Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

ANALISIS KUAT TEKAN BENDA UJI BETON SEBAGAI EVALUASI PEKERJAAN PENGECORAN BETON DAN PENENTUAN KUAT TEKAN KARAKTERISTIK AKTUAL Iwan Rustendi
Teodolita ( Media Komunikasi Ilmiah di Bidang Teknik ) Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v13i2.86

Abstract

AbstrakDalam pekerjaan konstruksi salah satu pekerjaan (produk) yang harus dikendalikan atau dikontrol adalah pekerjaan pengecoran beton. Penelitian ini menganalisis kuat tekan beton yang diuji di Laboratorium Teknik Sipil UNWIKU Purwokerto yang bertujuan untuk megevaluasi pekerjaan pengecoran beton pada balok dan pelat lantai Gedung X di Purwokerto berdasarkan SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui berapa kuat tekan karakteristik beton yang dicapai (aktual) berdasarkan Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971. Jumlah benda uji (sampel) sebanyak 44 buah di mana 2 buah benda uji yang berpasangan berasal dari 22 adukan (truck mixer) yang berbeda, sehingga satu nilai uji kuat tekan merupakan rata-rata kuat tekan 2 buah benda uji yang berpasangan. Perawatan benda uji dilakukan di laboratorium dan pengujian dilakukan pada umur 28 hari. Dengan kuat tekan karakteristik f’c rencana adalah 20 MPa, berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa pekerjaan pengecoran balok dan pelat lantai Gedung X di Purwokerto mutu betonnya tidak memenuhi syarat karena ada 6 hasil uji yang merupakan rata-rata dari 3 pasangan benda uji nilainya kurang dari 20 MPa. Dari perhitungan kuat tekan karakteristik diketahui bahwa beton pada pekerjaan pengecoran balok dan pelat lantai Gedung X Purwokerto kuat tekan karakteristiknya sebesar 18,5 MPa dibawah kuat tekan karakteristik yang direncanakan. KATA KUNCI : pekerjaan beton, evaluasi, kualitas beton
PEMANFAATAN ABU LIMBAH ROTAN SEBAGAI CAMPURAN ADUKAN BETON IWAN RUSTENDI
Teodolita ( Media Komunikasi Ilmiah di Bidang Teknik ) Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5882.981 KB) | DOI: 10.53810/jt.v15i1.134

Abstract

Penelitian ini menyelidiki karakteristik beton yang ditambah dengan abulimbah rotan (ALR). Karakteristik beton yang diselidiki yaitu sifat kemudahan pengerjaan(workability), dan kuat tekan beton. Penambahan abu limbah rotan (ALR) dibuat dalambeberapa variasi persentase terhadap berat semen yaitu sebanyak 0% (sebagai kontrol) 5%,10%, 15% dan 20%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan abu limbah rotan(ARL) terhadap adukan beton mengakibatkan menurunnya sifat kemudahan pengerjaan(workability) , tapi dapat meningkatkan kuat tekan beton. Untuk adukan beton normal (0%ALR) nilai slam adalah 9,0 cm, adukan beton 5% ALR turun menjadi 3,0 cm, adukan beton10% ALR sebesar 1,5 cm, adukan beton 15% ALR sebesar 0,5 cm dan adukan beton 20%ALR nilai slamnya menjadi nol. Kuat tekan beton dengan penambahan ALR 5% adalahsebesar 33,40 MPa atau mengalami peningkatan sebesar 46,58% dari kuat tekan beton tanpamenggunakan ALR (ALR 0%). Untuk beton 10% ALR peningkatan kuat tekannya sebesar59,65%, beton 15% ALR peningkatan kuat tekannya sebesar 65,85% dan beton 20% ALRpeningkatan kuat tekannya sebesar 72,68%.KATA KUNCI : abu serbuk limbah kerajinan rotan, adukan beton.
ANALISIS PENGARUH FREKUENSI GILASAN ALAT PEMADAT TERHADAP KEPADATAN LAPANGAN (STUDY KASUS PEMBANGUNAN KONSTRUKSI ASHPOND DI PLTU TANJUNG JATI B JEPARA) PINGIT BROTO ATMADI; IWAN RUSTENDI; EDDY PURWODIHARDJO; CITRA PRADIPTA HUDOYO
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 21, No 2 (2020): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v21i2.379

