Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

An overview of Microfilariae on patients who have received treatment in Batuah Village, Kotawaringin Timur District 2015 Dian Nurmansyah; Muhammad Fahmi; Rifqoh Rifqoh; Puspawati Puspawati; Putri Kartika Sari; Muhammad Arsyad; Aldiana Astuti
JHECDs: Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases Vol 4 No 2 (2018): JHECDs Vol. 4, No. 2, Desember 2018
Publisher : Balai Litbangkes Tanah Bumbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.552 KB) | DOI: 10.22435/jhecds.v4i2.378

Abstract

Filariasis is a chronic infectious disease, caused by filarial worms in the lymph and lymph nodes cause lymphangitis and elephantiasis. Batuah Village is the area in Sampit with the largest percentage of microfilariae compared to the surrounding area. From 196 the number of Batuah villagers examined by the filariasis elimination officer of Kotawaringin Timur District Health Office in 2013 obtained 5 positive cases of filariasis with 2.55% microfilaria number which is dominated by filaria worm Brugia malayi. From the local health center has also conducted a mass drug treatment program with DEC medication, combined with albendazole for 12 days on 14-16 July 2014. The aim of this study was to determine the success rate of treatment conducted by the health officer against filariasis patients in the Batuah village. The method used in this microfilariae examination is a microscopic method. Capillary blood was taken on 4 filarial patients who tested positive on the previous examination who had been given DEC + Albendazole treatment, the result from 4 samples that examined 1 positive sample of 4 patients. The implementation of medication that has been done by public health office was successful because there was a decrease of microfilaria rate which was previously 2.55% to 0,51% (<1%).
POTENSI FILTRAT UMBI TALAS (Colocasia esculenta (L.) Schott) SEBAGAI ANTIKOAGULAN Maya Herliana Sasmitha; Shabrina Dewi Ramadhani; Muhammad Arsyad; Nafila Nafila; Dian Nurmansyah
Klinikal Sains : Jurnal Analis Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/klinikal_sains.v11i2.3719

Abstract

A Clinical laboratory is a health laboratory that carries out clinical specimen examination services with the type of blood test material. Blood that is used as an examination material sometimes requires additional substances that can inhibit blood clotting such as anticoagulants. Natural ingredients that are thought to have anticoagulant content are taro tuber filtrate (Colocasia esculenta (L.) Schott). This study aimed to determine the potential of taro tuber filtrate (Colocasia esculenta (L.) Schott) as an alternative anticoagulant. The method used in testing anticoagulant activity is Clotting Time in Vitro. Taro tubers are grated and filtered to obtain filtrate from taro tubers. Taro tuber filtrate test samples are divided into 5 concentrations of 10%, 30%, 50%, 70%, and 90%. Each concentration was carried out 4 times with each treatment given a blood sample of 1 mL. The results of the phytochemical screening test of taro tuber filtrate contain secondary metabolite compounds of flavonoids, alkaloids, and saponins that have anticoagulant activity. Based on the results of clotting time testing that 1 mL of blood mixed with 10% taro tuber filtrate clotted after the 15th hour, while concentrations of 30%, 50%, 70%, and 90% did not occur blood clots after observation for 6 days. Based on the results of research that has been done, it can be concluded that taro tuber filtrate (Colocasia esculenta (L.) Schott) has the potential as an alternative anticoagulant
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN BIJI PEPAYA (Carica papaya) SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE Dian Nurmansyah
JURNAL PARADIGMA (PEMBERDAYAAN & PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol 4 No 1 (2022): JURNAL PARADIGMA VOLUME 4 NOMOR 1 APRIL 2022
Publisher : STIKES NGUDIA HUSADA MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat walaupun sudah dikendalikan lebih dari 20 tahun. Nyamuk Aedes sp sebagai vektor dapat membawa penyakit yang disebabkan oleh virus demam berdarah dengue. Program pengendalian vector penyakit terutama berbasis nyamuk telah dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan melalui berbagai program, seperti pemberian bubuk Abate. Penggunaan Abate terkadang tidak dapat dikontrol dengan baik, dengan alasan perubahan kualitas air baik rasa, bau dan warna. Biji papaya yang notabene dikatakan limbah ternyata dapat diolah dan digunakan sebagai anti jentik nyamuk alami yang aman dan murah. Buah pepaya mengandung zat atau unsur senyawa yang sering disebut papain. Papain mempunyai sifat sebagai anti toksik walaupun dalam dosis rendah, apabila masuk ke dalam tubuh larva nyamuk Aedes aegypti akan menimbulkan reaksi kimia dalam proses metabolisme tubuh yang dapat menyebabkan terhambatnya hormon pertumbuhan sehingga larva tidak bisa tumbuh menjadi instar IV. Bahkan akibat dari ketidakmampuan larva untuk tumbuh akibatnya terjadi kematian. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memberdayakan masyarakat dalam pemanfaatan biji pepaya sebagai biolarvasida alami untuk mencegah penyebaran penyakit demam berdarah dengue yang diperantarai oleh nyamuk Aedes aegypti
Peningkatan Derajat Kesehatan Melalui Pemeriksaan Kecacingan Dan Penyuluhan PHBS Berbasis Budaya Lokal di Sungai Tabuk Nurmansyah, Dian; Muslim, Abdul Aziz; Aji, Ifan Anom Buntoro
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 2, No 2 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v2i2.11672

