Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Uji Toksisitas Akut Limit Test Ekstrak Etanol 70% Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Hidayati, Listya Nor; Astuti, Karunita Ika; Rizaldi, Gusti
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 6 No. 1 (2024): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v6i1.6364

Abstract

Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) dapat digunakan untuk berbagai pengobatan penyakit, salah satunya sebagai antidiabetes. Pengujian keamanan dari bunga telang masih terbatas untuk pengembangan obat baru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gejala toksisitas serta nilai LD50 dari uji toksisitas akut. Metode OECD menggunakan hewan uji tikus betina galur wistar, yang dibagi menjadi kelompok kontrol negatif (Na-CMC) dan kelompok perlakuan (ekstrak etanol 70% bunga telang dengan dosis 5000 mg/kgBB). Hewan uji diamati gejala-gejala toksisitas dan berat badannya selama 14 hari. Pengamatan yang dilakukan meliputi kulit dan bulu, mata, tremor (gemetar), konvulsi (kejang), letargi (lesu), diare, dan mati. Hasil menunjukkan ekstrak mengandung alkaloid, fenol, flavonoid, saponin, tanin dan triterpernoid. Positif flavonoid dipertegas dengan identifikasi menggunakan kromatografi lapis tipis. Eluen yang digunakan n-heksan:etil asetat (4:2) dengan penampak bercak AlCl3 5%, nilai Rf yang didapat yaitu 0,77 dan 0,92. Berdasarkan hasil pengamatan, hewan uji tidak mengalami gejala-gejala toksisitas dan tidak mengalami perubahan bermakna pada berat badan hewan uji kontrol negatif dan perlakuan dengan nilai sig (2- tailed) pada Independent T-Test lebih dari 0,05. Hasil uji toksisitas akut menunjukkan nilai LD50 ekstrak etanol 70% bunga telang adalah >5000 mg/kgBB. Berdasarkan klasifikasi BPOM, nilai tersebut termasuk dalam kategori 5 yaitu praktis tidak toksik. Telang Flower (Clitoria ternatea L.) can be used for various treatments of diseases, like antidiabetic. Telang flower needs to be carried about the level of safety samplefor the development of new drugs. This study aimed to determine the symptoms and LD50 value of the acute toxicity with OECD 425 method. The test animals were female Wistar rats divided into controls (Na-CMC) and group with 70% ethanolic extract of telang flower at a doses of 5000 mg/kgBW. The test animals were observed for the symptoms of toxicity and body weight for 14 days. Observations were included skin, eyes, tremors, convulsions, lethargy, diarrhea, and death. The result obtained on alkaloids, phenols, flavonoids, saponins, tannins and triterpenoids. The flavonoids was confirmed by identification using thin layer chromatography with n-hexane: ethyl acetate (4:2) on AlCl3 5% spots, and the RF values obtained were 0.77 and 0.92. The result showed not experience significant changes in the body weight of controls (Na-CMC) and group at a doses of 5000 mg/kgBW with a sig (2-tailed) value on the Independent T-Test of more than 0.05. LD50 value showed of the 70% ethanolic extract of telang flower was > 5000 mg/kgBW. Based in category BPOM classification, it is include in category 5, practically non toxic.
Efek Antiinflamasi Infusa Bunga Asoka (Ixora coccinea l) pada Tikus Jantan yang Diinduksi Karagenan Fitriyanti Fitriyanti; Nurul Hikmah; Karunita Ika Astuti
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 2 No. 4 (2020): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v2i4.177