Abstract

ABSTRACT In a saturated state, clay soil is very cohesive. Meanwhile, in dry conditions, it will form a unified mass, which is hard and difficult to change, so that a force is needed to separate the microscopic grains. Due to these sensitive characteristics, road buildings that are located on clay soil are often damaged. This study aims to determine how much influence the number of passes on the fixed compaction effort by using a compactor Smooth Wheel Roller or Compact Vibro with a capacity of 10 tons on changes in water content to the bearing strength of the subgrade and to determine the optimum moisture content and maximum dry weight at a compaction process. In this experiment, the researchers conducted 4 (four) times testing, including 3 (three) tests in the laboratory and 1 (one) time in the field. From the research results, it was found that to achieve a sand cone value greater than 95%, the minimum number of presses for the compactor was 8 times. This is evident in the results of the sand cone experiment for soil sample 1 with 8 times of ground, the resulting value is 97.23%, for soil sample number 2 the number produced in the sand cone experiment for 8 times of ground is 98.59% while for soil sample No. 3 is 96.53%. From these three experiments it could be proven that for 8 times the value of all the sand cone yields was greater than 95%.Keyword : soil density, sand cone,  ashpond ABSTRAKPada keadaan jenuh air (saturated), tanah lempung bersifat sangat kohesif. Sedangkan dalam kondisi kering akan membentuk massa yang bersatu, bersifat keras dan sukar untuk diubah-ubah sehingga diperlukan gaya untuk memisahkan butiran mikroskopisnya. Karena sifat-sifat yang sensitive tersebut maka bangunan jalan yang terletak di atas tanah lempung sering mengalami kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh jumlah lintasan terhadap usaha pemadatan tetap dengan menggunakan alat pemadat Smooth Wheel Roller atau Compact Vibro dengan kapasitas 10 Ton pada perubahan kandungan air terhadap kuat dukung tanah dasar dan untuk mengetahui kadar air optimum dan berat isi kering maksimum pada suatu proses pemadatan. Dalam percobaan ini peneliti melakukan 4 (empat) kali pengujian yang antara lain 3 (tiga) kali pengujian di laboratorium dan 1 (satu) kali pengujian di lapangan. Dari hasil penelitian didapat untuk mencapai nilai sand cone lebih besar dari 95% maka jumlah gilasan alat pemadat minimal adalah 8 kali gilasan. Hal ini terbukti pada hasil percobaan sand cone untuk tanah sampel 1 dengan jumlah gilasan 8 kali gilasan maka nilai yang dihasilkan adalah 97,23% , untuk sampel tanah no 2 angka yang dihasilkan pada percobaan sand cone untuk 8 kali gilasan adalah 98,59 % sedangkan untuk sampel tanah no 3 adalah 96,53% . dari ketiga percobaan ini bisa dibuktikan bahwa untuk 8 kali gilasan nilai semua hasil sand cone lebih besar dari 95 %.Kata-kata Kunci : kepadatan tanah, sand cone,  ashpond 
ANALISIS PENGARUH PENAMBAHAN ABU SEKAM PADI DAN SUPERPLASTICIZER (CONSOL SS-8) TERHADAP KUAT TEKAN BETON MUTU TINGGI EDDY POERWODIHARDJO; IWAN RUSTENDI
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 22, No 1 (2021): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v22i1.393

