Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Megaptera

Lama Waktu Tingkat Kematangan Gonad Udang Vanamei melalui Ablasi dan Non-Ablasi Sa’diyah, Qonita Nur; Ramli, Taufik Hadi; Pattirane, Chrisoetanto P; Serihollo, Lukas Giovani Gonzales
JURNAL MEGAPTERA Vol 3, No 2 (2024): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v3i2.15183

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan lama waktu pematangan gonad dari udang vaname yang di ablasi dan tidak di ablasi. Penelitian ini dilaksanakan di instalasi Pembenihan Udang di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Jawa Timur. Karakteristik induk udang yang baik adalah udang jantan dan betina memiliki karakteristik reproduksi yang sangat bagus. Spermatofora jantan berkembang baik dan berwarna putih mutiara dan udang betina matang secara seksual dan menunjukkan perkembangan ovarium yang alami. Induk berasal hasil pemuliaan Multipication Broodstock Center (MBC) dengan bobot tubuh sebesar 30-35 g (jantan) dan 40-45 g (betina). Induk diberikan kombinasi tiga jenis pakan selama masa pemeliharaan dengan frekuensi pemberian 4 kali sehari sebesar 40% dari biomassa yakni pukul 07.00, 11.00, 15.00 dan 19.00. Proses ablasi dilakukan pada pagi hari. Proses ablasi yang dilakukan adalah dengan cara memegang induk betina secara perlahan-lahan dan hati-hati sehingga udang tidak merontaronta dengan cara melipat ekor udang ke arah dalam secara perlahan. Lalu setelah itu dilakukan pemotongan tangkai mata menggunakan gunting arteri yang telah dipanaskan. Pemotongan tangkai mata dapat dilakukan pada bagian kanan ataupun kiri sesuai kondisi mata induk. Setelah di ablasi, induk udang diamati tingkat kematian untuk meyakinkan ketersediaan induk yang akan digunakan untuk pengamatan tingkat kematangan gonad. Tingkat kematangan gonad udang vaname menunjukkan ada perbedaan pada lama hari inkubasi untuk perlakuan ablasi dan non-ablasi. Periode waktu untuk perkembangan TKG udang yang di ablasi antara 0-12 hari sedangkan 0-22 hari untuk yang tidak di ablasi.This study was conducted to see the time difference in the gonad maturation time period of ablated and non-ablated Vaname shrimp. This study was conducted at the Shrimp Hatchery Instalansi at the Brackish Water Aquaculture Center (BPBAP) Situbondo, East Java. The broodstock originated from the Multipication Broodstock Center (MBC), where they were bred for body weights of 30-35 g for males and 40-45 g for females. During the rearing period, the broodstock received a combination of three types of feed four times a day at 40% of biomass, at 07:00, 11:00, 15:00, and 19:00. We carried out the ablation process in the morning. We perform the ablation process by gently folding the shrimp's tail inward and holding the female parent slowly and carefully to prevent it from struggling. Next, use heated artery scissors to cut the eye stalk. Depending on the condition of the parent's eye, you can cut the eye stalk on either the right or left side. We observed the mortality of shrimp broodstock after ablation to ensure its availability for gonadal maturity observations. The difference in the number of days needed for ablation and non-ablation treatments was seen in the vanamei shrimp's gonadal maturity level. The time period for the development of TKG in ablated shrimp is between 0 and 12 days, while 0 and 22 days for non-ablated shrimp.
Aplikasi Bioball Dalam Menurunkan Kadar Nitrit Pada Limbah Tambak Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Tangguda, Sartika; Serihollo, Lukas Giovani Gonzales; Usman, Zainal; Amalo, Pieter; Sinaga, Riris Yuli Valentine; Pratiwi, Rifqah; Kusuma, Ni Putu Dian; Hariyadi, Dimas Rizky; Timuneno, Melkias
JURNAL MEGAPTERA Vol 4, No 1 (2025): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v4i1.15731

