Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Pendidikan Akhlak Anak Kepada Orang Tua dalam Perspektif Al-Quran Al Faruq, Ridho Azzam; Kumaidi, Muhamad; Alghifari, Abuzar; Febriani, Evi
Education Achievement: Journal of Science and Research Volume 5 Issue 3 November 2024
Publisher : Pusdikra-Publishing.com

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jsr.v5i3.2161

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pendidikan akhlak anak kepada orang tua dalam perspektif Al-Quran. Pendidikan akhlak merupakan bagian integral dari pembentukan karakter dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Al-Quran, sebagai sumber utama ajaran Islam, memberikan panduan yang komprehensif mengenai hubungan antara anak dan orang tua, termasuk bagaimana anak harus berperilaku terhadap orang tua mereka. Studi ini menggunakan metode analisis-deskriptif dengan jenis penelitian kepustakaan yang di dalamnya memuat analisa terhadap problematika pendidikan anak, orang tua serta konsep pendidikan anak yang terkandung dalam al-Quran dan Hadist. Hasil analisis menunjukkan bahwa Al-Quran menekankan pentingnya sikap hormat, kasih sayang, dan bakti kepada orang tua, serta memperingatkan tentang bahaya durhaka kepada orang tua. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya mendidik anak sejak dini tentang nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan dalam Islam, agar mereka dapat tumbuh menjadi individu yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pendidikan akhlak anak kepada orang tua dalam perspektif Al-Quran merupakan aspek penting yang harus diperhatikan oleh setiap keluarga Muslim dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia dan berbakti kepada orang tua.
Analisis Retorika dalam Tafsir Shafwah Al-Tafasir Terhadap Surah Al-Bayyinah Fuad Salim; Abuzar Alghifari; Beko Hendro
JOM Vol 5 No 2 (2024): Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences, June, 2024
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/ijhass.v5i2.5332

Abstract

One of the main characteristics of the Qur'an is its captivating and impactful language that communicates its messages deeply to the listeners' souls. To explore and elucidate this dimension, scholars utilize a discipline known as the Science of Rhetoric (Ilmu Balaghah). Therefore, the author is interested in exploring the message of Surah Al-Bayyinah through the lens of Ilmu Balaghah to uncover the beauty and depth of meaning it contains. Consequently, this research will focus on two aspects: firstly, identifying the rhetorical styles present in Surah Al-Bayyinah; secondly, examining the implications of employing rhetorical styles in interpreting Surah Al-Bayyinah. Furthermore, this study is a literature review (library research) using a qualitative method. The research findings indicate that: 1) Surah Al-Bayyinah contains various rhetorical styles. Ash-Shabuni in his book "Shafwah al-Tafasir" delineates the rhetorical elements in Surah Al-Bayyinah, identifying at least five elements, namely: Ijmal tsumma tafshil, Ath-Thibaq, Muqobalah, Isti'arah tashrihiyyah, Tawafiq al fawashil; 2) The implications of the rhetorical dimension in interpreting Surah Al-Bayyinah have an influence and impact on the conveyed meaning. Each verse containing rhetorical elements in Surah Al-Bayyinah implies the interpreted meaning, and rhetoric serves as a tool to facilitate understanding the hidden meanings behind each of its verses.
Lies in the Qur'an: Analysis of the Words Kādzib, 'Ifk, Zūr, Bāṭil, in the Tafsir Al-Tahrir Wa Al-Tanwir by Ibn 'Asyur Pratiwi, Azzahra Rania; Hakiki, Kiki Muhamad; Alghifari, Abuzar; Muttaqin, Ahmad
Mauriduna : Journal of Islamic Studies Vol. 7 No. 1 (2026): Mauriduna : Journal of Islamic Studies, February 2026
Publisher : Institut Muslim Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/mauriduna.v7i1.47

Abstract

This research is predicated on the sociological necessity of understanding the various forms of lies that are still taken seriously by society. It seeks to critically examine the semantic interpretations of the terms Kādzib, 'Ifk, Zūr, Bāṭil as articulated in the Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir by Ibnu 'Asyur. The research formulationis structured around two primary objects: 1) how ibn Asyur interprets the terms Kādzib, 'Ifk, Zūr, Bāṭil, and 2) how the hadith concerning the permissibility of lying is relavant to these meanings. Adopting a qualitative, library-based methodology, this study employs a thematic analysis method (maudhu'i). The primary source materials is Tafsir al-Taḥrīr wa al-Tanwīr by Ibn ‘Āshūr, supplemented by  a secondary source of relevant scholarly journals, monographs and theological treatises. The findings indicate that while these terms are oftern categorized under the broad umbrella of falsehood, each term has a distinct meaning depending on its context. According to Ibn 'Asyur, 1) Kādzib refers to act of deception. 2) 'ifk denotes major accusations or slander. 3) zūr refers to the distortion of information or testimonies that deviate from empirical reality. 4) bāṭil refers to any form of falsehood or something that lacks a foundation of truth. The Hadith that permits lying in three situations warfare, conflict resolutions, and the preservation of marital harmony. The study concludes that such exceptions do not constitute condemned mendacity, rather they serve as instruments of  maqāṣid al-syarī'ah to maintain social equilibrium and communal benefit. The scholarly contribution of this study lies in its systematic analysis of the varying gradations of lying through the lens of Ibn 'Asyur perspective. It offers significant insights into the development of thematic exegesis and provides a framework for the construction of social ethics, asserting that the morality of an utterance is intrinsically linked to its contextual purpose and its alignment with the preservation of public interest.
Kajian Tafsir Berbasis Surah: Analisis Struktur dan Historisitas Surah Al-Anbiya’ Ilham, Muhammad Ilham Saputra; Masruchin, Masruchin; Alghifari, Abuzar
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v16i1.1070

