisi tumpukan sampah yang ada didominasi oleh sampah jenis plastik sebanyak 46-57%. Selain komposisi sampah plastik yang mendominasi, juga ada indikasi kuat mengenai meningkatnya jumlah sampah plastik semenjak masa pandemi oleh karena perubahan perilaku masyarakat selama pandemi (belanja online, bungkus makanan, dan lain-lain.). Merespon kondisi yang ada, diperlukan penanganan untuk mengatasi degradasi lingkungan yang terjadi. Penanganan yang diperlukan adalah penanganan yang dapat menarik kembali pergerakan penduduk ke kawasan pesisir Muara Angke. Melalui pendekatan urban acupuncture, didapatkan titik lokasi intervensi yang perlu diperbaiki serta jenis fungsi yang dapat ditawarkan.
RELOKASI KAMPUNG NELAYAN CILINCING Dominikus Gusti Wihardani; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24303

Abstract

The Cilincing Fishermen Village, located in North Jakarta, Indonesia, has a history dating back to the 1920s as a fishing village. The majority of its residents work as fishermen, relying on the sea's resources as their livelihood. The village follows a linear two-sided settlement pattern, stretching along the road. Currently, the fishermen of Cilincing face environmental and economic challenges, such as frequent flooding and pollution from industries, impacting their livelihoods. This study also involves an analysis of social and cultural dynamics, categorizing main livelihoods, supporting livelihoods, family roles, social values, and fishing community skills before and after the relocation of the village to the sea. This will help understand the values, norms, and social practices crucial to the fishing community. The study aims to design a floating settlement that meets the physical, social, and economic needs of the fishermen, taking into account the geographical and environmental conditions. The goal is to create a sustainable relocation of the fishing community, considering architectural, economic, social, and environmental aspects that suit the fishermen's and marine environment's conditions. Keywords:  fishing village; floating; community; fishermen; marine environment Abstrak Kampung Nelayan Cilincing, yang terletak di Jakarta Utara, Indonesia, memiliki sejarah sebagai kampung nelayan sejak tahun 1920-an, sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan yang mengandalkan hasil laut sebagai penopang kehidupan mereka, dengan pola pemukiman sejajar (linier dua sisi) merupakan permukiman yang memanjang di sepanjang jalan. Saat ini nelayan Cilincing menghadapi tantangan lingkungan dan ekonomi, seperti banjir yang sering terjadi, dan pencemaran dari industri, yang mempengaruhi penghidupan nelayan. Studi ini juga harus melibatkan analisis tentang dinamika sosial dan budaya dengan kategori yang dibagi dalam mata pencaharian utama, mata pencaharian pendukung, peran keluarga, nilai sosial, dan keterampilan komunitas nelayan sebelum dan setelah pemindahan kampung ke laut. Hal ini akan membantu memahami nilai-nilai, norma, dan praktik sosial yang penting bagi komunitas nelayan. Studi ini bertujuan untuk merancang pemukiman terapung yang memenuhi kebutuhan fisik, sosial, dan ekonomi nelayan dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan lingkungan sekitarnya. Agar dapat Merancang relokasi permukiman nelayan yang berkelanjutan, dengan memperhatikan aspek-aspek arsitektural, ekonomi, sosial, dan lingkungan yang sesuai dengan kondisi masyarakat nelayan dan lingkungan laut.
PERAN ARSITEKTUR EDUKASI DAN MEDITASI SEBAGAI PENGHILANG STIGMA MASYARAKAT TERHADAP PENYANDANG DISABILITAS MENTAL Samuel Christian; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24304

