Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Bias Gender dalam Novel Aib dan Nasib Karya Minanto Anantama, Muharsyam Dwi; Setiawan, Aditya
MABASAN Vol. 19 No. 1 (2025): Mabasan 19 (1)
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i1.1036

Abstract

Diskriminasi terhadap perempuan masih menjadi permasalahan yang relevan hingga saat ini dengan ketidakadilan gender sebagai salah satu bentuknya. Hubungan yang timpang antara kedudukan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat sebagai bentuk ketidakadilan gender bisa ditemukan dengan mudah. Dalam berbagai kegiatan masyarakat, posisi dan peran perempuan lebih terbatas dibanding laki-laki. Isu tentang ketidakadilan gender yang kemudian menjadi bias gender dapat ditemui dalam karya sastra, salah satunya novel. Tujuan penulisan artikel ini adalah mendeskripsikan wacana bias gender dalam novel Aib dan Nasib karya Minanto dengan telaah feminisme. Novel Aib dan Nasib berlatar kehidupan masyarakat desa Tegalurung dan Tegalsembadra. Kondisi-kondisi yang dialami tokoh-tokoh perempuan pada novel Aib dan Nasib karya Minanto akan membuka wawasan pembaca, khususnya kaum laki-laki, untuk menghargai keberadaan atau peran kaum perempuan di masyarakat. Kajian feminisme digunakan dengan tujuan mengidentifikasi wacana bias gender yang dialami oleh tokoh-tokoh perempuan dalam novel Aib dan Nasib karya Minanto yang disebabkan adanya ketidakadilan gender. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan sumber data novel Aib dan Nasib karya Minanto. Hasil penelitian menunjukkan adanya wacana bias gender yang muncul, meliputi: (1) bias gender pada kepemilikan hak, (2) bias gender pada peran, fungsi, dan profesi, (3) bias gender yang berujung kekerasan, serta (4) bias gender yang menjadikan stereotip.
The Inner Structure of Lampung Song Lyrics Hilal, Iqbal; Anantama, Muharsyam Dwi; Gustira, Yinda Dwi
International Journal of Multidisciplinary Sciences Vol. 3 No. 3 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ijms.v3i3.3917