Abstract

ABSTRACT Concrete is one of the construction needs of modern society. In Indonesia, almost all building constructions use concrete as a building material, such as in the construction of buildings, bridges, roads and others. In this study, the addition of rice husk ash and superplasticizer (Consol SS-8) was carried out. To determine the compressive strength of fc '45 MPa concrete at the age of 14 days and 28 days with variations in the addition of rice husk ash (ASP) 0%, 5%, 10%. , 15% and the addition of a superplasticizer (Consol SS-8). The research process was carried out at the Structural Engineering Laboratory of the Civil Engineering Study Program, Faculty of Engineering, Wijayakusuma University of Purwokerto, the test object used was a cylinder, the quality of the concrete planned for fc '45 MPa which was tested at the age of 14 and 28 days with treatment before testing. This study tested the concrete with a cylindrical specimen for the compression test (diameter 15 x 30 cm) as many as 40 samples consisting of 4 variations and each variation of 5 samples. From this study, the results of the 28-day-old concrete compressive strength sample test were the highest in 5% rice husk ash variant concrete (ASP) with an average compressive strength value of fc '39.19 MPa and the lowest was in the concrete variant of rice husk ash (ASP) 0% with an average compressive strength value of 33.30 MPa. Keywords : high quality concrete, rice husk, superplasticizer ABSTRAK Beton merupakan salah satu kebutuhan konstruksi untuk masyarakat modern. Di Indonesia hampir seluruh konstruksi bangunan menggunakan beton sebagai bahan bangunan, seperti pada konstruksi bangunan gedung, jembatan, jalan dan lainnya. Penelitian ini dilakukan penambahan abu sekam padi dan superplasticizer (Consol SS-8) bertujuan untuk mengetahui kuat tekan beton fc’ 45 MPa pada umur 14 hari dan 28 hari dengan variasi penambahan abu sekam padi (ASP) 0%, 5%, 10%, 15% dan penambahan superplasticizer (Consol SS-8). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Rekayasa Struktur Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder, mutu beton yang direncanakan fc’ 45 MPa yang diuji pada umur 14 dan 28 hari dengan terlebih dahulu dilakukan perawatan sebelum pengujian. Penelitian ini menguji beton dengan benda uji selinder untuk uji tekan (diameter 15 x 30 cm) sebanyak 40 sampel terdiri dari 4 variasi dan masing-masing variasi sebanyak 5 sampel. Hasil dari penelitian ini yaitu uji sampel kuat tekan beton umur 28 hari tertinggi pada beton varian abu sekam padi (ASP) 5% dengan nilai kuat tekan rata-rata sebesar fc’ 39,19 MPa dan terendah pada beton varian abu sekam padi (ASP) 0% dengan nilai kuat tekan rata-rata sebesar 33,30 MPa. Kata kunci : beton mutu tinggi, abu sekam padi, superplasticizer
REVIEW DURABILITY BETON GEOPOLYMER BERBASIS FLY ASH REMIGILDUS CORNELIS; IWAN RUSTENDI
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 21, No 2 (2020): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v21i2.373

Abstract

ABSTRAKPaper ini mengkaji beberapa penelitian yang berkaitan dengan durabilitas beton geopolimer berbasis fly ash. Durabilitas beton geopolimer yang dikaji adalah yang berkaitan dengan ketahanan terhadap lingkungan yang bersifat asam dan lingkungan yang sulfat serta air laut. Hal ini karena sebagian struktur beton berada pada lingkungan tersebut. Dengan mengetahui perilaku material tersebut, maka dapat diperoleh desain yang lebih aman dan ekonomis. Beberapa hasil penelitian mengungkapkan bahwa beton geopolimer memiliki kinerja yang lebih baik dibanding  beton OPC dan mampu bertahan dalam lingkungan yang lebih agresif. ABSTRACTThis paper examines several studies related to the durability of fly ash-based geopolymer concrete .Geopolymer concrete durability is associated with resistance to acidic environments, sulfate environments and sea water. This is because most of the concrete structure to be in that environment. By knowing the behavior of the materials, it can be obtained design safer and economical. Some research revealed that geopolymer concrete has better performance than OPC concrete and able to survive in an eggressive environment.
MITIGASI GANGGUAN STABILITAS TANAH PADA TAPAK TOWER TRANSMISI T73 PADA JALUR TRANSMISI (SUT 70 KV) SOE-KEFA INTERKONEKSI TIMOR Remigildus Cornelis; Iwan Rustendi
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 23, No 1 (2022): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v23i1.445