Abstract

Kecacingan adalah masalah kesehatan yang umum terjadi pada anak-anak usia sekolah dasar di berbagai negara, terutama di daerah dengan sanitasi yang buruk. Kecacingan disebabkan oleh infeksi cacing usus, seperti cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing tambang (hookworms). Anak-anak usia sekolah dasar lebih rentan terhadap infeksi cacing karena mereka cenderung bermain di tanah, kurangnya pengetahuan tentang praktik kebersihan, serta sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang. Tujuan kegiatan adalah mengukur pengetahuan tentang perilaku hidup bersih dan sehat serta resiko infeksi kecacingan. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi hasil. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Desa Sungai Pinang Lama, Kecamatan Sungai Tabuk. Hasil kegiatan didapatkan peningkatan pengetahuan responden sebanyak 12.3 % dan ditemukan 3 kasus positif kecacingan golongan soil transmitted helmints pada responden anak usia sekolah dasar di MI Darul Aman Desa Sungai Pinang Lama. Kata Kunci: Kecacingan, Pengetahuan PHBS, Soil Transmitted HelmintsWorms infections are a common health problem in elementary school-aged children in various countries, especially in areas with poor sanitation. Wormworms are caused by intestinal worm infections, such as roundworms (Ascaris lumbricoides), whipworms (Trichuris trichiura), and hookworms. Elementary school age children are more susceptible to worm infections because they tend to play in the dirt, lack knowledge about hygiene practices, and their immune systems are still developing. The aim of the activity is to measure knowledge about clean and healthy living behavior and the risk of worm infections. The method of implementing activities includes preparation, implementation and evaluation of results. The activitty was held in Sungai Pinang Lama village, Sungai Tabuk District on 2024. The results of the activity showed that respondents' knowledge increased by 12.3% and 3 positive cases of soil transmitted helminths were found among elementary school age children at MI Darul Aman, Sungai Tabuk Village.
Pencegahan Demam Berdarah Dengue dengan Edukasi dan Pembuatan Abate Alami dari Biji Pepaya Dan Serbuk Daun Ketapang di Desa Pandak Daun Kecamatan Karang Intan Nurmansyah, Dian; Afra, Fairuz Yaumil; Khairunnisa, Khairunnisa
Abdimas Galuh Vol 6, No 2 (2024): September 2024
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v6i2.15802

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah masalah kesehatan global yang memengaruhi negara-negara tropis seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit DBD dan pencegahannya melalui edukasi dan penggunaan biolarvasida alami dari biji pepaya dan daun ketapang. Kegiatan ini dilakukan di Desa Pandak Daun, dengan responden yang diberikan kuesioner pre-test untuk mengukur pengetahuan awal mereka. Setelah itu, diberikan edukasi menggunakan media visual dan flyer, diikuti dengan kuesioner post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Selain itu, dilakukan demonstrasi pembuatan larvasida alami dari bahan-bahan tersebut. Hasil analisis data menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan tentang penyakit DBD sebesar 6,2% dan peningkatan pengetahuan pencegahan sebesar 5,9%. Uji statistik menunjukkan perbedaan signifikan (p < 0,05) antara tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Kesimpulan yang didapat adalah edukasi yang diberikan secara efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang DBD dan pencegahannya, serta penggunaan biolarvasida alami menawarkan alternatif ramah lingkungan dalam mengendalikan penyebaran nyamuk Aedes aegypti
Uji Aktivitas Antiglikemik In Vitro Ekstrak Etanol Daun Karamunting (Melastoma malabathricum L.) Dengan Metode Sokletasi Afra, Fairuz Yaumil; Muthia, Rahmi; Fauzana, Erwin; Nurmansyah, Dian; Normilawati, Santi
BORNEO JOURNAL OF PHARMASCIENTECH Vol 8 No 2 (2024): Borneo Journal of Pharmascientech
Publisher : Universitas Borneo Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/bjp.v8i2.564

