Claim Missing Document
Check
Articles

Does acupressure therapy decrease blood pressure in hypertensive elderly? Sang Ayu Ketut Candrawati; Ni Komang Sukra Andini
PROFESSIONAL HEALTH JOURNAL Vol. 6 No. 2 (2025): June
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/phj.v6i2.919

Abstract

ntroduction: Hypertension is a high blood pressure condition often referred to as the "silent killer" as it is frequently asymptomatic but can lead to a range of serious health complications, including heart disease and stroke. The prevalence of hypertension continues to rise worldwide, with projections of reaching 29% of the adult population by 2025. To control hypertension, complementary therapies such as acupressure are emerging as a supportive complement to the management of high blood pressure, especially for the elderly, to improve their quality of life and ease the burden on the healthcare system. Objectives: to analyze the effect of acupressure therapy on blood pressure in hypertensive elderly. Methods: Pre-Experimental Design, with a One-Group Pretest-Posttest Design. Results: The results showed a decrease in average systolic blood pressure by 24.08 mmHg, from 148.08 mmHg in the pre-test to 124.00 mmHg in the post-test, with a p value of 0.002. In addition, there was a decrease in mean diastolic blood pressure by 11.83 mmHg, from 85.83 mmHg in the pre-test to 74.00 mmHg in the post-test, with a value of (p value 0.013). These results indicate that acupressure therapy has a significant effect on reducing systolic and diastolic blood pressure in elderly hypertension. Conclusions: These findings support using acupressure as a complementary therapy to assist in managing hypertension in the elderly, potentially improving their quality of life and reducing the burden of hypertension-related health services.
Pengaruh Terapi Bekam Kering Terhadap Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Primer: The Effect of Dry Cupping Therapy on Blood Pressure in Primary Hypertension Patients Candrawati, Sang Ayu Ketut; Sukraandini, Ni Komang
Bali Medika Jurnal Vol 8 No 1 (2021): Edisi Khusus Bali Medika Jurnal Vol 8 No 1 Maret 2021
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v8i1.161

Abstract

Background: Hypertension is one of the non-communicable diseases that causes morbidity and mortality in the world where 9.4% of deaths each year are due to complications of hypertension. Hypertension is characterized by an increase in systolic pressure> 140 mmHg and diastole> 90 mmHg. Dry cupping is an alternative therapy used in lowering blood pressure in hypertensive patients. The aim of the study: to determine the effect of dry cupping therapy on blood pressure in primary hypertensive patients. This study is a Quasi-experimental with a One-Group Pretest-Posttest Design approach. The number of samples was 15 patients with primary hypertension who were taken by purposive sampling technique. Measurement of data using digital tension onemed brand. Data analysis using Paired T Test. The results showed that the systolic blood pressure obtained a p value of 0.000 and the diastolic blood pressure obtained a p value of 0.001 which means that there is an effect of systolic  and diastolic blood pressure before and after being given dry cupping therapy. Dry cupping therapy can be used as an alternative therapy for patients with primary hypertension.
Penerapan Statistik Deskriptif: Perspektif Kuantitatif dan Kualitatif Putu Gede Subhaktiyasa; Sang Ayu Ketut Candrawati; N. Putri Sumaryani; Ni Wayan Sunita; Abd. Syakur
Emasains : Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Vol. 14 No. 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika dan Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/emasains.v14i1.4450

Abstract

Statistik deskriptif merupakan metode analisis data yang penting untuk menggambarkan dan menganalisis karakteristik utama data secara sistematis. Namun penerapannya seringkali menghadapi tantangan yang berpotensi mengurangi validitas hasil penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan panduan praktis penerapan statistik deskriptif dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan desain studi pustaka untuk menganalisis literatur akademik untuk mengidentifikasi langkah-langkah utama dalam penerapan statistik deskriptif, termasuk persiapan data, pengolahan, analisis, visualisasi, dan interpretasi hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa statistik deskriptif memiliki peran penting dalam meningkatkan validitas dan kredibilitas penelitian baik dalam eksplorasi awal maupun untuk mendukung analisis inferensial. Panduan praktis yang dirancang membantu peneliti menghindari kesalahan umum dan memberikan langkah-langkah yang sistematis untuk memastikan analisis yang akurat. Ini dapat membantu peneliti dari berbagai bidang untuk mengingkatkan kualitas analisis data penelitian.
The Effect of Slow Stroke Back Massage on Headache Intensity in Hypertensive Older Adults Sang Ayu Ketut Candrawati; Ni Komang Sukra Andini; Desak Made Ari Dwijayanti
PROFESSIONAL HEALTH JOURNAL Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/phj.v7i2.1212