Abstract

Abstrak Tower transmisi sangat penting menunjang infrastruktur ctenaga listrik terutama di Nusa Tenggara Timur. Tower transmisi sangat penting ketika pusat pembangkit berjauhan dengan pusat beban. Karena itu kestabilan tanah dasar pondasi tower sangat penting. Permasalahan yang sering dialami di daerah NTT yaitu jenis tanah dasar adalah tanah lempung sangat expansif yaitu lempung Bobonaro. Untuk mengatasi hal tersebut maka pada penelitian ini dilakukan kajian kestabilan tanah berdasarkan data sondir dan boring. Dalam penelitian ini telah dilakukan penyelidikan tanah yaitu pengujian sondir, boring, pengujian sampel UDS dan survey pemukaan tanah. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis tanahnya adalah lanau bercampur lempung bobonaro berwarna coklat kemerahan yang memiliki sifat ekspansive dan memiliki sifat kembang susut yang tinggi. Hal ini terkonfirmasi adanya longsoran disekitar tapak tower. Berdasarkan hasi evauasi menunjukkan bahwa daya dukung tanah sebesar 200 kg/cm2 berada pada kedalaman 6 m sehingga solusi penanganan kelongsoran menggunakan bronjong pada tapak tower tidak berhasil mengatasi kelongsoran tapak tower, sehingga jenis penanganan yang disarankan adalah penggunaan pondasi dalam memanfaatkan end bearing dan friksi dan sheet pile untuk penahan kelongsoran. Kata kunci: Mitigasi, Stabilitas, Tapak Tower, Tower Transmisi, SUT 70 kV..
Studi Pendahuluan Sifat Teknis Tanah Lempung Pada Daerah Rawan Gerakan Tanah Di Dusun Beji Desa Cirahab Kecamatan Lumbir Kabupaten Banyumas Ary Sismiani; Iwan Rustendi
Techno (Jurnal Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Purwokerto) Vol 22, No 1 (2021): Techno Volume 22 NO.1 April 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/techno.v22i1.10099

Abstract

In several places in the Banyumas Regency area, land movement problems have often occurred. Several locations have been declared as red zones, one of which is Beji, Cirahab Village, Lumbir District. With such regional conditions, it is necessary to conduct a study of the technical and mechanical properties of the soil in that location including moisture content, density and shear strength parameters related to the possibility of soil movement that will occur. From the results of the test and analysis using 3 specimens, the following data were obtained: water content of 20.22%, 30.36%, 40.31% with a cohesion value of 0.14 kg / cm2, 0.56 kg / cm2, 0.33 kg / cm2, and the internal friction angles of the soil are 30.22 °, 24.47 °, and 18.93 °. While the value of shear stress and displacement at maximum normal stress and moisture content of 20.22%, 30.36%, 40.31% are t(w1) = 0.68 kg / cm2,  t(w2) = 1.01 kg / cm2 ,t (w3) = 0.68 kg / cm2 and dn1 = 15.02%, dn2 = 10.02, dn3 = 13.35%. It can be concluded that the water content always has a very big influence on the value of the soil shear strength parameter. Therefore, the condition of the water content on the soil slope needs to be considered, and it is necessary to carry out further tests and more serious handling at that location.
Studi Efisiensi Struktur Fondasi Pada Penggunaan Dinding dan Panel Lantai Beton Ringan Aerasi Iwan Rustendi; Ary Sismiani
Techno (Jurnal Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Purwokerto) Vol 23, No 2 (2022): Techno Volume 23 NO.2 Oktober 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/techno.v23i2.11180