Abstract

Bunga Asoka merupakan tanaman hias yang banyak tumbuh di Indonesia serta memiliki khasiat untuk beberapa penyakit, namun dalam pemanfaatannya belum maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antiinflamasi infusa bunga Asoka (Ixora coccinea L) pada tikus jantan yang diinduksi karagenan. Haksel bunga asoka diekstraksi menggunakan metode infusa. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah penghambatan udem pada kaki tikus yang diinduksi 0,1 ml karagenan 1% selama 6 jam. Pengukuran volume udem menggunakan alat pletismometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infusa bunga asoka dosis 20%, 40%, 60% memiliki potensi sebagai obat antiinflamasi dengan persen daya antiinflamasi masing-masing 10,52 %, 11,84% dan 22,22%. Sedangkan persen daya antiinflamasi natrium diklofenak 9 mg/KgBB yaitu 29,38%. Berdasarakan hasil analisis statistic data nilai AUC rata-rata kelompok dosis infusa memiliki efek antiinflamasi yang tidak berbeda signifikan (p<0,05) dengan natrium diklofenak
Uji Aktivitas Antidiabetes Minyak Ikan Sepat Rawa (Trichopodus Trichopterus) Asal Kalimantan Selatan : Antidiabetic Activity of Swamp Fish (Trichopodus Trichopterus) Oil from South Kalimantan Karunita Ika Astuti; Fitriyanti Fitriyanti; Norhasanah Norhasanah
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2021): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v3i4.531

Abstract

Ikan sepat rawa (Trichopodus trichopterus) termasuk ikan komoditas penting Kalimantan Selatan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antidiabetes dan dosis terbaik dari minyak ikan sepat rawa (T. trichopterus). Pengujian kuantitatif yaitu uji bilangan iod dan pengujian antidiabetes menggunakan hewan uji yaitu mencit putih jantan dan diukur kadar gula darahnya menggunakan alat glukometer. Sebanyak 25 ekor mencit dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok I diberikan kontrol negatif (Na-CMC 0,5%), kelompok II diberikan glibenklamid dengan dosis 0,013 mg/20gBB, kelompok III, IV, dan V diberikan minyak ikan sepat rawa dengan dosis 0,26 mg/20 gBB; 0,52 mg /20 gBB; dan 0,78 mg/20 gBB. Hasil pengujian bilangan iod yang dilakukan 3 kali replikasi didapat rata-rata 37,95 g/100 g. Pada pengujian uji aktivitas antidiabetes, kelompok glibenklamid sebagai antidiabetes terbaik dengan persentase penurunan sebesar 63,52%, kontrol negatif memiliki persentase penurunan 6,81%, minyak ikan sepat rawa menunjukkan bahwa dosis 0,78 mg/20gBB merupakan dosis paling baik dengan persentase penurunan sebesar 20,26%, diikuti oleh dosis 0,52 mg/20gBB dengan persentase penurunan sebesar 19,07% dan dosis 0,26 mg/20gBB sebesar 6,81%. Minyak Ikan Sepat Rawa (T. trichopterus) dosis 0,52 mg/20gBB dan dosis 0,78 mg/20gBB memiliki aktivitas sebagai antidiabetes namun tidak sebanding dengan kontrol positif.
Efektivitas Tonikum Tepung Ikan Sepat Rawa (Trichopodus thricopterus) Dengan Metode Rotarod Test Astuti, Karunita Ika; Fitriyanti; Alista, Siti
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 5 No. 2 (2023): DECEMBER
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v5i2.5625