Abstract

The lyrics of a song can be a reflection of society's life because lyrics often contain stories or narratives that are drawn from everyday life. Furthermore, song lyrics can also influence and shape the perceptions and behaviors of society. In this research, the inner structure found in the lyrics of the songs "Lampung Mulang Tiyuh," "Tanoh Lado," and "Pung Kelapo Kupung" is analyzed. The method used is content analysis with a qualitative approach. The data in this study consist of words and phrases from the lyrics of the song "Lampung Mulang Tiyuh," popularized by Bustami Zainudin, as well as "Tanoh Lado" and "Pung Kelapo Kupung," popularized by Andi Achmad. The analysis is conducted by deeply discussing the information written or printed in the lyrics. The results of the study show the presence of inner structures such as themes, emotions, tones, and messages in the lyrics of "Lampung Mulang Tiyuh," "Tanoh Lado," and "Pung Kelapo Kupung."
Anasir Poskolonial dalam Novel: Telaah Mimikri dan Implikasi sebagai Bahan Ajar Anantama, Muharsyam Dwi; Mustofa, Ali; Saputra, Wildan Aji
Jurnal Kata : Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol 12, No 1 Apr (2024): JURNAL KATA (BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA)
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Globalization presents challenges in the form of decreasing values of nationalism and de-characterization among the younger generation. Education should be able to solve this problem. One way that this can be done is through Indonesian language subjects, especially material on literary analysis. Literary works contain various contents of advice that can be enjoyed as a means of strengthening the value of nationalism and character education. On that basis, this study intends to analyze the symptoms of hybridity, mimicry, and ambivalence in Iksaka Banu's novel Sang Raja. The results of the analysis of the three postcolonial phenomena in the novel are expected to be used as Indonesian language teaching materials oriented towards strengthening the national character. This research is a descriptive qualitative study with a sociological literature approach. The data of this research are symptoms of hybridity, mimicry, and ambivalence in the data source in the form of the Iksaka Banu's novel Sang Raja. The data was taken using reading and note-taking techniques. The data that has been collected were analyzed using interactive analysis techniques. The results showed that in the novel Sang Raja, there are symptoms of hybridity in the form of education and work; mimicry in the form of clothing, lifestyle, and property; ambivalence in the form of rejection of mimicry by the natives. The results of the study of postcolonial phenomena in the novel Sang Raja can be used as Indonesian language teaching materials. Globalisasi menghadirkan tantangan berupa menurunnya nilai nasionalisme dan dekarakterisasi di kalangan generasi muda. Pendidikan seyogyanya bisa mengatasi persoalan tersebut. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melalui mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya materi tentang analisis karya sastra. Karya sastra menyimpan berbagai muatan nasihat yang bisa diteroka sebagai sarana penguatan nilai nasionalisme dan pendidikan karakter. Karya sastra yang bisa dimanfaatkan peranannya sebagai penguat nilai nasionalisme adalah karya sastra yang berlatarkan kehidupan kolonial. Karya sastra dengan latar kolonial banyak memua twacana-wacana yang merangsang peserta didik untuk berpikir kritis. Atas dasar itu, penelitian ini hendak menganalisis gejala mimikri sebagai gejala poskolonial dalam novel Sang Raja karya Iksaka Banu. Hasil analisis terhadap gejala poskolonial dalam novel tersebut selanjutnya bisa dipakai sebagai bahan ajar bahasa Indonesia yang berorientasi pada penguatan karakter kebangsaan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologi sastra. Data penelitian ini adalah gejala mimikri dalam sumber data berupa novel Sang Raja karya Iksaka Banu. Data tersebut diambil dengan teknik baca dan catat. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan teknik analisis interaktif. Sebagai bentuk pertanggungjawaban keabsahan data digunakan teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan dalam novel Sang Raja terdapat gejala mimikri berupa cara berpakaian, gaya hidup, dan properti. Hasil kajian terhadap gejala poskolonial dalam novel Sang Raja dapat digunakan sebagai bahan ajar bahasa Indonesia. Kata Kunci: bahan ajar, karya sastra, nasionalisme, poskolonial
Analisis Deviasi dan Gaya Bahasa pada Kumpulan Puisi Di Hadapan Rahasia Karya Adimas Immanuel: Kajian Stilistika Prasetyo, Heru; Nurjanah, Vivi Baity; Prayogi, Rahmat; Anantama, Muharsyam Dwi
Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/tiyuhlampung.v8i1.1109

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan gaya bahasa dan penyimpangan bahasa yang terdapat dalam kumpulan puisi karya Adimas Immanuel. Data penelitian yang digunakan penulis adalah puisi berjudul Dalam Menghadapi Rahasia dan Taswir karya Adimas Immanuel, fokus utamanya adalah menganalisis gaya bahasa dan penyimpangan bahasa yang ada pada kedua puisi tersebut. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dan teknik yang digunakan adalah teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam puisi Dalam Menghadapi Rahasia karya Adimas Immanuel terdapat beberapa gaya bahasa seperti alegori, personifikasi, hiperbola, oksimoron, retorika, dan asonansi, dan hanya ditemukan satu penyimpangan bahasa yaitu penyimpangan historis. Dalam puisi Taswir karya Adimas Immanuel ditemukan dua gaya bahasa yaitu gaya bahasa alegoris dan epizeukis, sedangkan penyimpangan bahasa yang ditemukan yaitu penyimpangan leksikal, gramatikal, dan historis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan gaya bahasa dan penyimpangan bahasa yang terdapat pada kumpulan puisi Di Hadapan Rahasia karya Adimas Immanuel. Data penelitian yang digunakan penulis adalah puisi berjudul Di Hadapan Rahasia karya Adimas Immanuel, fokus utamanya adalah menganalisis gaya bahasa dan penyimpangan bahasa yang ada pada kedua puisi tersebut. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dan teknik yang digunakan adalah teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam puisi Di Hadapan Rahasia karya Adimas Immanuel terdapat beberapa gaya bahasa seperti alegori, personifikasi, hiperbola, oksimoron, retorika, dan asonansi, serta hanya ditemukan satu penyimpangan bahasa yaitu penyimpangan sejarah. Dalam puisi Taswir karya Adimas Immanuel ditemukan dua gaya bahasa, yaitu gaya bahasa alegoris dan epizeukis, sedangkan penyimpangan bahasa yang ditemukan adalah penyimpangan leksikal, gramatikal, dan historis.
PEMBELAJARAN SASTRA LISAN LAMPUNG BERBASIS TEKA-TEKI SEBAGAI BAGIAN DARI WARISAN MASYARAKAT LAMPUNG Kinanti, Arinda Darma; Fikri, Khaerul; Anantama, Muharsyam Dwi; Putri, Dola Azkani
Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/tiyuhlampung.v8i2.1277