Abstract

Limbah pada budidaya Udang vaname (L. vannamei) mengandung sejumlah senyawa yang bersifat toksik, salah satunya adalah Nitrit (NO2 - ) yang bersifat tidak stabil dalam air. Penyaringan limbah sangat diperlukan sebelum dibuang ke perairan umum untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan, salah satu cara yang dilakukan yaitu aplikasi bioball sebagai media tumbuh mikroorganisme atau bakteri yang berperan sebagai bioremediasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis jumlah bioball yang efektif untuk menurunkan kadar nitrit pada limbah budidaya udang vaname serta mengetahui parameter kualitas air yang berperan dalam penguraian limbah tambak udang tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif untuk melihat pengaruh bioball dalam menurunkan kadar nitrit pada limbah tambak udang vaname. Penelitian ini diawali dengan menyalurkan air limbah hasil buangan kegiatan budidaya udang vaname ke dalam tandon penampungan. Kemudian pada masing-masing tandon penampungan dimasukkan filter biologis sesuai dengan rancangan, yaitu P1 (bioball sebanyak 2.000 buah), P2 (bioball sebanyak 3.000 buah), dan P3 (bioball sebanyak 4.000 buah). Parameter utama yang diamati adalah kadar nitrit, sedangkan parameter penunjang yang diamati terdiri dari kadar nitrat, fosfat, suhu, pH, salinitas, dan intensitas cahaya. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan P2 (penggunaan bioball sebanyak 3.000 buah) menghasilkan kadar nitrit yang lebih rendah dibandingkan perlakuan P1 dan P3, yaitu 0.020 mg/L. Parameter kualitas air yang berpengaruh terhadap penguraian limbah tambak udang vaname dengan menggunakan bioball adalah suhu, pH, salinitas, intensitas cahaya, nitrat, dan fosfat. Pada penelitian selanjutnya perlu dilakukan penambahan naungan atau shelter pada tandon penampungan limbah sehingga suhu dan intensitas cahaya tidak terlalu tinggi dan dapat memaksimalkan kinerja filter biologis.Waste from Vaname Shrimp (L. vannamei) cultivation contains a number of toxic compounds, one of which is Nitrite (NO2 - ) which is unstable in water. Waste filtration is essential before being discharged into public waters to prevent environmental pollution, one way is to apply bioballs as a growing medium for microorganisms or bacteria that act as bioremediation. This study aims to analyze the number of bioballs that are effective in reducing nitrite levels in vaname shrimp cultivation waste and to determine the water quality parameters that play a role in the decomposition of shrimp pond waste. The method used in this study is a descriptive method to see the effect of bioballs in reducing nitrite levels in vaname shrimp pond waste. This study began by channeling wastewater from vaname shrimp cultivation activities into a storage tank. Then, a biological filter was inserted into each storage tank according to the design, namely P1 (2,000 bioballs), P2 (3,000 bioballs), and P3 (4,000 bioballs). The main parameters observed were nitrite levels, while the supporting parameters observed consisted of nitrate, phosphate, temperature, pH, salinity, and light intensity levels. The results showed that treatment P2 (using 3,000 bioballs) produced lower nitrite levels compared to treatments P1 and P3, which was 0.020 mg/L. Water quality parameters that affect the decomposition of vaname shrimp pond waste using bioballs are temperature, pH, salinity, light intensity, nitrate, and phosphate. In further research, it is necessary to add shade or shelter to the waste storage tank so that the temperature and light intensity are not too high and can maximize the performance of the biological filter.
Studi Pemeliharaan Larva Udang Vanname (Litopenaeus vannamei) Serihollo, Lukas Giovani Gonzales; Hariyadi, Dimas Rizky; Fanggidae, Yrna Queen
JURNAL MEGAPTERA Vol 1, No 1 (2022): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v1i1.11555

Abstract

Udang vanname merupakan jenis udang yang pembudidayaannya hampir tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia. Dalam pengembangan produksi udang vanname, diperlukan lahan yang luas dan benih dalam jumlah yang banyak serta berkualitas. Kebutuhan akan benih dalam jumlah yang banyak serta berkualitas menjadi hal penting dalam meningkatkan produksi udang vanname. Benih berkualitas dihasilkan dari proses pemeliharaan larva yang dimonitoring melalui persyaratan yang ketat. Pemenuhan atas kebutuhan benih yang berkualitas tidak terlepas dari keberhasilan pemeliharaan stadia larva dari udang vanname. Permasalahan yang sering dihadapi adalah proses pemeliharaan pada stadia selanjutnya yakni zoea hingga post larva karena pada stadia ini, larva membutuhkan suplai makanan dari luar. Berdasarkan permasalahan dan tingkat kesulitan pada stadia awal pemeliharaan larva udang vanname tersebut, diperlukan kajiankajian atau informasi mengenai teknik pemeliharaan larva stadia awal (nauplius) hingga stadia post larva yang ditinjau dari tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan dan manajemen kualitas air pada unit-unit usaha pembenihan. Tujuan kegiatan ini adalah mengetahui pertambahan panjang mutlak larva, tingkat kelangsungan hidup larva (SR), perkembangan stadia larva dan pengamatan kualitas air. Hasil pengamatan yang diperoleh, nilai panjang mutlak dari larva yang dipelihara adalah 3,5 mm dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 75,6%. Hasil pengamatan selama pemeliharaan yang dilakukan untuk perkembangan larva pada setiap stadia menunjukan larva udang vanname mengalami perubahan pada setiap stadia pengamatan. Hasil pengukuran kualitas air antara lain suhu berkisar 29-31 C, Salinitas berkisar 29-33 ppt, pH berkisar 8,1-8,4, DO 5,21-5,85 mg/l dan Amoniak berkisar 0,0-0,3 mg/l. Parameter kualitas air untuk suhu, salinitas, pH dan DO masih tergolong optimal selama pemeliharaan sedangkan untuk Amoniak, hanya pada minggu ketiga yang nilainya mengalami peningkatan.Litopenaeus vanname is variety of shrimp that has been cultured around Indonesia. Wide areal, massive and high quality larvae were compliments in order to increase the output from growing this species. The need for quality larvae in large quatities is an important thing in order to recrease the production of vanname shrimp. A quality larvae comes from strict larval rearing process. Fulfillment of quality larval cannot be separated from the sucess of maintaning larval stages. Problem that is often faced is the maintaned process at the next stage, namely zoea to post larvae because the stage, larvae need nutrition from external sources. Based on the problem and level of difficulty in early stage of maintaning vanname shrimp larval. There are come studies or information about aquaculture technique of early stage (nauplius) until post larvae stage include survival rate, total lenght of larvae, water quality that need to be gathered. The aim of this activity is to know total length of larvae, survival rate (SR), stadia growth of larvae and water quality. As the result of observation, total length of growing larvae is 3,5mm with 75.6% survival rate. The result of observation during rearing process for larval development at each stage showed that vanname shrimp larvae changed at each observation stages. The result of water quality measurments inclued temperatures ranging from 29-31 C, salinity rangging from 29-33 ppt, pH rangging from 8,1-8,4, DO rangging from 5,21-5,85 mg/l and amonia rangging from 0,0-0,3 mg/l. Water quality parameters for temperature, salinity, pH and DO were still considered optimal during maintenance, while amonia only increased in the third week.