Abstract

Ikan Sepat Rawa (Trichopodus thricopterus) memiliki senyawa asam amino yang berpotensi sebagai tonikum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek tepung ikan sepat rawa sebagai tonikum. Penelitian ini bersifat eksperimental menggunakan Rotarod Test yang dilakukan pada hari ke 1 dan hari ke 7 dengan menggunakan mencit jantan sebanyak 25 ekor, yang dibagi menjadi 5 kelompok masing-masing kontrol negative (NaCMC), positif (Kafein 100mg/kgBB), dan kelompok dengan dosis 50,100 dan 150 mg/kgBB. Hasil menunjukan rata-rata jumlah jatuh kumulatif dalam 3×10 menit dan % efek tonikum hewan uji pada hari ke 1 pada kelompok kontrol negatif, positif dosis 50,100, dan 150mg/kgBB masing-masing sebesar 88,6 & 0%; 26,8 & 69,7%; 23 & 74,04%; 24 & 72,91%, 40,8 & 53,73% sementara pada hari ke 7 nilainya sebesar 88,6 & 0%; 17,8 & 79,90%; 15,4 & 82,61%; 17 & 80,81%, dan 19,6 & 77,87%. Berdasarkan hasil analisis Kurskal-Wallis pada hari ke 1 dan ke 7 sama-sama menunjukan tidak adanya perbedaan bermakna antara dosis pemberian (50 mg, 100 mg, 150 mg)/kgBB dan kontrol positif dengan nilai sig>0,05. Sehingga dapat disimpulkan dosis pemberian 50 mg/kgBB memiliki efek tonikum yang terbaik dibandingkan dengan dosis pemberian 100 mg/kgBB dan 150 mg/kgBB. Sepat Rawa (Trichopodus thricopterus) has amino acid compounds considered to have potential as a tonic. This study aimed to determine the sepat rawa fish powder as a tonic. The experiment was performed with the Rotarod Test method in 3×10 minutes, carried out on day 1 and day 7 using 25 male mice that divided into 5 groups, namely negative control group (Na-CMC); positive control group (Caffeine 100 mg/BW); and group with 50,100 dan 150 mg/kgBB doses. The results showed that the average number of cumulative in 3×10 minutes and percentage of tonic effect on first day on negative control until 150 mg/kgBW Doses were 88,6 & 0%; 26.8 & 69.7%; 23 & 74.04%; 24 & 72.91%; 40.8 & 53.73% and at the seventh showed 88,6 & 0%; 17.8 & 79.90%; 15.4 & 82.61% 17& 80.81%; 19.6 & 77.87%. Based on the results of SPSS analysis using Kurskal-Wallis on day 1 and 7, both showed no significant difference between the dose of administration (50 mg, 100 mg, 150 mg)/kgBB and a positive control with a sig>0,05. It can be concluded that the tonic effect in dose 50 mg/kgBW has better than others.
HUBUNGAN KEPATUHAN TERHADAP OUTCOME TERAPI HIPERTENSI DI APOTEK X BANJARBARU astuti, Karunita Ika; Pangestika, Indira Adi; Mariani
JURNAL PHARMA BHAKTA Vol 4 No 2 (2024): November 2024
Publisher : FACULTY OF PHARMACY, INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56710/jpb.v4i2.99

Abstract

Prevalensi penyakit hipertensi di Kalimantan Selatan sebanyak 30,8% dan khususnya di kota banjarbaru sebanyak 3.326 kasus. Salah satu usaha untuk menurunkan tekanan darah adalah kepatuhan pasien dalam menggunakan obat-obat antihipertensi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan kepatuhan penggunaan obat dengan keberhasilan terapi di Apotek X Banjarbaru. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian non eksperimental observasional yang bersifat deskriptif analitik. Sampel pada penelitian ini berjumlah 84 orang, penelitian dilakukan dengan pemberian kuisoner untuk tingkat kepatuhan danmelihat data rekam medis untuk melihat keberhasilan terapi. Hasil analisis yang diperoleh adalah kepatuhan dengan kategori kepatuhan tinggi (8) sebanyak 40 (47,6%) pasien, kepatuhan sedang (6-7) sebanyak 27(32,2%) pasien dan kepatuhan rendah sebanyak 17(20,2%). Pasien dengan terapi tercapai sebanyak 45(53,6%) pasien dan pasein dengan terapi tidak tercapai sebanyak 39(46,4%) pasien. Ada hubungan antara kepatuhan penggunaan obat dengan keberhasilan terapi padapasien hipertensi dengan nilai Sig 0,003.
Karakteristik Demografi Tingkat Kepuasan Pelayanan Informasi Obat (PIO) Depo Rawat Jalan Rumah Sakit X Rantau Dharmayati, Evy; Sunarti, Lisa; Rusida, Esty Restiana; Astuti, Karunita Ika
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 3 No 1 (2025): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v3i1.611