Abstract

Literature is a form of art that expresses human thoughts and emotions through the beauty of language, the uniqueness of ideas, and the depth of messages (Najid, 2003: -7). Meanwhile, Lampung oral literature is Lampung language literature which is conveyed orally and disseminated in unwritten form (currently mostly cataloged and written) (Sanusi, 2010: 7). Oral traditions are an important part of local community wisdom. According to Koentjaraningrat (Nesi et al, 2019: 71), local wisdom includes three types. specifically (1) ideas, perceptions, values and norms; (2) complex patterns of behavior and activity; (3) Artifacts, culture, documents and cultural objects. The purpose of this article is to explain the mysteries of Lampung within the framework of the oral traditions of the Lampung people. The method used in this research is library research using data collection, reading and note-taking methods. The result of this article is to increase insight into Lampung oral literature, including puzzles. Sastra merupakan suatu bentuk seni yang mengungkapkan pikiran dan emosi manusia melalui keindahan bahasa, keunikan gagasan, dan kedalaman pesan (Najid, 2003: -7). Sedangkan sastra lisan Lampung adalah sastra berbahasa Lampung yang disampaikan secara lisan dan disebarluaskan dalam bentuk tidak tertulis (saat ini sebagian besar dikatalogkan dan ditulis) (Sanusi, 2010: 7). Tradisi lisan merupakan bagian penting dari kearifan masyarakat lokal. Menurut Koentjaraningrat (Nesi dkk, 2019: 71), kearifan lokal mencakup tiga jenis. secara spesifik (1) gagasan, persepsi, nilai dan norma; (2) pola perilaku dan aktivitas yang kompleks; (3) Artefak, kebudayaan, dokumen, dan benda kebudayaan. Tujuan artikel ini adalah untuk menjelaskan misteri Lampung dalam kerangka tradisi lisan masyarakat Lampung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode pengumpulan data, membaca, dan mencatat. Hasil dari artikel ini adalah untuk menambah wawasan tentang sastra lisan Lampung, termasuk teka-teki.
GAYA BAHASA DALAM LIRIK LAGU CAK CULAY NABUY NABUY KARYA MUHAMMAD YUSUF Ali Mustofa; Muharsyam Dwi Anantama; Afeby Ade Habibansyah
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 1 No. 2 (2024): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to identify, analyze and reveal the meaning of language styles in the lyrics of the song "Cak Culay Nabuy Nabuy" by Muhammad Yusuf using a stylistic approach. The research data used by the author are the lyrics of the song Cak Culay Nabuy Nabuy" by Muhammad Yusuf. The main focus of this research is analyzing language styles which include metaphor, hyperbole, symbolism, repetition, pleonasm, tautology, climax, irony, cynicism and innuendo. Method The research used was descriptive qualitative with a case study design, where data was collected through documentation techniques and analyzed using note-taking and content analysis techniques. The results of this research showed that there were 3 linguistic style findings and 8 figures of speech in the song's lyrics found include: 1) comparative language style with metaphor, hyperbole and symbolic figures of speech, 2) affirmative language style with repetition and pleonasm, 3) satirical language style with irony, cynicism and innuendo. These findings consist of comparative language styles found 3 findings equivalent to 37.5%, affirmative language style 2 findings equivalent to 25%, satirical language style 3 findings equivalent to 37.5%. The total number of findings is 8 or equivalent to 100%.   Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengungkap makna dari gaya bahasa dalam lirik lagu "Cak Culay Nabuy Nabuy" karya Muhammad Yusuf” menggunakan pendekatan stilistika. Data penelitian yang digunakan penulis adalah lirik lagu Cak Culay Nabuy Nabuy" karya Muhammad Yusuf”. Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis gaya bahasa dan majasnya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan rancangan studi kasus, di mana data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis menggunakan teknik simak-catat dan analisis isi. Hasil penelitian ini menunjukan bahawa terdapat 3 temuan gaya bahasa dan 8 majas dalam lirik lagu tersebut. Gaya bahasa yang ditemukan meliputi: 1) gaya bahasa perbandingan dengan majas metafora, hiperbola, dan simbolik,  2) gaya bahasa penegasan dengan majas repetisi dan pleonasme, 3) gaya bahasa sindiran dengan majas ironi,sinisme, dan innuendo. Temuan ini terdiri dari Gaya bahasa perbandingan ditemukan sebanyak 3 temuan, gaya bahasa penegasan sebanyak 2 temuan, gaya bahasa sindiran sebanyak 3 temuan. Jumlah total hasil temuan sebanyak 8 temuan data.
IMPLEMENTASI KODE ETIK JURNALISTIK EMBARGO OFF THE RECORD KAITAN DENGAN UU PERS NO 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS PADA KEBEBASAN PERS Istiqomah Nurzafira; Muharsyam Dwi Anantama; Dita Julianti
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 1 No. 2 (2024): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the eyes of the law (equality before the law) Indonesia guarantees that everyone is equal. This is very clear in the existing law, which states that the state of Indonesia is the right of the state and is fully regulated by law. Print mass communication is a way to realize the public’s right to information and build public opinion through adequate, equal, accurate and TRUE information. The role of a journalist is very important to meet the right people and of course in carrying out this work or profession one must be given legal protection as stated in Article 8 of the Press Law No. 40 of 1999. Where journalists really need legal protection for their work, so that they do not carry out their work or are not overshadowed by intimidation, terror and violence. Di mata hukum (equality before the law) Indonesia menjamin bahwa setiap orang sama. Hal ini amat tegas di dalam undang – undang yang ada , yang menyatakan negara Indonesia adalah hak negara dan diatur sepenuhnya oleh undang-undang. Komunikasi massa cetak adalah cara untuk mewujudkan hak publik atas informasi dan membangun opini publik melalui informasi yang memadai, setara, akurat, dan benar. Peran seorang jurnalis sangat penting untuk bertemu dengan orang-orang yang tepat dan tentunya dalam melakukan pekerjaan atau profesi tersebut harus diberikan perlindungan hukum yang disebutkan dalam Pasal 8 Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Hal tersebut disebabkan bahwa jurnalis sangat membutuhkan perlindungan hukum terhadap pekerjaan, agar mereka tidak melakukan pekerjaannya atau tidak dibayangi oleh intimidasi, teror dan kekerasan.
Nilai Moral dalam Puisi-Puisi Karya Abidah El Khalieqy: Telaah Strukturalisme Syipa An Nisa; Muharsyam Dwi Anantama
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 2 No. 2 (2025): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v2i2.1251