Abstract

Introduction: A Headache is a common complaint among individuals with hypertension and is often associated with elevated blood pressure. One form of complementary therapy that can be applied to alleviate this symptom is Slow Stroke Back Massage (SSBM). Objectives: This study aimed to examine the effect of Slow Stroke Back Massage on headache intensity in older adults with hypertension. Methods: This quantitative research employed a quasi-experimental design with a non-equivalent control group pretest-posttest approach. Thirty-four hypertensive older adults participated in the study and were selected through purposive sampling. The intervention group received SSBM therapy three times per week for 10 minutes over four weeks, while the control group received only standard antihypertensive medication. Headache intensity was measured using the Numeric Rating Scale (NRS). Results: The mean pre-test headache intensity score was 6.12 ± 1.62 in the intervention group and 5.82 ± 1.55 in the control group. After the intervention, the mean scores decreased to 2.71 ± 1.53 and 3.82 ± 1.55, respectively. The reduction in headache intensity was 3.41 points in the intervention group and 2.00 points in the control group. The Wilcoxon test showed a significant difference in the intervention group (p = 0.000), while the paired sample t-test confirmed significance in the control group (p = 0.000). The pre-test comparison between groups using the independent t-test indicated no significant difference (p = 0.592), whereas the post-test comparison using the Mann-Whitney U test showed a significant difference (p = 0.041). These findings suggest that SSBM significantly reduces headache intensity among hypertensive older adults. Conclusions: Slow Stroke Back Massage is an effective, safe, and non-pharmacological intervention for reducing headache intensity in hypertensive patients. Its application is recommended as a complementary therapy in elderly care.
Pemberdayaan Kader Kesehatan Masyarakat Dalam Perawatan Paliatif Di Desa Binaan Peguyangan Kangin Andini, Ni Komang Sukra; Candrawati, Sang Ayu Ketut; Citrawati, Ni Ketut; Subhaktiyasa, Putu Gede; Suniyadewi, Ni Wayan
Jurnal Abdimas ITEKES Vol 4 No 2 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37294/jai.v4i2.688

Abstract

Perubahan angka kematian yang didominasi oleh penyakit non infeksi atau penyakit yang tidak menular menjadi sutu gambaran perubahan transisi epidemiologi pararel, untuk mengatasi fenomena tersebut, maka dibutuhkan perawatan paliatif. Menurut WHO ada lebih dari 40 juta orang di dunia yang membutuhkan perawatan paliatif tetapi hanya 14% yang baru menerima perawatan tersebut. Indonesia masuk ke dalam posisi terujung. Indonesia berada di peringkat 70 dengan tingkat asuhan paliatif terendah, atau hanya 0,1% dari pasien yang membutuhkan asuhan paliatif. Perawatan paliatif tidak hanya berfokus pada pelayanan paliatif di rumah sakit namun saat ini perlu untuk dikembangan perawatan paliatif berbasis komunitas. Perawatan paliatif di lingkungan komunitas tentunya membutuhkan dukungan kader Kesehatan Masyarakat dalam memberikan pengetahuan dan pendampingan terhadap anggota keluarga yang memiliki keluarga dengan kondisi penyakit paliatif. Kader kesehatan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan permasalahan perawatan paliatif baik  yang  dialami  oleh  pasien  maupun  keluarga  maka  perlu  ada  upaya  pemberdayaan  kader  dalam peningkatan   pengetahuan   keperawatan   paliatif   di   wilayah   kerja Puskemas   peguyangan kangin  sangat  diperlukan. Pengabdian masyarakat ini dilakukan di Puskesmas III Denpasar Utara Wilayah Desa Binaan Peguyangan Kangin, Adapun kegiatan yang dilakukan adalah 1.         Melakukan pre test; 2.Penyuluhan kepada kader Kesehatan, Pendidikan  kesehatan yang    diberikan  kepada  kader  adalah  mengenai  konsep  perawatan  paliatif , tugas  dan  fungsi  keluarga  dalam  perawatan  paliatif,  gangguan  psikologis dan pemenuhan   kebutuhan   psikologis   pasien   dan   keluarga   serta   pemenuhan kebutuhan   spiritual   pasien   dan   keluarga   dalam   perawatan paliatif; 3. Melakukan post-test sebagai evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat meningkatkan pengetahuan kader Kesehatan terkait perawatan pasien paliatif yang ditunjukkan melalui nilai post test kader Kesehatan. Berdasarkan hasil pretest diketahui bahwa pengetahuan kader mengenai perawatan paliatif  bahwa pengetahuan baik 20 orang (74%). Post-test pelaksanaan pengabdian menunjukkan peningkatan pengetahuan kader terkait perawatan paliatf sebanyak 25 orang (89%) pengetahuan kader baik. Selain itu kader juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman terkait perawatan pasien paliatif. Pengetahuan kader Kesehatan terkait perawatan paliatif diharapkan mampu digunakan untuk mendampingi anggota posyandu yang memiliki keluarga dengan kondisi penyakit paliatif. Kata kunci : Pemberdayaan, kader kesehatan, perawatan paliatif
Pengaruh Pemberian Air Rebusan Jahe Merah Terhadap Intensitas Nyeri Dismenore Pada Remaja Putri Wilandari, Rahma; Ni Kadek Muliawati; Sang Ayu Ketut Candrawati
Jurnal Kesehatan Madani Medika Vol 16 No 1 (2025): Jurnal Kesehatan Madani Medika
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36569/jmm.v16i1.450