Abstract

Kepuasan pasien merupakan faktor penting dalam mengevaluasi kualitas layanan yang diberikan oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 30 Tahun 2022, kepuasan pasien sangat dipengaruhi oleh perspektif dan evaluasi mereka terhadap layanan yang diterima. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepuasan pasien terhadap Kepuasan Pelayanan Informasi Obat (PIO) informasi obat di Depo Rawat Jalan RSUD X Rantau.  Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan pada sampel penelitian, sebelum kuesioner diberikan kepada responden, terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Sebanyak 30 responden dari Puskesmas Tapin Utara dipilih untuk mengikuti penelitian kuesioner. Data yang terkumpul akan diolah dengan menggunakan perangkat lunak SPSS. Karakteristik demografi pasien Depo Rawat Jalan Rumah Sakit X Rantau didominasi oleh wanita (73%), kelompok usia dewasa 18–59 tahun (86%), serta tingkat pendidikan menengah (SMP/SMA/Sederajat) sebanyak 48%. Pekerjaan yang paling banyak ditemukan adalah ibu rumah tangga (30%), dengan 24% responden belum atau tidak berpenghasilan. Sebanyak 57% responden menyatakan sangat senang terhadap Pelayanan Informasi Obat (PIO), sementara 43% menyatakan cukup senang, dan tidak ada responden yang merasa tidak puas atau sangat tidak puas. Analisis hubungan menunjukkan bahwa tingkat pendidikan (ρ = 0,005) dan jenis pekerjaan (ρ = 0,043) memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kepuasan pasien terhadap layanan PIO, sedangkan jenis kelamin (ρ = 0,286), usia (ρ = 0,067), dan pendapatan (ρ = 0,079) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.
Pengembangan Produk Nutrasetika Bahan Alam di Kelompok Wanita Tani Cemara Banjarbaru Astuti, Karunita Ika; Noviadi, Aditya; Wahyudin, Wahyudin; Hidayatullah, Muhammad
Jurnal Abdimas Multidisiplin Vol. 2 No. 1 (2023): Oktober
Publisher : Penerbit Goodwood

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35912/jamu.v2i1.1929

Abstract

Purpose: Kelompok Wanita Tani (KWT) Cemara is a program that develops agricultural products from Landasan Ulin Tengah in the Liang Anggang District, Banjarbaru. Product feels have not been a massive number of simply processed snack products. The nutritional snack product has the potential to be developed considering that human and natural factors are very abundant but have not been empowered and organized. The introduction of nutraceutical theory and the potential from Landasan Ulin Tengah Village likely moringa leaves and swamp sepat fish. Furthermore, activities include training on the manufacture of nutraceuticals and marketing products.Research methodology: KWT Cemara as partners participated in UPT BPP Liang Anggang enthusiastically according to the schedule. The target of the activity of KWT Cemara follows very well and can be understood with the material.Results): The participants were very enthusiastic and reluctant to ask questions if they did not understand the demonstration of the materials.Limitations: Can assistance in marketing products that can be made by the public and provide education for PIRT or halal certificates for nutraceutical products.Contribution : This activity be useful for the products that can be developed by KWT Cemara
Uji Aktivitas Infusa Akar Tawas Ut (Ampelocissus rubiginosa L.) Sebagai Hepatoprotektor Terhadap Mencit Putih Jantan Balb/C Yang Diinduksi Karbon Tetraklorida (CCl4) Karunita Ika Astuti; Khoerul Anwar; Agung Biworo
Journal of Pharmascience Vol. 3 No. 2 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i2.5739

