Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PENINGKATAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG PENGOBATAN MANDIRI MENGGUNAKAN METODE CBIA (Community Based Interactive Approach) MASYARAKAT KELAPA SAWIT 14 Akbar, Depy Oktapian; Yatminto, Eko; Fitriah, Rahmayanti; Susiani, Eka Fitri; Muslim, Abdul Aziz; Haliza, Saufa; Damayanti, Rona; Rahmawati, Fitry; Maulida, Nazwa Asysyifa; Nafisah, Seyyidah
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v7i2.15939

Abstract

Meningkatnya praktik pengobatan mandiri di masyarakat sering tidak diiringi dengan pemahaman yang memadai mengenai penggunaan obat yang rasional. Kurangnya pengetahuan tentang cara memperoleh, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan benar berpotensi menyebabkan kesalahan penggunaan obat dan dampak kesehatan yang merugikan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu PKK di Kelurahan Sungai Besar RT 01 mengenai aspek swamedikasi melalui metode Community Based Interactive Approach (CBIA). Metode kegiatan menggunakan desain pretest–post-test satu kelompok pada 30 peserta yang dipilih secara total sampling. Intervensi dilakukan melalui edukasi interaktif menggunakan media PowerPoint, video edukasi, serta praktik langsung berbasis konsep DAGUSIBU. Instrumen evaluasi berupa kuesioner terstruktur 20 butir pernyataan yang dianalisis secara deskriptif menggunakan skala Guttman. Hasil pretest menujukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang pengobatan mandiri masih kurang. Namun pada hasil post-test menujukkan pengetahuan masyarakat mengalami peningkatan. Kesimpulan dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan CBIA efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan obat secara mandiri. Metode ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan konseptual, tetapi juga membentuk sikap kritis dan kemampuan mengambil keputusan dalam praktik swamedikasi. Oleh karena itu, edukasi CBIA dapat dijadikan strategi preventif yang relevan untuk meningkatkan literasi obat di kalangan masyarakat dan patut untuk diterapkan secara lebih luas.
Customary Law and Cultural Identity of South Kalimantan: Challenges and Opportunities in the Modern Era Khairunnisa, Khairunnisa; Muslim, Abdul Aziz; Rahmiati; Perdana, Gusti Muhammad Raja Putra
Anterior Jurnal Vol. 25 No. 2 (2026): Anterior Jurnal
Publisher : ​Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Customary law (hukum adat) constitutes an integral component of the cultural identity of South Kalimantan, particularly among Banjar communities and other local groups. As a living legal system transmitted across generations, customary law not only regulates social relations but also preserves collective values, norms, and local wisdom. This study examines the role of customary law in maintaining cultural identity in South Kalimantan while analyzing the challenges and opportunities it faces in the modern era. Using a normative-empirical legal approach, the research combines doctrinal analysis of relevant legislation with field-based observations and secondary data to explore how customary norms interact with state law, modernization, and globalization. The findings indicate that customary law continues to play a significant role in strengthening social cohesion, conflict resolution, and the preservation of cultural values such as deliberation, mutual cooperation, and harmony with nature. However, it also encounters challenges, including legal marginalization, declining intergenerational transmission, and pressures from economic development and formal legal systems. Despite these challenges, modernization offers opportunities for the revitalization of customary law through legal recognition, institutional integration, and community-based cultural education. The study concludes that strengthening the synergy between customary law and state law is essential to ensure the sustainability of cultural identity in South Kalimantan in the context of contemporary societal change.