Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

IDENTIFIKASI POTENSI TINGGALAN ARKEOLOGI KLASIK DI KECAMATAN SAROLANGUN, JAMBI: PENDEKATAN PREDICTIVE MODELLING Nainunis Aulia Izza; Ari Mukti Wardoyo Adi; Nugrahadi Mahanani
Naditira Widya Vol. 15 No. 1 (2021): Naditira Widya Volume 15 Nomor 1 April Tahun 2021
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan atas dasar hipotesis tentang keberadaan tinggalan-tinggalan masa klasik yang berada di Daerah Aliran Sungai Batanghari. Kecamatan Sarolangun dipilih karena hingga kini belum pernah diteliti potensinya tentang tinggalan pemukiman arkeologi klasik. Tinggalan arkeologi klasik yang pernah dilaporkan hanyalah arca Ganesha yang saat ini disimpan di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Penelitian ini dilakukan dengan metode predictive modelling dengan menggunakan perangkat Sistem Informasi Geografis untuk dapat membantu memperkirakan titik-titik yang mengandung potensi tinggalan arkeologi. Variabel prediksi yang digunakan adalah laporan temuan, model lokasi situs, informasi masyarakat, serta potensi temuan permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa lokasi di Kecamatan Sarolangun yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap tinggalan arkeologi klasik. Sensitivitas tinggalan arkeologi ini kemudian diturunkan dalam bentuk peta potensi. Tujuan utama dari pembuatan peta tersebut adalah agar dapat menentukan strategi riset lanjutan.This research was conducted on the basis of a hypothesis about the existence of the remains of the classical period in the Batanghari River Basin. Sarolangun District was chosen because until today there has not been any investigation on classical archaeological settlements. The only classical archeological remains that have been reported are the Ganesha statue which is currently stored in the Sultan Mahmud Badaruddin II Museum, in Palembang. This research was conducted using a predictive modelling method by employing a Geographic Information System to be able to help estimate points containing potential archaeological remains. Predictive variables used are report findings, site location models, community information, and potential surface findings. The results showed that there are several locations in Sarolangun District that have high sensitivity to classical archeological remains. The sensitivity of the archaeological remains is then derived in the form of a potential map. The main purpose of making the map is to be able to determine further research strategies.
Pemetaan Pertumbuhan Dan Persebaran Kesenian Di Kawasan Transmigran Sungai Bahar Kabupaten Muaro Dennys Pradita; Hanif Risa Mustafa; Inda Lestari; Nugrahadi Mahanani; Amor Seta Gilang Pratama; Septi Utami
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 12 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.7897

Abstract

Kecamatan Sungai Bahar memiliki fenomena budaya yang menarik, khususnya kehadiran seni dan budaya transmigran yang telah berkembang sejak terbentuknya wilayah tersebut. Namun, di tengah kemajuan teknologi, generasi muda Sungai Bahar menunjukkan tanda-tanda kehilangan keterikatan pada akar budaya mereka. Generasi muda mulai kehilangan pemahaman tentang budaya lokal, termasuk seni dan budaya transmigran yang berkembang di lingkungan mereka. Studi ini bertujuan untuk memetakan potensi seni dan budaya transmigran di Sungai Bahar dan memvisualisasikannya sebagai bentuk upaya pelestarian. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif, etnografi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya empat desa yang masih mempertahankan kegiatan seni dan budaya, meskipun berada dalam keadaan tidak aktif secara terus-menerus. Penelitian menyumpulkan bahwa pemetaan dan visualisasi budaya dapat menjadi langkah pertama dalam mendukung upaya pelestarian dan penguatan identitas budaya masyarakat transmigran dari kaca mata kronologi.