Abstract

Nyeri haid atau dismenorea sangat umum terjadi pada wanita usia subur dan sangat umum terjadi di seluruh dunia. Beberapa wanita mengalami nyeri luar biasa saat menstruasi sehingga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Dampak yang terjadi apabila dismenore tidak diatasi yakni akan menimbulkan ketidaknyamanan pada remaja putri, konsentrasi yang terganggu karena dismorene dan aktivitas sehari-hari yang terganggu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian air rebusan jahe merah terhadap intensitas nyeri dismenore pada remaja putri di SMA N 1 Ubud. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan pra-experimental menggunakan rancangan one group pre-test post-test design. Populasi sebanyak 584 siswi dengan sampel sebanyak 34 remaja putri. Analisis data menggunakan univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar tingkat nyeri dismenore sebelum diberikan air rebusan jahe merah didapatkan nilai mean 6,09 atau rata-rata dengan dismenore sedang. Setelah diberikan air rebusan jahe merah nilai mean yaitu 1,09 atau rata-rata dengan dismenore ringan. Nilai p yaitu 0,000 < 0,05 dapat disimpulkan air rebusan jahe merah dapat menurunkan tingkat nyeri dismenorea pada remaja putri. Tenaga kesehatan dapat memberikan penyuluhan dan sosialiasi kesehatan tentang tatalaksana atau metode mengurangi tingkat nyeri dismenore pada remaja putri.
Spiritual Leadership Enhances Caring Behaviour: The Mediating Role of Calling Candrawati, Sang Ayu Ketut; Sriani, Ni Kadek Ayu; Subhaktiyasa, Putu Gede; Andini, Ni Komang Sukra; Putri, Ni Luh Nova Dilisca Dwi; Citrawati, Ni Ketut; Andriany, Megah
Nurse Media Journal of Nursing Vol 14, No 2 (2024): (August 2024)
Publisher : Department of Nursing, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/nmjn.v14i2.58964

Abstract

Background: Caring behaviour is essential for patient health; however, it is often not practised optimally. Therefore, spiritually-based leadership is required to encourage this behaviour. Unfortunately, research investigating the ability of spiritual leadership to enhance caring behaviour through spiritual well-being is limited.Purpose: This study aimed to examine the impact of spiritual leadership and spiritual well-being in the form of calling and membership on caring behaviour.Methods: This study employed an explanatory quantitative design with a cross-sectional approach. One hundred fourteen inpatient nurses who provided comprehensive patient care were selected using a total sampling technique. Data were collected using the Spiritual Leadership Questionnaire and the Caring Behaviours Inventory. The analysis adopted partial least squares structural equation modelling (PLS-SEM) using a second-order reflective-formative model.Results: The findings demonstrate that spiritual leadership has a significant direct effect on caring behaviour (t=3.976, p=0.000), calling (t=4.672, p=0.000), and membership (t=2.845, p=0.005). However, the direct impact of membership on caring behaviour was insignificant (t=1.298, p=0.194). Calling proved to mediate the effects of spiritual leadership on caring behaviour (t=3.145, p=0.002), while membership could not function as a mediator (t=1.197, p=0.231).Conclusion: This study emphasizes the importance of spiritual leadership in nursing care, particularly in enhancing nurses’ caring behaviours. Healthcare organizations should implement training programs on spiritual leadership to encourage calling nurses to perform their duties with dedication. Developing nurse membership should be considered, but the main focus must be on strategies that strengthen nurses’ calling, as this is an essential factor in providing quality and empathetic care.
Uji Korelasi dalam Penelitian Kuantitatif: Kajian Konseptual, Asumsi Statistik dan Implikasi Paraktis Subhaktiyasa, Putu Gede; Numertayasa, I Wayan; Sumaryani, N. Putri; Candrawati, Sang Ayu Ketut; Dharma, I Dewa Gede Candra; Saputra, I Gusti Ngurah Widya Hadi
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4 (2025): November
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4.3952