Abstract

Literary works, including poetry, are not only created for aesthetic purposes, but also as a means of conveying ideas, views on life, and the author's response to the social reality around them. The function of poetry is inseparable from its role as a carrier of life values, including norms and morals that serve as guidelines in society. This study analyzes the moral values in Abidah El Khalieqy's poems through a qualitative approach with descriptive methods and content analysis techniques. The theory in this study refers to the structural theory of Nurgiantoro and Pradopo. Data in the form of physical and spiritual elements of poetry—words, phrases, and sentences—are identified to reveal three dimensions of moral values: (1) personal (gender equality, women's resilience, love of nature); (2) social (mutual love, cooperation); and (3) spiritual (obedience to worship, awareness of death). The research findings show that the structure of poetry is a medium for conveying complex moral messages, reflecting the poet's humanist-religious vision.   Karya sastra, termasuk puisi, tidak hanya diciptakan untuk tujuan estetis semata, tetapi juga sebagai sarana penyampaian gagasan, pandangan hidup, dan respons pengarang terhadap realitas sosial di sekitarnya. Fungsi puisi tidak terlepas dari perannya sebagai pembawa nilai-nilai kehidupan, termasuk norma dan moral yang menjadi pedoman dalam bermasyarakat. Penelitian ini menganalisis nilai moral dalam puisi-puisi Abidah El Khalieqy melalui pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan teknik analisis isi. Teori dalam penelitian ini mengacu pada teori struktural Nurgiyantoro dan Pradopo. Data berupa unsur fisik dan batin puisi— kata, frasa, dan kalimat—diidentifikasi untuk mengungkap tiga dimensi nilai moral: (1) personal (kesetaraan gender, ketangguhan perempuan, kecintaan pada alam); (2) sosial (saling menyayangi, kerja sama); dan (3) spiritual (ketaatan ibadah, kesadaran akan kematian). Temuan penelitian menunjukkan struktur puisi menjadi medium penyampaian pesan moral yang kompleks, merefleksikan visi humanis- religius penyair.
Pemberdayaan Komunitas Belajar Musik dan Bahasa melalui Media Pembelajaran Informal di Bandar Lampung Riyan Hidayatullah; Sumarti; Prisma Tejapermana; Muharsyam Dwi Anantama; Mar'an, Desy Awal
Jurnal Pengabdian Masyarakat Ilmu Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpm-ip.vol.4i.2.1052

