Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Family Communication as a Moderator of Children’s Psychological Resilience in Polygamous Families: An Islamic Perspective and Research Agenda Rulitawati Rulitawati; Antoni Antoni; Purmansyah Ariadi; Sri Yanti; Hana Chaillah
Journal of Social Work and Science Education Vol. 7 No. 3 (2026): Journal of Social Work and Science Education
Publisher : Yayasan Sembilan Pemuda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52690/jswse.v7i3.1552

Abstract

Children in polygamous families face unique psychosocial challenges, yet protective factors such as family communication remain underexplored. This study examined the role of family communication in shaping children’s psychological resilience within polygamous families in Indonesia, using insights from religious court cases. A qualitative phenomenological design was employed. Participants included 12 polygamous families (N=48 individuals: 12 fathers, 24 mothers/co-wives, 12 children aged 10–18 years) identified through records of the Palembang Religious Court Class IA. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and document analysis. The Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) was adapted for child resilience assessment. Data were analyzed using Miles & Huberman’s interactive model. Three communication patterns emerged: open-egalitarian (33% of families), conflict-avoidant (50%), and secretive-hierarchical (17%). Children in open-egalitarian families demonstrated significantly higher resilience indicators (emotional regulation, social adaptability, positive self-concept) compared to those in secretive-hierarchical families, who exhibited social withdrawal, anxiety, and low self-esteem. Islamic communication principles (qawl sadīd, qawl layyin) were practiced only in open-egalitarian families. Open, fair, and emotionally supportive family communication may buffer the negative psychological effects of polygamous family structures on children. Religious courts should consider communication assessments in polygamy approvals. Future research should include larger samples and longitudinal designs.
Implementasi Sistem Pembayaran QRIS Secara Syari’ah bagi Perkembangan UMKM di Desa Tulung Selapan Ilir Kec. Tulung Selapan Kab. Oki Rendi Rendi; Purmansyah Ariadi; M. Jauhari
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.7353

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) secara syariah serta kontribusinya terhadap perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Tulung Selapan Ilir, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap pelaku UMKM yang menjadi informan penelitian. Analisis data dilaksanakan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman dan penerapan QRIS oleh pelaku UMKM masih belum merata, meskipun sebagian pelaku usaha telah memanfaatkannya sebagai alternatif pembayaran digital. Penggunaan QRIS memberikan kemudahan, kecepatan, keamanan, dan efisiensi transaksi, sekaligus membantu pencatatan penerimaan usaha secara lebih tertata. Dari perspektif ekonomi syariah, implementasi QRIS dapat dinilai sesuai dengan prinsip muamalah apabila transaksi dilakukan berdasarkan kerelaan para pihak, memiliki kejelasan akad dan biaya layanan, serta terhindar dari unsur riba, gharar, maysir, penipuan, dan ketidakadilan. Kendala utama penerapan meliputi keterbatasan jaringan internet, literasi digital yang belum merata, serta kebutuhan pendampingan teknis. Dengan demikian, penerapan QRIS secara syariah berpotensi mendukung digitalisasi, inklusi keuangan, efisiensi operasional, dan perkembangan UMKM pedesaan, sepanjang didukung sosialisasi berkelanjutan, infrastruktur yang memadai, dan transparansi penyelenggara layanan.