Abstract

Uji korelasi merupakan salah satu teknik statistik yang paling banyak digunakan untuk mengetahui hubungan antarvariabel, namun praktiknya masih menunjukkan kesalahan intepretasi dan generalisasi. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis kritis terhadap berbagai jenis uji korelasi parametrik dan non-parametrik dengan mentelaah keunggulan, keterbatasan, dan konteks penggunaannya dalam kerangka validitas dan analisis data kuantitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi pustaka melalui telaah literatur dari basis data ilmiah dalam rentang 2015-2025. Analisis data menggunakan analisis isi dengan pendekatan deduktif-induktif pada tema konseptual, asumsi statistik dan praktik penerapan korelasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa uji korelasi berperan penting dalam identifikasi kekuatan dan arah hubungan antarvariabel, namun tidak dapat digunakan untuk memberikan kesimpulan hubungan sebab akibat. Penentuan jenis korelasi harus mempertimbangkan skala pengukuran, distribusi data dan data outlier. Selain itu, signifikansi statistik tidak selalu mencerminkan makna substantif, sehingga diperlukan interpretasi dan pelaporan yang dilandasi justifikasi metodologis yang kuat. Temuan ini menekankan pentingnya peningkatan literasi statistik dan pemahaman metodologis untuk ketapatan analisis, mencegah kesalahan infersial dan meningkatkan kualitas rekomendasi berbasis bukti.
HUBUNGAN PEMERIKSAAN SARS-COV2 RNA DENGAN D-DIMER PADA PASIEN YANG DIDIAGNOSA COVID-19 DI LABORATORIUM KLINIK PRODIA SUMEDANG Prasetya, Didik; Juariah, Ade; Candrawati, Sang Ayu Ketut; Yanti, Ni Luh Gede Puspita
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 1 No. 3 (2024): Vol. 1 No. 3 Edisi Juli 2024
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v1i3.156

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV2. Selain menyebabkan gangguan pernapasan, virus ini juga menyebabkan hiperkoagulasi yang ditandai dengan peningkatan kadar D-Dimer. Salah satu pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi penyakit Covid-19 adalah pemeriksaan SARS-CoV2 RNA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemeriksaan SARS-CoV2 RNA dengan kadar D-Dimer pada pasien yang didiagnosa Covid-19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel adalah 30 data sekunder pasien yang melakukan pemeriksaan D-Dimer dan SARS-CoV2 RNA atau pun pasien yang melakukan pemeriksaan D-Dimer dengan data rekam medis SARS- CoV2 RNA yang didiagnosa Covid-19 periode Januari 2021 sampai Juli 2022. Hasil penelitian ini didapatkan responden dengan hasil SARS-CoV2 RNA terdeteksi sebanyak 25 (83,3%) dan tidak terdeteksi sebanyak 5 (16,7%). Kadar D-Dimer normal sebanyak 7 (23,3%) dan abnormal 23 (76,7%). Hasil uji Chi Square penelitian ini tidak ada hubungan antara pemeriksaan SARS-CoV2 RNA dengan D- Dimer pada pasien yang didiagnosa Covid-19 dengan nila Asymp. Sig 0,334. Dapat disimpulkan bahwa kadar D-Dimer pada pasien yang didiagnosa Covid-19 dengan hasil SAR-CoV2 RNA terdeteksi tergantung dari tingkat derajat keparahan penyakit.
Optimalisasi Kemandirian Kader dalam Penurunan Scabies melalui PHBS di Rumah Tahanan Kelas IIB Bangli Candrawati, Sang Ayu Ketut; Citrawati, Ni Ketut; Andini, Ni Komang Sukra; Subhaktiyasa, Putu Gede
Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK) Vol. 6 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Universitas Baiturrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jak.v6i2.784

Abstract

The complex challenges in improving the health and welfare of prisoners at the Bangli Class IIB Detention Center demand a concrete response. Government Regulation No. 32/1999 affirms the right of every prisoner to obtain proper health services. One of the health problems that arise due to the crowded room occupancy is skin diseases, such as Scabies. To overcome the transmission of the disease, the first step that needs to be taken is the formation of Health Cadres. This Health Cadre Development activity aims to improve the health of WBP through counseling and training. This PKMS activity aims to improve the health of correctional prisoners (WBP) through the development of health cadres. The method used is Community-Based Interactive Approach (CBIA), WBP is actively involved in counseling and training related to clean and healthy living behavior (PHBS) and handling of Scabies skin disease in detention centers. The results of the activity showed an increase in knowledge and positive attitudes related to PHBS and the role of health cadres among prisoners. In conclusion, the formation of inmate health cadres can be a potential solution in efforts to prevent and manage diseases and improve the quality of life in detention centers