Abstract

Artikel ini mengkaji struktur dan historisitas surah al-Anbiya’ melalui pendekatan tafsir maudhu’i (tematik berbasis surah) dan historis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali struktur naratif dan konteks sosio-historis pewahyuan yang melatarbelakangi surah al-Anbiya’ serta mengungkap pesan-pesan tematik utamanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang mengambil data dari sumber kepustakaan (library research) dan dengan analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa surah al-Anbya’ sebagai golongan surah Makkiyah memiliki tema sentral yaitu penegasan akidah (tauhid), kenabian serta peringatan tentang hari kiamat dan kebangkitan. Struktur Surah Al-Anbiya’ tersusun secara sistematis dengan struktur naratif yang logis dan progresif:  Dimulai peringatan keras tentang hari kiamat, dilanjutkan dengan dalil rasional tentang kekuasaan Allah, kemudian pembahasan tentang kematian, kisah-kisah nabi terdahulu sebagai bukti historis dan legitimasi kerasulan, dan ditutup dengan seruan pada persatuan dalam tauhid. Dari aspek historis, surah ini turun di tengah kondisi masyarakat Mekkah yang berada dalam kesyirikan, penolakan terhadap kenabian, serta pengingkaran terhadap hari kebangkitan. Asbabun nuzul dari beberapa ayat kunci memperkuat konteks penurunan wahyu yang relevan dengan tantangan dakwah Nabi Muhammad SAW. Surah ini memperlihatkan kesinambungan pesan dakwah dari para Nabi sebelumnya hingga Nabi Muhammad SAW, serta mengajak manusia kembali pada ajaran murni Islam. Penelitian ini membuktikan bahwa Surah Al-Anbiya’ memiliki kesatuan tematik dan retorika yang kuat, sekaligus menunjukkan respons wahyu terhadap realitas masyarakatnya.
ETIKA PERTEMANAN DALAM AL-QUR’AN( Studi Komparatif Antara Tafsir Karimir Rahman dan Al-Misbah ) Dwiq Fajri Pakeh; Ahmad Isnaeni; Abuzar Alghifari
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 26 No 2 (2025): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v26i2.27980

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemikiran As Sa’di dan Qurais Shihabdalam menafsirkan ayat etika pertemanan dalam Al-Qur’an. Jenis penelitian adalah penelitianlibrary research. penulis menggunakan metode pendekatan muqarrin (perbandingan).Berdasarkan kajian analisis terhadap kedua mufassir secara garis besar dapat disimpulkandiantaranya Quraish Shihab mengemukakan bahwa, etika pertemanan adalah menghindaripertemanan atas dasar kepentingan duniawi dan saling memberi manfaat. Sedangkan menurutAs Sa’di etika dalam pertemanan tidak hanya sebatas pada pertemanan yang didasarkankepentingan duniawi atau saling memberi manfaat saja akan tetapi, pertemanan yangmenjauhkan diri dari kekufuran, pendustaan, kemusyrikan dan kemaksiatan kepada Allah.Kedua tafsir ini merupakan tafsir kontemporer, akan tetapi terdapat beberapa perbedaan cirikhas dalam penafsirannya. Misalnya tafsir al-Misbah kandungan pembahasan ayatnya menitikberatkan kepada masalah-masalah sosial. Adapun salah satu ciri khas tafsir ini adalahkonsistensinya dalam mengurai kalimat-kalimat dalam setiap ayat al-Qur’an. Sedangkan kitabtafsir As Sa’di menghindari kalimat-kalimat sisipan yang bertele-tele, memiliki gaya bahasayang sederhana dan jelas. Tafsir ini juga menghindari penyebutan perselisihan pendapat dantakwil.
Consumer Protection in Law No. 8 of 1999 and Qur'anic Review Rizq Ikhwanul Akbar; Septiawadi Septiawadi; Abuzar Alghifari
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 26 No 1 (2025): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v26i1.28215

