Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Journal of Marine Research

Kandungan Logam Berat di Tambak Gracilaria verrucosa Desa Lontar Kabupaten Serang Agung Setyo Sasongko; Mad Rudi; Andrian Tri Jaka Surya; Raden Moch Thoriq Aziz; Rikza Agung Pambudi
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33925

Abstract

Desa Lontar terletak di Kecamatan Tirtayasa, Banten. Perairan Pesisir Desa Lontar hidup berbagai biota seperti ikan, kerang dan biota lainnya. Perairan desa Lontar juga memiliki tambak budidaya rumput laut yang cukup luas. Tambak budidaya rumput laut tersebut berada cukup dekat dengan pemukiman masyarakat sekitar. Seiring pesatnya pembangunan yang terjadi di desa lontar memberikan dampak positif dan dampak negatif bagi makhluk hidup dan lingkungan di sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kondisi kandungan logam berat di tambak rumput laut Desa Lontar. Metode yang digunakan adalah dengan mengambil sampel dilaksanakan di tiga titik stasiun menggunakan botol sampel, dengan pengambilan sampel sebanyak satu botol di setiap stasiunnya dan  analisis logam berat di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Unit Pelaksanaan Teknis Labolatorium Lingkungan hidup sesuai aturan baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Hasilnya menunjukan bahwa Perairan  di  Tambak Rumput Laut Desa Lontar mengandung beberapa logam berat di atas ambang batas baku mutu untuk besi (Fe), Mangan (Mn), dan Tembaga (Cu). Rumput laut Gracilaria verrucosa mampu menyerap kandungan logam berat dalam skala rendah. Kandungan logam berat tinggi dalam wilayah tambak akan berdampak kepada pertumbuhan rumput laut tersebut.   Lontar Village is located in Tirtayasa District, Banten. The coastal waters of Lontar Village live various biota such as fish, shellfish and other biota. The waters of the lontar village also have a fairly extensive seaweed cultivation pond. The seaweed cultivation pond is located quite close to the surrounding community settlements. Along with the rapid development that occurred in the village of lontar, it has a positive and negative impact on living things and the environment around them. This study aims to analyze the condition of heavy metal content in seaweed ponds in Lontar Village. The method used is to take samples carried out at three stations using sample bottles, with one bottle sampling at each station and heavy metal analysis carried out in the at the Environment and Forestry Service Environmental Laboratory Technical Implementation Unit according to standard rules. quality as stipulated in Government Regulation of the Republic of Indonesia Number 22 of 2021 concerning the Implementation of Environmental Protection and Management. The results show that the waters in the Lontar Village Seaweed Pond contain several heavy metals above the quality standard thresholds for iron (Fe), Manganese (Mn), and Copper (Cu). Seaweed can absorb heavy metal content but on a low scale, if it absorbs too much heavy metal it will have an impact on the growth of the seaweed.
Analisis Konsentrasi Merkuri (Hg) Pada Sampel Sedimen Di Perairan Pulau Panjang Banten Ramadhan, Rizky Ahmad; Maharani, Ni Made Sri; Ling, Maria Goreti; Fauzan, Ahmad Al; Utami, Dwi Amanda; Sasongko, Agung Setyo; Cahyadi, Ferry Dwi; Cahyarini, Sri Yudawati
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.40868