Abstract

health problem, especially due to population growth, aging, poor lifestyle and diet, and high morbidity rates indicated by the increasing number of deaths each year. This study was conducted with the aim of determined the antidiabetic activity of samples used the Nelson-Somogi method. Samples were soxhleted used 96% ethanol solvent. The results of phytochemical screening, the extract showed positive content of phenol, flavonoid, saponin, tannin and steroid compounds. The in vitro glucose level reduction test used a UV-Vis spectrophotometer. The wavelength used was 740 nm and the incubation time was 25 minutes. The percentage of sugar level reduction after added the extract at a concentration of 1, 2 3; 4; 5 ppm was 28.56%; 40.48 percent; 51.99%; 60.74%; 70.72 percent. The linear regression equation obtained y = 10.458x + 19.128 R2 value = 0.9964. It can be concluded that the 96% ethanol extract of the sample has the potential to reduce blood sugar levels with an EC50 value of 2.95 ppm.
Malaria Density in Peripheral Blood Smear on Positive Cases of Malaria on Residences of Jaro South Kalimantan Nurmansyah, Dian; Khasanah, Maulisa; Wahyuni, Rizka Ayu; Puspawati, Puspawati
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol 11, No 2 (2024): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jambs.v11i2.375

Abstract

Malaria, a severe infectious disease caused by Plasmodium parasites, remains a significant health challenge in endemic regions of Indonesia, particularly in areas with favorable environmental conditions for Anopheles mosquitoes. The liver is a critical organ involved in the early stages of malaria infection. This study investigates malaria density in confirmed malaria cases in Jaro District, South Kalimantan. The aims of this study was to determine the parasitemia density in individuals diagnosed with malaria in the Jaro District, contributing to the understanding of malaria severity in this region. A descriptive survey approach was employed to measure malaria density in 15 respondents with confirmed Plasmodium falciparum infections. Total sampling was used, and blood specimens were collected and analyzed in the clinical pathology laboratory of RS Badaruddin Kasim. Blood smears were stained using 3% Giemsa stain, and parasitemia density was determined microscopically following the Ministry of Health's 2012 guidelines. The study identified varying levels of parasitemia density among the respondents: 33.3% had a low parasitemia density (+), 20% had moderate densities (++ and +++), and 26.7% exhibited high density (++++). The highest proportion of cases showed a low parasitemia density. The analysis of malaria density in the Jaro District reveals significant variability in parasitemia levels among patients. This variability highlights the importance of continuous monitoring and tailored interventions to manage malaria effectively in endemic regions. Understanding parasitemia density is crucial for assessing disease severity and implementing effective treatment
Eksplorasi Larva Strongyloides sp Menggunakan Metode Baermann pada Sampel Tanah di Desa Bekoso dan Desa Damit Kalimantan Timur Nurmansyah, Dian; Firda Zalianty; Puspawati; Sasmitha, Maya Herliana
urn:multiple://2988-7828multiple.v3i39
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Strongyloides stercoralis merupakan salah satu cacing parasit dari kelompok soil-transmitted helminths (STH) yang dapat menyebabkan strongyloidiasis. Infeksi ini sering tidak terdeteksi karena bersifat asimptomatis, namun dapat berujung pada komplikasi serius, terutama pada individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah. Penularan terjadi melalui kontak dengan tanah yang terkontaminasi larva infektif yang masuk ke tubuh melalui kulit atau membran mukosa. Di Indonesia, data epidemiologi infeksi ini masih terbatas, sehingga penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami distribusi dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi adanya larva Strongyloides sp dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan observasional. Pengambilan sampel tanah dilakukan di Desa Bekoso dan Desa Damit, Kalimantan Timur, dengan lima titik pengambilan di masing-masing desa. Sampel diperiksa menggunakan metode Corong Baermann, yang dikenal efektif dalam mengisolasi larva nematoda dari tanah dan feses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60% sampel tanah di Desa Bekoso dan 20% di Desa Damit positif mengandung larva Strongyloides sp. Intensitas larva lebih tinggi di Desa Bekoso, kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Kesimpulannya, metode Corong Baermann terbukti efektif dalam mendeteksi larva Strongyloides sp. pada tanah. Diperlukan upaya pencegahan melalui peningkatan sanitasi dan edukasi masyarakat untuk mengurangi risiko infeksi.
Optimasi Metode Baermann untuk deteksi Larva Soil Transmitted Helmints pada tanah di Tanah Bumbu Nurmansyah, Dian; Julpadli, Muhammad; Sasmitha, Maya Herliana; Humairah, Salsabila; Ansari, Muhammad Hafiz; Nisa, Shalehatun; Mudzakkir, Musyirah; Zalianty, Firda
Indonesian Journal of Microbiology Vol. 2 No. 2 (2025): July
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/ijm.v2i2.4618