Abstract

Hepatoprotektor adalah senyawa atau zat yang berkhasiat melindungi sel hati terhadap pengaruh zat toksik yang dapat merusak hati. Tumbuhan Tawas ut (Ampelocissus rubiginosa L.) merupakan tanaman yang secara empiris digunakan oleh masyarakat Kalimantan Tengah sebagai hepatoprotektor. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan bukti, mengetahui dosis efektif, dan gambaran kerusakan hati mencit sebagai efek hepatoprotektor ekstrak infusa akar tawas ut pada mencit jantan Balb/C. Penelitian dilakukan dengan pemberian infusa akar tawas ut pada dosis 30%, 40%, dan 50% selama 7 hari pada mencit putih jantan yang kemudian diinduksi karbon tetraklorida (CCl4). Penelitian untuk melihat nilai SGPT dan SGOT pada serum darah serta histopatologi hati. Metode menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan dibagi menjadi 6 kelompok dengan 5 kali pengulangan. Kontrol positif menggunakan Hepa-Q dan kontrol negatif menggunakan CCl4. Hasil paling efektif dari semua kelompok terdapat pada dosis 30% dengan nilai SGPT dan SGOT sebesar 97,80 ± 18,40 U/L dan 157,00 ± 16,914 U/L, sedangkan untuk kontrol negatif memiliki nilai 375,80 ± 96,693 U/L pada SGPT dan 435,60 ± 96,432 U/L pada SGOT. Gambaran kerusakan hati secara histopatologi menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok positif dengan kelompok dosis 30% yang juga pada kelompok normal, sehingga menunjukkan adanya daya hepatoprotektor infusa tawas ut pada dosis 30%. Kata Kunci : infusa, akar tawas ut, Ampelocissus rubiginosa L., hepatoprotektor.
Efek Imunomodulator Infusa Umbi Bawang Dayak (Eleutherina palmifolia L. Merr) Dengan Metode Bersihan Karbon Rahmi Muthia; Karunita Ika Astuti
Journal of Pharmascience Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v5i1.5787

Abstract

ABSTRAK Perkembangan pengetahuan banyak mengangkat penggunaan bahan alam untuk alternatif pilihan sebagai imunomodulator. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek imunomodulator dari infusa umbi Bawang Dayak (Eleutherina palmifolia L. Merr) dengan metode bersihan karbon pada mencit putih jantan. Skrining fitokimia yang diujikan pada umbi Bawang Dayak yaitu uji flavonoid, alkaloid, steroid, kuinon, tanin dan saponin. 25 mencit galur Balb/C dibagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari kelompok P1 sebagai kontrol positif yang diberikan stimuno dosis 0,78 mg/20 gram BB; kelompok P2 yang diberikan aquadest, kelompok P3, P4 dan P5 yang diberikan Infusa umbi Bawang Dayak dengan dosis berturut-turut yaitu 13 mg/20 gBB, 26 mg/20 gBB, dan 52 mg/20 gBB. Perlakuan pemberian diberikan secara oral selama 7 hari. Pada hari ke-8 dilakukan uji imunomodulator dengan metode bersihan karbon. Hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa saponin, flavonoid dan alkaloid. Hasil Uji imunomodulator menunjukkan adanya infusa umbi Bawang Dayak dosis 52 mg/20 gBB menunjukkan efek imunomodulator terbesar. Infusa umbi Bawang Dayak memiliki aktivitas imunmodulator. Kata Kunci : Imunomodulator, Infusa, Umbi Bawang Dayak, Eleutherina palmifolia ABSTRACT The development of knowledge raised the use of natural materials as an alternative choice as an immunomodulator. The aim of this study was to know the imunomodulatory effect of Bawang Dayak Bulb (Eleutherina palmifolia L. Merr) by using carbon clearance method on male mice. The phytochemical screening were tested to flavonoids, alkaloids, steroids, quinones, tanins, and saponins. 25 male Balb/C mice divided into 5 groups consisting of P1 groups as positive control given stimuno 0,78 mg/20 gBB; P2 groups as negative control given aquadest, P3, P4 and P5 groups given Bawang Dayak Bulb Infusion with doses respectively 13 mg/20 gBB, 26 mg/20 gBB, and 52 mg/20 gBB. Each groups were adminstered orally one a day for seven days. On the eighth day, imunomodulatory test were performed by using carbon clearence method. The phytochemical screening revealed the presence of flavonoids, alkaloids, and saponins. Results of imunommodulatory test showed Bawang Dayak Bulb infusion doses 52 mg/20 gBB has the highest immunomodulatory effect. Bawang Dayak Bulb Infusion showed imunomodulatory effect. Keywords : Imunomodulator, Infusion, Bawang Dayak Bulb, Eleutherina Palmifolia