Abstract

The imbalance of economic relations between business actors and consumers has resulted in suboptimal consumer protection, especially in facing the challenges of modern trade such as e-commerce. Although the Consumer Protection Law (UUPK) Number 8 of 1999 in Indonesia has provided a legal basis and regulated the basic rights of consumers, in practice consumer awareness and the application of legal protection are still not optimal. Therefore, consumer protection must be viewed holistically, not only from the aspect of positive law, but also from the perspective of the Qur'an which instills ethics and social responsibility in business. This research uses a qualitative method with an analytical literature study, which examines national legal regulations and Qur'anic verses related to business ethics and consumer protection. The results show that the principles in the UUPK are closely aligned with the teachings of the Qur'an which emphasize fairness, the prohibition of fraud, and the responsibility of businesses, as well as consumers' rights to convenience, security, and correct information. In addition, the research identified several key issues in consumer protection, such as product safety, right to clear information, digital transactions, personal data privacy, after-sales service, price transparency, protection of vulnerable consumers, right to be heard, environmental social responsibility, and accessibility of products and services. This study concludes that the integration between positive law and Islamic values can strengthen an effective and sustainable consumer protection system in Indonesia.
Semantic Differentiation of al-Mīzān and al-Qisṭās in the Qur’an: Revisiting Muhammad Syahrur’s Anti-Synonymity Theory Gita Zahratus Sholeha; Ahmad Isnaeni; Abuzar Alghifari
Jurnal Semiotika Quran Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v6i1.31944

Abstract

Dalam kajian al-Qur’an, terdapat sejumlah lafaz yang sering dianggap memiliki kesamaan makna, padahal masing-masing memiliki makna khas yang berbeda. Salah satunya adalah lafadz al-mīzān dan al-Qisṭās yang kerap dipahami sebagai sinonim dengan arti “timbangan” atau “keadilan.” Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna khas dari masing-masing lafaz tersebut dengan menggunakan teori anti sinonimitas yang dikembangkan oleh Muhammad Syahrur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-kepustakaan dengan sumber data meliputi al-Qur’an, karya-karya Muhammad Syahrur, kitab tafsir klasik dan modern, serta literatur kebahasaan Arab. Analisis dilakukan dengan menelusuri makna dasar, dan perkembangan maknanya secara sinkronik dan diakronik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-mīzān merepresentasikan konsep keadilan dan keseimbangan yang bersifat universal dan normatif, sedangkan al-Qisṭās menggambarkan penerapan nilai keadilan secara konkret dalam konteks sosial, hukum, dan ekonomi. Keduanya memiliki hubungan semantik yang erat, namun berbeda fungsi dan lingkup makna. Temuan ini menegaskan pandangan Syahrur bahwa tidak terdapat sinonimitas dalam al-Qur’an, dan setiap lafadz memiliki makna yang unik serta tidak saling menggantikan tanpa mengubah pesan ilahi. Penelitian ini memperkuat pandangan bahwa bahasa al-Qur’an tidak bersifat sinonim, melainkan setiap lafaz mengandung makna yang khas dan tidak dapat digantikan tanpa mengubah pesan ilahi. Penelitian ini juga berkontribusi dalam kajian tafsir dengan menekankan pentingnya analisis linguistik yang cermat guna menghindari penyederhanaan makna yang berpotensi mereduksi kedalaman pesan al-Qur’an.
Correlation of the Content of Surah Al-Waqi'ah with Fadhilah Reciting the Surah Yuli Eka Lestari; Masruchin Masruchin; Abuzar Alghifari
Studi Multidisipliner: Jurnal Kajian Keislaman Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padngsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/multidisipliner.v13i1.18960

Abstract

This article examines the correlation between the content of surah al-waqi'ah and the public's belief about the fadhilah of reading it. As surah Makkiyah, surah al-waqi'ah affirms the certainty of the Day of Judgment, the division of human beings into three groups, the Oneness of Allah and the glory of the Qur'an as well as criticism of the attitude of denying His favor. However, in religious practice, this surah is widely believed to have the virtue of bringing sustenance and preventing poverty, which is sourced from hadith even though it is considered dhoif status. This article uses a qualitative method through a literature study with content analysis of classical and contemporary tafsir books in the style of adabi ijtima'i and hadith literature. The results of the study show that there are differences of opinion among hadith scholars regarding the use of dhoif hadith. Some reject it absolutely, some allow it in the context of fadail al-a'mal, and others accept it if there is no authentic hadith. In terms of interpretation, surah al-waqi'ah does not explicitly promise material sustenance, but rather emphasizes the strengthening of faith, eschatological awareness, and encouragement to do righteous deeds. Thus, the correlation between the content of surah al-waqi'ah and its fadhilah lies in the spiritual effects and religious ethos built through regular reading, rather than on the literal promise of materiality. These findings confirm the need for a more proportionate understanding of fadhilah and open up space for further research with an empirical and interdisciplinary approach to examine the impact of this practice on religious and social life.