Abstract

The community's bad stigma towards Persons with Mental Disabilities (PDM) adds to the occurrence of discrimination and exclusion that occurs from year to year. The lack of knowledge and the lack of opportunity and willingness of the community, especially the lower middle class to understand PDM, makes discriminatory behavior and fear continue to occur in society which then hinders the process of recovery and development of the potential that a PDM actually possesses. Difficulties in obtaining facilities and knowledge on how to educate PDM, especially during childhood, further hampered the recovery process for PDM themselves. This has an impact on the life of the PDM family itself, the independence of PDM so that the stigma of PDM in society continues. Thus a facility is needed that not only handles and trains PDM but also has educational methods, socialization for families and the community. With increased family and community understanding and knowledge of PDM, it is hoped that their empathy will increase so that they can accept the existence of PDM as members of society who also have their own potential. Keywords: people with mental disabilities; stigma; educational and meditation program Abstrak Stigma Buruk masyarakat terhadap Penyandang Disabilitas Mental (PDM) menambah terjadinya diskriminasi dan pengucilan yang terjadi dari tahun ke tahun. Kurangnya pengetahuan dan minimnya kesempatan serta kemauan masyarakat terutama kalangan menengah kebawah untuk memahami PDM membuat perilaku diskriminatif dan ketakutan terus terjadi dalam masyarakat yang kemudian menghalangi proses pemulihan serta pengembangan potensi yang sesungguhnya juga dimiliki seorang PDM. Kesulitan mendapat fasilitas dan pengetahuan tentang cara mendidik PDM terutama pada masa kanak-kanak semakin menghambat proses pemulihan bagi PDM itu sendiri. Hal ini berdampak bagi kehidupan Keluarga PDM sendiri, kemandirian PDM hingga membuat stigma PDM di masyarakat tetap berlanjut. Dengan demikian diperlukan sebuah fasilitas yang tidak  hanya menangani dan melatih PDM namun juga memiliki metoda pendidikan, sosialisasi bagi keluarga dan masyarakat. Dengan bertambahnya pemahaman dan pengetahuan keluarga dan masyarakat terhadap PDM diharapkan rasa empatik mereka akan meningkat sehingga dapat menerima keberadaan PDM sebagai anggota masyarakat yang juga memiliki potensinya masing-masing.
RUANG KOMUNITAS ANAK JALANAN DI GROGOL, JAKARTA BARAT Wijaya, Janice Adriana; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27497

Abstract

Children are the nation's next generation who are expected to realize positive hopes in the future. Until now, the phenomenon of street children is still a social problem that is often found in big cities in Indonesia, one of which is Jakarta. Street children is a term for children aged 6 to 18 years who spend most of their time on the street to survive by earning income, either in the form of money or goods. Grogol Petamburan, as an administrative area in West Jakarta, is one of the locations with the most social welfare problems. Environment is a crucial factors that influences children's health physically, psychologically and socially. The streets in Grogol, with high vehicle intensity and unhealthy air quality have the potential to hinder the growth and development process of children. The majority of street children in Grogol have the same enthusiasm for learning as other children. However, they have little opportunity to pursue non-formal education outside of school. Based on research, they have special behavior in learning, which also influences their activity space. Therefore, a community space is needed that can improve the quality of life of street children. Through empathetic architecture, community space is realized through productive activities in the form of training, teaching and socialization. The space-forming elements that are created must be based on the behavioral patterns of street children in order to create a comfortable place for street children as the main users. Keywords:  activity; behavior; children; environmen; street Abstrak Anak merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan mampu mewujudkan harapan positif di masa yang akan datang. Hingga saat ini, fenomena anak jalanan masih menjadi masalah sosial yang banyak ditemui di kota-kota besar di Indonesia, salah satunya Jakarta. Anak jalanan merupakan sebuah istilah untuk anak-anak berusia 6 hingga 18 tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan untuk bertahan hidup dengan memperoleh pemasukan, baik dalam bentuk uang ataupun barang. Grogol Petamburan sebagai wilayah administratif di Jakarta Barat, menjadi salah satu lokasi dengan penyandang masalah kesejahteraan sosial terbanyak. Lingkungan merupakan salah satu faktor krusial yang mempengaruhi kesehatan anak secara fisik, psikologi, maupun sosial. Jalanan di Grogol, dengan intensitas kendaraan yang tinggi dan kualitas udara dalam kategori tidak sehat berpotensi menghambat proses tumbuh kembang pada anak. Mayoritas anak jalanan di Grogol memiliki semangat belajar yang sama dengan anak-anak lainnya. Hanya saja, kecil kesempatan mereka untuk menempuh pendidikan non-formal di luar sekolah. Setelah diteliti, anak jalanan memiliki perilaku khusus dalam belajar, yang turut mempengaruhi ruang aktivitas mereka. Oleh karena itu, diperlukan ruang komunitas untuk meningkatkan kualitas hidup anak jalanan. Melalui arsitektur yang berempati, ruang komunitas diwujudkan melalui aktivitas produktif berupa pelatihan, pengajaran, dan sosialisasi. Elemen pembentuk ruang yang diwujudkan harus didasari oleh pola perilaku anak-anak jalanan agar sesuai dan nyaman bagi anak jalanan selaku pengguna utama.
PENERAPAN KONSEP ECO-CULTURAL TOURISM DALAM PENGEMBANGAN KAMPUNG BATIK CIWARINGIN DI CIREBON Nurwinata, Sharron; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27498