Abstract

Penggunaan beton ringan aerasi sebagai material dinding akan mengakibatkan beban gravitasi dan beban gempa yang dipikul oleh struktur bangunan menjadi berkurang dibandingkan apabila menggunakan dinding bata merah. Karena beban yang bekerja menjadi berkurang intensitasnya maka gaya dalam yang timbul pada struktur gedung atau portal (balok dan kolom) menjadi berkurang juga begitu juga reaksi perletakannya, sehingga akan terjadi pengurangan dimensi dan penulangan pada struktur fondasi. Pengurangan tersebut akan lebih signifikan apabila beton ringan aerasi tersebut diaplikasikan juga pada pelat lantai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengurangan atau efisiensi struktur fondasi pada bangunan gedung yang menggunakan beton ringan aerasi pada dinding dan pelat lantainya, terhadap bangunan gedung yang menggunakan bata merah dan pelat lantai beton normal. Metode penelitian ini meliputi pengumpulan data (berupa gambar bestek bangunan, data tanah dan karakteristik beton ringan), mendesain model rangka gedung untuk Gedung I yaitu gedung yang menggunakan pelat lantai beton normal dan dinding bata merah dan Gedung II yaitu gedung yang menggunakan panel lantai dan dinding beton ringan aerasi, preliminary design, menghitung pembebanan struktur, analisis struktur dengan SAP2000, dan perancangan struktur fondasi. Dari hasil perhitungan didapatkan beban dinding pada Gedung I adalah sebesar 850 kg/m dan pada Gedung II berkurang menjadi 425 kg/m atau berkurang sebesar 50%. Sementara untuk beban mati lantai pada Gedung I sebesar 450 kg/m2 dan pada Gedung II berkurang menjadi sebesar 195,5 kg/m2 atau berkurang sebesar 57%. Reaksi perletakan Gedung I pada fondasi Tipe I adalah sebesar 1.867,321 kN, dan pada fondasi Tipe II adalah sebesar 1.087,644 kN. Sementara reaksi perletakan Gedung II pada fondasi Tipe I adalah sebesar 1.349,381 kN, dan pada fondasi Tipe II adalah sebesar 821,458 kN. Dimensi fondasi Gedung I untuk fondasi Tipe I adalah 2,75 x 2,75 x 0,56 m3 dengan penulangan D16-125, dan untuk fondasi Tipe II adalah 2,10 x 2,10 x 0,42 m3 dengan penulangan D16-175. Sementara dimensi fondasi Gedung II untuk fondasi Tipe I adalah 2,40 x 2,40 x 0,48 m3 dengan penulangan D16-150 , dan untuk fondasi Tipe II adalah 1,80 x 1,80 x 0,35 m3 dengan penulangan D16-200. Volume fondasi Gedung I adalah 115,38 m3 untuk betonnya dan 11.364,63 kg untuk tulangannya. Sementara volume fondasi Gedung II adalah 72,01 m3 untuk betonnya dan 6.619,02 kg untuk tulangannya.The use of aerated lightweight concrete as a wall material will reduce the gravity load and earthquake loads borne by the building structure compared to using brick walls. As a result of the working load being reduced in intensity, the internal forces that arise in the building structure or portal (beams and columns) are reduced as well as the joint reaction, so that there will be a reduction in dimensions and reinforcement in the foundation structure. The reduction will be more significant if the aerated lightweight concrete is also applied to the floor slab. The purpose of this study was to determine the reduction or efficiency of the foundation structure in buildings that use aerated lightweight concrete on the walls and floor slabs, for buildings that use red bricks and normal concrete floor slabs. This research method includes data collection (in the form of building pictures, soil data and lightweight concrete characteristics), designing a building frame model for Building I, which is a building that uses normal concrete floor slabs and  brick walls and Building II is a building that uses floor and wall panels. aerated lightweight concrete, preliminary design, calculating structural loading, structural analysis with SAP2000, and designing the foundation structure. From the calculation results, the wall load in Building I is 850 kg/m2 and in Building II it is reduced to 425 kg/m or reduced by 50%. Meanwhile, the floor dead load in Building I was 450 kg/m2 and in Building II it was reduced to 195.5 kg/m2 or reduced by 57%. The reaction for the placement of Building I on the Type I foundation is 1,867,321 kN, and on the Type II foundation it is 1,087,644 kN. Meanwhile, the reaction for the placement of Building II on the Type I foundation is 1,349,381 kN, and on the Type II foundation it is 821,458 kN. The dimensions of the Building I foundation for Type I foundations are 2.75 x 2.75 x 0.56 m3 with D16-125 reinforcement, and for Type II foundations are 2.10 x 2.10 x 0.42 m3 with reinforcement D16-175 . Meanwhile, the dimensions of the Building II foundation for the Type I foundation are 2.40 x 2.40 x 0.48 m3 with D16-150 reinforcement, and for the Type II foundation it is 1.80 x 1.80 x 0.35 m3 with reinforcement D16- 200. The volume of the foundation of Building I is 115.38 m3 for the concrete and 11,364.63 kg for the reinforcement. Meanwhile, the volume of the foundation for Building II is 72.01 m3 for the concrete and 6,619.02 kg for the reinforcement.
Effect of the Mortar Volume Ratio on the Mechanical Behavior of Class CI Fly Ash-Based Geopolymer Concrete Remigildus Cornelis; Henricus Priyosulityo; Iman Satyarno; Rochmadi .; Iwan Rustendi
Civil Engineering Journal Vol 8, No 9 (2022): September
Publisher : Salehan Institute of Higher Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28991/CEJ-2022-08-09-012

