Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pengaruh Protektif dan Kuratif Pemberian Suplemen Jus Buah Naga Putih (Hylocereus undatus) terhadap Histologi Tubulus Seminiferus Tikus Putih (Rattus norvegicus) Dewasa Galur Sprague dawley yang Diinduksi Siproteron Asetat Dwi Waskita Hutama; Sutyarso Sutyarso; Hendri Busman; Soraya Rahmanisa
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 3 No. 1 (2016): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketiadaan anak dalam perkawinan pada waktu lama akan menjadi masalah, halini disebut infertilitas. Keadaan ini akan mengancam keutuhan rumah tangga. Infertilitas merupakan kegagalan hamil atau melahirkan setelah 12bulan atau lebih, berhubungan seks teratur tanpa pelindung. Infertilitas bukan masalah perempuan saja karena 25% sampai 50% infertilitas disebabkan pria, sehingga dibutuhkan pencegahan dan pengobatan yang aman. Salah satu pilihan menggunakan suplemen jus buah naga putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplemen jus buah naga putih terhadap histologi tubulus seminiferus tikus putih yang diinduksi siproteron asetat. Penelitian menggunakan 25 tikus dipisah menjadi 5 kelompok. K1: pakan biasa, P1: jus buahnaga putih 1 ml selama 24 hari, P2: induksi siproteron asetat 2 mg selama 7 hari, P3: jus buah naga putih 1 ml selama 24 hari kemudian induksi siproteron asetat 2 mg selama 7 hari, dan P4: induksi siproteron asetat 2 mg selama 7 hari kemudian jus buah naga putih 1 ml selama 24 hari. Hasil menunjukan rerata jumlah sel spermatosit primer pada K, P1, P2, P3, dan P4 adalah 375,20±8,408, 381,40±11,082, 320,00±6,519, 346,00±8,276, dan 331,60±4,930. Rerata jumlah sel spermatid adalah 345,60±11,216, 362,80±16,843, 306,00±6,205, 333,00±6,042, dan 323,60±4,506. Rerata diameter tubulus seminiferus adalah 311,32±7,86, 314,84±23,01, 286,91±5,89, 310,45±3,86, dan 309,30±2,01. Simpulan, jus buah naga putih mampu meningkatkan spermatosit primer danspermatid. [J Agromed Unila 2016. 3(1):19-25]Kata kunci: buah naga putih, infertilitas, siproteron asetat
Efek Potensial Ekstrak Kulit Batang Bakau (Rhizophora apiculata) Delisa Mutiara Nabila; Waluyo Rudiyanto; Hendri Busman
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 9 No. 1 (2022): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekosistem bakau di Indonesia merupakan ekosistem terbanyak di dunia, luasnya mencapai 3.364.063 Ha, sementara i tu luas hutan bakau di dunia lebih dari 150.000 km 2. Tumbuhan bakau memiliki potensi sangat besar sebagai bahan obat. Rhizophora apiculata adalah salah satu spesies tumbuhan bakau yang banyak tersebar di wilayah Indonesia. Bagiantumbuhan bakau dapat digunakan sebagai bahan obat mulai dari akar, daun, batang dan kulit batang pada Rhizophora apiculata yang mengandung  zat aktif sehingga artikel ini bertujuan untuk mengetahui efek potensial ekstrak kulit batang Rhizophora apiculata yang dapat bermanfaat bagi kesehatan. Berdasarkan hasil tinjauan pustaka yang dilakukan, ekstrak kulit batang Rhizophora apiculata mengandung senyawa bioaktif seperti tanin, flavonoid, trapenoid, saponin dan steroidyang dapat memberikan berbagai efek potensial yang bagi kesehatan, seperti sebagai antioksidan, antiiflamasi, antimikroba, antiseptik serta mempercepat penyembuhan luka. Berbagai efek potensial tersebut tentunya masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk agar bahan yang digunakan bermanfaat bagi kesehatan dan tidak menimbulkanefek samping tidak diinginkan.Kata Kunci: Bakau, Ekstrak kulit batang, Rhizophora apiculata  
Literature Review : Hubungan Antara Jenis Kelamin dan Jenis Operasi Terhadap Kejadian Post Operative Nausea Vomitting Wayan Swari Dharma Patni; Ari Wahyuni; Anisa Nuraisa Jausal; Hendri Busman
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp32-39

Abstract

Abstrak: Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) adalah komplikasi umum pascaoperasi yang dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, aspirasi paru, dan memperpanjang rawat inap. PONV diklasifikasikan menjadi early (2–6 jam), late (6–24 jam), dan delayed (>24 jam) pascaoperasi. Metode dalam penulisan ini menggunakan literature review dengan sumber berasal dari PubMed dan google scholar. Wanita memiliki risiko lebih tinggi terhadap PONV akibat fluktuasi hormon estrogen dan progesteron, terutama pada fase folikular dan ovulasi siklus menstruasi. Risiko PONV menurun setelah menopause. Jenis operasi yang berisiko tinggi termasuk laparoskopi, neurosurgery, operasi payudara, dan operasi telinga, hidung, tenggorokan (THT). Penanganan PONV meliputi pencegahan dan terapi menggunakan obat seperti antagonis reseptor 5-HT3 (ondansetron, granisetron), antagonis reseptor NK-1 (aprepitant), kortikosteroid (dexamethasone), dan metoklopramid. Pemilihan obat disesuaikan dengan tingkat risiko dan jenis operasi. Pendekatan farmakologis ini bertujuan mengurangi insidensi PONV, komplikasi terkait, dan meningkatkan kenyamanan pasien pascaoperasi.
PENINGKATAN PEMAHAMAN MASYARAKAT TENTANG RISIKO PERNIKAHAN USIA DINI DI PEKON AIR KUBANG KECAMATAN AIR NANINGAN KABUPATEN TANGGAMUS Khorina Fatin Bilqis; Hendri Busman; Bambang Irawan; Shellya Puti Sudesty; Sri Octa Handayani
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 11 No. 1 (2026): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v11i1.3828