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan larva Soil Transmitted Helminths (STHs), khususnya hookworm, pada sampel tanah di Desa Manuntung, Kecamatan Kusan Hulu, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Wilayah ini dipilih berdasarkan kesamaan karakteristik geografis dan laporan prevalensi tinggi infeksi cacing di daerah sekitarnya. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan observasional. Sebanyak 25 titik sampel tanah dikumpulkan dari dua lokasi berbeda, yaitu area persawahan (10 titik) dan area perkebunan kelapa sawit (15 titik). Sampel diambil pada kedalaman 3–5 cm dan diperiksa menggunakan metode Baermann di Laboratorium Mikrobiologi dan Parasitologi Universitas Borneo Lestari. Pemeriksaan difokuskan pada identifikasi larva hookworm berdasarkan morfologi mikroskopis, dengan analisis data disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel tanah dari persawahan (100%) dan sebagian besar dari perkebunan sawit (93,3%) positif mengandung larva hookworm. Karakteristik tanah yang gembur, berpasir, dan lembab di kedua lokasi tersebut diduga kuat mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva. Metode Baermann terbukti efektif dalam mendeteksi larva STHs karena sensitivitas tinggi dan kemampuannya menangkap larva yang bergerak aktif di media cair. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan adanya potensi tinggi penularan STHs kepada masyarakat sekitar, terutama kelompok yang bekerja di area pertanian dan perkebunan tanpa pelindung kaki. Hasil ini menjadi data awal penting untuk penelitian lanjutan pada manusia, serta mendukung perlunya intervensi berbasis perilaku dan sanitasi untuk menekan risiko infeksi kecacingan.
Human strongyloidiasis in rural villages of South Kalimantan, Indonesia: A case series Kristi, Priska PP.; Kusumasari, Peni; Puspawati, Puspawati; Tanzil, Yurniah; Nurmansyah, Dian; Syairaji, Muhammad; Kusumasari, Rizqiani A.; Sholikhah, Eti N.; Buehler, Nina; Sy, Issa; Schneitler, Sophie; Becker, Sören L.; Murhandarwati, Elsa H.
Narra J Vol. 5 No. 3 (2025): December 2025
Publisher : Narra Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52225/narra.v5i3.2515

Abstract

Strongyloidiasis, caused by the nematode Strongyloides stercoralis, can lead to severe complications, including hyperinfection syndrome and disseminated disease, particularly in immunocompromised individuals. However, data on its epidemiology and clinical significance in Indonesia remain scarce and outdated. The aim of this study was to investigate the presence of S. stercoralis, identify potential sources of infection, and explore associated risk factors. A case series of strongyloidiasis was identified during a soil-transmitted helminth survey conducted in two villages in Banjar District, South Kalimantan, Indonesia, between May and July 2024. S. stercoralis larvae were detected in four individuals out of 224 fecal samples (1.8%) using the Baermann funnel method, with confirmation via quantitative polymerase chain reaction (qPCR). All infected individuals were female farmers who reported nonspecific clinical symptoms. Subsequent environmental sampling revealed viable S. stercoralis larvae in soil from one of the villages. The detection of asymptomatic, infected individuals suggests that humans serve as reservoirs for ongoing transmission. In the context of open defecation practices, sustained transmission is likely unless targeted interventions are implemented. Urgent actions are needed, including community education and the provision of basic sanitation infrastructure such as latrines and access to clean water. These interventions are especially critical given that ivermectin—the first-line treatment for strongyloidiasis—is not currently available in Indonesia.