Abstract

This training program aims to explore and provide guidance on community empowerment through music and language learning communities via informal learning media in Bandar Lampung. In the context of informal education, learning media plays a critical role in enhancing the skills and knowledge of community members without being bound by formal curricula. This empowerment program employs various interactive methods that integrate music and language as tools to enrich the learning process. By leveraging digital technology and group activities, the community is provided with access to diverse learning materials that can enhance their language skills and musical appreciation. The method used is a participatory approach, involving community members (students) in the planning and implementation of activities. The results indicate that the use of informal learning media, particularly through a group approach, is effective in fostering active participation and skill development among community members. Additionally, this approach has successfully strengthened social bonds and collaboration among community members. This study concludes that community empowerment through informal learning media is a promising strategy to optimize the learning process and enhance the quality of education outside formal institutions.
MENGGALI MAKNA NAMA-NAMA MAKANAN SEKITAR KAMPUS DI PURWOKERTO/EXPLORING THE MEANING OF FOOD NAMES AROUND CAMPUS IN PURWOKERTO Muharsyam Dwi Anantama; Aditya Setiawan
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.511.275-286

Abstract

Abstrak Nama adalah kata-kata yang menjadi identitas bagi benda, peristiwa, dan makhluk di dunia. Manusia hidup dalam relasi yang rumit dan beragam, untuk memudahkan penyebutan kemudian diberikan penamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis makna, jenis penamaan, dan komponen makna nama-nama makanan di sekitar kampus di Purwokerto. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan semantik. Data dalam penelitian ini adalah nama-nama makanan yang berjumlah 19 data. Sumber data dalam penelitian ini adalah pembuat dan penjual makanan kaki lima di sekitar kampus di Purwokerto. Tahap penyedian data menggunakan teknik wawancara. Teknik analisis data yang digunakan, antara lain (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, dan (4) penarikan simpulan. Hasil dan pembahasaan penelitian ini menunjukkan bahwa jenis makna yang ada dalam data adalah makna denotatif (5 data), makna konotatif (3 data), makna kontekstual (2 data), dan makna referensial (3 data). Jenis penamaan yang ditemukan adalah peniruan bunyi (1 data), penamaan sifat khas (2 data), penamaan tempat asal (1 data), penamaan bahan (1 data), penamaan keserupaan (1 data), penamaan pemendekan (1 data). Komponen makna yang ditemukan antara lain berdasarkan bahan yang digunakan, berdasarkan warna, berdasarkan bentuk, berdasarkan pembuatan, dan berdasarkan kemasan. Berdasarkan analisis tersebut, disimpulkan bahwa penamaan makanan dapat ditelusuri dari tiga aspek, yaitu jenis, makna, dan komponen makanan dengan menerapkan pada aspek semantiknya. Kata kunci: nama makanan, makna, penamaan, sematik Abstract Names are words that become identities for things, events, and creatures in the world. Humans live in complex and diverse relationships, so that naming is given to facilitate the naming. This research aims to describe the types of meanings, types of naming, and components of the meaning of food names around the campus in Purwokerto. This research is a qualitative descriptive research. This research uses a semantic approach. The data in this research are 19 food names. The data source in this research is the maker and seller of street food around the campus in Purwokerto. Data collecting stage uses interview techniques. Data analysis techniques used include (1) data collection, (2) data reduction, (3) data presentation, and (4) drawing conclusions. The results and discussion of this research indicate that the types of meanings contained in the data are denotative meanings (5 data), connotative meanings (3 data), contextual meanings (2 data), and referential meanings (3 data). The types of naming found are mimicking sounds (1 data), naming unique traits (2 data), naming origin (1 data), naming material (1 data), similarity naming (1 data), naming shortening (1 data). The meaning components that are found are based on the material used, based on color, based on shape, based on manufacture, and based on packaging. Based on this analysis, it was concluded that the naming of food can be traced from three aspects, namely the type, meaning and component of food by applying to its semantic aspects. Keywords: food names, meanings, naming, semantic