Abstract

Pulau Panjang terletak di Teluk Banten, Provinsi Banten merupakan pulau kecil yang berdekatan dengan wilayah perkotaan dan industri, antara lain industri pangan, industri minyak dan gas, industri kapal dan industri pembuatan besi. Kehidupan masyarakat di Pulau Panjang sebagian besar memiliki pekerjaan dibidang perikanan. Kegiatan antropogenik berdampak pada kondisi perairan di Pulau Panjang salah satunya pencemaran logam berat yang dapat membahayakan kehidupan disekitar wilayah Pulau Panjang. Merkuri (Hg) merupakan salah satu pencemar yang berbahaya bagi lingkungan laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi Hg yang terkandung dalam sampel sedimen pesisir Pulau Panjang dan penyebarannya.  Pengambilan sedimen permukaan perairan Pulau Panjang dilakukan bulan Februari 2023. Empat stasiun dan delapan titik penelitian pada setiap stasiun ditentukan menggunakan metode purposive sampling. Logam berat Hg dianalisis dari setiap sampel sedimen menggunakan metode Cold Vapour Atomic Absorption Spectrometry (CVAAS). Data angin bulan Februari 2023 didapatkan dari Instansi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Maritim Serang dan sekitarnya. Hasil yang diperoleh dari analisis merkuri memperlihatkan bahwa sedimen perairan Pulau Panjang memiliki konsentrasi Hg rata-rata 285,89 µg/kg, menurut mutu ANZECC & ARMCANZ (2000) nilai tersebut masuk dalam kategori lower. Sumber Hg pada sedimen diduga berasal dari aktivitas manusia yang berada di Pulau Panjang dan penyebarannya dipengaruhi oleh faktor angin dan arus pantai yang menyebabkan konsentrasi Hg berada menjauh dari tepi pantai.Panjang Island is located in Banten Bay, Banten Province, is a small island which is close to urban and industrial areas, including the food industry, oil and gas industry, ship industry and iron making industry. Most of Panjang Island’s people are fisherman. Antrophogenic activities impact on the conditition of the waters in Panjang Island, i.e. heavy metal pollution such as Mercury (Hg) which threathen marine life around the Panjang Island area. Mercury (Hg) is a pollutant that is harmful to marine environment. This study aims to determine the concentration of Hg contained in samples of coastal sediments from Panjang Island and its distribution. Surface sediment collection from the waters of Panjang Island will be carried out in February 2023. Four stations and eight sampling point in each station were determined using a purposive sampling method. Heavy metal Hg content in coastal sediment was analyzed using the Cold Vapor Atomic Absorption Spectrometry (CVAAS) method. Wind data for February 2023 was obtained from the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) at Serang Maritime Station for the region surrounding Panjang Islands. The results show that the average Hg concentration in sediments of the Panjang Island Waters is 285. 89 µg/kg, according to the quality of ANZECC & ARMCANZ (2000) this value is included in the lower category. The source of Hg in the sediments is supposed originated from human activities surrounding Panjang Island and its distribution is influenced by wind and coastal currents which cause decreasing Hg concentrations from offshore. 
Perubahan Lahan Mangrove di Pesisir Utara Teluk Banten Saleha, Amalia Narya; Cahyadi, Ferry Dwi; Sasongko, Agung Setyo
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.40294

Abstract

Kawasan pesisir utara Teluk Banten Secara geografis mencakup 6 kecamatan yang mengalami peningkatan kegiatan industri sehingga mengancam ekosistem mangrove serta biota yang berasosiasi di dalam kawasan pesisir tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui luas lahan yang berubah dan genus mangrove yang beradaptasi di kawasan pesisir utara Teluk Banten. Metode penelitian yang dilakukan dalam kajian ini adalah kuantitatif deksriptif menggunakan analisis NDVI yang meliputi pengolahan data citra tahun 2017 dan 2022 menggunakan perangkat lunak ArcGIS kemudian dilakukan observasi lapangan untuk mengetahui genus mangrove yang beradaptasi di kawasan tersebut. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa dari 6 kecamatan hanya ditemukan 3 kecamatan yang masih memiliki kawasan ekostem mangrove yaitu Kecamatan Kasemen, Pontang dan Tirtayasa. Sedangkan Kecamatan Pulo Ampel, Bojonegara dan Kramatwatu hampir didominasi oleh kawasan industri. Dalam waktu 5 tahun telah terjadi pengurangan luas lahan mangrove sebesar 1,027 ha dari total awal pada tahun 2017 seluas 39,794 ha. Kemudian, ditemukan 3 genus di ketiga kecamatan tersebut yang mana genus Rhizopora mendominasi di Kecamatan Kasemen, Pontang dan Tirtayasa. Setiap wilayah mempunyai potensi dan manfaat tertentu bagi biota dan manusianya demikian hal tersebut akan terus meningkatkan kesejahteraan apabila adanya semangat berkolaborasi antar sesama elemen masyrakat untuk terus menjaga ekosistem. The coastal region of Banten Bay's northern area encompasses six sub-districts that are currently experiencing an increase in industrial activity. Unfortunately, this uptick poses a severe threat to the mangrove ecosystem and associated biota in the area. The aim of this research was to assess the extent of the land that has undergone changes and the mangrove genera that have adapted to the region. To achieve this, a descriptive quantitative method and NDVI analysis were utilized. Image data from 2017 and 2022 was processed using ArcGIS software, followed by field observations to identify the mangrove genus that is adapted to the area. The research findings indicate that only three of the six sub-districts (Kasemen, Pontang, and Tirtayasa) still have mangrove ecosystem areas, while the others (Pulo Ampel, Bojonegara, and Kramatwatu) are almost entirely dominated by industrial areas. The research also revealed that the area of mangrove land decreased by 1,027 ha over the past five years from the initial total of 39,794 ha in 2017. Furthermore, the study identified three genera in the three sub-districts, with the Rhizopora genus being the most dominant in Kasemen, Pontang, and Tirtayasa. Each region has unique potential and benefits for its biota and humans, making it crucial to continue collaborating and protecting the ecosystem to ensure the area's continued prosperity.