Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pengaruh Protektif dan Kuratif Pemberian Suplemen Jus Buah Naga Putih (Hylocereus undatus) terhadap Histologi Tubulus Seminiferus Tikus Putih (Rattus norvegicus) Dewasa Galur Sprague dawley yang Diinduksi Siproteron Asetat Dwi Waskita Hutama; Sutyarso Sutyarso; Hendri Busman; Soraya Rahmanisa
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 3 No. 1 (2016): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketiadaan anak dalam perkawinan pada waktu lama akan menjadi masalah, halini disebut infertilitas. Keadaan ini akan mengancam keutuhan rumah tangga. Infertilitas merupakan kegagalan hamil atau melahirkan setelah 12bulan atau lebih, berhubungan seks teratur tanpa pelindung. Infertilitas bukan masalah perempuan saja karena 25% sampai 50% infertilitas disebabkan pria, sehingga dibutuhkan pencegahan dan pengobatan yang aman. Salah satu pilihan menggunakan suplemen jus buah naga putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplemen jus buah naga putih terhadap histologi tubulus seminiferus tikus putih yang diinduksi siproteron asetat. Penelitian menggunakan 25 tikus dipisah menjadi 5 kelompok. K1: pakan biasa, P1: jus buahnaga putih 1 ml selama 24 hari, P2: induksi siproteron asetat 2 mg selama 7 hari, P3: jus buah naga putih 1 ml selama 24 hari kemudian induksi siproteron asetat 2 mg selama 7 hari, dan P4: induksi siproteron asetat 2 mg selama 7 hari kemudian jus buah naga putih 1 ml selama 24 hari. Hasil menunjukan rerata jumlah sel spermatosit primer pada K, P1, P2, P3, dan P4 adalah 375,20±8,408, 381,40±11,082, 320,00±6,519, 346,00±8,276, dan 331,60±4,930. Rerata jumlah sel spermatid adalah 345,60±11,216, 362,80±16,843, 306,00±6,205, 333,00±6,042, dan 323,60±4,506. Rerata diameter tubulus seminiferus adalah 311,32±7,86, 314,84±23,01, 286,91±5,89, 310,45±3,86, dan 309,30±2,01. Simpulan, jus buah naga putih mampu meningkatkan spermatosit primer danspermatid. [J Agromed Unila 2016. 3(1):19-25]Kata kunci: buah naga putih, infertilitas, siproteron asetat
Efek Potensial Ekstrak Kulit Batang Bakau (Rhizophora apiculata) Delisa Mutiara Nabila; Waluyo Rudiyanto; Hendri Busman
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 9 No. 1 (2022): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekosistem bakau di Indonesia merupakan ekosistem terbanyak di dunia, luasnya mencapai 3.364.063 Ha, sementara i tu luas hutan bakau di dunia lebih dari 150.000 km 2. Tumbuhan bakau memiliki potensi sangat besar sebagai bahan obat. Rhizophora apiculata adalah salah satu spesies tumbuhan bakau yang banyak tersebar di wilayah Indonesia. Bagiantumbuhan bakau dapat digunakan sebagai bahan obat mulai dari akar, daun, batang dan kulit batang pada Rhizophora apiculata yang mengandung  zat aktif sehingga artikel ini bertujuan untuk mengetahui efek potensial ekstrak kulit batang Rhizophora apiculata yang dapat bermanfaat bagi kesehatan. Berdasarkan hasil tinjauan pustaka yang dilakukan, ekstrak kulit batang Rhizophora apiculata mengandung senyawa bioaktif seperti tanin, flavonoid, trapenoid, saponin dan steroidyang dapat memberikan berbagai efek potensial yang bagi kesehatan, seperti sebagai antioksidan, antiiflamasi, antimikroba, antiseptik serta mempercepat penyembuhan luka. Berbagai efek potensial tersebut tentunya masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk agar bahan yang digunakan bermanfaat bagi kesehatan dan tidak menimbulkanefek samping tidak diinginkan.Kata Kunci: Bakau, Ekstrak kulit batang, Rhizophora apiculata  
Literature Review : Hubungan Antara Jenis Kelamin dan Jenis Operasi Terhadap Kejadian Post Operative Nausea Vomitting Wayan Swari Dharma Patni; Ari Wahyuni; Anisa Nuraisa Jausal; Hendri Busman
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp32-39

Abstract

Abstrak: Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) adalah komplikasi umum pascaoperasi yang dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, aspirasi paru, dan memperpanjang rawat inap. PONV diklasifikasikan menjadi early (2–6 jam), late (6–24 jam), dan delayed (>24 jam) pascaoperasi. Metode dalam penulisan ini menggunakan literature review dengan sumber berasal dari PubMed dan google scholar. Wanita memiliki risiko lebih tinggi terhadap PONV akibat fluktuasi hormon estrogen dan progesteron, terutama pada fase folikular dan ovulasi siklus menstruasi. Risiko PONV menurun setelah menopause. Jenis operasi yang berisiko tinggi termasuk laparoskopi, neurosurgery, operasi payudara, dan operasi telinga, hidung, tenggorokan (THT). Penanganan PONV meliputi pencegahan dan terapi menggunakan obat seperti antagonis reseptor 5-HT3 (ondansetron, granisetron), antagonis reseptor NK-1 (aprepitant), kortikosteroid (dexamethasone), dan metoklopramid. Pemilihan obat disesuaikan dengan tingkat risiko dan jenis operasi. Pendekatan farmakologis ini bertujuan mengurangi insidensi PONV, komplikasi terkait, dan meningkatkan kenyamanan pasien pascaoperasi.
Eksaserbasi Sedang PPOK Grup E TB Paru, Baru Terdiagnosis Klinis pada Bulan Pertama Perawatan Fase Intensif, HIV Negatif Syazili Mustofa; Aisyah Ramadhani; Giska Tri Putri; Hendri Busman; Jordy Oktobiannobel
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026) : Article i
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1018

Abstract

Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a progressive respiratory disorder frequently associated with pulmonary tuberculosis (TB), particularly in individuals with risk factors such as smoking. We report a 65-year-old male with COPD group E who presented with dyspnea and chronic productive cough. The patient was diagnosed with newly detected pulmonary TB and was undergoing the intensive phase of anti-tuberculosis drug (OAT) therapy. Physical examination revealed bilateral wheezing with an oxygen saturation of 90%, which increased to 93% after administration of 2 L/min of supplemental oxygen; cardiac function was within normal limits. The patient received inhaled bronchodilators, intravenous methylprednisolone, levofloxacin, and OAT. After 10 days of hospitalization, dyspnea improved along with an increase in daily peak expiratory flow (PEF) values. This case highlights the importance of a multidisciplinary approach involving infection control and pharmacotherapy adjustment to achieve optimal clinical improvement in COPD patients with coexisting tuberculosis.