Abstract

This research described the effect of the mortar volume ratio on the mechanical behavior of Class CI fly ash-based geopolymer concrete. The absolute volume ratio parameters were designed to determine the effects on the mechanical properties of the geopolymer concrete. The volume ratio of the mortar to coarse aggregate voids (Rc) was increased by 0.25 increments, from 1 to 1.75, using constant parameters of 10 M NaOH at a ratio of Na2SiO3to NaOH (R). Furthermore, the alkaline to fly ash ratio (A) of 0.35 and the volume ratio of paste to fine aggregate voids (Rm) of 1.5 were based on geopolymer paste and mortar investigations previously published. The test results showed that 1) the Rc ratio influences the workability and compressive strength of geopolymer concrete; 2) the increase in the Rc ratio by 1.75 is not linear with the rise in compressive strength but produces better mechanical properties; 3) it does not affect the tensile strength of both geopolymer and OPC concretes; 4) the lower the Rc ratio, the higher the flexural strength; 5) the Rc ratio does not affect the OPC concrete and GC tensile strength; 6) the bond stress in geopolymer concrete with an Rc ratio of 1.75 is higher than in OPC concrete; and 7) Rc ratio does not affect the early strength of geopolymer concrete. The geopolymer concrete experienced an increase in compressive strength after 28 days, while the OPC concrete remained flat. The results will help develop an optimal mix design of Class CI fly ash with moderate calcium oxide in the production of geopolymer concrete. This will improve the future applications of using this process in new binding materials. Doi: 10.28991/CEJ-2022-08-09-012 Full Text: PDF
Efektivitas Komitmen Pengelolaan Risiko Lingkungan dan Sosial dalam Organisasi Penyedia Jasa Konstruksi Heru Bayuaji Sanggoro; Iwan Rustendi; Susatyo Adhi Pramono; Bambang Purwoko Kusumo Bintoro
Semesta Teknika Vol 25, No 2 (2022): NOVEMBER 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/st.v25i2.15247

Abstract

Pertumbuhan ekonomi yang mengalami perlambatan dan ancaman kerusakan lingkungan akibat aktivitas pembangunan menuntut pelaku jasa konstruksi melakukan transformasi bisnis yang ramah lingkungan dan sosial. Penelitian ini ditujukan untuk menguji efektivitas komitmen penyedia jasa dalam mengelola risiko lingkungan dan sosial terhadap kinerja proyek melalui pencapaian kinerja sosial dengan PLS-SEM. Faktor-faktor manajemen dalam organisasi penyedia jasa digunakan dalam pengujian ini, yaitu kinerja organisasi/manajemen dan kinerja estimasi melalui nilai penawaran. Hasil penelitian menunjukan pengaruh yang signifikan dari ketiga variabel pada masing-masing komponen. Namun ketiganya bekerja secara independen dan tidak saling mempengaruhi sehingga mengurangi ketergantungan masing-masing terhadap komitmen pengelolaan risiko. Perlu penguatan aturan hukum tentang status dan kewajiban tanggungjawab sosial dan lingkungan proyek. Lebih lanjut, kinerja sosial yang dicapai terbukti berpengaruh dalam meningkatkan kinerja waktu dan biaya proyek. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu penelitian selanjutnya untuk menghasilkan kerangka perlindungan lingkungan dan sosial proyek yang tepat dan berkeadilan dalam mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.