Abstract

Cirebon is a city in West Java that is not only famous for its nickname of Shrimp City but also for its rich batik cultural heritage. In addition to Trusmi, which has now become a national tourist attraction, Cirebon also has Ciwaringin area that produces Ciwaringin Batik. Ciwaringin Batik comes from Ciwaringin Village, Cirebon Regency, Ciwaringin Batik has maintained the tradition of written batik for three generations. Ciwaringin Batik Village, especially in Kebon Gedang Block, is the center of a community of batik artisans who produce written batik with traditional processes. The difference between Ciwaringin Batik and Trusmi Batik is that besides the difference in motifs, Ciwaringin Batik is made using natural dyes. Currently, the potential of Ciwaringin Batik is not widely known due to several obstacles such as limited production facilities, lack of physical and non-physical marketing facilities, hard-to-reach locations due to limited transportation systems. This results in the next generation of Ciwaringin culture is also less interested in preserving and developing Ciwaringin Batik. Through Empathy Architecture and the use of the concept of Eco-Cultural Tourism in the design, the author conducts research using qualitative descriptive methods to be able to identify the real needs to propose facilities. This facility is expected to promote local culture, improve the quality of life and economic conditions of the residents, and encourage the growth of Ciwaringin Batik art at the national and international levels. This is necessary in order to ensure the continuity and sustainability of the heritage of Ciwaringin Batik art. Keywords: batik ciwaringin, cirebon, eco-cultural tourism, empathic architecture Abstrak Cirebon merupakan Kota di Jawa Barat yang tidak hanya terkenal dengan julukan Kota Udang namun juga dengan kekayaan warisan budaya batiknya. Selain Trusmi yang saat ini sudah menjadi obyek kunjungan wisata nasional, Cirebon juga memiliki Kawasan Ciwaringin yang memproduksi Batik Ciwaringin. Batik Ciwaringin berasal dari Kampung Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Batik Ciwaringin telah mempertahankan tradisi batik tulis selama tiga generasi. Kampung Batik Ciwaringin, terutama di Blok Kebon Gedang, menjadi pusat komunitas pengrajin batik yang menghasilkan batik tulis dengan proses tradisional. Perbedaan antara Batik Ciwaringin dengan Batik Trusmi selain perbedaan motif, Batik Ciwaringin dibuat menggunakan pewarna alam. Saat ini potensi Batik Ciwaringin belum dikenal luas akibat beberapa kendala seperti keterbatasan fasilitas produksi, kurangnya fasilitas fisik dan non fisik pemasaran, lokasi yang sulit dijangkau akibat keterbatasan sistem transportasi. Hal ini mengakibatkan generasi penerus budaya Ciwaringin juga kurang tertarik untuk melestarikan dan mengembangkan Batik Ciwaringin. Melalui Arsitektur Empati dan penggunaan konsep Eco-Cultural Tourism pada penelitian, penulis melakukan penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk dapat mengidentifikasikan kebutuhan riil guna mengusulkan fasilitas. Wadah ini diharapkan dapat mempromosikan budaya lokal, meningkatkan kualitas hidup ,kondisi ekonomi penduduk, serta mendorong pertumbuhan seni Batik Ciwaringin di tingkat nasional dan internasional. Hal ini diperlukan agar dapat menjamin keberlangsungan dan keberlanjutan warisan dari seni Batik Ciwaringin ini.