Abstract

Pernikahan usia dini masih menjadi permasalahan sosial yang berdampak luas terhadap kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai risiko pernikahan usia dini di Pekon Air Kubang, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus. Metode yang digunakan adalah sosialisasi interaktif dengan pendekatan edukatif partisipatif yang melibatkan 30 peserta terdiri dari remaja dan orang tua. Kegiatan dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Instrumen yang digunakan berupa pretest dan posttest dengan 10 pertanyaan untuk mengukur tingkat pemahaman peserta sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai dari 58,4 pada pretest menjadi 87,2 pada posttest, dengan peningkatan sebesar 28,8 poin. Selain itu, terjadi perubahan distribusi kategori pemahaman, di mana pada awalnya 53% peserta berada pada kategori rendah, namun setelah sosialisasi tidak terdapat lagi peserta dalam kategori tersebut dan 83% peserta berada pada kategori tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai bahaya pernikahan usia dini. Oleh karena itu, kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan sebagai upaya preventif dalam menekan angka pernikahan usia dini serta mendukung terbentuknya generasi yang sehat, berpendidikan, dan berkualitas.
Comparison of Conventional and Modern Extraction Methods on the Antibacterial Activity of Natural Products Aisyah Ramadhani Paduan Ratu; Syazili Mustofa; Giska Tri Putri; Hendri Busman
Medula Vol 16 No 3 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i3.1774

Abstract

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang kaya, dan banyak spesies tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai agen antibakteri. Pemilihan metode ekstraksi diduga memengaruhi efektivitas antibakteri. Artikel ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas metode ekstraksi konvensional dan modern dalam menghasilkan hasil optimal dan aktivitas antibakteri. Studi ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan tinjauan sistematis. Penelaahan literatur menghasilkan 27 studi yang memenuhi kriteria inklusi. Metode konvensional yang paling umum diterapkan meliputi maserasi dan sokletasi, sedangkan teknik modern yang diidentifikasi meliputi ekstraksi berbantuan gelombang mikro (MAE), ekstraksi berbantuan ultrasonik (UAE), dan ekstraksi fluida superkritis (SFE). Bukti yang ditinjau menunjukkan bahwa metode ekstraksi modern mampu menghasilkan hasil yang lebih tinggi dalam durasi yang lebih singkat dibandingkan dengan teknik konvensional. Lebih lanjut, aktivitas antibakteri tertinggi juga dilaporkan pada ekstrak yang dihasilkan melalui metode modern. Meskipun demikian, beberapa studi menunjukkan bahwa metode konvensional masih dapat menghasilkan aktivitas antibakteri yang kompetitif, tergantung pada pilihan pelarut dan karakteristik fitokimia bahan tanaman. Secara keseluruhan, metode ekstraksi modern menawarkan peningkatan efisiensi dan potensi untuk meningkatkan aktivitas antibakteri, namun pemilihan metode yang ideal harus mempertimbangkan sifat bahan baku, senyawa target, dan aplikasi yang dimaksud.
The Efektivitas Sediaan Topikal Berbasis Tanaman Herbal terhadap Penyembuhan Luka Sayat pada Studi In Vivo: Sebuah Tinjauan Naratif: Sebuah Tinjauan Studi Hewan Coba Rijal Rahman Hakim; Syazili Mustofa; Giska Tri Putri; Hendri Busman
Medula Vol 16 No 3 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i3.1804

Abstract

Incision wounds are injuries that result in the disruption of skin tissue continuity and are at risk of infection as well as delayed healing if not managed optimally. Standard treatment often uses chemical antiseptics which risk causing irritation and resistance side effects. Indonesia has a wealth of herbal plants that have the potential to be effective wound healing alternatives. To evaluate the effectiveness of herbal-based topical preparations on incision wound healing in in vivo studies of white rats (Rattus norvegicus). This study is a narrative review conducted by searching for experimental scientific articles (True Experimental) published between 2020–2025. Inclusion criteria included in vivo studies on white rats with incision wound models, using herbal topical preparations (gels, ointments, creams), and comparing them with positive controls (standard drugs) and negative controls. Nine selected articles were analyzed descriptively. The review results showed that plants such as Papaya Stem, Jatropha curcas Leaves, Jatropha multifida Leaves, Lantana camara, Stenochlaena palustris, Shallots, Allium chinense, Lime Peel, and Taro showed significant wound healing activity. Topical preparations with optimal extract concentrations were able to match the healing speed of standard drugs and improve histopathological parameters (collagen and fibroblasts). Based on the literature review, herbal-based topical preparations are proven effective in accelerating incision wound healing in rat models and have the potential to be developed as phytopharmaceuticals.